I Love You Tuan (ILYT)

I Love You Tuan (ILYT)
30


__ADS_3

.


.


.


Rumah sakit.


Andrew dan Kelvin sama-sama saling diam. Andrew memandang Kelvin sekilas, bernafas panjang kemudian berjalan mendekat ke arah Kelvin yang sedang berdiri didekat pintu masuk.


"Kelvin, sebelumnya aku ucapin terima kasih. Berkat bantuanmu Jea tidak jadi ditawan oleh musuhku."


"Tak apa Dre, tak masalah. Aku hanya tak ingin Jea celaka gara-gara duniamu," balas Kelvin sedikit ada rasa marah di hujung perkataannya.


"Thank's, tapi ku mohon, untuk kali ini jangan ikut campur. Untuk selanjutnya biar aku yang menyelesaikannya," pinta Andrew sambil memasukkan kedua tangannya di kantong celana. Bersandar di dinding yang ber cat serba putih itu.


Kelvin menatap Andrew dengan penuh selidik. Ia paham apa maksud Andrew. Toh sekarang, Andrew terlihat berbeda. Kecemasannya pada Jea melebihi dari kecemasan yang Kelvin punya.


Sebenarnya dari kemarin Kelvin belum pulang, dia menyuruh mata-mata -lagi- untuk mengintai Jea. Dan pada akhirnya kejadian ini terjadi, tanpa menunggu lama Kelvin turun tangan membantu Jea. Untuk Clara, Clara juga masih di sini. Tepatnya di hotel. Clara ia biarkan sendirian. Wanita itu hanya ingin selalu bersamanya bukan? Jadi dengan sedikit balik mengancam, dia akan takut sendiri.


"Aku paham Dre. Jaga Jea dengan cintamu."


Kelvin menepuk pundak Andrew lalu pergi, untuk kedua kalinya Kelvin meninggalkan Jea di rumah sakit tanpa bertemu.


Andrew sempat tertegun. Ternyata hampir 4 tahun hidup bersama, Kelvin sudah tahu banyak tentang dirinya. Pikiran tentang Kelvin berakhir, saatnya Andrew memikirkan istri dan bayinya. Dia baru tahu kalau yang menyerangnya adalah dari kubu Ferdinand. Orang tua itu. "Ck, orang tua itu ingin tenar juga ternyata. Jika terjadi sesuatu dengan anakku. Aku tak segan-segan membunuhmu!" gumam Andrew penuh amarah.


Andrew memejamkan matanya sebentar, ia sempat menyesal karena tak ada Roy ataupun Bimo di sisinya. Andrew menyalahkan dirinya sendiri, kenapa dia bisa lalai? Posisinya yang seperti ini harusnya dia sadar. Bahwa tanpa ia ketahui, banyak orang yang memusuhinya demi jabatan. Pantas saja kalau Axel selalu berbuat licik demi mempertahankan posisinya. Ah, bodoh sekali Andrew.


Andrew belum mengerti tentang nasibnya nanti. Karena sekarang adalah nyawa Jea taruhannya, Jea tak aman bersamanya. Lama Andrew berpikir, seorang dokter pria berseragam putih yang hampir sebaya dengannya menghampiri nya.


"Permisi tuan Andrew, boleh kita bicara sesuatu," ucap dokter itu dengan sopan.


"Ya, apa yang terjadi pada istri dan anakku? Apa mereka baik-baik saja?" tanya Andrew cemas. Kini keduanya sedang duduk dalam ruangan yang sederhana. Rumah sakit di dekat pantai tak terlalu besar, tapi fasilitasnya cukup bagus.


"Istri anda hampir saja keguguran, untunglah darahnya tidak keluar banyak. Jadi calon bayinya masih terselamatkan. Ku mohon untuk ke depannya, jaga istri anda. Jangan biarkan istri anda terlarut dari masalah atau sesuatu yang membuatnya merasa cemas. Karena kondisinya begitu lemah Tuan, dan saya akan memberikan vitamin untuk menguatkan kandungannya."


