
"Di mana papa?" tanyanya pada seorang asisten.
"Tuan Axel masih di kantor Aden, mungkin sebentar lagi akan pulang," balas asisten tersebut.
Sepertinya Fero tidak sabar. Ia segera berlalu dan mencari mamanya. Mamanya pasti sedang mencoba baju-baju baru. Dan benar saja, Haruka memang sedang bergaya di depan cermin. Ia shopaholic dan sempat membuat Axel hampir bangkrut.
"Ma," panggil Fero sambil mendekat.
Haruka menghentikan aktivitasnya. Lalu menyambut sang anak dengan membuka lebar kedua tangannya. Seperti biasa, Fero langsung masuk kedalam pelukan sang mama.
"Anak mama sudah pulang?" tanyanya sambil mengelus rambut Fero dengan sayang.
Anak mana yang tak akan manja diperlakukan seperti ini. Dan sekarang, lihatlah! Fero menjadi anak manja, dia kurang mandiri dalam melakukan hal lainnya. Dia selalu mengandalkan tangan papa, mama, Maxy dan tangan-tangan lainnya. Untungnya, untuk urusan cinta, ia tak menyuruh orang lain. Andai itu terjadi? Entah apa yang akan terjadi? Pasti akan banyak kesalahpahaman di dalamnya.
"Ada apa sayangnya mama? Kenapa wajahmu ditekuk seperti ini?" tanya Haruka heran.
Layaknya anak kecil, Fero langsung curhat seperti gadis pada umumnya. Eh. Fero seorang anak laki-laki, tapi sikapnya bak gadis remaja sedang patah hati. Maka, bercerita lah ia kepada sang mama.
__ADS_1
"Ma, Queeny Ma."
"Kenapa dengan anak itu? Bukannya kamu tahu sendiri, kalau papa gak suka kamu dekat-dekat dengan anak itu? Ya, selama ini hanya mama yang selalu dukung kamu. Semoga papa tak mempermasalahkannya."
"Fero tahu Ma, Fero tahu. Tapi papa udah ngijinin kemarin. Fero boleh dekat dengan Queeny."
"Terus, masalahnya apa? Kan bagus, kalau papa udah ngijinin, tandanya kamu udah bebas pacaran kan?" tanya Haruka penasaran. Lalu, ia membawa Fero duduk di kasurnya.
"Bukan itu masalahnya Ma. Masalahnya, dia udah punya pacar Ma?"
"Loh, bukannya kamu pernah nyatain cinta? Jadi Queeny pacaran dengan pria lain begitu? Queeny nolak Fero? Benar begitu kan?" Haruka mulai terpancing emosinya. Ini memang tak bisa dibiarkan. Queeny dan siapapun itu, harus merasakan sakit hati seperti yang Fero rasakan.
Uh Fero. Haruka jadi tak tega mendengar itu. "Tenang Sayang, mama pasti akan membantu Fero. Suruh Queeny nunjukin siapa pacarnya. Nanti mama yang akan pastiin, siapa pacarnya, dan akan mama buat dia putus dari Queeny."
"Bener Ma?" Fero ingin kepastian.
"Tentu, mama tidak pernah bohong sama kamu kan?"
__ADS_1
Akhirnya Fero mengangguk senang.
Sedang di tempat lain, Maxy masih memikirkan cara pembalasan yang tepat untuk Axel. Biar Axel tahu rasanya, bagaimana ia kehilangan nyawa orang yang dia sayangi. Atau tak, Maxy lah yang akan menghabisi nyawa Axel dengan tangannya sendiri.
***
Karena terus diteror oleh Fero. Akhirnya Queeny mengalah, ia putuskan membujuk Maxy agar mau menjemputnya.
Dengan usiran halus, akhirnya sang bodyguard mengalah, ia lebih memilih mengamati Queeny dari jauh.
Tadinya Maxy sibuk, demi penebusan maafnya. Jadilah Maxy tetap meluangkan waktunya untuk Queeny.
Jadi, di sinilah Maxy sekarang. Dia tahu, Queeny satu sekolahan dengan Fero. Tapi Maxy terlalu polos untuk yang satu ini. Dia tidak tahu apapun mengenai perasaan Fero kepada Queeny. Lebih tepatnya, Maxy tidak tahu tentang asmara seorag Fero.
Saat itu, Queeny sudah melayangkan tatapan penuh kemenangan di hadapan Fero. Tentu hati Fero sudah patah. Tadi Fero sempat menghubungi mamanya. Otomatis, Haruka sudah dalam perjalanan, menuju ke sekolahan Fero.
Dan benar saja, tak lama kemudian, Haruka telah sampai. Tak jauh dari tempatnya parkir, ia mendapati keberadaan Maxy di sana. "Ngapain bocah itu?" gumam Haruka tak suka. Dari dulu Haruka memang tak menyukai Maxy. Buat apa? Maxy bukan anak kandungnya.
__ADS_1
Setelah menunggu hampir 10 menit lamanya, Queeny berlari kecil menuju ke arah Maxy. Queeny tersenyum penuh kemenangan. Di belakang nya disusul oleh Fero. Setengah terkejut, akhirnya Fero melambatkan langkahnya. Ia hanya memastikan saja, kalau bukan Maxy pacarnya Queeny. Jika benar Maxy, tamatlah riwayat sang kakak tirinya itu.
Bersambung.