
.
.
.
"Pagi nona Jea??? Bagaimana kabar anda???"tanya Bimo dengan formal.
Jea tersenyum tipis. "Bersikaplah biasa Bim, ada angin apa hingga membawamu kemari???"tanya Jea kemudian. Sungguh, di otaknya banyak teka-teki untuk pagi yang secerah ini yang tak secerah hatinya. Dari kedatangan Axel, mami Sherly dan sekarang Bimo.
"Saya hanya ingin tahu tentang kabar anda nona???"
"Kabarku baik-baik saja. Lalu bagaimana kabar tuan Andrew???" Salah. Jea merutuki mulutnya itu. Kenapa tak balik menanyakan keadaan Bimo, ia justru menanyakan kabar mantan suaminya itu.
Bimo tersenyum mengejek. "Apa anda belum bisa move on nona??? Ops, maksud saya anda sudah tak mencintai tuan Andrew lagi bukan??? Jadi apa saya boleh mendekati anda nona???"
"Gila kau Bim!!! Meskipun aku sudah tak bersama tuan Andrew lagi, aku tak mungkin bersamamu!!!"
Kedua orang itu bercakap-cakap dengan posisi masih berdiri. Jea sama sekali tak mempersilahkan Bimo masuk ke dalam rumahnya. Jea cukup tahu diri, sekarang ia janda. Jadi dia harus bisa menjaga dirinya sekarang.
"Kenapa nona??? Apa kau masih berharap ingin dengan tuan Kelvin???"tanya Bimo sedikit memancing.
"Entahlah, hari ini adalah hari pernikahannya. Ku rasa aku tak bisa berharap apapun lagi. Kenapa kau tanya-tanya seperti itu??? Oh ya, dan kenapa tiba-tiba kau kemari??? Apa kau di suruh oleh tuan Andrew??? Dan di mana ia sekarang??? Apa dia masih di Italia???" pertanyaan yang beruntun itu membuat hati Bimo senang. Sepertinya Jea tidak ada perubahan.
***
Malam telah tiba. Sejujurnya Andriansya tak mengijinkan Jea untuk menghadiri pesta pernikahan Kelvin. Tapi Jea terus memaksa hingga Andriansya tak bisa mencegahnya lagi.
Maka di sinilah Jea sekarang. Di sebuah gedung mewah yang sudah berhiaskan bunga-bunga indah dan beberapa rangkaian bunga yang rata-rata bertuliskan selamat menempuh hidup baru.
Saat Jea baru melangkah di area halaman gedung. Seseorang dengan dress abu-abu selutut menghampirinya. Jea tak asing dengan wajah itu.
"Hai mbak Yuni..." sapa Jea basa-basi.
__ADS_1
"Dasar janda gatel gak tahu diri. Masih punya muka kau ha!!! Apa kau mau ngerusak suana yang ada di dalam sana hah??? Aku tak akan membiarkan itu terjadi..."maki Yuni tanpa permisi.
Jea memutar bola matanya malas. Lagi-lagi status jandanya dibawa-bawa. "Mbak Yuni,,, asal mbak Yuni tahu. Saya diundang di sini. Dan saya juga tak ingin mengacaukan suasana. Saya hanya ingin mengucapkan selamat saja..."
"Memangnya aku gak tahu akal bulusmu itu hah!!! Dasar janda genit... mendingan kau pergi dari sini saja..."
Ternyata suara menggelegar Yuni menyita beberapa tamu undangan di sana. Jea menutup mulutnya rapat-rapat. Dia ke sini tak ingin membuat kekacauan. Saat mata itu menengok ke samping. Tak sengaja matanya bertabrakan dengan mata Marlina yang tengah berdiri melihatnya. Jea ingin memanggil Marlina, tapi sayang,,, Marlina terlihat acuh dan segera pergi meninggalkan tempatnya. Sungguh hati Jea terasa berdenyut saat diperlakukan Marlina seperti itu. Jea tak menghiraukan makian Yuni lagi. Matanya berkaca-kaca hanya karena sikap acuhnya Marlina kepadanya.
Jea melangkah menjauhi keramaian itu. Tiba-tiba terdengar suara petir menyambar. Tak berapa lama disusul oleh datangnya hujan yang lumayan deras.
Baju yang Jea kenakan basah seketika. Bulir air matanya lolos bersamaan dengan air hujan yang sudah membasahi pipinya sejak tadi.
Jea menangis tersedu-sedu. "Kenapa??? Kenapa nasibku seperti ini Tuhan??? Apa salahku???" Jea meraung-raung. Badannya merosot di tanah. Jea tak menyangka Marlina bersikap seperti itu padanya. Jea sama sekali tak ingin membuat kekacauan di sana. Jelas-jelas suara Yuni yang terdengar lantang. "Mungkinkah Yuni sengaja melakukannya???"gumam Jea di tengah isakan tangisnya. Jea melihat jari-jarinya yang tersemat oleh cincin pemberian Marlina. Selama ini Jea menganggap Marlina sebagai ibunya. Tapi dengan melihat sikap acuhnya Marlina tadi, Jea tahu bahwa Marlina tak benar-benar menganggapnya anak.
Hujan masih saja turun dengan derasnya. Jea tak ada niatan beranjak dari sana. Hingga Jea merasakan ada sesuatu yang menghalangi hujan itu tak langsung mengenai tubuhnya. Jea mendongakkan kepalanya ke atas. Sebuah payung dan tangan kekar putih. Jea menyusuri dari tangan itu sampai matanya beradu pada mata berwarna abu-abu yang dulu pernah membuatnya jatuh cinta.
