I Am The Queen

I Am The Queen
#60.


__ADS_3

Sambil membenar kan kaca mata yang sudah menjadi kebiasaan Pengurus Feng, dia mengomentari perbuatan yang sama sekali tidak di lakukan oleh Detrian.


"Aku membuat Ra menangis ? Tidak mungkin pak tua ! Karena Ra menangis itu karena-


"Anda tidak perlu mencari alasan untuk tampil benar anak muda ! Dengarkan lah orang yang sudah tua dan yang di panggil *Pak Tua* oleh mu. " Pengurus Feng pun langsung mencegat penjelasan Detrian, karena pengurus Feng sudah sangat yakin bahwa ini semua ulah Detrian.


"Ya ampun. Dasar orang tua, Clara De Andor Abelia itu gak nangis karena Aku. Maka nya kalau baru mau di kasih penjelasan itu di dengar, Bukan di potong. Dan lagi, siapa gadis yang lemah lembut ? Clara ? Jangan bercanda, satu pukulan dari dia itu dapat membuat satu pria berbadan besar dan kekar langsung tepar tak sadarkan diri ! Bisa bisa nya masih ada yang percaya kalau Ra itu lemah lembut. Ihhh, bahkan bulu kuduk ku berdiri secara bersamaan karena memikirkan hal yang sangat tak logis itu. "


Sambil mengusap usap tengkuk nya yang seakan tiba tiba dingin, Detrian menjawab Pengurus Feng.


Sungguh umur tak bisa di filter. Walaupun di umur nya yang sudah kepala empat, Pengurus Feng sama sekali tidak mau kalah debat dengan Detrian.


Pengurus Feng terus berusaha agar dapat menyudutkan Detrian, sedangkan bukan Detrian nama nya jika tak menjawab setiap tuduhan yang di arahkan pengurus Feng pada Diri nya. Clara yang melihat perdebatan mulut antara Detrian dan Pengurus Feng pun hanya bisa terheran heran dan langsung tertawa besar.


"Pft... Puahahahha... Hahahha... "


Tawa renyah dari Clara terdengar oleh Detrian dan Pengurus Feng. Pengurus Feng pun menampakkan senyum nya karena akhirnya Clara tertawa juga.


Sedangkan Detrian merasa ikut senang melihat reaksi Clara yang menjadi semakin baik dan lebih cerah dari sebelum nya.


Setelah itu Clara pun menjelaskan tentang Mata  mata L pada Detrian.


Mereka berdua tampak berbicara seperti sebelum nya, akrab, ada perdebatan mulut, dan lebih hangat dari biasa nya.


Mungkin.. Ini mungkin saja bahwa Clara mulai memberikan sedikit kelonggaran pada Detrian. Karena Clara mulai menanggapi candaan Detrian yang berhubungan dengan perasaan , dan candaan lain yang selalu Clara abai kan dulu.


.......


.......


.... ...

__ADS_1


[PERANG DINGIN ANTARA DETRIAN DAN CLARA TELAH SELESAI]


.......


.......


.... ...


[Setelah selesai menjelaskan tentang mata mata L ]


"Hem ~ " Gumam Detrian sambil memegang dagu nya, dia seakan sedang memikirkan sesuatu. " Jadi, mata mata L sedang dalam masalah besar yaa." Ujar nya, setelah selesai memikirkan something di benak nya yang tak ada yang dapat tau.


"..... " Clara tak berucap apapun, dia hanya mengangguk tiga kali dengan guratan sedih yang nampak jelas. Respon Detrian semakin membuat mental Clara down.


"Tapi.. Bukan berarti tak bisa di tangani Ra. Jangan patah semangat dulu." Ujar Detrian yang seakan tau apa yang di rasa oleh Clara saat ini.


"Bukan nya patah semangat atau apa Detrian, mereka berdua adalah Jodi dan Sonya. Aku pernah di siksa di bawah kendali mereka. Aku pernah berada di dalam zona mati segan hidup enggan. Mau mati saja susah, mau hidup lebih tak bisa di gambarkan lagi. Sungguh... "


"Ya Aku tau itu Ra. Apa kamu mau memastikan keselamatan mata mata L saat ini ? " Sambil menaikan satu alis nya, Detrian menanyakan pertanyaan yang sudah di ketahui jawaban nya dengan sangat jelas.


