I Love You Tuan (ILYT)

I Love You Tuan (ILYT)
32


__ADS_3

.


.


.


Dalam waktu yang bersamaan.


Axel menatap bingung orang-orangnya, yang terlihat begitu panik.


"Dimana dia? Katakan!" Suara bariton itu membuat anak buah Axel diam dengan seribu ketakutan.


"Maafkan kami tuan Axel, sepertinya nona itu melarikan diri," jawab salah seorang anak buahnya.


Axel merapatkan rahangnya. Wajahnya memerah karena tersulut emosi.


Bugggh


Bughh


Bugggh


Beberapa bogeman mendarat di pipi-pipi para orang yang bertumbuh gempal itu.


"Dasar gak becus! Kalian membuang waktu ku percuma. Cepat cari dia, jangan sampai lolos!" titahnya kembali dengan tatapan yang membunuh.


***


Sementara itu, di tempat lain. Bimo segera menghubungi Andrew.


"Tuan, nona Jea melarikan diri."


"Apa! Kenapa bisa??" Suara orang dari balik telepon terlihat begitu cemas.


"Maafkan saya Tuan, saya lalai menjaga nyonya muda," ucap Bimo dengan suara penuh menyesal.


"Sial! Suruh semua orang mencarinya. Ke seluruh penjuru kalau perlu. Awass jika kau gagal menemukannya." Andrew berang. Ternyata Bimo tak bisa diandalkan, hanya menjaga seorang Jea saja tak mampu. Sial sekali.


***


"Ayah? Apa kau sakit?" tanya Jea yang melihat wajah Ayahnya pucat tak berseri seperti dulu lagi.


"Anakku, kau pulang sayang. Ayah hanya tak enak badan," balas Andriansya, dia tersenyum lebar saat mendapati anak perempuannya pulang kembali ke rumahnya. Jujur saja, dia sangat merindukan anaknya ini. Anak kembar yang dipisahkan. Jadilah Jea anak satu-satunya yang ia sayangi.


"Oh ya, di mana mami Sherly?" tanya Jea, pandangannya terus mencari-cari seseorang yang disebutkan namanya tadi.


"Dia meninggalkan ayah," balas Andriansya lirih, nadaa suaranya terdengar begitu menyakitkan.


"Bagus lah, setidaknya dengan kepergiannya ayah bisa sadar. Betapa ayah begitu memujanya hingga menelantarkan anakmu ini." Nada bicaranya penuh ejekan dan emosi yang mendalam. Jea marah akan kejadian itu.


"Nak, maafin ayah." Bibir Andriansya bergetar. Hatinya tersayat begitu pilu. Air matanya jatuh dengan mudahnya. Penyesalan akan kelakuannya dulu. Sungguh-sungguh menyesal.


"Andai ayah tahu, kalau mami Sherly menjual mu di tempat itu. Ayah pasti sudah menceraikannya sejak dulu. Maafkan atas kebodohan ayah, yang hanya dibutakan oleh cinta dan hawa nafsu belaka waktu itu." Andriansya menyeka air matanya. Ingin sekali dia merengkuh putrinya dalam dekapan.

__ADS_1


"Jea sudah melupakannya Yah, dan Jea sudah memaafkan Ayah." balas Jea sambil tersenyum getir.


"Boleh ayah memelukmu," pinta Andriansya dengan suara yang tertahan karena menahan tangisnya.


"Tentu Yah, silahkan!" Jea merentangkan kedua tangannya. Dia berjalan kecil mendekati sang ayah. Pelukan yang sangat Jea rindukan.


"Terima kasih sayang."


Jea menipiskan bibirnya. "Jea ke sini ada urusan Yah."


Andriansya melepaskan pelukannya. "Ada apa? Apa kau ada masalah dengan suamimu?" tanya Andriansya penasaran.


"Banyak, untuk saat ini Jea belum bisa menceritakannya."


Jea terburu-buru menuju ke kamar kecilnya. Mencari baju ganti untuknya. Dia lupa kalau bajunya tertinggal di tempat dolly dan sekarang dia sibuk mencari baju yang layak pakai untuknya.


