I Love You Tuan (ILYT)

I Love You Tuan (ILYT)
50


__ADS_3

.


.


.


"Ini tidak benar tuan...."


"Kenapa???" tanya Andrew sedikit kecewa. Rasa rindunya belum terobati sepenuhnya. Sungguh ia tak ingin menyakiti Jea lagi. Sudah cukup beberapa bulan ini ia memisahkan diri tanpa menyentuh wanita mana-pun. Karena hanya memikirkan Jelly keperkasaannya mau on.


"Bukankah kita sudah bercerai??? Jadi kita tidak dibolehkan seperti ini lagi???"balas Jea kemudian.


"Kita belum bercerai Jelly..." Andrew mengulurkan tangannya membelai pipi Jea dengan lembut. Hati Jea menghangat diperlakukan seperti itu oleh Andrew. Dari dulu sentuhan Andrew membuat Jea bagai melayang meskipun terkadang menyakitkan.


"Bagaimana bisa???"tanya Jea heran. Perasaan Jea sudah menanda tanganinya waktu itu.


"Surat itu palsu..." balas Andrew singkat yang membuat Jea makin penasaran.


Jea langsung menepis tangan Andrew. Ia merasa dipermainkan. "Palsu bagaimana???" volume suara Jea sedikit meninggi.


"Tenanglah Jelly..." Andrew memejamkan matanya sejenak.


"Aku tak sungguh menceraikanmu asal kau tahu...."


"Hah!!! kau gila tuan!!!"


"Tidak Jelly,,, selama ini aku merasa bersalah karena menyakitimu. Jadi aku bebaskan kamu untuk memilih cintamu. Tapi saat aku berusaha melepasmu demi orang yang kurasa mencintaimu, semuanya berakhir seperti ini. Aku fikir kau dan Kelvin saling mencintai. Jadi aku berusaha merelakanmu meskipun tak sungguh-sungguh..."jelas Andrew yang berhasil membuat Jea menganga tak percaya.

__ADS_1


"Apa anda waras??? Kenapa bisa melakukan itu??? Jadi selama ini secara tak langsung, saya berselingkuh di belakang anda..." Suara Jea masih sama, terdengar meninggi. Emosinya masih belum terkontrol.


Andrew terdiam. "Itu lebih baik dari pada aku yang secara terang-terangan menyelingkuhimu bahkan di depanmu..."balas Andrew dengan suara yang sedikit melemah.


Jea jadi teringat akan Patty. Kembali air mata itu terjatuh.


"Ku mohon jangan menangis. Ini semua salahku Jelly... aku melakukan ini agar semuanya impas..."


"Aku tak menangisimu tuan Andrew... aku hanya menangisi Patty. Ia telah tiada. Hiks... Dia mengakhiri hidupnya..."terang Jea sambil terisak.


Andrew tak perduli Patty. Jika ia sudah membayar, Andrew fikir semuanya sudah beres. Jika di luar itu, Andrew tak bertanggung jawab lagi.


Andrew kembali memeluk Jea. Lama mereka terdiam. Merasakan sesuatu yang berbeda. Jea masih tak percaya kalau Andrew tak benar-benar menceraikannya. Berarti itu tandanya... ia bukan janda.


"Jika saya menikah lagi, lalu bagaimana???"tanya Jea lagi.


Jea terdiam sejenak, bajunya yang basah membuat badannya sedikit menggigil. Andrew berusaha memeluk Jea tapi tiba-tiba suara ketukan pintu mengurungkan niatnya.


Andrew segera berdiri dan membukakan pintu. Ada Bimo di luar dengan 2 buah papper bag dan kantong belanjaan yang Andrew yakini isinya adalah makanan.


Segera Andrew meraih barang bawaan Bimo itu dan segera mengusirnya. "Kembalilah ke mansion... aku mau bulan madu..."ucap Andrew dengan santai. Bimo mengangguk kemudian mencibir. "Semoga malam anda menyenangkan tuan..." Sebelumnya Bimo terkekeh sebelum benar-benar meninggalkan Andrew yang sudah dibaluti rindu yang membara gara-gara tak pernah menyentuh wanita lagi setelah perceraian palsunya itu.


Tanpa curiga terhadap Bimo, Andrew langsung berbalik menghampiri Jea. "Ganti pakaianmu Jelly..." Andrew menyodorkan satu paper bag yang diyakini baju khusus Jea.


