I Love You Tuan (ILYT)

I Love You Tuan (ILYT)
55


__ADS_3

.


.


.


Masih menggunakan piyama tidurnya, Andrew segera turun. Menemui tamu tak diundangnya. Gara-gara dia, penyatuannya dengan Jea jadi gagal.


"Apa yang anda inginkan tuan Axel???"tanya Andrew begitu dingin tapi menyiratkan kebencian yang hakiki.


"Ah, selamat pagi Bung... bagaimana kabar anda???" Axel menyeringai, dia ingin berbasa-basi sebentar dengan rivalnya yang satu ini.


"Seperti yang anda lihat...." malas itulah tampang yang Andrew perlihatkan pada Axel.


"Dimana calon istriku???"sepertinya Axel tak ingin buang-buang waktu lagi. Melihat tatapan sambutan Andrew yang dirasa begitu menyebalkan baginya.


"Calon istri kau bilang?? Ck ck..." Andrew tertawa mengejek. Mana boleh perempuan yang masih berstatus istrinya di cap sebagai calon istri untuk lelaki seperti Axel.


"Apa anda sudah melihat berita, tuan Axellio Anderson???"ejek Andrew lagi sambil memiringkan kepalanya. Menatap tajam, mengintimidasi dan menguliti sang lawan bicara.


"Saya tidak percaya dengan mu tuan Andrew Parker... selama saya belum berjumpa dengan Jealita, saya tidak percaya dengan berita bohong yang telah kau sebarkan... Dan apa kau lupa??? Kau pernah menukarkan istrimu dengan beberapa saham waktu lalu???" Axel tertawa renyah penuh penekanan saat membalikkan sebuah fakta yang ada.


Rahang Andrew mengerat seketika. Giginya bergemulutuk menahan amarah yang ada. Fak!!! Axel memancing emosinya. Dan sepertinya berhasil.


"Bimo!!! panggil Jelly sekarang!!!"titahnya tak terbantahkan. Bimo segera berlari menghampiri Jea yang masih di kamar.


"Nyonya, anda disuruh ke bawah..."hanya itu pesan yang Bimo utarakan. Dengan dress yang ia rasa sangat indah dan mahal, Jea berjalan pelan menuruni anakan tangga menuju ke teras depan. Dadanya seraya sesak tak seperti biasanya. Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres.


Ya, benar saja. Setelah Jea keluar dari mansion itu. Ia mendapati pemandangan yang kurang menyenangkan. Kedua pria dewasa itu sudah saling memukul layaknya remaja tujuh belasan yang sedang tawuran.


Jea panik begitupun Bimo. Jea segera berlari kecil mengikuti langkah panjang Bimo yang ingin segera melerai mereka.


"Bodoh!!! kenapa kalian diam saja!!!"bentak Bimo pada para penjaga di halaman mansion itu. Tuannya sedang dihajar, tapi mereka semua malah sibuk menonton tanpa ada niatan melerai.


"Tuan!!!" Bimo dengan segera membawa tubuh Andrew menjauh.


"Lepaskan Bimo!!! Aku ingin menghajarnya..."ucap Andrew dengan suara berat menahan emosinya yang sudah meledak hampir 99%.


"Jangan kotori tangan Anda Tuan..."bisik Bimo pelan sambil menatap Axel dengan tajam.


"Apa yang terjadi??"kini giliran Jea memegangi lengan Andrew dengan erat. Ia menatap iris abu-abu itu penuh khawatir. Ia tak tahu menahu dengan seluk beluk kasus Andrew dan Axel.


"Kenapa kau adu jotos dengannya??? Kenapa suamiku???"Jea terus mencerca pertanyaan demi pertanyaan. Tangannya terulur ke pipi Andrew yang sedikit membiru. Wajah putih pucat itu kini memerah dan membiru. Oh Tuhan. Jea tak bisa menafsirkannya dengan baik.


