I Am The Queen

I Am The Queen
#66


__ADS_3

"HUH.. Jangan harap segampang itu." Jawab Clara sambil membuka perban putih yang ada di tangan nya. Entah kenapa itu terasa tak nyaman bagi diri nya.


.......


.......


.... ...


...Beberapa saat kemudian... ...


"Apakah sudah enakan ?" Tanya Detrian yang melihat Clara keluar dari dalam kamar mandi.


"Emm.. Terasa lebih segar dan sejuk." Jawab Clara sambil mendekat ke kursi yang berhadapan dengan Detrian.


Detrian hanya mengangguk sambil lanjut meminum kopi nya. Detrian awal nya melarang Clara agar tidak mandi, karena Dia baru saja siuman bukan ? Namun bukan Clara nama nya jika langsung menurut pada hal yang tidak Dia sukai.


Clara sibuk memakan buah yang ada di depan nya. Karena saat siuman tadi, Dia harus memakan banyak makanan yang tak ada rasa enak sama sekali. Justru rasa sepat dan pahit yang ada. Namun Clara tetap memakan nya karena di paksa oleh Pengurus Feng dan juga Detrian.


Hingga akhir nya, Clara merasa hidup kembali saat memakan buah yang setidak nya ada rasa yang membuat lidah nya merasakan kenikmatan.


"Sekarang sudah pukul 7 malam Ra. Jadi mari kita berdiskusi sebentar." Ujar Detrian memulai percakapan sambil menyimpan cangkir kopi nya.


"Hem ? Apakah ada masalah penting ?" Tanya Clara.


"Bukan.. Bukan.. Bukan masalah penting. Namun menurut Ku, Kamu akan terganggu dengan hal yang akan Aku katakan."


"Katakan saja. Tak masalah, selagi itu bukan tentang dunia kiamat." Ujar Clara yang masih setia menggigit buah apel yang dia pegang.


"Bukan kah rencana Mu adalah menampilkan diri saat semua nya sudah  hilang dari genggaman mereka ? Jika sudah seperti ini, pasti Kamu memerlukan rencana baru kan ?"


"Em ? Rencana nya sudah Aku ubah Det." Jawab Clara enteng.


"Eh ? Kapan ?" Tanya Detrian sedikit tercegang.

__ADS_1


"Saat mandi tadi. Aku tak bisa melamun saja, jadi Ku putuskan untuk menyusun rencana baru. Apakah ada masalah ?"


"Tidak.. Tidak ada masalah nya sama sekali. Jadi, apa rencana baru Mu ? Apakah membutuh kan bantuan Ku ?"


"Emm, bantuan Mu dalam balas dendam secara terang terangan dengan Jodi dan Sonya tidak di perlukan. Namun bantuan Mu akan sangat berguna di aspek lain." Kata Clara dengan senyum miring nya.


Terpampang jelas bahwa dari gurat wajah nya, Clara sudah menyelesaikan rencana nya sematang mungkin.


Detrian yang seakan mengerti tatapan Clara pun, ikut menampakkan senyum miring di wajah nya. Seakan tak sabar ingin mendengar rencana Clara, yang sudah di susun dalam keadaan tenang.


...*...


...*...


...* ...


Pagi ini Clara bangun dalam keadaan di mana sangat bugar. Apalagi setelah dia berolah raga dan mandi, entah kenapa Dia seperti mendapat energi yang baru dalam diri nya.


Dia langsung memakai pakaian nya sendiri, dan mengikat asal asalan rambut nya. Entah itu gaya apa, inti nya rambut Clara yang tidak terlalu pendek itu dapat menyatu menjadi satu.


Tok..Tok..Tok..


"Selamat pagi Nona Clara. Saat nya Anda bangun-"


Perkataan Pelayan itu terhenti seketika. Mata nya membulat karena tugas yang seharus nya Dia jalan kan, malah sudah di kerjakan oleh Clara.


"Selamat pagi juga. Tak perlu bersikap formal pada Ku, tenang saja. Aku dapat bangun dan mengurus diri saat baru bangun pagi, jadi carilah kegiatan lain di pagi hari." Kata Clara yang tidak memiliki maksud apa pun.