Andrew mengangguk, lalu berpamitan meninggalkan ruangan itu. Penuturan dokter muda itu membuat hatinya sedikit lega.


Untuk kali ini, Andrew tak mau ambil resiko lagi. Sudah cukup Jea dalam masa kesulitan. Dengan sigap dia menghubungi Bimo dan anak buahnya yang lain. Berjaga-jaga di sekitar rumah sakit sampai Jea sembuh. Untuk saat ini, Andrew hanya ingin bayinya selamat. Secara tak kasat mata, Andrew membutuhkan keduanya.


***


Jea hanya dirawat selama 2 hari saja. Kondisinya sudah pulih, jadi dengan seijin dokter, Jea diperbolehkan pulang.

__ADS_1


Kali ini bukan Andrew yang menyetir, melainkan Bimo. Demi berjaga-berjaga dari orang yang memusuhinya. Tenaga Bimo jadi andalannya.


"Apa kau menginginkan sesuatu Jelly?" tanya Andrew saat mereka sudah dalam perjalanan pulang.


"Rasanya aku ingin makanan yang pedas-pedas, lidahku terasa aneh akhir-akhir ini," jawab Jea dengan lesu. Bawaan hamil membuat lidahnya serasa tak berasa. Jadi makanan pedas rasanya lebih nikmat.


"Kau belum boleh makan makanan yang pedas-pedas Jelly? Lagi juga tak terlalu baik buat kehamilanmu," timpal Andrew yang membuat Jea mengerucutkan bibirnya.


"Hmmm." Jea hanya berdehem dan langsung membuang muka. Bimo sedikit mengintip posisi Jea dari kaca spion yang ada di tengah mobil itu. Ngambek. Pikir Bimo.


"Huuuuftt! Baiklah, sekali ini saja."


Andrew akhirnya mengalah. Semua ini ia lakukan demi Jea dan bayinya. Tak ada lagi selain itu. Andrew terlalu mencintainya. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi mulai sekarang Andrew ingin Jea kembali mencintainya. Biarkan Andrew yang egois untuk cintanya saat ini.


"Apa boleh?" tanya Jea begitu sumringah. Ada rona bahagia di wajahnya, Andrew jadi gemas sendiri. "Tentu saja, kau mau makan apa?"


"Aku ingin seblak sama ayam geprek," jawab Jea santai. Sudah lama Jea belum menikmati makanan itu.


"Apa kau yakin?" tanya Andrew begidik ngeri. Andrew alergi dengan makanan yang berbau lombok atau cabe-cabean. Mendengar jawaban Jea tadi membuat kepalanya sedikit berdenyut. Pening saat membayangkan rasa itu berada di lidahnya.


"Kenapa? Boleh apa nggak sih? Kalo gak boleh, lebih baik pulang aja."


Jea jadi emosi. Hormon kehamilannya tetap tak menyurutkan emosinya kepada Andrew. Entah, Jea semakin ketus saja terhadap Andrew.


"Iya boleh. Silahkan!"


"Bim, carikan tempat makanan yang di request oleh istriku," titah Andrew sambil membelai puncak rambut Jea. Jea diam tak merespon.


"Baik Tuan," balas Bimo sambil mengangguk.


Padahal kepalanya tak terlihat dari kursi penumpang. Jadi Andrew juga tak akan tahu gerakan Bimo yang sepertinya sia-sia tak berguna. Mengangguk untuk dirinya sendiri, anggap saja seperti itu.


"Apa kamu menginginkan yang lain Jelly?" tanya Andrew memastikan.


"Aku ingin ice cream itu," jawab Jea sambil menunjuk depot yang menjual bermacam-macam varian rasa es krim.


"Bimo, berhenti di depot es krim yang ditunjuk oleh Jelly-ku!" perintah Andrew yang tak terbantahkan.


"Siap Tuan."


Bimo memundurkan mobilnya perlahan-lahan. Depotnya sempat terlewat beberapa meter tadi. Dan pada akhirnya Bimo sudah sampai di tempat tujuan yang dimaksud oleh Andrew.


