
Atau bisa saja karena sudah merasakan siksaan sebagai keseharian hidup nya beberapa saat yang lalu, sehingga ClRa cepat beradaptasi dengan rasa sakit yang mendera badan nya. Salah satu nya reaksi dari luka luka nya itu.
[Note : Jangan di Tiru ⚠️ Ingat yah, kalo kena luka goresan yang dalam, pendarahannya langsung di hentikan lalu di beri antiseptik dan beberapa salep dan lain nya. Jangan di abaikan begitu saja, apalagi membasahi luka dengan air. Itu lebih tidak boleh lagi. Bisa infeksi bahkan luka bisa bernanah. Karena ini di dalam novel, jadi semua nya dapat terjadi sesuai kehendak Otor, jadi sekali lagi jangan di tiru ⚠️ ]
Guyuran air terjun yang seakan bertambah banyak telah berhasil membuat Clara terlempar ke sembarang arah. Namun Clara tak berkecil hati, dia naik lagi ke atas batu sekuat tenaga, dan memasang sikap meditasi yang benar seperti sedia kala.
Jujur saja, yang di rasakannClara saat awal awal bermeditasi sangat lah tidak bisa berkonsentrasi.
Hal ini bukan karena Clara ingin, melainkan karena hantaman air terjun dan sebagai nya. Bayangkan, pikiran Mu tak akan tenang saat air dalam jumlah besar seperti sedang menghangtam kepala Mu.. Apakah Kamu akan fokus ?
Hal ini lah yang membuat Clara memakan waktu selama 30 menit, untuk menyeimbangkan rasa sakit pada tubuh nya dan mulai membiasakan kepala nya yang selalu terhantam terlebih daluhu, agar meditasi yang di penuhi oleh konsentrasi tercapai.
***
Lalu tak peduli pada apapun yang menghantam tubuh Clara saat berada di bawah guyuran air terjun, yang terpenting saat ini adalah sudah dua jam penuh Clara berada di atas batu itu. Tak di hitung dengan waktu yang Clara gunakan untuk menyeimbangkan tubuh tadi.
Clara langsung membuka mata nya, dan berjalan turun dengan badan yang sudah menggigil. Bahkan suara dari gigi nya yang bertubrukan terdengar sampai ke luar.
Padahal ini di tengah siang bolong, namun rasa menggigil yang Clara rasakan seperti sedang memakai baju renang di tengah ribuan salju yang sedang berlibur di bumi pada masa nya di beberapa negara.
Saat Clara baru duduk di atas rerumputan karena ingin mendapatkan sinar matahari untuk menghangatkan tubuh nya, langsung terpasang dua handuk tebal di badan Clara. Karena merasa kehangatan yang tiba tiba mengalir di tubuh nya, Clara langsung reflek memeluk ke dua handuk itu kuat kuat.
"Mending Kamu lepaskan rengkuhan Mu pada handuk itu deh." Saran Detrian pada Clara.
"Me... Memang... Nya... Eergghh.. Kenapa? " Tanpa melihat ke arah Detrian, dan Dengan suara yang melemah, Clara seakan malas untuk bertanya pada Detrian. Karena saat ini Clara tidak memiliki cukup tenaga untuk berdebat masalah sepele dengan Detrian.
__ADS_1
"Karena akan lebih baik jika kamu menghangatkan ke dua tangan mu yang membeku itu dengan segelas teh yang ekstra panas ini. " Sambil menyerahkan segelas teh dengan air yang baru saja mendidih, Detrian memberikan jawaban yang membuat Clara kaget dan menerima dalam keadaan mematung.
Karena merasa di tatap oleh Clara cukup lama (Padahal cuma 12 detik), Detrian pun mulai salah tingkah sendiri. "Aku tau kamu pasti terpesona oleh perhatian ku, jadi berhentilah menatap ku seperti itu. " Ujar Detrian dengan sangat percaya diri.
Tak menghiraukan perkataan Detrian, Clara langsung meminum teh yang ada di genggaman nya saat ini.
