
Perkataan Clara pun terhenti, dia menggenggam ke dua jemari tangan nya dengan sangat kuat, dan bahkan seluruh tubuhnya berguncang hebat. Mata nya mulai memerah, tapi Clara berusaha sekuat tenaga untuk menekan air mata nya agar tidak bertambah atau sampai tumpah.
"Tak apa, kalau ingin menangis, maka menangis saja. Aku mengerti perasaan mu, " sambil tersenyum dan dengan nada bicara dewasa dan tegas, Gali memberikan dukungan dan pengertian nya pada Clara.
Clara mengangkat wajah nya yang sempat menunduk, dan menatap Gres, Gali, dan Gisel yang saat ini sedang tersenyum hangat pada nya. Seakan sedang memberikan kekuatan dan seakan mengatakan kalau Clara itu kuat.
"Ti... Tidak... Aku tak boleh menangis, Aku tak pantas untuk menangis tersedu sedu. Ini semua terjadi karena Aku yang terlalu bodoh dan terlalu Naif, bahkan Aku membenci diri Ku sendiri yang bersikap naif dulu."
Clara bersikeras bahwa Dia tak pantas untuk menangis. Lagian, ini karena kesalahan nya bukan ? Menangis, hanya akan membuat Nya terlihat lemah dan tak pantas untuk agkat bicara. Lantaran dari semua hal yang terjadi, Clara masih tetap hidup. Tak sama seperti orang lain, yang tak tau apa apa, namun mati begitu saja.
"Dan lagi, Kalian tau? Banyak orang yang telah mati karena Aku. Banyak pelayan yang bahkan setia pada Ku, sampai mati pun tak mau menuruti Jodi dan Sonya, dan lagi... Ayah dan Ibunda... Ugghhh.. " Geram Clara sambil memalingkan wajah nya ke arah lain.
"Sampai kapan pun, Aku tak akan menangis untuk hal ini. Karena notabene nya akan selalu sama, ini semua dapat terjadi karena kebodohan Ku. Menangis hanya akan membuat Ku tampak lemah, dan membuat Ku semakin merasa bersalah."
Dengan suara yang terdengar serak karena menahan tangis, Clara mengutarakan pemikiran yang selalu terpatri dengan jelas di benak nya.
"Kenapa kamu keras kepala sekali? Kamu sudah sangat rapuh loh, mau di tahan sampai kapan lagi bendungan air mata yang tertahan sejak tadi ?" Tanya Gres menyatakan kebenaran.
"Akan Ku tahan bendungan air mata ini sampai Aku sudah membalaskan semua dendam Ku. Aku sudah berjanji pada diri Ku sendiri, tak akan pernah Aku ingkari sekalipun di paksa oleh Mu, sang pemilik kekuatan Gemuruh terkuat dan terhebat. "
Jawab clara menatap ketiga semi Dewa Dewi itu dengan tatapan yang sangat penuh akan kebencian dan tak terdeteksi rasa ketakutan sedikit pun.
"Wow... Baru kali ini ada yang berani menatap kita seperti itu bukan ?" Sambil menampakkan smirk di wajah nya, Gali mulai merasa tertarik dengan Clara.
"Untuk kali ini Kamu benar Gali, dia benar benar semakin menarik." Sambung Gisel sambil memainkan surai keemasan milik nya.
__ADS_1
"Ya Aku setuju, Dia memang adalah manusia fana yang kuat." Puji Gres sambil mengacak tatanan rambut Clara.
Clara yang mendapatkan pujian beruntun pun hanya bisa membiasakan diri. Setelah mendengar pujian nya sudah berakhir, Clara yang tengah di elus elus kepala nya pun angkat suara.
"Jelas Aku akan kuat, karena setelah melewati semua penderitaan yang menyakitkan, tak mungkin aku masih menjadi NONA Clara De Andor Abelia yang naif seperti dulu. Otak Ku seperti sudah terbuka seutuh nya, entah apa yang menyumbat nya selama ini."
Sambil memutar bola mata nya, Clara sendiri juga tak percaya dengan sifat nya yang dulu. Kalau mau di pikir pikir, kemana saja kemampuan berpikir nya yang tajam selama ini? kenapa baru berfungsi saat sudah berada di ambang kematian coba?
