I Love You Tuan (ILYT)

I Love You Tuan (ILYT)
52


__ADS_3

.


.


.


Mandi bersama yang berakhir pada sekali tempur membuat Jea benar-benar kehabisan tenaga. Bahkan keduanya belum sempat makan malam. Jea tak pernah percaya kalau Andrew tak melakukannya lagi itu bagai omong kosong.


"Kau lelah..." pertanyaan yang dirasa tak perlu dijawab, karena Andrew sejatinya memang tahu mereka berdua kelelahan.


Terdengar ketukan pintu beberapa kali. Masih sama-sama mengenakan handuk hotel, Andrew menyuruh Jea tetap berdiam di tempat. Takut kalau tamu nya akan melihat tubuh sang istri.


Andrew membuka pintu dengan sorot yang tajam menghunus tamu tak diundang itu. Dilihat yang berdiri Bimo di depan pintu sambil membawa kantong belanjaan mengurungkan niat Andrew ingin menonjok wajahnya karena telah mengerjainya dengan memberikan baju tidur seksi untuk Jea.


"Selamat pagi Tuan,, bagaimana malam anda??? Apakah menyenangkan???"tanya Bimo dengan senyum tak bersalahnya.


"Sialan kau Bim..." desis Andrew lirih tak jelas.


"Ini pakaian anda dan nona Jea... dan ini sarapan anda. Saya menunggu anda di sini..."


Andrew meraih kantong belanjaan dari tangan Bimo. "Panggil istriku dengan sebutan nyonya..." suruh Andrew sebelum menutup pintu kamarnya.


***


"Selamat Tuan,,, setidaknya anda berhasil merebut sebagian saham yang ada di tangan tuan Ferdinand..."


Andrew tak menanggapi ucapan Bimo. Dia terus fokus melangkahkan kakinya keluar dari ruangan rapat menuju ke ruangannya.


"Dan selamat Tuan, akhirnya nyonya Jea bisa kembali pada anda. Saya tak bisa membayangkan jika nyonya akan menikah dengan orang lain anda akan bagaimana??? Bahkan saya tak tega saat anda mengasingkan diri demi ini..."


Andrew menatap Bimo dengan tajam. "Kau cerewet sekali Bimo... Dari pada kau banyak omong, lebih baik umumkan ke para wartawan kalau aku dan Jea tak pernah bercerai... lakukan segera!!!"titah Andrew tegas sebelum ia memasuki ruangannya. Hari ini hari begitu menyenangkan sekaligus melelahkan baginya. Bersanding dengan Jea setelah berbulan-bulan lamanya tak jumpa adalah memberikan kebahagiaan tersendiri untuknya.


***


Di tempat yang berbeda.


Jea merenung di dalam kamarnya. Rona kebahagiaan tergambar jelas di wajahnya. Entahlah, kedatangan Andrew bagai obat baginya. Ia tak pernah membayangkan ini semua, ia fikir ia tak akan pernah berjumpa dengan Andrew lagi. Tapi nyatanya Andrew adalah pembohong ulung yang berhasil menipu dayanya tanpa membuat Jea merasa bersalah sedikitpun.

__ADS_1


Jea mendesah pelan. Hatinya terasa berdegup kencang saat memikirkan nama suaminya itu. Betapa bahagianya dia, punya suami yang kaya raya. Jea baru menyadari ini. Semua hinaan yang ia dapatkan sebelumnya karena dia adalah gadis miskin. Bagaimana kalau dengan keadaan sekarang ini??? Aah, rasanya berkhayal terlalu tinggi itu tak pernah benar. Sudah cukup ia berkhayal. Sekarang adalah kenyataannya, dan ia akan menjalaninya dengan senang hati sekarang. Biarlah jika Andrew akan mengurungnya, setidaknya dia tetap aman dan berkecukupan dalam menjalani hidupnya kelak.


"Jea..." Jea mendongak saat mendapati Andriansya sudah berdiri di sampingnya.


"Ayah..."


Andriansya melemparkan senyum sebelum mengeluarkan suara. "Ayah bahagia... akhirnya kau kembali pada tuan Andrew. Tuan Andrew sangat menyayangimu Jea... Ayah melihat dari sorot matanya yang seolah-olah ingin selalu berada di dekatmu..."


Jea bergeming. Jea tahu itu, ia fikir Andrew bukanlah jodohnya. Tapi takdir berkata lain, seniat apapun ia ingin berpaling jika jodoh tetaplah kembali lagi.


"Saat Axel melamarmu, ayah bingung. Makanya ayah tak ingin ikut campur apapun itu. Kau sudah dewasa, kau pasti bisa memutuskan keinginanmu sendiri..."


"Yah... bagaimana dengan Kayla???"


Andriansya menggeleng. Ia tak tahu apapun. Mungkin dia termasuk ayah terjahat di dunia ini. "Kau tahu... Ayah tak memiliki marga. Nenekmu tak pernah menyukaiku, tak pernah merestui pernikahan ayah dan ibumu... Kami kawin lari. Hingga ibumu hamil dan mempunyai anak kembar, kulitmu persis dengan ayah yang sawo matang. Sedang kayla persis ibumu. Kami berdua akhirnya sepakat untuk merawat anak masing-masing. Ayah memilihmu, ibumu memilih Kayla. Tak menyangka saat ibumu mengunjungimu, penyakitnya kambuh dan ia meninggal saat berada di rumah ini..."


Air mata Jea menetes mendengar cerita itu. "Dan sekian lama ayah sendiri, ayah menikah lagi dengan mami Sherly??? Mami Sherly menjualku yah? Menjadikanku p***cur. Hampir saja Jea terjerumus, tapi waktu dilelang tuan Andrew membeliku. Dia membeliku Yah..."


