
.
.
.
"Kau tak perlu tahu Sandria. Tugasmu cukup sampai di sini. Terimakasih, dan maafkan aku yang tidak bisa membalas cintamu."
Maxy segera berbalik arah. Ia meninggalkan Sandria sendirian di sana. Maxy orang yang tega. Jadi, janganlah bermimpi mencintai atau menyukainya. Jika ia tak tertarik. Maka, harapan akan selalu menyakitkan. Tak akan pernah ada rasa yang dibalas. Hatinya terlanjur beku, perlu belasan tahun lagi untuk mencairkannya lagi. Seperti saat hatinya dibekukan oleh seorang Andrew Parker.
***
Queeny dan Fero tak ada ikatan khusus. Hanya saja, Fero selalu terus berusaha mendapatkan hati Queeny. Tapi sayang sekali, setelah satu bulan kejadian di toilet itu. Kini Queeny semakin dekat dengan Maxy.
Maxy yang memancing perasaannya. So, usahanya sangat berhasil bukan? Bahkan hari ini, Queeny tak segan-segan membawa Maxy ke tempat tinggalnya. Memperkenalkan Maxy dengan Jealita.
Tadinya, Queeny sempat dihadang oleh para penjaga. Sebab, Andrew Parker melarang keras akan percintaan Queeny. Sebenarnya Andrew membebaskan perasaan Queeny, tapi ini belum saatnya. Queeny masih harus banyak belajar. Dia seharusnya belum boleh mengenal pacaran. Queeny hanya dibolehkan mengenal cinta.
Ah, Andrew kecolongan. Maxy benar-benar licik. Triknya yang lembut nan sopan itu bahkan meruntuhkan tembok pertahanan dari Jealita. Dengan senang hati, akhirnya Jealita mengijinkan Maxy memasuki rumahnya. Biarlah resiko Jea yang menanggungnya. Mudahan Andrew tidak marah padanya.
"Duduklah nak Maxy," suruh Jea mempersilahkan Maxy masuk.
__ADS_1
Jea melupakan wajah itu. Wajah anak yang berusia 7 tahun itu, kini telah menjadi pria dewasa 24 tahun. Kalau Maxy, jelas, dia masih mengingat siapa Jea siapa Andrew. Hampir setiap hari dia melakukan pengawasan di area mansion ini.
Maxy harus bersikap baik dan baik. Jea harus tahu siapa dirinya. Toh, tak ada yang tahu kalau dia menyimpan dendam kan? Yang mereka tahu, Maxy adalah anak asuh Axelio Anderson. Pria yang sampai sekarang masih menyimpan sejuta rasa untuk Jealita. Cih, tak patut sekali si Axel itu. Sudah punya istri, tapi masih melirik wanita lain.
Maxy terlalu dangkal untuk berpikir. Harusnya dia mempunyai pemikiran yang luas dan dalam. Sedalam dan seluas samudera mungkin. Agar tahu, seberapa busuknya Axel. Tapi sayangnya, anak muda ini terlalu terbawa oleh perasaannya sendiri. Terlalu percaya akan ucapan Axel yang dirasa sangat meyakinkan untuknya.
"Terimakasih Tante Jea," balas Maxy yang membuat Jea makin bertanya-tanya. Heran tentunya. Dari mana anak ini bisa tahu namanya? Apakah Queen yang memberi tahunya?
"Loh, Maxy kenal Tante? Tante memang gak asing dengan namamu. Tapi Tante lupa, benar-benar lupa." Jea terkekeh. Perasaan dia belum terlalu tua. Tapi kenapa jadi pelupa seperti ini?
"Tante lupa sama Maxy?" Maxy benar-benar membuat hati siapapun jadi penasaran. Bahkan Queeny yang merasa tak tahu apapun. Langsung ikut menimpali.
"Kakak kenal sama mommy?" tanya Queen polos.
