
.
.
.
"Langsung saja Thomas, apa yang sebenarnya kalian inginkan dariku?" Jea menatap Thomas dengan menyedekapkan kedua tangannya.
Thomas tertawa sumbang. "Ayolah Nona, saya tak ingin memaksa a
Anda, jika anda menolak jangan salahkan saya jika-----"
"Jika apa? Aku sudah tak ada urusan lagi dengan kalian. Asal kalian tahu, Aku bukan lagi istri dari tuan Andrew. So, jangan ganggu hidupku lagi." Jea benar-benar bosan dengan situasi yang seperti ini. Lebih baik dia langsung kembali ke KL resto saja, memiringkan badan dan langsung mengambil langkah menjauhi Thomas.
"Tidak semudah itu Nona." Thomas berusaha menghadang langkah Jea yang mulai meninggalkan tempat itu. Tak tahukah Jea?Jika Thomas sudah bersusah payah mencari nya sampai saat ini. Dan ini adalah kesempatan emasnya. Jadi dia tak mau buang-buang waktu.
"Huuuuufffft." Jea menarik nafas lelah. "Tolong mengertilah, aku mau bekerja."
"Lebih baik anda ikut kami nona, tanpa anda bekerja, Tuan Axel akan memberikan semua yang anda butuhkan." Thomas menatap Jea dengan penuh keyakinan.
'Aku sudah bosan berurusan dengan kalian... cukup Andrew saja yang mengurungku. Aku tak mau berurusan dengan teman Andrew atau musuhnya lagi. Dunia kalian berbeda dengan duniaku.'
****
Hampir seharian Jea tak bekerja, akhirnya Jea kembali ke KL resto. Untunglah Thomas tak jadi memaksanya. Tentunya dengan perdebatan panjang dan beruntun. Kalau diteruskan mungkin tak akan ada habisnya. Semua berjalan mulus karena Jea berjanji akan menemui Axel dalam waktu dekat ini.
"Dasar kelayapan... kemana aja kau!!" Dengan tampang yang tak sedap dipandang, Yuni menatap Jea dengan tatapan yang terlihat memendam amarah. Matanya berapi-api penuh kebencian, kedengkian dan hal-hal buruk lainnya.
"Maaf, saya akan bekerja." Jea menundukkan wajahnya dan langsung menuju ke meja yang terlihat kotor. Sebelumnya dia mengambil lap tangan untuk membersihkan meja pelanggan.
Yuni terus mengoceh kesana-kemari. Semakin Jea tak menggubrisnya, ocehannya semakin menjadi-jadi.
'Sabar.'
Hanya sabar yang akan menguatkan Jea, kalau tidak, mungkin Jea sudah angkat kaki sekarang juga. Tiba-tiba ada sebuah tangan mengusap lembut pundaknya.
"Sabar ya Jea, mbak Yuni orangnya memang seperti itu," bisik Sila lembut.
Jea tersenyum. Perpisahan dengan Andrew memang tak terlalu menyakitkan, tapi sebuah ucapan yang keluar dari mulut Yuni begitu menyiksa batinnya. "Makasih ya Sila."
Jea dan Sila kembali ke aktifitas masing-masing. Dan Yuni terus pada posisinya yang dengan seenak hatinya menyuruh para juniornya untuk mengerjakan ini itu.
Kelvin yang baru keluar dari ruangannya tertegun melihat kejadian yang baru saja ia lihat. Hello Kelvin? Kamu kemana saja? Tak heran jika Kelvin kurang memperhatikan sikap para karyawannya. Karena restonya tidak hanya satu, melainkan 4. Dan dia melupakan CCTV? Astaga Kelvin, ternyata kau begitu ceroboh. Harusnya kau memberikan peraturan yang lebih tegas. Sudah terlalu lama dia leha-leha dengan membiarkan para karyawannya bersikap semaunya sendiri.