"Maafkan ayah Jea, sempat terbudakkan oleh cinta. Ayah benar-benar tergoda akan kecantikan Sherly waktu itu..."


***


Andrew melepaskan jas kerjanya dan melemparkan tepat di tangan Bimo. Bimo tak bereaksi apapun. Tapi dalam hatinya sedikit mengumpat. 'Kebiasan buruk tuan Andrew...'


Setelah masuk tanpa permisi, Andrew berdiam diri saat mendapati Jea yang tengah menyapu dan beres-beres.


Merasa diawasi, Jea langsung berbalik arah. Netranya tepat menatap mata abu-abu milik suaminya.


"Kau...."


"Sambut suamimu dengan benar Jelly..."balas Andrew dingin, kedua tangannya ia masukkan dalam kantong celana. Tubuhnya yang menjulang tinggi bak patung yunani hidup membuat Jea semakin gemetaran.


"Kau masuk ke rumah orang tanpa permisi..."tuduh Jea dengan suara yang sedikit bergetar karena gugup.


"Ini rumah istriku... berarti rumahku juga..."balasnya yang kemudian langsung berjalan di samping Jea. Memeluk pinggang ramping itu.


"Aku masih merindukanmu Jelly..."bisiknya yang membuat Jea tak berkutik. Hati Jea sedikit menghangat diperlakukan seperti ini oleh Andrew.

__ADS_1


"Apa maumu suamiku???"tanya Jea akhirnya sambil memegang sapu yang masih di tangannya. Bertanya tanpa menatap sang lawan bicara.


"Makan siang bersamaku..."


Jea melepaskan tangan Andrew. Menyelesaikan acara menyapunya sebentar. Membuang sampahnya di belakang rumah, mencuci tangan dan kembali menghampiri Andrew.


"Di mana Bimo??? Kenapa tak disuruh masuk???"tanya Jea sambil mempersilahkan Andrew duduk di sofa yang sudah usang. Ya, beginilah keadaan Jea. Siapa juga yang menyangka kalau tuan Andrew Parker orang terkaya nomor 1 di seluruh penjuru mau berkunjung di gubuk tua milik mertuanya. Salahkan dia sendiri jika tak menyukainya.


"Biarlah... karena aku tak suka diganggu saat ini..."


Jea mendengus lelah dan langsung berjalan menuju ke dapur. "Kau mau kemana???"cegah Andrew curiga.


"Masak buat kita..."jawab Jea singkat. Ditanya seperti itu membuatnya seperti dihinggapi berjuta kupu-kupu. Tak terasa sebuah senyuman terukir di bibirnya. Tentu Andrew tak melihatnya, karena posisi Jea yang membelakanginya.


Sedang Andrew menaikkan satu alisnya. Ia tadi berniat mengajak makan siang di luar. Tak menyangka saja, jika Jea akan memasakannya. Ia juga merindukan masakan istrinya itu sekian lama, tapi mengingat percintaannya yang semalam tiada henti di tambah pagi tadi saat mandi membuat Andrew tak tega kepada Jea.


"Kita makan diluar saja Jelly..."


Jea membalikkan badannya. Sedikit senang akan tawaran itu, sekian lama selama menjadi istrinya. Andrew belum pernah sekalipun mengajaknya makan di luar.


Tapi,,,


"Tidak, kita makan di sini..." ucap Jea. Dia ingin menguji orang kaya, bagaimana reaksinya saat menjadi orang biasa tanpa makanan mewah.


Andrew pasrah saja. Dia menyadarkan punggungnya, menelisik intens suasana di rumah itu. Semuanya bangunan lama, meskipun bersih, tapi warna cat temboknya sudah memudar. Seketika sebuah ide terlintas di kepalanya. Renovasi. Hanya itu di otak Andrew. Memikirkan idenya itu, Andrew jadi tersenyum. Apakah Jelly nya akan menyukainya??


Jea menyibukkan diri di dapur. Meskipun tidak lengkap, setidaknya ada telur dan daun bawang di dalam kulkasnya. Ia segera memecahkan 3 butir telur ke dalam mangkok kecil. Mencincang daun bawang kecil-kecil lalu ia masukkan ke dalam mangkok tersebut. Jea sangat hafal, Andrew tak suka makanan berbau pedas. Jadi Jea cukup menambahkan garam dan penyedap rasa sedikit. Mengocoknya dengan garpu. Lalu menuangkan ke teflon yang sudah ia panaskan tadi.


Kemudian Jea mengambil 3 gelas. Ia melihat stok minuman coklatnya ternyata tinggal sebungkus. Ia membuat coklat panas untuk Andrew, teh panas untuk dirinya dan Bimo.


Setelah hampir 10 menit berkutat di dapur. Jea menghampiri Andrew dengan 3 gelas yang ada di nampan.


"Minumlah suamiku..." ucap Jea sambil menyodorkan coklat panas untuk Andrew. Andrew mengerutkan keningnya. "Kenapa tiga??"tanyanya.


"Buat Bimo satunya... aku akan memanggilnya..."


"Tidak perlu, kau istriku. Bimo tidak perlu kau layani..."tegas Andrew. Jea sedikit heran. Bukankah dulu ia sering melayani semua orang saat di rumahnya? Oh iya, Jea melupakan statusnya yang waktu itu menjadi pelayan.

__ADS_1


"Aku akan menyuruhnya pergi..."sambung Andrew kemudian saat menatap wajah Jea yang tetap diam.


Jea hanya mengangguk pasrah dan berjalan ke arah dapur. Menyiapkan makanan seadanya untuk mereka berdua.


__ADS_2