I Love You Tuan (ILYT)

I Love You Tuan (ILYT)
10


__ADS_3

.


.


.


'Gadis pintar...'gumamnya dalam hati.


Tak salah Andrew memilih Jea untuk jadi pendampingnya. Karena Jea mampu menutupi bekas lukanya dengan maksimal. Ck... padahal Andrew belum menyuruhnya menggunakan benda itu. Ternyata semua wanita itu sama saja. Tidak bisa menghindar saat ada barang mewah di dekatnya.


Andrew yang terus mengamati wajah Jea. Tiba-tiba sesuatu miliknya menegang. 'Shit...' gerutu Andrew memejamkan mata sambil bersandar di kursi kebesarannya. Fikirannya melambung jauh mengingat percintaannya semalam dengan Jea. Rasanya Andrew ingin mengulangi lagi... lagi... dan lagi...


***


Jea dan Marlina akan ke halaman depan. Tiba-tiba dihadang oleh Bimo. Marlina dan Jea menautkan alis bingung.


"Maaf nyonya.... Nona Jea dilarang keluar. Ini perintah dari tuan Andrew.."


Marlina mengangguk tanda mengerti.


"Jea... lebih baik kamu istirahat saja. Besok ibu akan ijin pada Andrew untuk membawamu keluar"


"Baiklah bu... Jea mengerti..."


Dengan wajah sedikit kecewa. Jea akhirnya masuk ke dalam kamarnya.


Jea seperti burung yang berada di dalam sangkar emas. Tidak bisa terbang bebas kemanapun seperti keinginannya.


***


Makan malam telah dihidangkan. Jea dan Marlina sudah duduk berhadapan. Obrolan basa-basi sudah terlontarkan. Kini tinggal nunggu Andrew. Sudah 30 menit lamanya mereka menunggu. Tapi yang ditunggu tidak kunjung datang.


"Jea mari kita makan duluan..."ajak Marlina yang sudah merasakan keroncongan di perutnya.


"Tapi bu..."


"Sepertinya Andrew tidak pulang..."potong Marlina meyakinkan Jea agar tidak terus menunggunya.


Jea akhirnya menurut. Makan malam tanpa suami di hari kedua pernikahannya.


Setelah selesai makan malam Jea kembali ke kamarnya. Hidupnya terasa hampa saat ini. Tak terasa air matanya berlinang begitu saja.


Apa dia benar-benar seperti boneka?? Bahkan suaminya sendiri tidak memberinya kabar apapun. Dia suami tapi majikan. Jadi buat apa harus ijin pada dirinya yang hanya sebuah mainan? Apa hidupnya akan kembali gelap setelah beberapa waktu lalu hampir menyala begitu terang. Oh Tuhan... kuatkanlah hambamu ini...

__ADS_1


###


Sudah 3 hari berlalu... Tapi tidak ada tanda-tanda Andrew akan pulang. Hanya Marlina, ya hanya Marlina yang selalu menguatkannya.


Jea menuruni anakan tangga. Tidak ada siapapun di sana. Jea mencoba mencari keberadaan Marlina. Mungkin memeluk Marlina sebentar akan meringankan sedikit beban hidupnya.


Sayup-sayup Jea mendengar Marlina sedang bercengkerama dengan seseorang di ruang tamu. Mungkin Jea memang tidak sopan. Tapi dia benar-benar ingin tahu. Jea bosan hanya di kamar, makan, tidur. Seperti layaknya bukan manusia.


Jea mulai mendekat.


"Ibu..."lirih Jea yang tidak perduli pada tamunya itu. Entah Marlina ibu kandungnya atau bukan. Tapi dia benar-benar ingin memeluknya.


"Sayang kenapa??"tanya Marlina yang tersentak kaget gara-gara Jea memeluknya.


"Jea ingin seperti ini..."


"Apa Andrew tidak memperlakukanmu dengan baik??"kali ini Kelvin yang angkat bicara. Ya tamunya Marlina adalah Kelvin.


Jea melepaskannya pelukan Marlina dan menggeleng.


"Semoga saja dia memperlakukanmu dengan baik..."lanjut Kelvin dan sekali lagi hanya dibalas anggukan.


"Ibu tinggal dulu ke kamar ya sayang... Ada sesuatu yang harus ibu ambil..."ucap Marlina pada Jea.


"Ehhhhmmm" Kelvin mencoba mencairkan suasana.


"Kakak ipar makin terlihat cantik... padahal baru 4 hari tak bertemu" goda Andrew yang sukses membuat pipi Jea merah merona.


"Tuan... apaan sih..."


Baru kali ini Kelvin melihat senyum Jea yang begitu manis. Darahnya berdesir, jantungnya berdetak tak beraturan. 'Kenapa jadi salting sihh...' protes Kelvin pada dirinya sendiri.


"Masih tuan aja... aku bukan tuanmu Nona??"lagi Kelvin bicara gemas karena lagi-lagi Jea memanggilnya tuan. Tidak bisakah Jea memanggilnya dengan sebutan Kelvin. Andai Jea bukan istri dari kakak tirinya. Pasti sudah dicubit abis-abisan itu pipi.


Tiba-tiba Marlina datang dan menyerahkan selembar kertas.