Jea berlari kecil seperti anak kecil. Dia tak memperdulikan teriakan Andrew yang menyuruhnya berhati-hati. Kandungannya terlalu muda, pun juga dia baru sembuh.

__ADS_1


"Aku mau es krim rasa coklat dan mangga," pinta Jea pada salah seorang penjual.


"Siap Mbak, ingin berapa porsi?" tanya penjual es krim itu dengan khas jawanya.


Jea tampak berpikir.


"Aku mau 3, tapi yang 2 minta rasa strowberry ukuran jumbo ya?" ucap Jea yang diangguki paham oleh penjual es krim itu.


Andrew menunggu Jea dari jauh, jadi dia tak mengerti apa-apa yang dipesan oleh Jea. Yang Andrew tahu adalah dia yang membayar.


Andrew membuka matanya lebar-lebar saat Jea berjalan ke arahnya sambil membawakan sebuah es krim big size berwarna pink di depannya. Andrew menoleh ke kanan dan ke kiri. Untunglah orang-orang tak menyadari akan kedatangannya. Karena Andrew menggunakan topi base ball tadi.


"Ini buatmu tuan Andrew."


Jea mengerlingkan sebelah matanya dengan senyuman yang terus mengembang di bibirnya. Ya saat ini Jea sedang mengerjai sang suami.


"Untukku? Apa kau yakin?" tanya Andrew dengan ragu.


"Yakin!! Bayimu yang memintanya." Jea menjawabnya dengan enteng tanpa rasa bersalah tentunya.


Jawaban Jea barusan membuat Andrew dengan terpaksa menerima es krim tersebut. Dia tak suka warna pink yang menurutnya identik dengan wanita. Bimo yang melihat kejadian itu jadi terkekeh sendiri dari dalam mobil. Sialan Bimo.


Setelah Andrew menerima es krim itu, Jea kembali membawa es krim yang sama di tangan kiri nya, dan tangan kanan nya membawa es krim berukuran sedang berwarna coklat dan kunyit. Andrew menelan ludahnya dengan berat. Apa dia harus makan dua sekaligus? Pikirnya yang mulai kacau. Tapi nyatanya itu salah. Jea melewatinya dan mengetuk pintu mobil sang sopir.


Dengan cepat Bimo membuka pintu itu. "Ya Nona, ada yang bisa saya bantu?" Bimo membungkukkan dirinya hormat.


"Ini buat kamu Bim, kamu pasti haus kan?"


Dengan santai Jea menyodorkan es krim yang ada di tangan kiri nya. Sedang Jea sesekali menjilat es krim nya sendiri.


Hah mati aku.


Bimo berdiri kikuk. Andrew buru-buru membayar dan langsung menghampiri keduanya. Bodoh nya Andrew tadi. Kenapa tak ada pikiran buat memberikan es krim itu ke Bimo tadi.


"Ayo ambil Bimo, bayi ku keburu ileran nih." Jea terus menyodorkan eskrimnya.


"Terima Bim, ini perintah."


Andrew menimpali. Gayanya tetaplah seperti sang majikan. Dengan tangan gemetar Bimo menerimanya. Jea tersenyum puas. Tanpa mereka berdua sadari. Kehadirannya membuat para pengunjung tertawa geli. Ini adalah kali pertamanya Jea mengerjai orang-orang kaya. Ternyata rasanya begitu menyenangkan.


***


Hampir 3 jam lamanya mereka menghabiskan waktunya di luar. Akhirnya Jea sampai juga di mansion. Jea terasa sedikit rindu akan mansion ini. Dengan langkah terburu-buru Jea menaiki tangga. Jea tak fokus, tubuhnya langsung oleng ke samping. Dalam hitungan detik, sudah dipastikan Jea terjatuh dan berguling dari tangga satu ke tangga lainnya. Andrew yang masih mengobrol dengan Bimo tak menyadari kejadian itu. Hingga teriakan Murti yang membuat hatinya tersayat.

__ADS_1


"NONAAAAAA!!!" teriak Murti sambil berlari tergopoh-gopoh dan di ikuti oleh pelayan yang lain.


Apa yang terjadi dengan selanjutnya???


__ADS_2