I Love You Tuan (ILYT)

I Love You Tuan (ILYT)
26


__ADS_3

.


.


.


Jea mengerjap-ngerjapkan matanya. Pandangannya sedikit mengabur, sebab ia terlalu lama tertidur. Sebenarnya Jea sudah siuman dari kemarin siang, itu karena bpengaruh obat biusnya belum hilang sempurna. Jadinya Jea tertidur kembali hingga pagi ini.


Jea tersenyum miris saat melihati tangan bagian kanannya tertancap infus. Lalu Jea mengedarkan pandangannya, semua ruangan berwarna putih pucat khas rumah sakit. Jea yakin ini memang rumah sakit. Menajamkan indera penglihatannya, menatap sosok pria yang kini tengah tertidur di sofa dengan lengan yang bersedekap. Itu Andrew suaminya. Apa dia yang membawanya ke sini? Kenapa Andrew menyelamatkannya setelah menyakiti hati dan perasaannya.


Jea termenung, pandangannya kembali kosong menatap langit-langit rumah sakit. Hingga suara serak khas bangun tidur itu menyadarkannya.


"Selamat pagi, Mom."


"Mom?" tanya Jea bingung sambil menaikkan satu alisnya.


Andrew tersenyum dan berjalan mendekati Jea. Andrew duduk di tepi ranjang. Tapi Jea ingin mengubah posisinya. Dengan senang hati Andrew membantu Jea duduk dan menyandarkan punggung Jea di sebuah bantal.


Andrew mengelus perut Jea dengan pelan. Perutnya masih sangat rata, tak memperlihatkan adanya tanda-tanda kehamilan di sana.


"Kau hamil," ucap Andrew pelan, iris abunya menatap Jea dengan tenang. Tak ada pancaran setajam elang seperti biasanya.


'Hamil? Apa itu tandanya aku berhasil menjerat Andrew? Tapi kenapa ada rasa tak senang dengan ini? Aku harus bahagia atau gimana?' batin Jea melayang. Dia bingung dengan situasinya saat ini. Ada sesuatu hal yang mengganjal di hatinya. Entah apa itu, Jea tak mengerti.


"Apa anda marah Tuan?" selidik Jea tak yakin.


Pasalnya Andrew tak menyukainya. Jadi Jea harus waspada juga, siapa tahu, Andrew tak menginginkan bayi itu. Mengingat kalau selama ini Andrew selalu menyuruhnya meminum pil dan dengan sengaja, Jea memuntahkannya begitu saja.


Andrew menggeleng. Semalaman dia sudah mempertimbangkan semuanya. Melihat usianya yang kini 28 tahun, seharusnya dia sudah memiliki momongan. Penerus keluarga Parker tentunya. Dan Andrew akan membuka hatinya untuk Jea, agar dia tak menyakiti Jea dengan sikap temperamennya itu. Itu semua demi keselamatan ibu dan calon anaknya.


"Aku tak marah jika kau menceritakan semuanya padaku. Ceritakan bagaimana kau bisa hamil? Umm, jangan sekarang, nanti setelah kau sembuh."

__ADS_1


Ini yang sebenarnya Jea harapkan selama ini, sikap kelembutan Andrew untuknya. Ya, itu keinginan Jea. Tapi kenapa hatinya mencelos?Ada apa ini? Kenapa Jea masih belum bisa menerima kenyataan ini?


"Apa Tuan yang membawa ku kemari?" Pertanyaan begitu khusus. Entah, Jea hanya ingin tahu dewa penolongnya.


Andrew terdiam, pertanyaan Jea barusan membuat dia tampak berpikir. Apa iya dia harus bilang kalau Kelvin yang menemukannya tergeletak di kamar mandi? Sementara itu, tempat Jea pingsan kan adalah kamarnya. Sepertinya menyembunyikan sesuatu demi kebaikan, rasanya tak masalah, bukan? Maka dari itulah, Andrew akan menyembunyikannya sementara.


"Ehmmm, apa kau menginginkan sesuatu Jelly?" Andrew mengalihkan pertanyaan Jea. Karena sejak kemarin siang Jea belum makan atau minum. Jadi, pertanyaan ini akan cocok untuk Jea.


Jea menatap Andrew, tatapan hangat yang Andrew berikan, tiba-tiba membuat Jea merasa muak. Apa karena kehamilan atau karena faktor yang lain? Jea sendiri-pun tak mengerti. Rasanya dia ingin marah saja.


"Haus."


Jawaban lirih dari mulut Jea yang hampir tak terdengar jika Andrew tak menajamkan pendengarannya. Untunglah, tadi Andrew terus menatap istrinya dan 100% fokus untuk mendengarkan jawaban yang keluar dari mulutnya.


Andrew berdiri, mengambilkan sebuah botol air minum dan menuangkan ke gelas yang sudah disediakan oleh Bimo. Lalu membantu Jea untuk meminumnya.


"Terimakasih..." ucap Jea sambil mengelap sisa air putih yang menempel di bibirnya.


Andrew meraih pelan tangan kiri Jea, mengusap-usap lembut dengan ibu jarinya. Jea menatap aneh kelakuan Andrew padanya. "Jangan panggil Tuan lagi, cukup panggil aku suami-mu."


