I Love You Tuan (ILYT)

I Love You Tuan (ILYT)
34


__ADS_3

.


.


.


"Tuan,,, berhenti di sini saja..."titah Jea pada Kelvin. Sebenarnya dia merasa tak nyaman sekarang jika harus berduaan bersama Kelvin yang kini statusnya adalah sebagai Bos.


Kelvin menurut dan menghentikan mobilnya. Kelvin melihat ke sekeliling. "Yang mana rumahnya??"tanya Kelvin heran.


"Masuk ke dalam gang Tuan..." Jea membuka seatbelt nya dan ingin segera membuka pintu mobil.


"Oh....ku antar sampai depan kontrakan mu..."balas Kelvin dengan nada yang sedikit memaksa.


"Tidak tuan,, cukup di sini saja. Terima kasih..."larang Jea seraya ingin membuka pintu mobil.


"Tunggu Jea..." Kelvin meraih tangan Jea, agar Jea tetap berada di mobil. Jantung Jea serasa berdisco. Kenapa jadi aneh begini si....


"Apa kalian sudah berpisah?? Maksudku bercerai??" Kelvin jadi merasa tak enak sendiri saat bertanya seperti itu. Setidaknya dia tahu status Jea secara jelas.


Jea menggeleng lemah, dia memang belum berpisah dengan Andrew. Ingin sekali Jea mengakhiri hubungan yang tak sehat itu. Tapi sepertinya Andrew enggan melepaskannya.


"Oh, jadi intinya kamu kabur???"tanya Kelvin memastikan lagi.


"Ya, saya kabur Tuan... ku mohon jangan adukan ini ke Andrew..." Entah kenapa Jea jadi gelisah, dia takut Kelvin mengadukannya ke Andrew. Secara mereka pernah menjadi saudara.


Kelvin tergelak tawa di dalam hatinya. 'Aku tak akan mengadukannya, justru aku ingin melindungimu...'


"Ya, soal itu aku gak mau ikut campur ya..." ujar Kelvin seraya tak perduli dengan rumah Jea dan Andrew.


"Makasih tuan, permisi...." Kelvin akhirnya mempersilakan Jea turun di depan gang saja. Padahal Kelvin masih penasaran di mana Jea tinggal. Apa dia hidup dengan baik??? Fikirnya.


Jea melambaikan tangan setelah Kelvin mengklakson tanda pamit mau jalan.


"Yaaa aku lupa, kenapa tadi aku gak nanya tentang ibu Marlina?? Apa kabarnya sekarang? Aku merindukannya. Esok aku akan coba bertanya pada tuan Kelvin..."gumam Jea seraya berjalan menuju kontrakan kecilnya.


"Nona....!!!"


Jea menelan ludahnya dengan berat. Jantungnya berdegup kencang. Jea kenal suara itu. Suara orang suruhan Axel. 'Mau apa mereka???'


Jea jadi was-was, gang ini terlalu gelap untuknya. Tak ada lampu penerangan kecuali cahaya lampu dari jalan raya yang hanya menerangi jalan itu.

__ADS_1


Jea tak menggubris dan mencoba untuk terus berjalan dengan cepat.


"Nona berhenti!!!"teriak orang itu lagi.


Jea semakin gugup, keringat dingin mulai bercucuran. Dia tidak mau lagi berurusan dengan mereka-mereka. Cukup dengan Andrew saja dia ditawan. Tak mau harus sama Axel juga.


Semakin orang itu berteriak, semakin cepat pula Jea melangkahkan kakinya. Dia tak kehilangan akal, untung disitu ada rumput ilalang yang lumayan tumbuh tinggi. Dengan sigap Jea sembunyi disitu. Tak perduli jika kulitnya tergores atau apapun dia tidak takut. Yang ia takuti hanya orang-orang yang ingin menangkapnya.


Jea menutup mulut dengan kedua tangannya, agar suara nafas nya yang memburu tak terdengar oleh mereka -anak buah Axel-.


Jea memejamkan mata, berusaha menormalkan nafasnya.


"Nona...!!!"


"Nona...!!!"


"Nona...!!!"


Terdengar ada 3 suara yang berbeda. Itu tandanya mereka sedang bertiga saat ini.


"Sial!!! kemana perginya Nona itu???"desis salah seorang diantara mereka.


"Kita kehilangan jejak,,"sahut seseorang lagi.


Samar-samar Jea mendengar percakapan mereka. Jea bernafas lega, akhirnya dia aman. Lain kali kalau keluar rumah, sepertinya Jea harus menggunakan masker. Menyamar mungkin yang lebih tepatnya.


***


Patty menghampiri Jea yang sudah bersiap-siap mau berangkat kerja.