"Tuan Andrew!!!"gumam Jea dengan lemah. Andrew sedikit menyunggingkan senyumnya dan mengulurkan tangan kanannya pada Jea. Berkali-kali Jea mengerjapkan matanya. Berharap ini bukanlah mimpi. Tapi faktanya saat Jea menyambut uluran tangan itu. Tangan Andrew memang nyata adanya. Jea langsung berdiri ia tak kuasa menahan rasa pedihnya itu. Dengan segera Andrew merengkuh tubuh Jea kepelukannya.
"Jelly, menangislah..."
"Kenapa anda tetap baik padaku tuan?? Bukankah saya pernah menyakitimu???"Jea melepaskan pelukan itu. Menatap Andrew dengan mata yang masih penuh air mata.
"Sssssstttt.... aku merindukanmu...." Andrew kembali memeluk Jea dengan erat. Payung itu langsung jatuh ke tanah. Keduanya kini sama-sama basah karena hujan.
Hati Jea terasa menghangat dalam pelukan Andrew. Mungkinkah ia masih mencintai Andrew??
Bimo yang dibalik kaca kemudi mobil hanya menipiskan bibirnya. Dia merasakan kebahagiaan yang tak bisa digambarkan.
***
Andrew menggendong Jea ala brydal style. Itu karena Jea tertidur saat di mobil tadi. Andrew membawa Jea ke sebuah hotel yang lumayan jauh dari gedung pernikahan yang disewa oleh Kelvin tadi. Maka dari itu Jea langsung tertidur, mungkin karena kelelahan gegara menangis yang tak kunjung henti.
"Bimo,,, belikan baju untuk kami...."perintah Andrew setelah merebahkan tubuh Jea di ranjang hotel.
__ADS_1
"Baik tuan... untuk dalamannya ukuran berapa???"tanya Bimo tanpa malu. Karena Bimo yakin baju Jea dan Andrew selurunya basah.
"Jangan ambil kesempatan kamu Bim...." dengus Andrew dengan raut datarnya.
Bimo hanya menunduk sambil menahan senyumnya. Menggoda Andrew saat ada Jea lumayan menyenangkan untuknya.
Andrew mengusap tengkuknya. Mengingat-ingat besar dada Jea. Sial. Ternyata Andrew masih mengingatnya. "Seperti biasa, ukurannya pas di tanganku..."ucap Andrew yang langsung diangguki Bimo.
"Satu lagi,,, belikan makanan untuk kami..."
"Baik tuan..."
Setelah punggung Bimo tak terlihat lagi. Andrew segera mendekati Jea. Duduk di pinggir ranjang dan meraih jemari tangannya.
"Kau tetap cantik Jelly... maafkan aku telah membuatmu sedih..." Andrew mengecup punggung tangan Jea begitu lama. Sambil menutup matanya ia menikmati rasa dingin tangan Jea di bibirnya.
Setelah puas dengan punggung tangan itu. Wajah Andrew menelisik wajah Jea dengan intens. Tangannya terulur merapikan anak rambut yang menutupi sebagian wajah Jea.
"Kau adalah Jelly ku... kau harus dihukum karena mencintai pria lain selain aku..." ucap Andrew dengan senyum devilnya. Sudah lama ia menyembunyikan senyum jahatnya. Tapi itu bukan sungguhan. Andrew hanya bercanda saja. Hingga Jea terusik akan pergerakan Andrew yang kini tengah mengelus pipi mulus Jea.
Dengan segera Andrew menjauhkan diri. Ia tak ingin kepergok karena telah mencari-cari kesempatan saat istrinya sedang tidur. Ya, itu karena Andrew belum menjelaskan semuanya. Jadi Andrew masih belum terlalu berani menyentuh istrinya secara lebih.
"Kau membawaku ke mana tuan???" Jea mengucek matanya dan segera menyandarkan badannya di kepala ranjang.
"Kita sedang di hotel..." balas Andrew dengan senyumnya.
Entah kenapa, senyuman Andrew bagai menghipnotis Jea. Senyuman yang Jea tunggu-tungggu sejak dulu. Tanpa disadari, Jea ikut menyunggingkan senyumnya. Lupa kalau mereka sudah berpisah.
Jea berusaha turun dari ranjang. Tapi ditahan oleh Andrew. "Kau istirahatlah..."perintah Andrew. Kini keduanya saling berhadapan. Saling menatap penuh kerinduan. Andrew sangat tak sabaran. Sejak tadi ia ingin mencium bibir mungil Jelly nya. Tanpa aba-aba lagi Andrew menarik tengkuk Jea. Bibir mereka saling menempel. Suasana yang begitu dingin, sepertinya mendukung nafsu mereka berdua.
Andrew mengeksplor seluruh permukaan bibir Jea yang terasa begitu dingin. Tapi rasanya tetap sama. Tetap manis. Sudah lama Andrew tak menyentuh bibir istrinya ini. Bibir yang sudah ia jadikan candunya sebelum mereka berpisah secara palsu.
Jea membola. Darahnya berdesir menikmati sentuhan bibir yang diberikan oleh Andrew. Sudah lama ia tak disentuh, tapi Jea tersadar. Dengan segera ia mendorong Andrew pelan.
__ADS_1
"Ini tidak benar tuan...."