"Aku tak apa-apa... orang ini ingin menemuimu..."balas Andrew sekenanya.

__ADS_1


"Tuan Andrew, tuan Axel ingin berbincang sebentar dengan nyonya. Apa diizinkan???"tanya Bimo hati-hati. Dia sendiri meringis sakit menatap wajah Andrew yang lebam itu.


"Baiklah,,, bicaralah di sini saja Jelly... di sampingku...."ujar Andrew seperti perintah bagi Jea.


Jea melepas tangannya dari lengan Andrew. Dia menatap Axel dengan serius. Apa yang ingin Axel bicarakan dengannya?? Apa masalah Kayla?? Bukankah semua sudah jelas kemarin. Lalu ini apa lagi???


"Apa yang ingin anda katakan tuan???"tanya Jea dengan tampang datar.


"Kau belum menjawab lamaranku..."sahut Axel menatap penuh harap. Harusnya di umur nya yang ke 27 tahun ini, ia sudah memiliki istri dan pewaris tentunya. Jadi saat hatinya seperti menemukan Kayla nya kembali, meskipun hanya kembarannya. Semua itu tak menyurutkan niatan Axel ingin mempersuntingnya. Ntah itu Kayla maupun Jea iya tak perduli. Toh, wajah mereka sama.


"Saya tidak benar-benar bercerai tuan... maaf!! Saya masih istri orang. Lebih baik anda mencari yang lain. Saya sudah kembali dengan suami saya,,, silahkan anda pergi dari sini. Untuk yang kemarin-kemarin. Terimakasih sudah pernah membantu saya..."jawab Jea berusaha bijak. Dia ada di depan Andrew, tak ingin masalah ini beruntun makin panjang.


"Jadi kalian----"


"Ya, kami tak benar-benar bercerai. Silahkan pergi tuan Axel, mungkin kita akan bertemu lain waktu. Tentang bisnis kita tentunya..."sahut Andrew sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Kalian berdua!!! Saya tak akan tinggal diam!!! Kalian telah mempermainkanku!!! Camkan, aku akan balas dendam karena ini!!!"ancam Axel sebelum benar-benar pergi. Dia segera berjalan, menuju mobil yang di kemudikan oleh Thomas. Thomas memang sengaja tak keluar karena permintaan dari Axel.


"Apa semua baik-baik saja tuan???"


Axel mendesah kesal. "Bawa aku ke cafe..."pintanya.


Thomas jelas tahu cafe mana yang dimaksudkan. Yaitu cafe tertutup, yang tak jauh dari kecamatan A. Cafe yang selalu buka 24 jam. Di mana disana juga ada orang-orang sekelas model dan artis berkunjung. Tempatnya lumayan jauh, biar tidak terjangkau oleh petugas keamanan.


***


Axel mengedarkan pandangannya. Ia memesan anggur merah, rasa pekat, sedikit memabukkan jika diminum berlebihan. Itu yang ia inginkan, setengah sadar agar bisa menghilangkan sesak di hatinya.


Matanya menatap ke sana kemari, berharap bertemu wanita untuk menjadikan paginya menjadi panas setelah sekian lama.


"Thomas,,, apa kau ingin merekomendasikan seseorang untukku???" Axel merasa tak berselera saat matanya menatap gadis yang berjalan lenggak-lenggok dengan pakaian kurang bahan.


Mata Thomas menyeleksi satu persatu. Sepertinya semua wanita di sana belum ada yang cocok buat Axel. Tiba-tiba dari pintu masuk, terdengar riuh suara beberapa gerombol wanita. Setidaknya ada 5 orang. Perhatian Axel teralihkan dengan wanita berambut pirang sebahu, matanya sipit kulit putih. Badannya porposional, tinggi, dada padat, pantat sekal, kaki jenjang. Semua terasa begitu sempurna. Bahkan posisi Jea tergeser karena nya.