"Lita, apa ada pekerjaan yang cocok untukku???"tanya Patty tiba-tiba.


"Kamu gak perlu bekerja Pat,,, cukup di rumah saja. Jaga kandunganmu,,,"


"Tapi Lita----"


"Cukup Patty, kamu jangan khawatir. Aku akan berusaha semampuku untuk menghidupimu dan bayimu kelak...." ucapan yang baru saja Jea lontarkan membuat Patty merasa tidak nyaman.


'Aku akan bekerja Lita... mungkin membuka online shop...' batin Patty sambil terus memikirkan pekerjaan apa yang kira-kira cocok untuk ibu hamil.


"Aku berangkat...."ucap Jea tidak tapi jelas karena mulut yang sudah tertutup dengan masker.

__ADS_1


"Hati-hati..." Patty mengernyit, sepertinya Jea tidak baik-baik saja. Sekelibat, Patty merasa kasihan dengan kehidupan Jea yang begitu rumit menurutnya.


Patty menghela nafas berat. "Kamu yang kuat ya Lita,,, semoga ada kebahagian dikehidupanmu yang akan datang...."gumam Patty lirih.


***


"Heh anak baru!!!" itu suara senior bernama Yuni.


"Ya mbak Yuni...."balas Jea sedikit menunduk.


"Kamu apa-apaan??? Kerja pakai masker!!! Kalau sampai pelanggan ada yang melihat, mereka bakalan jijik dengan makanannya. Dan aku gak mau tahu, buang masker mulutmu itu...."perintah sang senior sambil berkacak pinggang.


Jea mendelik, dan ya Jea melepas masker itu tanpa membuangnya. Itu masker import, mahal harganya. Jea membelinya saat di mall, harganya hampir 100ribu asal Yuni tahu.


Sepertinya, bekerja seperti ini membuat Jea harus bersitatap dengan semua orang. Jea merasa tidak nyaman dengan pekerjaan ini. Apa kira-kira Jea boleh usul ya??? Jadi koki mungkin, Jea kan jurusan tata boga dahulunya.


Jea terus melakukan pekerjaannya seperti biasanya. Si senior Yuni terus menyuruhnya ke sana kemari. Hanya satu orang saja yang menyemangatinya saat bekerja.


"Sabar ya Jea,,, mbak Yuni memang seperti itu. Aku dulu juga digituin kok, di manfaatkan karena status anak baru..."bisik Sila seraya menepuk pundak Jea berkali-kali agar Jea tetap semangat. Jea akhirnya mengangguk mengerti. Tersenyum untuk memastikan kalau dirinya baik-baik saja.


"Jea, antar minuman ini ke meja nomor 05...."perintah Yuni.


Tanpa mengucapkan sepatah kata-pun Jea langsung meraih nampan yang berisikan 2 gelas berkaki tinggi.


Baru juga Jea meletakkan minuman itu ke meja nomor 05. Si Yuni sudah memanggilnya.


"Ini untuk meja bla-bla-bla... dan ini untuk meja bla-bla-bla...."


Jea mengatur nafasnya yang mulai tersengal gara-gara mondar-mandir kesana-kemari. Perasaan, si Yuni tugasnya hanya menyuruh tanpa bekerja. Enak banget dia, berapa sih gajinya??. Ingin sekali Jea mengadukan itu kepada Kelvin. Tapi dia siapa??


Hampir jam istirahat, Kelvin baru menampakkan hidungnya. Dia tidak sendiri melainkan bersama tunangannya, Clara. Jea yang melihat itu, hatinya serasa tercubit.


Jea berusaha menghindari tatapan Clara. Bisa gawat kalau Clara tahu, bisa-bisa Jea bakal ketahuan sebelum waktunya.


***


Hampir seminggu lamanya, ternyata susana nya mulai aman. Andrew tak mencarinya, dan orang-orang Axel sepertinya juga sudah menyerah mungkin. Hanya saja Jea jadi penasaran dengan Kelvin. Sejak Kelvin mengantarkannya malam itu, Kelvin tidak lagi menemuinya. Jea jadi gagal ingin menanyakan kabar tentang Marlina.


Saat sedang asyik memikirkan sesuatu, tiba-tiba ada tangan-tangan kekar seseorang memeluknya begitu erat dari belakang. Karena kaget, seketika nampan yang Jea bawa jatuh berserakan di lantai. Untung pengunjung tidak terlalu banyak, tapi kejadian itu tetap mencuri perhatian dari beberapa orang yang ada di sekitar.


"A-anda???" Jea gugup bukan main saat mendapati siapa orang yang tengah memeluknya.

__ADS_1


TBC.


jangan lupa bantu vote ya,,, makasih


__ADS_2