I Love You Tuan (ILYT)

I Love You Tuan (ILYT)
61


__ADS_3

.


.


.


"Sebenarnya, Nona Kayla masih sempat hidup satu tahun yang lalu, tapi----"


"Apa maksudmu???" Axel meninggalkan kursinya. Berjalan mendekat ke arah Thomas. Menodongkan revolvernya yang kini sudah pindah tepat ke kepala Thomas.


Thomas sedikit gemetar. Denyut nadinya seakan sudah berhenti. Tapi ia mencoba bertahan, demi istrinya.


"Nona Kayla sempat disekap oleh Tuan Ferdinand,,, hampir 5 bulan lamanya. Dijadikan budak nafsunya, hingga yang paling tragis. Nona Kayla dibunuh, dan jasadnya dibuang ke laut..." terang Thomas kemudian.


"Sialan, brengsek!!! Kau mengarang ha!!!" Axel menendang punggung Thomas, hingga posisi Thomas langsung berjongkok. Thomas mendesis merasakan sakit pada bagian belakang tubuhnya.


Ia meraih dokumen itu, dan memberikannya pada Axel. Axel menerima itu dengan tangan kirinya.


Matanya memerah karena amarah. Ia akan membalas perbuatan Ferdinand. "Dasar pengecut!!! Beraninya main dari belakang!!!" Axel segera menarik senjatanya. Memasukkan kembali ke dalam jaket. Thomas selamat, sedang Axel akan membalaskan dendamnya.


Tentunya membunuh orang terkasih dari Ferdinand Alero. Entah anak atau istrinya. Bahkan, kalau perlu semua orang kesayangannya akan Axel habisi.


"Bangun!!! Kita akan susun rencana baru." titah Axel pada Thomas. Ia tak bisa membayangkan akan kepedihan yang Kayla rasakan. Tak pernah bisa, pasti waktu itu Kayla menangis memohon. Axel membayangkan wajah Kayla yang menangis. Tak terasa, air matanya juga tumpah. Separuh jiwanya pergi. Dan kali ini benar-benar tak kembali. Ia dibunuh secara keji, bahkan dibuang ke laut.


"Aku akan membalasnya sayang,,, maafkan aku, yang tak bisa menyelematkanmu. I will always love you..."


***


Sudah seminggu ini, badan Jea terasa begitu lemah. Bangun dari tidur pun rasanya kesulitan. Dan maafkanlah Jea. Karna tak bisa melaksanakan tugas istrinya pada Andrew. Untung jiwa pemaksanya Andrew sedikit lenyap. Jadi Andrew mengerti, justru ia sangat perhatian pada Jea.


"Apa mungkin kau sedang hamil, Jelly???" tanya Andrew yang kini duduk di samping ranjang mendampingi sang istri.


Jea menggeleng, ini terasa aneh. Jika benar hamil, rasanya tak seperti rasa hamilnya waktu dulu. "Entahlah, rasanya berbeda... aku tak pernah mual, melainkan tak bertenaga."


"Kalau begitu, biar aku panggilkan dokter untukmu..."

__ADS_1


Andrew segera merogoh androidnya yang ada dalam saku celananya. Menelpon Bimo, agar segera membawa dokter Rully kemari.


"Apa kau ingin sesuatu???"tanya Andrew khawatir. Andrew sudah belajar banyak tentang kehamilan Jea waktu dulu. Jadi ia harus ekstra perhatian sebagai seorang suami.


Jea kembali menggeleng. Badannya terasa kurang fit. Mungkin karena Andrew terlalu sering mengajaknya bercinta, hingga ia drop saat ini.


Hampir 10 menit lamanya, dokter yang ditunggu itu akhirnya segera datang. Dokter wanita yang diperkirakan seumuran dengan Andrew. Sangat cantik, badan putih pucat, rambut pirang berkacamata. Sekilas Jea iri. Ia merasa cemburu. Takut, kalau Andrew bakal tergoda pada dokter itu.


"Apa yang kau rasakan Jea??"tanyanya seperti berbica pada teman sebayanya.


"Badanku lemas semua, lidahku serasa pahit, tak bisa menikmati makanan yang masuk ke dalam mulutku..." terang Jea kemudian.


"Apa kau telat datang bulan???"tanya dokter Rully sambil menggerakkan tangannya ke perut Jea.


Jea sedikit berfikir. " Ya, ku rasa, aku telat hampir 2 minggu..." Jea menghitung dengan jarinya. Sepertinya ia memang telat datang bulan.


"Tepat sekali, kau hamil sayang... dan lemahmu ini, karena efek dari masa hamilmu..."


"Hamil??? Jadi, Jelly ku hamil???" wajah dingin Andrew langsung berubah seketika. Pancaran kebahagiaan terlukis jelas di wajahnya.


Dokter Rully mengangguk dan mengambil beberapa obat serta vitamin.


"Dan jangan diajak berhubungan dulu Tuan Parker. Saya harap, anda harus puasa selama satu bulan ke depan..." dokter Rully mengedipkan sebelah matanya. Menggoda Andrew. Andrew teman clubbingnya waktu muda dulu.


