I Am The Queen

I Am The Queen
#26.


__ADS_3

Detrian berhenti sejenak lagi. Dia merasa bahwa kenapa perasanan nya menciptakan sensasi lain saat bercerita ?


"...Sehingga semakin hari Aku semakin dewasa, Aku semakin tidak mau pernikahan antara kerajaan Ku dan kerajaan Achete terjadi. Karena itu akan sangat amat menguntungkan Kerajaan Achete saat ini, yang terancam akan di cabut kepemilikan kekuasaan kerajaan, karena terdapat banyak pelanggaran yang telah mereka lakukan pada masyarakat dan sebagai nya. " Lanjut Detrian yang saat ini tegah bercerita dengan sangat serius.


"Lalu... Apa Aku bisa membantu Mu, Dalam keadaan Ku yang seperti ini ? " Sambil menaikan satu alis nya, Clara menampakkan wajah tidak mengerti sama sekali.


"Memang keadaan Mu sangat amat tidak bisa membantu, malah mirip beban. Tapi jika Aku melatih Mu, memberi Mu beberapa pelajaran tenang dunia bisnis, dan membantu Mu mengambil kembali tahta Mu, Kamu pasti bisa membantu Ku. " Jelas Detrian memberitahukan garis besar rencana yang baru tersusun di benak nya itu.


"Lalu... Apakah Kamu akan berkata bahwa kamu akan menikah dengan Ku, Ratu dari kerajaan Abelia, lalu membatalkan pernikahan yang terencana karena sebuah perjanjian ? "


"Tentu saja iya.. Tapi jika berbicara dengan damai tidak bisa mereka terima, ya otomatis kita berperang. Kamu membantu ku menghancurkan seluruh kerajaan Achete, agar dendam Ku juga terbalas - Ups... " Detrian yang merasa salah karena keceplosan pun langsung refleks menutup mulut nya. Dan hal itu berhasil menyita perhatian Clara yang sedari tadi tertuju pada nya.


"Balas dendam ? Kamu ? Apa dendam Mu pada Kerajaan Achete ? Apakah sudah ada yang terjadi tapi tidak Kamu ceritakan ? "


Clara yang pemikiran nya semakin tajam dalam obrolan ini pun langsung peka pada beberapa perkataan yang keluar tanpa di sadari oleh pemilik nama belakang Roman.


"Haaahh... " Detrian menghembuskan nafas panjang. " Ayah ku meninggal karena di beri racun oleh Kerajaan Achete, itulah yang membuat Ku harus membalas kan dendam yang Ku pendam dari usia 12 tahun."


Sambil menggertak Kan gigi nya hingga dapat di dengar oleh Clara, Detrian menggenggam tangan nya kuat kuat dan menampakkan urat urat otot nya yang sedang tertarik.


"Ah aku paham. Karena Ayah Mu menentang pernikahan ini, sampai tak mempedulikan surat perjanjian dan sebagainya, sehingga membuat pihak Achete gelap mata atau sengaja membunuh beliau bukan ? " Sambil mengerutkan dahi nya, Clara menjabarkan poin penting yang terangkum dibenak nya.


"Kamu benar sekali, orang yang telah membunuh Ayah Ku tidak pantas menjadi bagian dari kerajaan Roman. Bahkan sampai Aku mati pun, Aku tak akan peduli pada surat perjanjian itu. Masa bodoh pada kata durhaka dan tidak patuh pada perkataan Raja terdahulu yang akan Aku dapat kan, inti nya sekali tidak mau, maka Aku akan tetap tak mau."

__ADS_1


Tegas Detrian berkali kali, membuat Clara mengira pendengaran nya bermasalah, karena mendengar beberapa kata yang sama selang beberapa kalimat.


"Baiklah, jika seperti itu Aku setuju jika kamu ingin membantu Ku." Dengan sangat percaya diri, Clara menjulur kan tangan nya, agar dapat berjabat tangan dengan Detrian, menandakan bahwa kesepakatan telah tercapai dari dua belah pihak.


