I Am The Queen

I Am The Queen
#64


__ADS_3

Membuat Detrian merasa cukup terhibur dengan bunyi pistol yang sudah lama tidak Dia dengar, Namun berbanding terbalik dengan Clara.


Pendengaran Clara seakan berdenging. Memang kenyataan nya pendengaran Clara sangat tajam, namun terdapat variabel baru yang membuat Clara seakan tak mau mengedipkan mata nya sekali pun.


"Ayo kita pergi sayang." Ajak Jodi dan melangkah keluar dari ruang penyiksaan, sambil menatap sinis ke arah mayat Laila yang sudah tidak memiliki nyawa lagi.


"Kerja bagus, Pelayan setia Ku~ " Kata Sonya sambil memegang pundak seorang pelayan wanita yang menatap dengan tatapan datar tapi tersirat sopan santun.


Detrian merasa heran dengan perubahan reaksi Clara yang berlebihan, dari sudut pandang nya. Hal itu membuat Detrian ikut melihat ke arah laptop, di mana Clara memfokuskan penglihatan nya.


"Siapa Dia ?" Tanya Detrian sambil menunjuk seorang pelayan wanita, yang baru saja di puji oleh Sonya karena kepatuhan nya.


"...Dia...Adalah pelayan Pribadi Ku..Dulu.." Jawab Clara dengan bibir yang nampak jelas tengah bergetar. Sehingga perkataan nya terdengar putus nyambung, dan membuat Detrian terbelalak sesaat.


"Apakah Dia sudah melakukan sumpah setia pada Mu ?" Tanya Detrian hati hati.


Clara tidak bersuara lagi. Dia hanya mengangguk pada Detrian, dan Detrian pun mendapatkan jawaban yang sejak awal tidak Dia harapkan, saat mengajukan pertanyaan pada Clara.


Detrian adalah anak dari seorang Raja dan Ratu yang memimpin wilayah kekuasaan yang bernama Wilayah Roman, dan Detrian bisa di katakan adalah anak keturunan bangsawan murni.


Sudah pasti sejak dini Detrian mendapatkan pengetahuan dasar tentang aturan bangsawan yang tidak dapat di ketahui oleh rakyat biasa. Salah satu nya adalah pelayan pribadi, atau Dayang Pribadi.


Apalagi Pelayan pribadi yang sudah mengatakan sumpah setia, itu berarti, saat majikan yang Dia layani mati, maka pelayan itu pun dengan sendiri nya akan mencari cara yang mudah atau sulit untuk mati. Karena dengan sumpah setia, sudah membuat nyawa sang pelayan menjadi milik sang majikan.

__ADS_1


Dan jika Detrian tidak salah dengar, pelayan yang tengah di bahas saat ini telah berpindah majikan. Dalam hal ini berpindah ke majikan lain, yang tak lain dan tak bukan adalah Sonya.


"Lalu.. Siapa nama nya ?"


Walaupun Detrian penuh dengan perasaan mawas diri pada pertanyaan yang dia berikan pasa Clara, rasa penasaran nya sudah memenuhi isi otak nya, sehingga Detrian memilih untuk mengeluarkan nya.


"Helena.. Itu nama nya." Jawab Clara dan memalingkan wajah ke arah yang berlawanan dengan Detrian.


Sekilas Detrian melihat mata Clara sedikit berair, entah sudah menangis atau Clara masih bisa menahan nya, Detrian memilih untuk tetap di tempat nya hingga Clara sendiri yang menatap diri nya. Untuk menghormati perasaan Clara yang tengah tak stabil, Detrian memilih diam karena merupakan pertimbangan yang baik di saat ini.


"Dia.. Sudah bukan lagi pelayan Ku. Dan lagi, sejak awal Aku memperlakukan nya sebagai saudara yang tumbuh dan berkembang bersama. Jadi tak usah terlalu di pikirkan." Ujar Clara dengan suara yang tingkat Volume nya semakin mengecil.


Tak sanggup melihat Clara yang langsung down, membuat Detrian memunculkan ide gila di otak nya. "Apakah Kamu menginginkan Pelayan atau saudara Mu itu kembali ke sisi Mu ? Akan Aku lakukan, walaupun ada beberapa hal yang sulit nanti nya." Ujar nya dengan penuh keyakinan.