"Kalo begitu bisakah kamu memberikan kami bertiga waktu untuk berunding ?" Tanya Gres.
"...... " Clara yang kebingungan hanya bisa mengangguk, karena bingung lagi dengan mereka. Berunding ? Berunding untuk apa? Dan untuk apa meminta ijin pada nya? Hal itu terus berputar di benak Clara.
Karena jika ingin berunding, ya tinggal di rundingkan saja. Kenapa harus keminta ijin pasa nya ? Memang nya Clara presiden ? Bukan kan ? Namun Clara memilih diam, karena tak mungkin Clara mengeluarkan iai hati nya pada ke tiga Semi Dewa Dewi itu.
10 menit kemudian...
Setelah beberapa menit kemudian, Gres, Gisel, dan Gali masih berada dalam perisai transparan yang di buat oleh Gisel. Karena mereka tau dan sadar bahwa Clara dapat mendengar suara bisikan yang sangat kecil sekalipun.
[Lima menit kemudian]
Gres, Gali, dan Gisel akhir nya menampakkan diri mereka dengan berjalan ke arah Clara.
"Kenapa suara kalian tidak terdengar sama sekali? Aku merasa seperti seorang diri di HUTAN KEMATIAN ini untuk beberapa saat."
Dengan rasa kecemasan yang langsung hilang sepenuh nya saat melihat kedatangan ketiga semi Dewa Dewi itu, Clara dengan sangat antusias berlari kecil kecilan dan langsung memeluk dan langsung melepaskan pelukan nya dari Gres.
__ADS_1
"Karena Aku menyuruh Gisel membuat perisai berbentuk kotak, yang dapat membungkus suara Kami agar tidak terdengar, tetapi itu hanya perisai transparan. Kamu tak bisa melihat nya, karena warna nya bening."
Jelas Gres dengan senang hati, hal ini menandakan bahwa Gres tak keberatan pada apapun pertanyaan yang akan di lontarkan oleh clara, karena Gres sudah memiliki kesan baik pada nya.
"Ah, jadi begitu.. " Respon Clara dengan senyum hangat, karena Gres seperti Kakak yang baik pada nya. Walaupun baru bertemu beberapa jam yang lalu, rasa nyaman yang ada tak bisa dia pungkiri.
"Oke, karena Kami bertiga sudah mendengar kisah Mu, dan karena Kamu adalah keturunan Kerjaan Abelia... " Kali ini Gali yang menggantung perkataan nya.
*Buuk* Gres dan Gisel menjitak
kepala Gali bersamaan.
"SAKITTT !!! " Keluh Gali memegang dua benjolan yang tiba tiba muncul setelah di ketok oleh Gres dan Gisel.
"Jangan sok misterius deh, menjijikan." Kata Gres dengan wajah tak percaya Gali bersikap sok misterius. Bahkan bulu kuduk nya ikut berdiri karena merasa sangat horor ~
"Cih, kamu pasti ngira keren ya ngomong kaya gitu? Ngaca dong, perkataan sama kelakuan Kamu dari tadi itu bertolak belakang. Jadi Clara tak mungkin terkesan sedikit pun, kalau tidak percaya Kamu lihat sendiri wajah Clara."
Dengan wajah syok, Gisel dengan senang hati menunjuk ke arah Clara. Gali yang penasaran pun langsung melirik melihat reaksi Clara.
"....... " Clara hanya terdiam, Seluruh wajah Clara berkerut, menandakan Dia tak percaya bahwa Gali yang dari tadi terus berkelahi, kini sok tampak Cool saat berbicara.
"Kalo begitu kalian berdua saja yang beri tahu Clara tentang kesepakatan Kita tadi. Hati Ku sudah sangat hancur dan sangat sakit di buat kalian."
Gali membelakangi ke tiga gadis itu, dan mulai memikirkan hal hal sedih agar dapat menangis, namun percuma. Karena sudah Gali dalami semua ingatan nya, tak ada adegan yang sangat mengharukan dan dapat membuat sedih. Yang ada hanya kenangan tentang pengalaman nya yang sangat konyol dan tak masuk akal.
__ADS_1