"Yuni." panggil Kelvin, netra matanya menghunus tajam tepat di bola mata sang lawan. Yuni yang ditatap seperti itu hanya merinding disko. Yuni berani semena-mena karna dia merasa dekat dengan Clara, tunangan Kelvin. Jadi ia rasa dia tidak akan kena masalah yang khusus. Tapi kenapa sekarang Kelvin memanggilnya???
Dengan langkah maju perlahan Yuni mendekati Kelvin. "Iya Tuan." Yuni menunduk takut. Wajahnya kentara pucat, tangannya sudah berkeringat dalam genggamannya sendiri.
__ADS_1
"Jangan semena-mena pada junior. Semua orang ku gaji sama. Di sini aku boss nya. Mentang-mentang kamu temannya Clara, lalu, kamu memanfaatkan keadaan ini." ucap Kelvin dengan tegas. Ada sedikit amarah di nada bicaranya. Niat awal ingin menemui Jea, semuanya berantakan karena ulah karyawan satu ini.
"Maaf tuan, maafkan saya." keringat dingin mulai bercucuran di pelipis Yuni. Dia tidak tahu kalau Kelvin bakalan memergokinya.
"Usai bekerja, kumpulkan semua karyawan di ruangan saya. Ada peraturan baru di resto ini." Dengan tegas Kelvin berucap seperti itu. Dia paling anti dengan orang-orang yang suka menindas.
Dengan sedikit menatap Yuni, dia mulai membalikkan badannya. Sebelumnya di ujung ekor matanya dia menatap seseorang yang tengah sibuk bekerja. Banyak pertanyaan di benaknya. Tapi mungkin lain waktu akan ia tanyakan tentang Andrew pada mata-matanya. Menurutnya dia tak perlu mata-mata lagi selama Jea bekerja bersamanya.
***
Ruangan berbentuk persegi 4x4 meter telah dipenuhi orang-orang. Sebagian bajunya sudah bebas. Ada yang masih berseragam sekitar 5 orang. Itulah para waitress, khusus pelayan tamu memang menggunakan seragam. Untuk koki memakai baju bebas, hanya apron atau celemek saja yang menandakan karyawan di KL resto.
Sebelum mengeluarkan suara, Kelvin menatap karyawannya satu persatu. Tak luput juga Jea ditatap olehnya.
Jea yang sedari menatap boss nya itu, akhirnya melontarkan senyum saat Kelvin melihat dirinya. Tak sia-sia, Kelvin juga balas tersenyum meskipun hanya sekilas.
"Malam semua."
Setelah ucapan selamat malam itu dibalas oleh para karyawannya. Kelvin akhirnya menjelaskan apa-apa peraturan baru itu. Dan satu poin yang harus di ingat. Mungkin untuk Yuni tepatnya.
"Kalau ada yang sengaja memanfaatkan tenaga teman kerja kalian. Siap-siap angkat kaki dari sini. Kecuali semua atas perintah, tugas dan peraturan yang sudah saya berikan tadi. Apa kalian mengerti?"
"Mengerti Tuan."
Kelvin menarik nafas dalam-dalam. "Kalian sudah boleh pulang."
'Saat marah, dia lebih terlihat 100x lipat ketampanannya... aahh, maafkan aku Andrew, sepertinya, aku sudah punya seseorang yang akan menggantikanmu.'
Kelvin yang menyadari posisi Jea hanya mengerutkan kening. Sejujurnya banyak hal juga yang ingin dia bicarakan. Tapi tidak untuk di sini. Ini tempat kerjanya, apalagi semua karyawan sudah tahu kalau Kelvin mempunyai tunangan. Kelvin tidak ingin Jea punya masalah baru saat berada di dekatnya.
"Kau tak pulang Jea?"
"Ah-eh... itu saya permisi." Tiba-tiba kegugupan menjalar di sekujur tubuh Jea. Lebih baik dia pulang saja.
