
.
.
.
Di dalam ruangan kerja.
Andrew segera menerima telpon dari Marco.
"Ya Marco..."
"Ndre gawat..."
Andrew mengerutkan kening bingung. "Gawat?? Gawat kenapa??"
"Axel sudah kembali... dia memanfaatkan kebangkrutan perusahaan yang Ayahmu berikan pada kami..." jawab Marco panik diseberang sana.
"Apa?? Aku akan ke sana besok. Dimana Kelvin??"
"Kelvin sudah ada di sini beberapa menit yang lalu..."
"Jangan lakukan apapun. Terus pantau kegiatannya. Aku akan mengurusnya besok" jawab Andrew tenang meskipun banyak kekhawatiran yan melintas dibenaknya.
"Roy... siapkan tiket ke italia" telpon Andrew kepada salah seorang kepercayaannya.
###
Pagi-pagi buta Andrew dan beberapa pengawalnya sudah siap menuju ke bandara. Tak ada pamitan untuk Jea. Andrew hanya memberikan pesan khusus kepada Bimo. Agar selalu mengawasi Jea, dan memastikan kalau Jea tidak akan keluar dari mansionnya.
Tak berapa lama setelah kepergian Andrew. Jea terbangun dari tidurnya. Sejak menerima telpon itu, Andrew tak kembali lagi ke kamarnya. Jea jadi penasaran. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Andrew?? Jea ingin memasuki dan mengenal kehidupan Andrew yang sesungguhnya. Tapi dia tidak bisa. Mungkin bukan sekarang waktunya.
Jea dengan perlahan menuruni anakan tangga. Jea melihat Bimo di sana. Kenapa pagi-pagi begini Bimo sudah bangun?? Apa dia tidak tidur??? Fikir Jea tentang Bimo.
"Nona,, anda mau kemana???"tanya Bimo saat mendapati Jea berada sejajar dengan dirinya.
"Minum..."jawab Jea dingin sambil terus berjalan menuju ke arah dapur. Tapi Jea merasa aneh saat ini. Biasanya Bimo tak pernah mengikutinya, kenapa sekarang Bimo terus mengikutinya? Bahkan ke dapur pun harus ada Bimo di sampingnya. Jea mulai berfikir. Apa dia harus terang-terangan kepada Bimo?? Sepertinya tidak masalah juga.
Selesai minum. Jea menatap Bimo dengan lekat. Apa keputusannya ini benar atau salah???
Bimo yang ditatap Jea merasa tak enak sendiri. 'Apa nona tertarik padaku ya???' batin Bimo yang kepedean.
"Ehm... apa anda memerlukan sesuatu nona???"tanya Bimo sambil memastikan fikirannya sendiri. Bimo berharap yang ada di otaknya itu salah. Mana mungkin Jea menyukainya. Jea istri dari majikannya. Bahkan mereka masih tahap pengantin baru bukan?. Tapi bisa jugakan kalau Jea tertarik padanya. Faktor kesepian mungkin. Buktinya istri Andrew yang dulu selingkuh karena kesepian. Tidak tidak. Bimo menggelengkan kepalanya. Sesegera mungkin menepis pikiran kotor itu.
Setelah ditanya seperti itu. Akhirnya Jea mengeluarkan satu pertanyaan. "Dimana tuan Andrew??"
Jea berfikir, mungkin saat ini Andrew berada di ruang kerja atau di kamar tamu.
Bimo yang mendengar pertanyaan itu akhirnya bernafas lega. Dugaannya seratus persen salah. Itu berarti Jea perempuan setia.
__ADS_1
"Tuan Andrew ada tugas di luar Negri..."balas Bimo datar.
"Terus kenapa kamu mengikutiku???"tanya Jea penasaran.
"Tuan Andrew yang menugaskan saya..."
"Tapi saya risih pak??? Lebih baik bapak kembali beraktifitas seperti biasanya..."
"Maaf Nona, ini permintaan tuan Andrew... saya tak bisa menolaknya..."balas Bimo sambil menunduk. Bimo tak mau menatap mata Jea. Karena semakin ditatap. Membuat otak Bimo berfikir yang macam-macam.
"Baiklah..."Jea akhirnya pasrah dan kembali ke kamarnya.
***
"Aaaaahhhhh...." Jea teriak bebas di dalam kamarnya. Jea cukup sadar diri tentang siapa dirinya di mata Andrew. Tapi tidak bisakah Andrew meminta ijin kepadanya. Setidaknya Jea itu istrinya bukan?? Kenapa Jea harus tahu kepergiannya dari mulut orang lain. Lagi-lagi Jea menangis untuk yang kesekian kalinya. Tapi kemudian, air mata itu mengering dengan sendirinya. Jea tidak mau bersedih karena hal ini. Mungkin Andrew memang sedang melakukan tugas penting yang membuat Andrew tidak sempat meminta ijin kepadanya.
###
ITALIA
Andrew sudah berada di sebuah gedung bertingkat. Dengan dikawal beberapa bodyguard dan seorang suruhan dari Marco. Akhirnya Andrew selamat sampai ke tempat tujuan.