Detrian pun menampakkan senyum yang mengambang sempurna di wajah nya, lalu menjabat tangan Clara. Namun selang tiga detik, Clara langsung melepaskan tangan nya yang bertautan dengan tangan Detrian, karena merasa tidak nyaman sama sekali.


"Kenapa kamu dapat berubah pikiran sesingkat itu Clara ? Padahal tadi kamu sangat keberatan kan ? "


Agar suasana tidak hening dan canggung, Detrian asal mencopot pembicaraan apa saja, agar mereka berdua lebih terbiasa berinteraksi satu sama lain untuk ke depan nya.


Clara yang sedang berjalan ke arah jendela agar dapat melihat bunga lagi, kini membalikan badan nya karena mendengar pertanyaan dari Detrian.



"Karena Kamu dan Aku sama sama ingin balas dendam. Kamu menolong Ku karena ingin mendapatkan balasan, sedangkan Aku menerima pertolongan Mu karena Aku dapat menjadi penolong Mu nanti. Sama sama mendapat untung, Aku akan sangat keberatan jika Kamu menolong Ku karena alasan yang tidak jelas dan tidak masuk akal. Karena Aku sudah tak mau di tipu lagi, cukup sudah dengan Aku yang menghabiskan waktu waktu yang sangat pedih dengan di tipu. "


Mendengar jawaban yang keluar dari Clara, membuat Detrian tak bisa berhenti menatap punggung Clara terus menerus.



Karena walaupun baru menjadi manusia yang tidak naif dan polos lagi, sifat Clara yang tidak nampak akan goyah sedikit pun ini membuat Detrian semakin punya rasa spesial pada ciptaan Tuhan yang paling cantik ini.


Setelah pembicaraan itu, Clara masih menikmati pemandangan indah yang di sajikan oleh lebih dari satu bunga yang Dia lihat.

__ADS_1


Namun selang 10 menit kemudian, empat pelayan perempuan memasuki ruangan itu, dan mengantar Clara ke kamar yang akan dia tempati malam ini.


Sebelum tidur para pelayan itu memberikan pelayanan terbaik pada Clara.


Memakaikan masker wajah, mengoles minyak herbal di kaki Clara, agar terawat dan dapat beristirahat dengan nyaman.


Sebenarnya para pelayan itu ingin membantu Clara mandi, namun karena Clara masih ingin mencium aroma segar dari serpihan awan milik Gres yang membersihkan tubuh nya, Clara menolak secara tegas dan sopan pada para pelayan.


Setelah itu, Clara naik ke tempat tidur dan mengingat perkataan yang di ucapkan Detrian sebelum Clara berjalan ke kamar nya tadi.


"Karena waktu yang di butuh kan untuk melatih Mu sangat banyak, besok kita akan mulai melatih kekuatan Fisik dan otot. Jadi, istirahatlah yang nyenyak malam ini. "


Begitulah perkataan Detrian yang saat ini masih tergenang di benak Clara. Clara yang masih dalam posisi duduk di atas tempat tidur, dengan bagian paha sampai kaki yang di tutupi selimut, dan dengan ke dua tangan yang meremas selimut kuat kuat, Clara berucap...


"Ayah.. Ibu... Mulai Besok Clara akan berlatih bersama seorang pria yang baru Clara temui tadi. Bantu Clara dari atas sana, agar Clara dapat bertahan dari apapun untuk ke depan nya. Sungguh, Clara benar benar berjuang seorang diri di dunia ini."


Setelah itu, Clara membasuh dua butiran bening yang menetes dari mata nya. Meletakkan kepala nya di atas bantal yang sangat empuk, dan memejamkan mata yang sudah nampak jelas lelah dan ngantuk. Tanpa memakan waktu lama, Clara pun telah masuk ke alam mimpi nya.


.......


.......


.... ...

__ADS_1


...[Pukul empat pagi] ...


Di tengah hawa dingin yang sudah masuk lewat jendela yang terbuka karena Clara yang membuka nya dengan sengaja, memperlihatkan Clara yang sedang duduk di atas sofa yang berhadapan langsung ke halaman samping.


__ADS_2