"....... " Clara hanya terdiam dan menatap Detrian dengan tatapan tegas dan penuh keyakinan. Detrian pun tau jelas apa arti dari tatapan mata Clara saat ini.


Setelah itu Detrian memberi kode pada pelayan Feng dengan tatapan mata nya.


Karena tau maksud nya, Pengurus Feng membungkuk dan berjalan keluar dari rumah kaca. Entah apa yang terjadi, tetapi malam ini mereka bertiga kebanyakan berbicara menggunakan tatapan mata saja.


...*** ...


Selang beberapa menit kemudian, Pengurus Feng datang dengan tangan yang memegang laptop dan satu tangan nya lagi memegang koper berukuran kecil yang menarik rasa penasaran Clara.


Saat laptop sudah di letakkan di meja, sepuluh jemari Detrian mulai menari di atas keyboard laptop dengan sangat cepat dan tepat.

__ADS_1


Setelah lima menit melakukan hal yang sama, Detrian membuka koper dan memberi earphone berwarna hitam pada Clara dan dia juga memakai nya. Setelah itu Detrian mengatur semacam antene dan beberapa kabel serta antek antek lain nya dengan sangat lincah.


"Ini untuk apa ? " Tanya Clara sambil menunjukkan earphone yang ada di tangan nya itu.


"Udah pakai aja." Jawab Detrian yang berhasil membuat Clara kesal, untung saja saat ini sedang meminta tolong. Jika tidak, satu pukulan sudah melayang sedari tadi.


Detrian lanjut memainkan jemari nya di atas keyboard, lalu saat semua nya sudah terhubung, smirk bangga dan merasa diri keren kambuh dari diri Detrian seperti biasa nya.


"Sudah Ku duga, Aku itu genius sejak dini." Gumam nya dan seperti biasa Clara dapat mendengar nya dengan jelas.


Clara bukan nya tertawa atau memutar bola mata, tetapi Clara justru termenung dan hanyut dalam lamunan nya.


"Mengapa pendengaran ku sangat tajam ? Apakah ada yang salah dengan tekanan udara sehingga gelombang suara yang masuk ke pendengaran ku menjadi abnormal ? Kak Gres juga berkata *Menarik* saat aku bereaksi pada gumaman nya. Apakah pendengaran ku ada hubungan nya dengan kekutan ku yang belum bangkit ? Benarkah ? Apakah taksiran ku salah ? Aah, lagi lagi aku berpikir terlalu berlebihan untuk ke sekian kali nya.Apakah-"


"CLARA " Teriak Detrian yang langsung membuyar kan seluruh lamunan Clara.


Karena baru kali ini Clara melamun di hadapan Detrian, membuat Detrian memanggil nama nya keras keras.


"A... Apa ? " Dengan refleks yang di dapat dari rasa kaget, Clara langsung bertanya pada Detrian dengan kelopak mata yang berkedip berkali kali.


"Hei, are you oke Ra ? Aku udah manggil nama kamu dari tadi loh. Mikir apa sih ? Khawatir banget sama mata mata L ya ? Atau ada masalah lain yang kamu pikirin?"


Detrian pun langsung menghujani Clara dengan banyak pertanyaan. Karena dengan Clara yang melamun saja sudah menjadi suatu kekhawatiran untuk Detrian, yang nota bene nya sudah bucin akut pada Clara.


"Ah, maaf. Tadi aku mengingat kembali kejadian waktu aku di siksa dulu." Jelas Clara dengan alasan yang dengan sangat beruntung nya muncul begitu saja di benak.


"Ah maaf, Aku kurang peka padahal ini masalah yang menyangkut kedua manusia sampah itu." Kata Detrian yang seakan tak mau mengotori lidah nya dengan menyebut nama Jodi dan Sonya.


"Ah lupakan. Sekarang, aku memanggilmu tadi karena ada yang ingin aku tanyakan. " Karena tak mau berada di situasi canggung setelah baru saja berdamai, Detrian langsung mengalihkan pembicaraan nya.


"Ya tanyakan saja. Karena jika aku tau hal yang kamu tanyakan, pasti akan aku jawab semampu ku."

__ADS_1


__ADS_2