
"Ayo kita mulai latihan berkelahi nya Detrian." Seru Clara dengan senyum semangat nya, sambil menggenggam tangan yang telah memakai sarung hitam itu.
"Kamu.. Bilang apa ?? Latihan ?? " Dengan wajah datar, Detrian menatap Clara seakan perkataan Clara itu tak di pikir dulu.
"Iya... Latihan. Kan kamu yang bilang sendiri tadi. " Jawab Clara dengan garis alis yang di turun kan.
"Hahaha... Aku tau kamu semangat, tapi pertama tama, mari Kita makan dulu. Karena ini sudah jam makan siang, dan perasaan tadi Kamu yang bilang lapar deh.. Jangan bilang kamu udah minum air mandi sampai kenyang ? "
Sambil berjalan melewati depan rumah Clara, Detrian menggerakkan tangan nya, yang menandakan untuk mengikuti nya. Clara yang baru ingat pun, langsung berjalan cepat agar dapat menyamai langkah kaki Detrian yang panjang itu.
***
Lalu, setelah berjalan lima menit cepat nya, Detrian dan Clara akhirnya sampai di tempat untuk makan siang.
"Gila... Ada vila di tengah hutan begini ? "
"Bukan kah tadi sudah Aku bilang ? Hutan ini milik kerajaan Roman, dan akan terus seperti itu untuk ke depan nya. " Jawab Detrian sambil membukakan pintu.
"Ah, Aku ingin menanyakan ini dari kemarin, tapi karena tak sempat, Aku rasa sekarang saat yang tepat. " Sambil melangkah memasuki vila itu, Clara mulai mencomot topik yang seperti nya akan di bahas.
"Tanyakan saja. " Sambil menyamai langkah kaki dengan Clara, Detrian mencoba untuk mengakrabkan diri dengan Clara.
"Apakah kamu tidak punya pelayan ? "
"Aku punya kok. Bukan kah Kamu sudah melihat nya sendiri saat di kastil kemarin?"
__ADS_1
"Bukan.. Maksud Ku Bukan pelayan yang seperti itu. Pelayan yang melayani Mu dari kecil, dan memberikan sumpah setia pada Mu. Pelayan yang seperti itu yang Aku tanyakan." Clara berusaha memperjelas lagi pertanyaan nya, agar Detrian dapat mengerti.
"Ah.. Aku tak punya. Kata Ayah, Aku harus berusaha seorang diri tanpa bantuan. Karena hal itulah, sejak Aku kecil, setiap setahun sekali, Aku pasti akan mendapat pelayan baru. Dan dari banyak nya kasus, Aku rasa perkataan Ayah Ku ada benar nya juga." Sambil mempersilahkan Clara untuk duduk di kursi, Detrian menjawab tanpa perubahan ekspresi sedikit pun.
"Wow... Seandainya Aku di didik seperti itu sejak kecil, Aku rasa sekarang Aku masih berdiam diri di kerajaan Abelia, sambil menanti beberapa saat lagi untuk di nobatkan menjadi Ratu Abelia. "
Clara yang baru duduk pun mulai membersikan tangan nya dengan tisu, yang pasti sarung tangan nya sudah di tanggalkan tadi.
"Entahlah, mungkin sudah takdir Mu untuk menderita seperti itu. " Sambil mengangkat sendok dan garpu, Detrian sudah siap menyantap makanan sederhana di depan nya.
"Cih.. Untuk yang satu itu, Aku tak sependapat dengan takdir. Jika ingin mempersulit Ku tak apa, tapi jangan sampai menghilangkan banyak nyawa juga dong. Gak logis sama sekali."
Perkataan Clara pun di akhiri dengan meneguk satu gelas air putih, dia pun mulai makan dengan menu makan yang sama dengan Detrian.
"Tak apa.. Ini lebih baik dari pada makan roti yang sudah berjamur dan keras kan ? "
Jawab Clara sambil menampakkan smirk di wajah nya. Detrian hanya menggelengkan kepala, karena tak habis pikir, ternyata Clara dapat menjadikan pengalaman hidup nya sebagai lelucon yang tidak lucu.
"Ah, dan pelayan wanita tersedia lima orang. Itupun tempat tinggal mereka tak jauh dari sini, dan bentuk rumah mereka seperti diri Mu, jika memerlukan sesuatu, suruh mereka saja. Mereka akan mengerjakan nya."
"Apakah mereka tau tentang kekuatan Mu? "
"Tentu. Dan saat mereka masuk untuk bekerja di kastil Ku, mereka sudah di beri tahu kenyataan dan fakta bahwa mereka harus menutup mulut. Tapi hanya beberapa pelayan yang sudah melalui tes kesetiaan dan kepribadian saja yang bisa terus bekerja hingga detik ini. "
"Apakah Jamu yang memberikan tes pada para pelayan ? "
__ADS_1
"Tidak. Tapi pengurus rumah, nama nya Feng Andaro. Saat Kamu tiba dan pergi dari kastil bersama Ku, Dia tidak ada karena sedang menjalan kan tugas yang seharusnya di lakukan oleh Ku. "
"Lalu kenapa Kamu tak pergi sendiri ? Kan tak lucu jika Kamu sudah mendapat ramalan tentang apa yang terjadi di masa depan. "
"Karena seluruh dunia tau nya, Aku itu sedang terbaring sakit. Hal itulah yang membuat Aku dapat menahan paksaan dari kerajaan Achete untuk menikah."
"Ah.. Aku mengerti.... " Sambil membersihkan cabai yang ada di atas ayam nya, Clara tetap menaruh fokus pada pendengaran nya agar dapat mendengar perkataan Detrian.
"Kamu tidak suka cabai ? "
"Sangat. " Jawab Clara yang wajah nya mulai di banjiri peluh, padahal hanya makan daging yang menjadi tempat cabai berdiam sementara tadi.
"Kenapa memang nya ?? "
"Bukan kah sudah jelas ? Untuk apa memakan makanan yang menyiksa lidah dan organ lain nya coba ? "
"Hahaha.. Aku saran kan untuk tidak menghina cabai di depan orang yang menyukai cabai, apalagi orang yang menanam cabai. Itu lebih tidak boleh lagi. "
"Em... " Clara yang masih fokus pada makanan nya hanya berdehem saja untuk menjawab Detrian. Dengan keterangan sudah menghabiskan lima gelas air.
***
Tak memakan waktu yang lama, Detrian dan Clara pun telah selesai makan dan beristirahat. Sehingga saat ini mereka berdua sudah berdiri di atas lapangan yang penuh akan rerumputan hijau, dan di iringi dengan pohon pohon besar yang teratur dan terawat. Terlihat jelas bahwa saat ini terik matahari sedang menyinari lapangan tersebut.
"Apakah kamu sudah siap ? " Tanya Detrian.
"Ya. " Jawab Clara penuh percaya diri.
__ADS_1
"Oke, sekarang serang Aku. Tak peduli Kamu pernah berkelahi atau tidak, inti nya serang Aku. Secara membabi buta juga tak apa."
Setelah mendengar perkataan Detrian, Clara memasang kuda kuda seperti di drakor drakor yang pernah dia tonton.