Setelah menemukan baju yang dirasa cocok. Jea segera mengumpulkan barang-barang yang sekiranya perlu untuk dibawa. Saat ini Jea perlu uang, mungkin untuk sementara ini dia harus pinjam ke ayahnya.


"Yah, aku memerlukan uang saat ini. Apa kau punya simpanan?"


Andriansya mengernyitkan kening hingga menimbulkan beberapa garis di sana. Mungkin anaknya sedang ada masalah yang sulit. Sehingga suaminya tak memberinya uang. Fikirnya.


"Tunggu sebentar..." Andriansya melenggang pergi ke kamarnya. Dia membuka laci dan mengeluarkan amplop coklat di sana.


"Mungkin ini tak seberapa. Tapi ambillah..."Andriansya menyodorkan amplop coklat itu dan Jea menerimanya dengan ragu. Jea membuka amplop itu, dua juta.


"Ini terlalu banyak ayah..." Jea memikirkan biaya sewa rumah dalam sebulan mungkin paling murah harganya 1 juta. Dan untuk sisanya, Jea harus bekerja.


"Tidak sayang,, ambillah. Itu tak seberapa dibanding sikap ayah yang selama ini menyakitimu..."


"Tentu saja sayang,,,"Andriansya menyunggingkan senyum, menepuk pundak Jea bermaksud untuk menyemangati.


"Jea janji, Jea akan datang kembali. Untuk membahagiakan ayah...


Jea pamit dulu yah,, jaga kesehatanmu..."


Jea meninggalkan rumah itu dengan kembali menyamar. Di rasanya suasana nya begitu aman, jadi Jea tak perlu menyewa taksi. Ini untuk menghemat uang yang ia punya saat ini.


Jea hanya membawa paper bag kecil. Hanya ada beberapa potong baju saja di dalamnya. Lama berjalan, mungkin hampir 30 menit. Rasa capek dan dahaga melandanya. Dari ujung jalan Jea melihat seorang ibu hamil yang sepertinya mau menyeberang, tapi... Jea menyipitkan matanya. Bukan menyeberang, tapi mau bunuh diri. Jea melihat ke samping, ada mobil yang melaju dengan kencangnya. Dengan kencang juga Jea berlari ke arah wanita itu dan menariknya dengan paksa menuju tepi jalan.


"Lepaskan aku!!! Kenapa kau menyelamatkanku!!!" Jea tertegun sesaat. "Patty... ini kau????" Jea tak percaya dengan kejadian barusan. Wajah kumal, rambut acak-acakkan, baju lusuh. Ini bukan lah Patty yang Jea kenal.


"Lita???" Patty menatap nya tak percaya. Bagaimana bisa orang yang dihinanya selama ini justru menyelamatkan nyawanya.


"Iya ini aku....Apa yang kau lakukan?? Kau bukan seperti Patty yang ku kenal..." Ejek Jea tapi tak serius.


"Aku ini wanita kotor... aku tak pantas untuk hidup. Aku malu pada diriku sendiri, dan sekarang kau Lita, kau membuatku nyaliku menciut..."


"Ada apa sebenarnya??"tanya Jea penuh selidik. Akhirnya Patty menceritakan bahwa dia kecolongan hingga dia hamil. Bahkan ayah dari bayinya pun tak tahu. Begitu menyedihkan hidupnya. Tanpa Jea balas dendam, ternyata Tuhan sudah membalaskan semuanya. Tapi Jea hanyalah manusia biasa, dia tak tega melihat orang lain kesusahan.


"Apa itu anak Andrew??"selidik Jea dengan hati-hati.


Patty menggeleng. "Aku tidak tahu ayahnya, dan aku dikeluarkan dengan kasar oleh madam Natalie. Aku jadi gelandangan, aku gak kuat Lita.. aku mau bunuh diri saja...."

__ADS_1


"Sssssttt... disini ada aku. Anak mu harus hidup Patty, cukup kamu yang menderita. Jangan sampai anakmu yang ikutan..." Jea berusaha mengusap lembut pundak Patty agar Patty lebih tenang dan nau mendengarkan nasehatnya.


Patty menatap Jea dengan mata yang berkaca-kaca. "Maafkan aku Lita, selama ini aku selalu berusaha jahat padamu..."