"Tunggu aku di depan Jea, aku akan mengantarkanmu," ucap Kelvin sambil mematikan laptopnya yang sedari tadi masih menyala. Jea mengangguk dan menunggu di tempat parkiran yang lumayan gelap.
Tak berapa lama Kelvin sudah menghampirinya. "Kau mau langsung pulang atau kemana dulu?" tanya Kelvin sambil menatap Jea dalam kegelapan. Jea gugup bukan main. Pasalnya berdekatan dengan Kelvin membuatnya ingin mengucapkan kata 'Terima kasih' yang masih tertahankan di tenggorokannya.
"Mungkin langsung pulang Tuan." ucap Jea berusaha menutupi kegugupannya.
"Baiklah, ayo!"
Keduanya beriringan menuju ke mobil pribadi Kelvin.
"Tuan, bagaimana kabar ibu? Eummmm, maksud saya ibu Marlina." Jea sedikit canggung saat mengatakan kata ibu, yang jelas-jelas itu bukan ibunya. Hanya Jea sudah menganggapnya seperti ibu kandungnya.
"Beliau baik sekarang, hanya akhir-akhir ini kesehatannya tak terlalu ibu perhatikan. Kau merindukannya?" tanya Kelvin sambil menatap Jea sekilas. Dia fokus menyetir sekarang.
__ADS_1
'Tentu aku merindukannya tuan, dia sudah ku anggap bagai ibuku sendiri...semoga dia selalu dalam keadaan baik.'
"Ya ,titip salam buat ibu tuan... saya rindu beliau..."
Kelvin hanya tersenyum tipis. 'Aku akan membawamu pada ibu, nanti jika sudah saatnya.'
Kelvin memberhentikan mobilnya tepat di depan kontrakan petak yang begitu kecil. Sungguh miris nasib Jea, padahal baru saja dia menjadi ratunya Andrew Parker. Sekarang bahkan hanya sebagai pelayan biasa.
Tapi Jea tak memperdulikan itu, hidup seperti apa??? Hidupnya bagaimana?? Yang penting hatinya bahagia. Buat apa hidup dikelilingi emas? Jika dia terus-terusan sakit hati? Itu menyiksa namanya.
"Selamat istirahat cantik."
Blussssshhhhhh.
Seperti mantra, ucapan yang keluar dari mulut Kelvin barusan mampu menghipnotis hati Jea.
****
"Benarkah saya cantik tuan?" tanya Jea sambil menyeringai. Dia terus berjalan mendekati tubuh Kelvin.
"Ya, ku akui kau memang cantik," jawab Kelvin mulai mundur teratur seiring langkah Jea yang mulai mendekatinya.
"Anda begitu mempesona tuan? Apakah saya boleh merasakan bibirmu?"
Kelvin yang hanya mematung langsung diserang oleh Jea. Seperti layaknya kurang belaian. Jea langsung ******* bibir Kelvin dengan rakus. Tak disangka, ternyata Kelvin masih diam mematung.
"Ngggghhhh." Jea mendesah menikmati ciumannya sendiri.
"Ini tak benar." Kelvin mendorong tubuh Jea.
PLAKkkkkkkk
"Awwwwwww."
Tamparan yang sebenarnya tak begitu sakit membangunkan tidur seseorang.
"Lita, kau kenapa?" Mimik kekhawatiran terpancar di wajah Patty.
"Ah, Patty. Kau membangunkanku." Jea tersenyum sambil memegangi bibirnya.
"Habis, kamu tidur mendesah seperti itu, aku kan jadi takut? Mana keringat dingin bercucuran di pelipismu?" Patty menunjuk-nunjuk pelipis Jea yang memang basah karena keringat.
"Aku mimpi sesuatu Patty."
Patty menyeringai. "Kau mimpi basah?Crazy, baru juga dicerai. Lita, Lita."
Hingga malam itu pipi Jea terus-terusan merona karena digoda oleh Patty tiada henti.
__ADS_1
'Salahkah dengan ini? Andrew, ku harap kau juga bahagia di sana.'