Sruupp..
Clara menyeruput teh hitam nya dengan elegan dan dengan wajah lega yang terpampang jelas saat ini. Rasa hangat yang tiba tiba mengalir dari kerongkongan, memberikan sensasi nyaman dan pikiran yang tenang pada Clara.
Setelah merasa tenanga nya mulai terisi, Clara pun berinisiatif untuk bersuara...
"Tidak. Aku bukan kagum pada Mu Detrian. Aku hanya kaget, ternyata Kamu itu bisa memberikan Aku segelas teh juga. Setelah melewati rasa lelah yang menyayat hati bahkan seluruh kulit ku."
Jawab Clara Sambil menunjukkan luka goresan nya yang lumayan dalam dan goresan nya agak panjang di bahu.
"Astaga.. Bagaimana ini ? Apakah akan meninggal kan bekas ? Maaf.. Aku tidak memperhatikan luka luka Mu. Aku juga tidak memperhitungkan kayu kayu pohon yang terbawa arus. Aku sungguh minta maaf... "
Dengan ekspresi bersalah yang tampak jelas, Detrian meminta maaf sambil ragu ragu harus menyentuh luka Clara atau tidak. Karena dari luka goresan nya, Pasti nya menimbulkan rasa sakit.
Clara yang tau akan rasa bersalah Detrian pada diri nya, langsung menghela nafas panjang dan angkat bicara.
"Tidak perlu khawatir seperti itu Detrian. Karena Aku pernah mengalami dan mendapatkan luka dengan cara yang lebih ekstrim dari ini, Jadi jangan terlalu di anggap seperti itu. Kamu sendiri yang akan sakit kepala. "
Clara dengan semangat nya langsung berdiri dengan dua handuk yang masih terpakai di badan nya, langsung menelan semua teh nya dalam sekali teguk, dan berbalik pada Detrian.
__ADS_1
"Permintaan maaf Mu di beri dalam bentuk makan saja. Aku lapar sekali Detrian. Jadi jika ingin Aku memaafkan Mu, maka beri Aku makan. "
Ujar Clara, karena merasa tubuh nya sudah kembali bersemangat saat memikirkan makanan yang akan Dia makan untuk mengisi tenaga, kalori, protein, ion, dan sebagai nya.
Sedangkan Detrian hanya tersenyum lega karena sifat Clara yang simpel dan tidak ribet, membuat Clara tampak beda dari banyak nya wanita yang telah dia jumpai.
Detrian yang lagi lagi di sadarkan karena Clara adalah wanita yang berbeda, membuat semburat merah merona muncul di wajah Detrian.
Tanpa izin dan kontrol kekuasaan dari si pemilik tubuh, wajah nya melakukan sesuatu di luar kehendak sang pemilik tubuh.
Hal itu membuat Detrian harus berusaha dan menghembuskan nafas nya berkali kali, baru wajah nya yang tampan dan putih tampa semburat itu kembali terpajang jelas di bawah sinar matahari.
Kemudian Detrian langsung memimpin jalan, seakan dia sudah membangun tenda untuk Clara. Sebentar , tenda ? Rasa nya lebih dari itu..
***
Setelah berjalan lumayan jauh, akhirnya Detrian dan Clara sampai di sebuah tempat yang membuat Clara terkagum kagum..
"Benarkah Aku akan tidur di sini ? Rumah yang unik, yang kecil, tapi terlihat elegan dan yang tak pernah Aku tinggali sebelum nya. "
Clara yang badan nya terasa lumayan kering, kini sedang kegirangan karena mendapatkan tempat tinggal di tengah hutan itu.
[Di luar rumah]
__ADS_1
Detrian hanya mengangguk, karena saat ini Detrian tak mau memberikan jawaban atau perkataan yang dapat merubah suasana hati Clara.
Clara yang sudah sangat penasaran langsung masuk ke dalam, agar dapat melihat rumah sekecil itu dapat menampung apa saja.