"Ini berkas perjanjiannya... jadi ibu harus menunggu sampai genap satu bulan apa secepatnya??"tanya Marlina memastikan. Jea yang tidak tahu menahu arah pembicaraan dua orang itu. Akhirnya pamit undur diri untuk ke dapur.


"Sepertinya tetap satu bulan bu... Karena ayah Parker memang membuatnya seperti itu..."jawab Kelvin dan menatap fotocopy-an surat wasiat yang beberapa hari lalu diterimanya dari tangan pengacara keluarga Parker. Mau tidak mau. Marlina harus out dari mansion mewah ini.


Setelah pembahasan dengan ibunya selesai Kelvin ingin menemui Jea. Tapi ia urungkan. Kelvin tidak ingin cari gara-gara dengan Andrew. Meskipun Andrew seperti itu. Tapi Andrew tidaklah serakah. Dia rela ayahnya membagikan sedikit warisan meskipun jelas-jelas bukanlah darah dagingnya.


***

__ADS_1


Jea membantu Murti dan pelayan lain yang baru Jea ketahui bernama Rita.


Sudah berkali-kali Murti dan Rita melarang Jea. Tapi Jea tak menghiraukannya. Jea butuh kegiatan untuk melupakan kesedihannya. Ternyata ditinggalkan orang yang dicintai lebih sakit dari pada meninggalkan.


Hidangan makan malam telah selesai.


"Jea... kamu memasak sayang..."tanya Marlina terkejut karena mendapati Jea memakai celemek.


"Iya bu... hanya bantu-bantu saja..."


"Tapi Jea... ibu takut nak Andrew tahu. Kalau tahu, ibu bisa kena marah. Lain kali jangan lakukan ya sayang..." ucap Marlina dengan lembut. Jea hanya mengangguk. Terluka. Hatinya serasa tak nyaman dengan keadaan seperti ini.


"Aaaahhhh... tuan... aaahh..."


Tiba-tiba terdengar desahan seorang wanita. Suara itu berasal dari ruang tamu. Jea ingin melihatnya. Tapi Marlina melarangnya. Marlina sudah tahu ulah siapa itu kalau bukan dari Andrew. Wajah Marlina seketika memucat. Dia kasihan dengan Jea. Bukankah mereka pengantin baru?? Kenapa Andrew melakukan itu pada Jea??? Apa salah Jea sebenarnya. Ada beberapa pertanyaan yang merasuki otak Marlina. Tapi Marlina segera menepisnya. Dia harus kuat. Kuat untuk menegur sikap Andrew yang keterlaluan kali ini. Sudah cukup Marlina diam. Kali ini dia harus benar-benar menasehati Andrew.


Sesegera mungkin Marlina menuju ke ruang tamu. Karena kalut dengan fikirannya sendiri. Marlina tidak tahu kalau Jea mengikutinya dari belakang.


Air mata Marlina tak terbendung lagi. Air mata itu telah jatuh dengan bebasnya.


Apa yang dilihatnya benar-benar keterlaluan. Andrew telah menindih wanita itu di sofa dan menciumi wanita itu tanpa jijik. Begitupun Jea yang melihat adegan itu hatinya seperti tersayat sebilah sembilu.


Tangisan Jea pecah seketika, dia tidak kuat melihatnya. Melihat Andrew bercumbu dengan wanita lain. Dan siapa wanita itu?? Wanita itu adalah Petty. Teman SMA nya dulu. Bahkan yang mengatai dirinya mur**an saat di hari pernikahannya. Jea membalikkan tubuhnya dan langsung berlari ke arah kamar pelayan yang dulu pernah ditempatinya. Marlina yang baru menyadari Jea ada di belakangnya seketika terlonjak kaget. Betapa bodohnya dia. Kenapa tadi dia tidak menyuruh Jea masuk ke kamar dulu. Marlina kasihan pada Jea. Jea pasti tersiksa dengan kejadian ini.


Andrew juga tak kalah kagetnya saat mendapati Jea melihat kelakuannya ini. Tapi bukankah ini kemauan Andrew sendiri? Kenapa harus kaget?.


"Andrew HENTIKANN!!!" teriak Marlina sambil menahan isak tangisnya.


Andrew langsung menghentikan aksinya.


"Ck... jangan urusi aku lagi. Lebih baik ibu mengurusi diri ibu sendiri. Berkemas dan pergi dari sini..."


Marlina yang mendengar itu semua tubuhnya langsung merosot ke lantai, lemas tak bertulang.


Iya, siapakah Marlina?? Hanya ibu tiri pajangan yang tak dianggap. Tangisan Marlina menggema di ruang tamu itu.


Sedang Petty yang tak tahu dirinya dengan santai langsung duduk dipangkuan Andrew. Andrew menatap Petty dengan tatapan tak suka. "Kau pergilah..."usir Andrew sambil berdiri menjauh dari keagresifan Petty.


"Tapi tuan???"tolak Petty yang merasa tidak suka diperlakukan seperti itu.


"Pergi atau lenyap??"ucapan Andrew langsung membuat bulu kuduk Petty berdiri. Mau tidak mau, Petty meninggalkan mansion itu. Di setiap langkahnya, Petty mengumpat-ngumpat marah dengan kelakuan Andrew terhadap dirinya.


....

__ADS_1


__ADS_2