Jea meraih itu dan mengangguk. Sebenarnya Jea masih terfikirkan dengan kejadian yang serba mendadak ini. Semuanya seperti mimpi, tapi bukan mimpi. Ternyata ia masih jadi nyonya Parker sekarang. Sebuah senyuman sedikit mengembang. Tapi saat melihat baju apa yang disodorkan oleh Andrew tadi membuat Jea mengernyit bingung.


2 pasang lingerie dan sepasang daleman. "Sepertinya Andrew sengaja..."gumam Jea pelan. Apa iya dia memakai lingeri sekarang. Memang tak menutup kemungkinan ia akan bercinta malam ini karena status mereka yang masih suami istri. Tapi Jea belum terima begitu saja. Andrew membohonginya, dan yang ia takutkan adalah sifat temperamennya Andrew saat di ranjang. Ia takut Andrew akan kasar lagi.

__ADS_1


Jea menggigit jarinya sambil mondar-mandir tak jelas.


Andrew yang melihat pintu kamar mandi terbuka dan di sana terlihat Jea dengan penampilan yang sama membuat Andrew khawatir. "Kenapa belum ganti??"


"Saya nyaman seperti ini..." dusta Jea sedikit gugup. Melihat Andrew di depannya membuat jantung Jea kembali berdegup kencang. Andrew terlihat begitu gagah, wajahnya semakin tampan dari pada sebelumnya. Kalau seperti ini, apa masih disebut cinta??? Jea segera mengenyahkan perasaannya itu. Mungkin cinta pertama sulit untuk dilupakan.


"Bajumu basah,,, jangan keras kepala. Apa perlu aku yang turun tangan???" tanya Andrew dengan wajah yang kembali dingin tapi menampilkan senyum devilnya.


Aura menyeramkan itu membuat bulu kuduk Jea merinding. Segera Jea kembali ke kamar mandi, mau tak mau ia harus menggunakan lingerie tipis transparan itu. Ada 2 pilihan warna. Putih dan merah. Sepertinya Jea memilih merah, karena tidak terlalu menerawang. Jea mengumpat kesal. Antara menyalahkan Andrew atau Bimo.


Tak lama kemudian, Jea kembali keluar dengan kaki berjinjit biar Andrew tak melihatnya. Tapi yang ada justru Andrew terlihat menunggunya. Matanya menatap Jea tanpa kedip. Meskipun wajahnya tanpa ekspresi apapun, tapi matanya terlihat ingin menguliti Jea habis-habisan.


'Sial!!! Juniorku langsung sesak. Kenapa bisa baju seperti itu sih??? Kurang ajar si Bimo!!' maki Andrew dalam hati. Ia yakin Bimo sengaja melakukannya biar Andrew tak bisa menahan godaan. Apalagi keberadaan Jea sekarang dengan lingerie itu semakin terlihat begitu seksi dan menggoda di matanya.


Sial sial sial


Andrew terus mengumpat kesal. Gairahnya naik seketika. Ia sudah tak sabar lagi ingin menerkam Jea berada di bawahnya, membuatnya mendesah-desah dan menjerit menyebut namanya.


Wajahnya semakin memucat tatkala ia melihat langkah Andrew yang pelan namun pasti mendekatinya. Jea menggigit bibirnya dengan kegugupan maksimal. Tangannya meremas-remas ujung lingerinya dengan kuat. Ia takut Andrew bersikap brutal seperti dulu.


Kilatan abu-abu itu berubah gelap dipenuhi hasrat yang menggebu. Andrew dengan cepat menarik tengkuk Jea. Meraup bibir itu, tadinya Andrew menjilatnya dengan kasar. Tapi kemudian jadi melembut membuat Jea terbuai. Saat Jea melenguh karena sensasi ciuman itu.


Dengan segera Andrew melepaskannya. "Apa kau pernah melakukan seperti ini saat kita sedang berpisah???"


Kilatan di mata Andrew tak bisa dijabarkan lagi. Antara menahan nafsu dan juga amarah.


"Jawab aku Jelly..."bisik Andrew parau sambil menyiumi leher Jea yang sangat mulus dan jenjang tentunya. Jea menahan gejolak nafsunya yang sepertinya akan melayang.

__ADS_1


Dengan terbata-bata ia menjawabnya. "Ma-ma-af kan s--- aaah saya...." Jea benar-benar tak kuasa menahannya. Desahan itu keluar begitu saja dari mulutnya. Ia wanita normal, sudah lama tak dibelai membuat naluri dan otaknya tak sejalan. Apalagi setiap sentuhan yang Andrew berikan, tubuhnya terus merespon dan ingin lebih dari hanya kecupan-kecupan saja.


__ADS_2