"Siapa wanita itu???"tanya Axel tanpa mengalihkan pandangannya.


Thomas sedikit berfikir, ia tahu tentang gadis itu. "Dia Haruka berasal dari Jepang, seorang model pakaian dalam..."tegas Thomas dengan pasti.


Axel menyesap wine nya, memasukkan ke mulutnya. Dengan gerakan seperti berkumur, tapi tidak berkumur. Hanya sekali dua kali sebelum benar-benar ditelan.


"Bawa dia padaku..."suruhnya pada Thomas.


"Baik Tuan..."


Thomas segera melangkahkan kakinya menuju di mana sang model Haruka sedang duduk.

__ADS_1


"Selamat pagi nona Haruka??"sapa Thomas dengan senyum termanisnya.


"Oh, selamat pagi juga..."balasnya santai sambil menikmati soda yang bertengger di meja.


"Tuan saya, ia ingin bertemu dengan anda..."


"Siapa tuanmu???"tanya Haruka sambil mengerutkan hidung.


"Tuan Axel..."sahut Thomas lirih.


"Axelll??? Waw kau bercanda padaku..." Haruka tertawa nyaring tak percaya dengan kata yang menurutnya bullshit itu.


"Ini serius... Anda ditunggu di sana.." Thomas menunjukkan keberadaan Axel yang tengah duduk manis sambil menatap tajam kepada Haruka.


Haruka melontarkan senyumnya. Kesempatan emas baginya bisa dipanggil orang nomor 2 itu. Ya, posisi Axel sekarang ini sedang digeser oleh Andrew.


"Apa yang ia tawarkan padaku???"tanya Haruka lagi.


"Silahkan anda bernegosiasi dengannya nona..."


"Ohhh baiklah..." Haruka berjalan di belakang Thomas dengan rasa percaya diri yang tinggi. Dia cantik, seksi, apa yang kurang??? Semua pengusaha pastilah menginginkannya. Tapi bukan sembarang pengusaha ia layani, dia butuh harga yang sesuai lah tentunya.


"Pagi tuan Axel,,, senang bertemu dengan anda..." seringaian kecil keluar dari bibirnya.


Axel menatap dari atas sampai bawah. Menilai tubuh itu dari matanya. Axel tak suka perempuan yang berprofesi sebagai model. Sungguh!!! Tapi melihat wajah dan body nya mempunyai daya tarik sendiri di mata Axel. Jadi Haruka adalah pengecualian.


Axel tak melontarkan apapun. Tangannya yang kekar langsung menarik tubuh itu. Haruka terpekik, kaget dengan ulah lawan mainnya.


Haruka langsung terduduk di pangkuan Axel. Haruka terdiam sesaat, terpesona dengan ketampanan Axel yang dekat dengan wajahnya. Ah, enyahkan fikiran itu. Ia tak boleh jatuh hati pada partner nya ini.


"Apa yang kau tawarkan padaku Tuan???"jemari lentik itu mulai menari-nari di dada bidang Axel. Sialnya gara-gara pengaruh minumannya tadi, Axel jadi on. 'Shittt!!!' umpatnya dalam hati.


"Apa yang kau mau??"suara itu sudah memberat menahan gejolak dalam jiwanya.


"Mobil yang anda gunakan sekarang..." Haruka tentu tahu, mobil mewah apa yang selalu digunakan oleh Axel.


Thomas hampir saja menyela jika tangan Axel tak mengudara, bermaksud menghentikan tindakan Thomas.


"Bugatti Veyron, kau mau itu??"tanya Axel menghentikan jari jemari Haruka yang mulai nakal, yaitu membuka kancing kemeja Axel.


"Ya, aku mau itu..."


"*O*kay,,, You have to pay dearly for that one" sambungnya sambil membawa Haruka pergi dari tempat laknat itu.


Jangan lupa jejaknya...

__ADS_1


__ADS_2