"Tak apa, tenanglah.. lebih baik kau bantu aku mencari sebuah rumah kontrakan atau tempat kost untuk kita berdua..." Dengan sedikit memaksa, Jea menarik tangan Patty mengajaknya berjalan menyusuri jalanan yang penuh keringat karena terik matahari di siang ini begitu menyengat.


"Kau kabur dari Andrew???" tanya Patty tak percaya. Kini keduanya telah mendapatkan rumah kontrakan yang begitu kecil. Berbentuk persegi tanpa ada ruang tamu. Hanya kamar mandi yang memisahkannya.


Patty tak habis fikir. Andrew orang kaya, bahkan Patty sudah lama mengincarnya. Ternyata kaya bukanlah jaminan dari kebahagiaan. Satu hal yang Patty tahu saat berada di dekat dengan Jea. Harta bukanlah segalanya, meskipun segalanya membutuhkan uang.


"Yah begitulah,,," Jea menarik nafas panjangnya dan membuangnya perlahan.


"Apa kau tahu sesuatu Patty, euuummm maksudku lowongan pekerjaan???" tanya Jea sambil membereskan rumah yang begitu kecil itu.


Patty tampak berfikir dan akhirnya dia buka suara. "Ada, beberapa hari yang lalu aku melihat sebuah resto membutuhkan waiters. Kalau tidak salah namanya KL Resto..."


Jea mendengarnya dengan antusias. "Sip kalau gitu, esok antarkan aku ke sana..."


***


-KL Resto-


Setelah disemangati oleh Patty, Jea akhirnya melangkah masuk ke dalam KL resto. Suasana resto ini begitu nyaman. Ada alunan musik lagu mellow khas indo.


"Maaf sis,, apa lowongan untuk waitersnya masih ada??"tanya Jea hati-hati pada salah seorang karyawan yang memakai baju berlogo nama resto tersebut.


"Masih.."jawab karyawan itu datar.


"Saya mau melamar sis..."ucap Jea dengan menggigit bibir bawahnya karena gugup.


Karyawan itu menatap Jea dari kepala sampai kaki. 'Cantik, tapi sayang pakainnya jelek. Wajahnya juga tak terlalu asing. Mungkin wajahnya pasaran...'ejek karyawan itu dengan penilaiannya sendiri.


"Aku tak yakin kamu akan diterima. Tapi tunggu aja di kursi itu. Boss kita belum datang..." setidaknya karyawan itu masih punya hati. Dia menunjukkan beberapa kursi pelanggan untuk Jea duduki.


Hampir satu jam lamanya, tak ada tanda-tanda bosa mereka datang. Jea duduk dengan gelisah. Dia merasa risih dengan tatapan para pelanggan di resto itu. Mau tak mau Jea akhirnya menunduk. Menutupi sebagian wajahnya dengan rambutnya.


***


"Tuan Kelvin,, ada seseorang yang telah menunggu anda... maksud saya, seseorang telah melamar bekerja di sini..."ralat karyawan itu sedikit gugup. Penampilan Kelvin yang terkesan santai hanya menggunakan kaos, membuat para karyawatinya terpesona.


Kelvin mengangguk paham. "Suruh ke ruangan saya..."jawab Kelvin datar dan berjalan melewati Jea.


Aroma parfum mahal menyeruak di hidung Jea kala seorang pria berjalan melewatinya. Aroma itu, Jea sepertinya kenal. Jea menggeleng, meyakinkan dirinya kalau itu bukan dia.


Seorang karyawan tadi menghampiri Jea dan mengajak Jea menuju ruangan yang di khususkan untuk Boss nya.


Tokk... Tokk...


Karyawan itu mengetuk pintu bossnya beberapa kali. Hingga suara yang meyuruhnya masuk membuat karyawan itu membuka pintu ruangan big Boss nya.


"Tuan,, ini orangnya..."ucap karyawan itu dan kemudian berlalu.


Tanpa menatap lawan bicaranya. Kelvin langsung berkata. "Ya, suruh dia masuk..."

__ADS_1


Jea sempat terpaku. Bukankah dia Kelvin???


Yang suka mohon bantu vote ya.. makasih


__ADS_2