Wajah Andrew langsung muram seketika. Ia tak bisa menikmati kenyalnya sang istri. Ah, tak masalah. Yang penting, akan ada bayi di antara mereka berdua.


"Well, terimakasih. Silahkan anda pergi dari sini..." usir Andrew pada dokter cantik itu. Dan dokter Rully menanggapinya dengan tawa yang jenaka. Dia sudah terbiasa mendengar kata ketus dari Andrew.


Kepergian dokter Rully masih menyisakan tanda tanya besar pada Jea. Kemistri yang diciptakan dokter Rully membuat Jea agak sedikit cemburu. Entahlah, kehamilannya kali ini terasa sangat sensitif terhadap Andrew. Tak seperti dulu, yang terasa sangat jijik saat melihat suaminya itu.


"Kau hamil Jelly,,, aku sangat bersyukur. Akhirnya, aku akan jadi Daddy..." Andrew menggenggam erat tangan Jea yang terasa begitu lemah saat berada dalam genggamannya.


Jea menatap Andrew datar. "Siapa dokter tadi???" pertanyaan Jea terasa sangat jauh dari topik utama. Harusnya Jea bahagia membahas kehamilannya ini. Tapi lihat, kenapa yang ditanyakan justru dokter cantik tadi?


"Kau kenapa Jelly?? Dia dokter Rully, dokter kandunganmu mulai hari ini..." terang Andrew merasakan gelagat aneh dari Jea.

__ADS_1


"Aku gak mau dia..." Jea membuang muka, dan segera menarik tangannya dari genggaman Andrew.


Andrew menghela nafas. Rasanya sangat sulit menghadapi orang yang sedang hamil. Hormonnya tak menentu. Tapi Jea, condong sensitif padanya.


"Kau kenapa?? Dokter perempuan bagus untukmu..." Andrew berusaha membujuk Jea agar menerima dokter Rully.


"Aku maunya dokter pria..."balas Jea sedikit menaikkan volume suaranya.


Andrew mendengus pelan. Bagaimana mungkin Andrew menyuruh dokter pria untuk Jea? Tidak. Andrew tak bisa. Andrew akan sangat cemburu, jika istrinya disentuh oleh tangan pria lain. Meskipun itu dokter kandungannya.


"No, nggak bisa. Aku tak mengijinkannya..." larangan keras bagi Jea.


"Hei... ini untuk anakmu tuan Andrew. Anakmu yang memintanya." Jea mengusap perutnya yang masih datar. Kali ini, Jea tak memanfaatkan kehamilannya. Tapi memang seperti itulah isi hatinya.


"Aku tak mau Jelly, apa kau tahu, kalau itu akan membuatku cemburu..." masam sudah wajah tampan itu.


Jea mengulas senyum dan segera membelai lembut wajah suaminya. "Ayolah, ini kemauan anakmu. Kau bahkan bisa menemaniku saat kita berperiksa nanti..." rayuan maut yang Jea tunjukkan terlihat tanda-tanda akan berhasil.


Terlihat Andrew membuang nafasnya secara kasar sebelum buka suara. "Baiklah jika itu kemauan anakku..." putus Andrew akhirnya. Ia mengalah pada sang istri. Tidak, tapi pada anaknya yang bahkan belum lahir.


Andrew menyingkap dress yang Jea gunakan. Jea memekik pelan. Kemudian menutup bagian bawahnya dengan selimut, seperti saat dokter Rully memeriksa perutnya tadi.


"Hei,,, apa kau seorang gadis di sana??? Sampai-sampai, kau menginginkan dokter pria untuk memeriksamu..." bisik Andrew pura-pura mengeluh.


"Kau pandai membuat Dad cemburu. Awas saja ya,, kau harus sehat dalam sana. Biar Dad segera menciummu..." Andrew mengakhiri acara ngobrolnya pada bayi yang bahkan masih berbentuk gumpalan darah itu. Jea terkikik geli mendengarnya.


"Apa kau puas???" tuduh Andrew dengan tajam.


"Sangat puas Tuan...." balas Jea yang kembali terkekeh saat melihat wajah suaminya yang memerah menahan emosinya.


***


Clara uring-uringan dengan sikap Kelvin yang semakin hari semakin cuek padanya. Seminggu yang lalu, ia sudah melancarkan aksi gila dengan menggunakan ide dari Yuni. Dan hasilnya apa? Kelvin sama sekali tak tergoda. Bahkan Clara sudah hampir tampil polos, yang ada, Kelvin malah pura-pura tidur.


"Lihat aja Kel... aku tak akan kalah olehmu. Aku akan buat kau memintaku." Clara memainkan sebuah botol kecil. Obat itu akan ia masukkan pada minuman yang akan ia persembahkan untuk Kelvin. "Aku gak sabar akan malam ini..." Clara menyeringai. Ia sudah tak tahan bermain dengan tangannya. Saatnya ia menikmati benda nikmat milik suaminya.

__ADS_1


To be continued...


Like, komennya. Thank you


__ADS_2