"Marco... Kenapa hal ini bisa terjadi??"tanya Andrew tak sabar ingin mengetahui tentang kejadian yang sebenarnya.
"Maaf sebelumnya Ndre... Karena kami terlalu fokus pada perusahan cabang dan perusahan pusat. Jadi perusahaan kami terbengkalai. Dan Axel dengan lihainya memanfaatkan kesempatan ini..."jawab Marco sedikit menyesal.
Wajah Andrew sedikit menegang ketika nama Axel disebut oleh Marco.
"Kami akan usahakan..." jawab Kelvin yang sedari tadi diam membisu.
"Dan kalian..."ucap Andrew menatap ke beberapa bodyguardnya.
"Siap tuan..."
"Cari keberadaan Axel sekarang... lacak kalau perlu"
"Baik tuan..."
Di tempat lain.
"Tuan...." Seorang pria berbadan tinggi besar berpakaian serba hitam sedang menghadap majikannya.
"Hmmm..."
"Tuan Andrew ada di sini..."
"Bagus... awasi dia. Dan satu lagi. Cari identitas mengenai istrinya.."
"Baik tuan... saya akan melakukan hal terbaik untuk anda"
__ADS_1
Bodyguard itu akhirnya meninggalkan tuannya sendiri. Tuan itu adalah Axel. Musuh besar Andrew. Axel muncul karena telah mendengar tentang pernikahan Andrew. Kalau Andrew sudah menikah. Itu tandanya posisinya akan tergeserkan. Sebelum hal itu terjadi. Axel harus sesegera mungkin bertindak agar levelnya tetap berada paling atas. Biarlah Andrew yang nomor dua. Bukan dirinya.
Axel menatap lekat sebuah bingkai foto perempuan yang berada di atas meja kerjanya. Gadis itu adalah tunangannya yang sekarang entah kemana. Axel rela menjomblo sampai tunangannya kembali. Ia berharap bisa menemukan tunangannya itu. Segala cara sudah ia lakukan. Kini ia sudah menjadi orang nomor satu dipenjuru dunia. Namanya selalu berada di tabloid-tabloid. Setidaknya ketenarannya itu agar membuat tunangannya segera kembali dan menemuinya. Bahkan hampir 2 tahun, tunangannya tak pernah kembali. Tak ada kabar yang didapat. Semua orang yang mencari tunangannya itu sudah lepas tangan. Ada yang mengatakan kalau tunangannya sudah meninggal. Dengan emosi, Axel menembak mati orang yang mengatakan itu. Axel seperti mafia yang berkedok sebagai raja di depannya.
****
Jea duduk di tepi kolam renang. Lagi-lagi Bimo mengikutinya. Jea merasa tidak bebas jika Bimo terus berada di sampingnya.
"Apa bapak tidak ada tugas lain selain mengawasi saya???" tanya Jea sambil memiringkan sedikit badannya untuk menatap Bimo yang setia berdiri di belakangnya.
"Tidak ada nona... tugas saya hanya mengawasi anda..."
"Ck... kenapa?? Biar saya tidak kabur bukan??"
Bimo diam tak berkutik.
"Saya sudah menduganya..."ucap Jea lirih.
Padahal Jea tak pernah ada niatan kabur dari sini. Hidup di sini sudah membuatnya cukup tenang.
"Maaf nona..." hanya itu yang keluar dari mulut Bimo.
Dari pada terus seperti ini. Akhirnya Jea mencoba menelisik tentang kepribadian Bimo.
"Berapa umur bapak???"
Bimo tersentak mendapati pertanyaan seperti itu. Rasa percaya dirinya kembali menghinggapi otaknya.
"30 tahun..."jawab Bimo sedatar mungkin.
"Apa bapak sudah menikah??"tanya Jea penasaran. Karena hampir setiap waktu Bimo berada di mansion ini. Bahkan terkadang Jea memergokinya tidur di kamar khusus pelayan.
"Maaf, itu masalah pribadi. Saya tidak bisa menjawabnya.."
Jea seperti kembali pada kepribadiannya yang dulu. Kepribadian yang ceria sebelum mengenal Petty.
"Ohhh... sudah berama lama anda bekerja di sini??"tanya Jea lagi sambil mengorek informasi.
"Hampir 13 tahun..."
"Woww... lama juga ya??? Berapa umur tuan Andrew sekarang??"
Mata Bimo seketika membulat. Benarkah Jea tidak tahu umur suaminya sendiri?? Bimo jadi berfikiran yang nyleneh. Berarti Andrew dan Jea tak sedekat perkiraannya.
"28 tahun Nona..."
"Ohh... kurang lebih ya sama bapak..." jawab Jea sedikit malas dan kembali menatap kolam renang.
"Apa nona ingin berenang??"tanya Bimo saat melihat Jea yang kembali melamun di tepi kolam.
__ADS_1
Jea hanya menggeleng, dia tidak bisa berenang. Bimo diam kembali dan sesekali mencuri pandang tubuh istri majikannya. Tidak tidak. Selalu kata itu yang melintas di dalam hatinya ketika bisikan-bisikan jahat terngiang di telinganya.