
.
.
.
"Dia sudah kembali..."pekik Clara riang sambil menatap layar handphone nya.
"Kel... lihat ini, saudara tirimu sudah kembali ke sini..."
Kelvin yang tengah makan siang menjadi malas melanjutkan makannya. Ia segera merebut ponsel Clara dengan sedikit kasar. Ia membaca artikel itu. Dia tak heran jika Andrew kembali, karena Andrew punya perusahaan di sini.
Tapi setelah Kelvin membuka artikel selanjutnya matanya membola sempurna. 'Benar-benar!!! Untung aku gak ada niatan nikahin Jea... dasar Andrew, moga aja kau masih waras, setidaknya gue mau nerima Jea meskipun hanya menjadi waitress...' ucap Kelvin dalam hati.
Kelvin kembali menyodorkan ponsel itu ke depan Clara. Clara mencebik sebal, Kelvin belum terlalu terbuka dengannya. Malam yang di harapkan oleh Clara berakhir sia-sia. Karena Kelvin masih enggan menyentuhnya. Mungkin hanya sekedar menciumnya penuh nafsu.
"Sial!!!" Clara mengumpat emosi. Membaca berita itu membuat hatinya panas. Ia merasa tersaingi oleh wanita yang bernama Jealita itu.
Ia akui Jea perempuan cantik lah. Tapi Clara menyesal, karena belum sempat menyiksanya. 'Perempuan ini benar-benar ular. Setelah ditolak Kelvin, dengan mudahnya ia kembali ke mantan suaminya. Dasar wanita penggila harta...' Clara terus mengucap kata-kata kasarnya di setiap ada artikel yang membicarakan tentang hubungan Andrew-Jealita yang ternyata tak pernah bercerai.
"Kel... kau mau kemana?? Bukannya kau sedang libur??? Kita pengantin baru Kel...aku ingin honeymoon.."
"Clara,,, bukankah kau tau. Aku menikahimu di bawah ancamanmu. Sekaligus karena papamu... sekarang kau sudah memilikiku... lalu kau mau apa lagi??? Kau juga menyukai Andrew bukan???" tuduhan yang tepat menusuk jantung Clara. Benar Clara menyukai Andrew, bahkan tergila-gila. Tapi apa mungkin ia bersanding dengan Andrew??? Sementara Clara merasa dia mencintai Kelvin entah berapa persen.
Clara menarik nafasnya dalam-dalam. "Aku hanya sebatas mengidolakan tidak lebih..."
"Terserah kau saja... aku ingin ke resto sebentar..." pamit Kelvin sebelum benar-benar pergi.
Clara emosi di tempat. Fikirannya yang buntu langsung mengobrak-abrik perabotan yang ada di dalam hotel itu.
"Akan aku pancing kamu Kel... aku tak akan menyerah. Kau akan mencintaiku...."
__ADS_1
***
Andrew mengajak Jea kembali ke mansion. Suasana mansion kembali berbeda. Yang tersisa tetap Murti di sana. Dan beberapa pelayan laki-laki. Pelayan laki-laki??? Yang benar saja???
"Suamiku... kenapa semua pelayan nya rata-rata seorang lelaki???"tanya Jea saat di dalam kamar. Matanya menatap tajam wajah suaminya yang terlihat masih sedingin es di kutub utara.
"Aku tak mungkin mengerjakan pelayan wanita, mereka akan menggodaku..."balas Andrew sambil menatap Jea datar.
Jea mengendus sebal. "Bagaimana kau berfikiran seperti itu??? Apa kau tak takut jika aku tergoda dengan pelayan pria mu itu???"
"Silahkan kalau kau berani. Jika itu terjadi, dia harus membayar nyawanya karena telah menyentuh milikku..."
Jea menutup mulutnya tak percaya. Andrew sekejam itukah???Dia memang tahu Andrew temperamen, tapi jika dengan menghabisi nyawa, Jea tak pernah menduganya.
"Ku mohon jangan seperti itu... percayalah, aku akan setia padamu... Tapi aku menginginkan pelayan wanita saja..."
"Tidak Jelly,,, menurutlah!!! Ini demi kebaikanmu..."
"Sudah lama aku tak melakukan itu... cukup kau saja Jelly... " Andrew berjalan mendekati Jea. Meletakkan telapak tangannya tepat di puncak kepala Jea. Lalu berujar,"Aku bersumpah, tidak akan meniduri gadis manapun lagi selain hanya dirimu. Hanya kau istriku..."
Jea mengerjapkan matanya berkali-kali. Air matanya luruh seketika. Ia terisak sambil menutup mulutnya. Andrew segera menurunkan tangannya. Membawa Jea ke dalam pelukannya.