"....." Clara masih diam dan tidak merespon perkataan Detrian. Berharap Detrian berhenti berbicara, agar Clara tidak terlalu memikirkan banyak hal. Dan juga untuk saat ini, Clara lebih memilih untuk mendapatkan waktu seorang diri dulu.


"Detrian..." Panggil Clara yang saat ini sudah menatap Netra Detrian, yang membuat Detrian tak bisa melanjutkan perkataan nya yang belum selesai.


"Haah.. Kalau itu Jodi, Sonya, dan orang lain nya yang mengkhianati Ku, sangat tak masalah Ku rasa. Karena Aku masih hidup dan dapat membalas perlakuan mereka berkali kali lipat." Kata Clara yang sudah berdiri dan memasang senyum di wajah nya. Kemudian melanjutkan perkataan nya, "Tapi jika Helena, Aku rasa sampai kapan pun itu tak masalah. Sekalipun Dia mengkhianati Ku, Aku akan menganggap hal itu tidak pernah terjadi dan akan terus meyakini bahwa Dia melakukan nya karena dalam keadaan terpaksa, atau keadaan di mana diri nya tidak memiliki pilihan lain."


Clara pun menyelesaikan perkataan nya. Dia sudah membelakangi Detrian, dan telah mengambil langkah untuk keluar dari rumah kaca.


"Apakah sespesial itu wanita yang bernama Helena, Clara ? Kamu sampai membuat diri Mu terluka, dan masih meyakini bahwa Dia tak bersalah ? Sampai kapan Kamu akan bertahan-"

__ADS_1


"Aku akan terus bertahan dalam luka itu hingga menutup mata nanti Det. Sedikit pun, tak pernah terlintas pemikiran untuk melukai Helena. Dan lagi, Aku rasa sebaiknya berhentilah membahas percakapan ini. Karena Aku akan langsung bad mood. Kamu pasti tak menginginkan hal ini kan Det ? Selamat malam Det."


Usai mengatakan selamat malam itu, Clara pun berjalan dan meninggalkan rumah kaca. Detrian yang sudah tidak melihat punggung Clara lagi, kini langsung menutup laptop nya dan ikut berjalan keluar.


Dia bertanya pada Pengurus Feng, apakah Clara pulang atau menginap di kediaman nya. Dan betapa lega nya Detrian, saat mengetahui bahwa Clara tidur di tempat yang merupakan tempat nya jika berada di kastil Roman.


...*** ...


...Besok nya, di jam 10 pagi... ...


Detrian sudah berada di dalam kamar Clara. Bukan nya melanggar privasi atau terlalu lancang, tapi Detrian berada di dalam kamar milik Clara karena hingga saat ini Clara juga tidak kunjung bangun.


Sebenar nya Detrian tidak akan tau masalah kali ini, namun karena para pelayan perempuan mengatakan bahwa walaupun badan nya sudah di guncang, tak ada respon apapun pada Clara. Ditambah, saat tangan lara pelayan bersentuhan dengan tubuh Clara, suhu tubuh nya terasa sangat panas.


Mendapatkan kabar seperti itu di pagi hari saat berada di meja makan, siapa juga yang masih dapat bersikap tenang dan menyantap buah buahan.


Suasana di dalam kamar Clara sangat tak baik, lima pelayan yang tengah berdiri di sisi kamar pun merasa sulit bernafas karena Aura yang Detrian pancarkan.


"Apakah Dokter nya belum datang juga ? Tch, bagaimana mungkin Dia di katakan sebagai dokter yang berkompeten, jika datang saja lama nya minta ampun."


Ujar Detrian yang menatap tajam ke arah para pelayan. Memang bisa di bilang saat ini Detrian menjadikan para pelayan sebagai pelampiasan.


"Ba.. Bagaimana mungkin Dokter Robinzon bisa tiba di sini, saat baru di minta datang 3 menit yang lalu Tuan Muda?"

__ADS_1


Batin ke lima pelayan itu dengan pemikiran yang sama. Namun tak bisa bersuara, karena tak mau memperunyam masalah yang ada.


Lagian Detrian adalah Tuan yang mereka layani, salah maupun benar, sudah pasti mereka tak punya hak untuk memarahi ataupun mengatakan yang ingin mereka katakan.


__ADS_2