Jea tercengang, kenapa sikap Andrew berbalik 180 derajat dari biasanya. Apa kehamilannya ini benar-benar berpengaruh padanya? Meskipun bingung, Jea hanya menganggukkan kepalanya, tanda bahwa ia setuju.


***


Di tempat yang berbeda. Kelvin melangsungkan acara pertunangannya dengan Clara. Acara pertunangan yang sempat dibatalkan olehnya demi menolong gadis malang yang bernama Jealita.


Pertunangan yang sebenarnya tak pernah Kelvin inginkan. Hanya Clara yang mencintainya. Kelvin hanya berusaha menerima kehadiran Clara di dalam hidupnya.


Pertemuan pertama kali dengan Clara hingga membuatnya terjebak dengan cinta Clara tersebut. Itu karena, Kelvin tak sengaja bertemu seorang CEO paruh baya di salah satu perusahaan yang lumayan terkenal, meskipun tak setenar Parker Company.


Karyawan nya yang begitu banyak, mengharuskan sang CEO menggunakan jasa KL resto untuk menyiapkan cateringnya setiap hari. Kelvin jelas antusias, dia tak mau menolak kesempatan emas itu. Tapi sayang, setiap ada pertemuan dirinya dengan CEO paruh bayanya itu, putri sulungnya yang tak lain adalah Clara selalu menemaninya. Disitulah benih-benih cinta Clara tumbuh dan Clara mendesak papanya agar Kelvin membalas cintanya.

__ADS_1


Sering kali Kelvin mencoba menolaknya, tapi Clara tak tinggal diam. Ancaman mengakhiri hidupnya membuat Kelvin luluh dan dengan terpaksa Kelvin menerima kehadiran Clara di hidupnya. Clara wanita yang pandai mengancam demi mendapatkannya.


***


Jea menatap kamar baru pribadinya dengan nanar. Setelah 3 hari dirawat di rumah sakit. Akhirnya Jea bisa menikmati aroma kamar orang kaya. Kamar tidurnya kini sudah dipindahkan tempat. Kamar yang dulu membuat dirinya depresi dimana Andrew selalu menyiksanya bahkan membawa perempuan lain untuk bercinta dengan Andrew.


Jea tak bisa menerima itu semua. Hingga kamarnya harus dipindahkan. Untunglah, sikap Andrew yang kini... lebih lembut dan lebih pengertian. Jea cukup bersyukur untuk keadaan yang satu ini. Tapi hatinya tetap tidak tenang. Entah apa yang membuatnya begitu, Jea belum mengetahuinya secara detail.


***


Hari ini Andrew masih meliburkan diri. Dan hari ini juga, Andrew meminta kejelasan kepada Jea.


"Jelly, apa yang kau lakukan sehingga kau bisa hamil?"


Mata abu itu menatap manik mata coklat gelap Jea. Tatapan Jea yang seolah-olah kosong membuat Andrew tak bisa memarahinya. Andrew harus bersikap dewasa sekarang. Jangan sampai ia melukai hati Jea kembali.


"Aku memuntahkan semuanya, memuntahkan obat itu," jawab Jea datar.


Pandangannya tertuju pada keramik lantai tanpa menatap sang lawan bicara. Posisi Jea saat ini duduk di tepi ranjang. Dan Andrew berdiri menatapnya.


Mendengar jawaban itu Andrew seolah tak percaya. Bagaimana bisa dia memuntahkannya? Sedang setahu Andrew, ia sudah memastikan dengan kepalanya sendiri kalau Jea telah menelan pil itu. Kenapa Jea bisa memuntahkannya? Apa Jea mencari kelengahannya?


Andrew berjongkok di depan Jea seraya memegang kedua pundak wanita yang ada dihadapannya ini, mau tak mau akhirnya Jea menatap mata abu milik Andrew.


"Kenapa kau bisa memuntahkannya? Apa kau benar-benar tak menelannya?"


Ya, Andrew ingin memastikan apa yang sebenarnya rencana Jea untuknya? Hingga Jea harus memuntahkannya dan menjeratnya dengan seorang anak.


Jea mengangguk pelan, perkataan Andrew memang benar. "Aku menyembunyikannya di bawah lidahku. Saat kau lengah aku memuntahkannya.l"


Tepat sekali dugaan Andrew. Andrew langsung berdiri, menjauh dari hadapan Jea. Ingin sekali dia menampar wanita yang kini menjadi istri sekaligus calon ibu dari anaknya itu. Tapi keinginan itu diurungkannya. Andrew mengacak-acak rambutnya frustasi.

__ADS_1


Jea, wanita pendiam dengan sejuta cara. Kini Andrew tahu apa keinginan Jea. Andrew luluh, Andrew jatuh cinta padanya. Pada istrinya sendiri yaitu Jealita. Jealita berhasil memporak-porandakan hatinya. Dan sekarang Andrew berjanji akan melindungi Jea dengan memulai hidup yang baru. Jea wanita pertama yang mampu membuatnya seperti ini.


__ADS_2