Namun pelayan itu langsung berlari ke arah dapur, dengan derai air mata.


"Apakah.. Apakah kinerja Ku selama ini tidak memuaskan ? Hiks.. Pasti Nona kecewa pada Ku, sehingga tak mau di layani." Keluh Si pelayan dan berlari dengan sangat dramatis.


"Eh ? Apakah ada yang salah dengan yang aku lihat ? Apakah Dia menangis ? Ah, tak mungkin. Aku pasti yang terlalu kurang fokus." Monolog Clara yakin, bahwa saat ini Dia tidak bersalah.

__ADS_1


...*** ...


"Hem.. Sudah jam tujuh.. Seperti nya Aku harus segera bergegas ke kantor, karena rencana Ku tak akan berjalan mulus, jika tidak di kerjakan oleh Leo adik Ku." Monolog Clara dan berjalan ke arah garasi.


Saat hendak memasiki mobil, Clara merasa ada yang kurang. Dia membalikkan tubuh nya, dan menatap sekitar.


"Di mana Detrian ? Perasaan, sejak pagi aku tidak melihat nya dimanapun itu. Apakah dia punya pekerjaan yang dijalankan di pagi buta ? Cih, sudahlah.. Lebih bagus jika Dia tidak mengganggu waktu Ku kan ?" Celetuk Clara dan masuk ke dalam mobil.


"Tch.. Tapi sayang nya, Aku merasa ada sesuatu yang kurang jika belum mendapatkan celotehan panjang nya tentang rasa bucin yang Dia berikan pada Ku secara terang terangan."


Ujar Clara lagi dengan memunculkan pertigaan di kening. Walau pun tidak mau diakui, tapi keberadaan Detrian sudah tidak bisa dihapus kan dari pikiran nya.


...*** ...


Singkat cerita, Clara pun telah tiba di kantornya. Sebelum melakukan perjalanan ke kantor, Dia sudah menghubungi Leo, agar Leo menunggu nya di tempat kerja. Yah walaupun tidak diminta untuk ditunggu di kantor, Leo pasti tetap akan berada di dalam kantor. Terlalu banyak melakukan pekerjaan hingga larut, maka seperti nya sedikit lagi, Leo akan menjadikan kantor sebagai rumah pribadi nya.


Masuk nya Clara ke dalam kantor tentu saja di sambut oleh karyawan nya. Sapaan dan badan yang selalu membungkuk saat Clara melewati para karyawan, sedang terjadi untuk saat ini.


Cara pun sampai ke tempat kerjanya, dan di sana sudah ada leo yang berdiri dengan penampilan yang sangat rapi.


"Aahh, Adik Ku.. sudah lama ya kamu berdiri nya ? Cup.. Cup.. Cup...Sini duduk di Kursi, pasti betis Kamu keram ~" Kata Clara yang memberikan perhatian yang terkesan berlebihan pada Leo.


"Haah.. Kak, Aku bingung mau manggil nya gimana. Entah Bos, Nyonya, Majikan, Atau Master. Jadi, cepat katakan apa yang Kamu mau. Aku akan menjalan kan nya sebisa kemampuan Ku." Sambar Leo dengan fakta yang menikam langsung hati nurani Clara.


Ternyata cara seperti ini tidak lagi mempan kepada Leo... Begitulah pikir Clara.


Namun setelah mendengarkan perkataan yang disampaikan oleh Leo, Clara langsung menunjukkan Smirk di wajah nya yang indah, namun terkesan berbahaya di mata Leo.


"Kali ini.. Apa lagi yang Kamu rencanakan Kak ?" Batin leo merasa ngeri, karena ekspresi yang ditujukan oleh Clara.


Menurut Leo, lebih baik Clara marah-marah dari pada memasang wajah tersenyum sumringah dengan banyak makna dibalik nya. Bukan kah jika seperti itu lebih tampak mengerikan ?


"Jangan memasang ekspresi tegang seperti itu Leo.. kamu tenang saja, karena yang akan Aku suruh kali ini, tidak berbahaya sama sekali." Kata Clara yang entah kenapa terdengar sangat meragukan.

__ADS_1


__ADS_2