Sepertinya dia gagal berbohong. Harusnya dia tetap menipu. Tapi tidak bisa. Andrew terlanjur mengenal Maxy. Siapa sih yang tak mengenal anak Ferdinand? Apalagi status nya yang sekarang adalah anak angkat Axel? Semua orang pasti mengenalnya. Bodoh, jika dia harus pura-pura. Cepat atau lambat, Andrew akan tetap menemukan kedoknya. Kecuali tentang yang satu itu. Tentang dendam tak akan ada siapapun yang tahu. Hanya dia, Axel dan Tuhan yang tahu.
"Benarkah kak? Kenapa gak pernah bilang ke Queen?" Queeny langsung duduk di samping Maxy. Dia sudah jatuh cinta sejak ciuman pertamanya. Bahkan tidaklah sekali Maxy mencium bibirnya. Selama sebulan ini, mungkin tiap bertemu, mereka melakukannya.
"Queeny kan tak pernah mengajak kakak untuk bertemu mom-nya Queen." Pura-pura protes, itulah Maxy.
"Tapi sekarang kan sudah. Memang kakak bertemu dimana?"
__ADS_1
Kenapa Queeny jadi cerewet seperti ini? Jea yang melihatnya hanya tersenyum. Ia ikut duduk di depan mereka.
"Iya nak Maxy, memang Maxy tahu dari mana? Apa di Jelly resto?"
"Di sini Tante. Apa Tante ingat tentang Ferdinand? Dia adalah ayah saya."
Seketika itu juga, Jea menelan ludahnya agak sedikit kesulitan. Pelupa sekali dia. Kenapa Jea bisa melupakan itu? Itu kejadian yang begitu lama bukan? 17 tahun yang lalu. Jadi wajar saja, kalau Jea lupa.
"Jadi kau anak kecil yang menggemaskan itu? Kau Maxy yang ingin Queeny jadi adikmu?"
Mendengar itu, Maxy langsung mengangguk. Sedang Queeny. Dia langsung tersipu malu.
Singkat cerita. Andrew yang tadinya tak suka akan kedekatan Queeny dengan Maxy itu. Kini menjadi setuju. Membiarkan kedua insan itu menjalin asmara mereka. Tapi suatu ketika saat Andrew sedang terbaring lemah di rumah sakit. Dengan permintaan khusus, Maxy ingin menemani Andrew. Saat itulah, Maxy melancarkan aksinya. Membalaskan dendam yang setimpal buat Andrew. Nyawa dibalas dengan nyawa.
Maxy melihat Andrew yang tengah tertidur pulas. Mungkin pengaruh obat tidur yang diberikan oleh dokter. Jadi, aksi ini begitu memudahkan Maxy untuk beraksi.
Dengan gerakan perlahan. Tangan Maxy sudah melingkari leher Andrew. Dengan begitu perlahan, sampai Andrew kesulitan bernafas. Matanya membulat sempurna. Padahal dia tadi tertidur. Merasakan sesuatu yang janggal, spontanitas Andrew terbangun. Ingin teriak minta tolong begitu kesulitan.
Saat itu juga. Queeny yang baru saja pulang sekolah langsung menuju ke rumah sakit. Feeling-nya tak enak. Dan feeling itu ternyata benar. Betapa terkejutnya Queeny saat mendapati Maxy tengah mencekik leher Andrew.
"Kak Max?" teriak Queeny sambil berlari menghampiri. 'Sialan,' umpat Maxy dalam hati. Ia melupakan pintu itu. Maxy lupa tak menguncinya dari dalam.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan kak? Kau ingin membunuh Daddy. Aku tak percaya ini. Ternyata kak Maxy orang jahat."
Maxy menatap ke arah Queeny tajam. Ia lepaskan tangannya dari leher Andrew. Seketika itu juga, Andrew langsung terbatuk-batuk. Hampir saja nyawanya melayang jika Queeny tak datang tepat waktu. Berterimakasih lah Andrew pada Tuhan yang masih menyayangi nyawanya. Setidaknya, dia mati tidak dalam keadaan dibunuh. Sungguh mengerikan, meskipun itulah resiko dari semua pekerjaannya.