"Katakan, kau mau apa??" tanya Andrew sambil mengelus punggung Jea dengan sayang.
"Aku tak menginginkan apapun..."
"Apa kau tak ingin melakukan aktifitas lain hmmm???" tanya Andrew lagi sambil melonggarkan pelukannya. Menatap mata coklat milik sang istri.
"Apa boleh???" Jea menampilkan wajah berbinarnya. Ini adalah tawaran yang jarang Andrew lontarkan padanya. Memegangi dadanya yang tiba-tiba berpacu lebih cepat lagi seperti dulu.
"Tentu saja... kau boleh melakukan apapun, sesukamu... Tapi satu..." ucapan Andrew menggantung di udara yang membuat Jea semakin penasaran.
__ADS_1
"Apa itu???" tanyanya.
Senyum devil tercetak jelas di bibir Andrew yang berwarna merah muda dan tipis layaknya bibir wanita itu.
"Selalu layaniku kapanpun dan dimanapun aku mau..."
"Apa kau gila??? Kapanpun dan dimanapun???"sargah Jea tak terima. Yang benar saja, melayaninya kapanpun di manapun. Apa maksudnya ini???
"Oh, ayolah Jelly... kau istriku. Aku sudah bersumpah tadi. Tak akan meniduri wanita manapun selain dirimu. Hanya dirimu..."
Pipi Jea langsung merona. Dia menundukkan wajahnya tersenyum malu-malu. Andrew memanfaatkan kesempatan itu dengan baik, mengangkat dagu istrinya. Merapatkan wajahnya. Memiringkan hidungnya sampai menekan pipi kanan Jea begitu dalam. Hembusan nafasnya terasa memberat menyambut bibir Andrew yang kini akan mendarat di bibirnya.
Ciuman yang tadinya pelan, kini terasa makin menuntut. Meskipun Jea sudah belajar bernafasnya. Tapi kal ini ia tak bisa mengimbanginya dengan baik. Jea langsung mendorong pelan dada bidang Andrew agar sedikit menjauh. "Hah... hah... kau hh mau membunuhku??"
Andrew menyeringai. "Aku tak mau membunuhmu. Tapi menginginkan ini..." Dengan cepat Andrew membalik tubuh Jea yang masih mengenakan balutan dress warna putih yang selutut.
"Ahhh..." Jea memekik terkejut dan ia langsung berpegangan pada sisi ranjang. 'Mau apa dia???'batin Jea yang belum mengerti.
Andrew segera menyingkap dress Jea sampai kepinggangnya. Menurunkan celana dalam dengan warna senada gaun dengan sekali hentak. 'Gila...' Jea tak pernah membayangkan ini. Andrew akan menggagahinya dengan gaya seperti ini. Jea menggeleng tak mengerti.
Andrew memeluk tubuh Jea dari belakang. "Aku menginginkanmu Jelly... aku akan melakukannya dengan cepat..." ujar Andrew mengingat ini masih pagi, harusnya ia sudah berada di kantor dan melihat laporan-laporan yang membuat kepalanya terkadang berdenyut itu. Makanya jangan heran jika sekarang ia minta jatah pada Jea, karena belum tentu nanti malam ia bisa melakukannya. Karena Andrew yakin, tugasnya hari ini sangat menumpuk.
Jea hanya pasrah saat tangan-tangan Andrew menggerayangi seluruh tubuhnya. Tangan satunya ia masukkan ke dalam lubang kenikmatannya. Dengan gerakan maju mundur yang membuat Jea mengeluarkan desahan-desahan erotisnya. Hingga 10 menit lamanya, Jea mendesah panjang. Pertanda ia sudah sampai hanya gara-gara dua jari nakal milik Andrew.
Andrew yang sudah tak sabaran langsung menghentakkan punyanya. Jea benar-benar dibuat melayang di posisi yang seperti ini. Andrew benar-benar penjahat kelamin baginya. Dan satu lagi, perkataan Andrew yang inin cepat. Nyatanya pergelutan panas itu hampir ia lakukan selama dua jam kalau tidak ada panggilan dari Roy sang asisten kepercayaannya yang menyuruh Andrew segera datang karena rapat akan di mulai.
***
Dengan wajah berbinar, Jea masuk ke dapur. Menemui Murti dan para pelayan pria lainnya.
"Siang nyonya..." sapa mereka dengan membungkuk hormat.
__ADS_1
"Siang...." balas Jea sambil melontarkan senyum tipis kemudian menghampiri Murti yang sibuk menyiapkan makan siang nyonya besarnya ini. Andrew??? Dia sudah berangkat sejak tadi, sepertinya laki-laki itu tidak terlalu perduli dengan pola makannya. Kecuali makan malam yang terlihat sangat wajib baginya.