
Banyak nya rintangan dan tantangan yang menghampiri Clara, tidak membuat Clara putus asa dan sebagai nya. Justru Clara merasa semakin tertantang, untuk menyelesaikan 100 pukulan sebelum satu jam berlalu. Karena akan sia sia semua hal yang telah menimpah Dia, jika tidak mencapai 100 pukulan dalam satu jam.
Clara tidak peduli lagi pada jeritan otot otot nya yang sudah mencapai batas maksimum itu.
Clara terus mengayun kan pukulan dengan tenaga yang masih sama seperti saat dia memulai.
Sraahssss...
Bunyi air yang di pukul masih terdengar sama sejak pukulan pertama di layangkan.
"98... Hah... Hah... "
Sraahssss...
"99.... Hah.. Hah.. "
Sraahssss...
"SE...RAATUUUUUSSSS !!! "
Pukulan terakhir pun mendarat di deras nya air yang terus berguyuran ke bawah.
Rasa puas karena telah menyelesaikan tugas yang sulit itu pun Clara nampak kan dengan senyum yang mekar sempurna di wajah nya yang sedang kelelahan itu.
Dengan stamina yang seolah sudah tak tersisa lagi pada setiap sendi otot nya, membuat Clara membiarkan diri nya terapung dan di bawa arus.
Dan saat daratan yang harus di pijak di lewati nya, Clara dengan gesit langsung memegang kuat kuat batu yang ada di sekitar nya, dan merayap ke daratan.
__ADS_1
"Wuuuaaahhhh... Haaaah... Haaaah... Haah... Lelaahhhh sekalliiiiii.....!!! " Teriak Clara sambil menggunakan tangan nya untuk melindungi kornea mata dari sinar matahari.
Clara juga heran, padahal tadi saat dia masuk dan berlari di dalam Hutan Kematian, tak ada sinar matahari yang bisa menerobos masuk dengan sangat terik nya. Apakah yang menamai hutan kematian ini tidak menyusuri sampai ke dalam hutan ? Atau mereka sudah lari terbirit birit saat baru menelusuri satu kilo meter ?
Terserah lah, Clara juga tak peduli akan hal itu. Saat ini Clara hanya memejamkan mata nya, dan membiarkan terik matahari mengeringkan tubuh nya yang nenar benar sangat basah.
Clara tidak takut masuk angin sedikitpun, karena dia tidak memiliki baju ganti yang membuat Clara masa bodoh pada keadaan yang misalkan akan terjadi nanti.
Saat Clara sudah berhasil menyelesaikan latihan yang di perintahkan oleh Detrian dalam rentan waktu 59:30 menit itu, semua pergerakan dan apapun yang di lakukan oleh Clara, bahkan sampai Clara membenamkan dirinya di bawah sinar matahari saat ini, telah di awasi dan di perhatikan di segala sisi.
Ya, orang yang mengawasi dan memperhatikan Clara tidak lain dan tidak bukan adalah Detrian.
Prok... Prok.. Prok.. Prok..
Clara mendengar suara tepuk tangan itu, namun Clara tetap memejamkan mata nya, karena tak mungkin ada orang lain di Hutan kematian itu selain Detrian.
"Hei... Aku sedang memuji Mu loh. " Celetuk Detrian karena Clara tak kunjung membuka mata nya itu.
"Aku tau.. Maka pujian nya di buat dengan diam saja. Mari nikmati suasana yang tenang ini, sambil mendengarkan alunan yang di hasilkan dari gemericik air terjun yang indah."
Jawab Clara yang tetap menutup mata nya, namun menampakkan senyum simpul sempurna di wajah nya yang cantik nan gemulai itu.
Detrian sempat terpanah dengan senyuman Clara beberapa saat, namun pikiran nya itu langsung dia tepis, karena Clara melakukan sebuah gerakan.
Dia mengusap poni nya yang sedang menutup kelopak mata nya itu. Memang kelihatan sedang di tutup oleh rambut, namun yang di rasakan oleh Clara adalah di tusuk. Lantaran poni nya itu adalah beberapa helai rambut yang telah kering dahulu di bandingkan helai rambut yang lain.
__ADS_1
"Selamat, Kamu telah berhasil melakukan latihan ke dua dengan sangat lancar dan dengan hasil yang memuaskan. Karena kamu pantang menyerah, jadi Aku akan membiarkan Kamu untuk beristirahat selama lima menit. Setelah lima menit, lanjut lah bermeditasi di atas batu yang kamu pakai untuk memasang kuda kuda tadi. Paham.? " Rentetan perintah dan kabar baik masuk di telinga Clara.
Clara hanya menyunggingkan senyum di ujung bibir nya, dan berucap.. "Terimakasih" Dengan sangat tulus.
Menurit Clara, lima menit yang Detrian berikan pada Clara itu sudah termasuk hadiah atau bonus yang sangat berharga.
Entahlah dengan pemikiran Clara, hanya beberapa orang saja yang sudah melalui cobaan hidup yang melimpah ruah, yang akan mengerti rasa terimakasih Clara pada penambahan waktu LIMA menit untuk beristirahat.
***
Setelah empat menit hanya memejamkan mata nya, Clara sudah bangun dari atas rumput dengan baju, celana, dan sarung tangan yang sudah setengah kering di badan.
"Uuhhh.. Apakah Aku akan menjadi hitam karena terlalu lama terkena sinar matahari? Baju saja sampai setengah kering, apalagi kulit Ku yang terkena sinar matahari tanpa krim pelindung coba ? Ah bodoh amat, yang terpenting sekarang itu bermeditasi..." Monolog Clara meyakinkan diri nya.
"Air terjun, Aku datangggg ~~ "
Sambil melempar kan sarung tangan nya yang sudah setengah kering ke sembarang arah, Clara menguatkan ikat rambutnya yang sudah molor, dan berjalan dengan badan yang terasa sangat ringan. Mungkin karena sudah beristirahat dengan berbaring tadi, sehingga energi Clara seakan terisi penuh lagi (?) Atau mungkin hanya setengah nya yang teriri penuh.
"Lebih baik Aku melepaskan sarung tangan ini, karena tak akan lucu jika Aku jatuh lantaran berat yang di hasilkan tangan Ku membuat keseimbangan Ku terganggu. "
Sambil bermonolog dengan diri sendiri, Clara perlahan lahan naik ke atas batu besar yang dia naiki sebelum nya. Kepala nya yang mulai terkena air langsung menyebarkan rasa dingin ke seluruh tubuh.
Dan saat banyak nya air menghantam tubuh Clara, di saat itu lah rasa nyeri dari luka goresan besar dan yang kecil berdenyut dan menjerit. Sehingga membuat Clara merasakan rasa kesakitan yang membuat nya sampai memejamkan salah satu mata nya.
Memang saat terkena air Clara langsung merasa seakan ada sengatan listrik yang masuk ke dalam tubuh nya, berkat nyeri yang di hasilkan oleh luka luka.
Namun beberapa menit kemudian, Clara sudah terbiasa dan tidak merasa sakit lagi. Sehingga Clara langsung mengambil posisi duduk bersila yang benar, menaruh tangan nya yang di letakkan di ujung lutut nya.
__ADS_1
Atau bisa saja karena sudah merasakan siksaan sebagai keseharian hidup nya beberapa saat yang lalu, sehingga ClRa cepat beradaptasi dengan rasa sakit yang mendera badan nya. Salah satu nya reaksi dari luka luka nya itu.