I Love You Tuan (ILYT)

I Love You Tuan (ILYT)
47


__ADS_3

.


.


.


Axel mengantarkan Jea kembali ke kontrakannya. Axel tak berniat sedikit pun meninggalkan Jea di tempat seperti ini. 'Sungguh malang nasibmu Jea... aku pastikan, di masa yang akan datang kau akan selalu bahagia karnaku...'


"Pulanglah..." seketika suara Jea membuyarkan semua harapannya.


"No honey...aku akan menemanimu..."


Jea mendesis pelan. Berhadapan dengan Axel membuatnya harus ekstra sabar dan waspada. Sabar karena Axel selalu menganggap Jea seperti kekasihnya. Waspada, karena Axel orangnya selalu mesum jika berada di depannya. Lebih baik Jea cari amannya saja.


"Emmm baiklah,,, tunggu saja di mobil. Setelah saya selesai berberes, anda boleh pulang...."


"Tidak Jea,,, aku akan mengantarkanmu pulang ke rumah ayahmu..." keukeuh. Axel memang tak terbantahkan oleh Jea. Jea malas berdebat. Untuk hari ini, biarlah Axel membantunya.


"Ya, terserah anda Tuan..." balas Jea sambil membalikkan badannya. Berjalan menjauhi Axel dan menuju tempat kontrakannya.


Jea segera masuk ke dalam rumah itu. Menguncinya dari dalam. Badannya merosot seketika, dia menangis tersedu. Percintaannya tak pernah berjalan mulus. Jea memejamkan matanya yang terasa begitu panas. Air mata itu terus mengalir tanpa ia minta. Dadanya begitu sesak. Hatinya bagai diremas-remas. Dia menyesal telah mencintai Kelvin. "Aku tak pernah mengerti cinta... kenapa aku selalu mencintai orang yang salah???"


Setelah hampir 5 menit Jea terisak. Dengan segera ia mengemasi barang yang dirasa berharga. Biarkan semuanya ia ambil esok, kasur lantai dan peralatan dapur harus ia relakan saja. Tidak mungkin ia membawanya ke rumah ayahnya. Mungkin Jea masih bisa menjual kompor dan tabungnya. Sekali lagi biar besok saja. Yang penting ia harus kembali ke rumah ayahnya. Jea perlu pendapat, tak mungkin ia menceritakan semua itu pada Axel yang dirasa masih orang lain baginya.


***


Perjalanan panjang itu terasa mencekam. Jea tak pernah merespon sedikitpun pertanyaan-pertanyaan Axel. Hingga kini keduanya telah sampai di rumah Andriansya, ayah Jea.


"Biar aku bantu Jea... kau terlihat tak baik-baik saja..."


Jea hanya mengangguk pasrah. Percuma juga melawan Axel. Tenaganya juga sudah hampir gara-gara menanggung kesedihan karena ulahnya sendiri.


Setelah selesai mengantar barang punya Jea, Axel sempat berbincang-bincang dengan Andriansya meskipun hanya sebentar. Kini ia hendak berpamitan pada Jea.


"Jea,,, jika kau memerlukan sesuatu. Euummm, maksudku jika kau memerlukan pekerjaan. Kau bisa datang padaku..."ucap Axel dengan serius. Jujur dia tak menginginkan Jea jadi pekerjanya, karena niatnya dari awal adalah menikahinya.

__ADS_1


"Terima kasih Tuan..."jawab Jea singkat. Ia merasa tak pantas selalu diperlakukan secara istimewa oleh Axel. Hatinya masih patah akan cinta-cinta yang tak pernah ia sadari.


"Baiklah, aku pulang dulu. Jaga dirimu baik-baik..." Axel berlalu meninggalkan Jea.


Sungguh waktu sibuknya hanya diberikan untuk Jea hari ini. Axel sebenarnya enggan meninggalkan Jea. Tapi melihat Jea yang belum bisa menerimanya. Membuat Axel pasrah. Dia tak bisa memaksa Jea lagi untuk tetap bersamanya. Dia hanya menunggu sekarang. Menunggu jika Jea mau menerima lamarannya.


***


Di tempat yang berbeda. Seorang pria bermata abu-abu tengah menikmati indahnya air terjun. Beberapa bulan ini ia lebih memilih mengurungkan dirinya di sebuah rumah yang berada di kaki gunung Dolomites. Dolomites adalah pegunungan yang terletak di timur laut Italia. Mereka membentuk bagian dari Pegunungan Limestone Selatan dan membentang dari Sungai Adige di barat ke Lembah Piave di timur. Perbatasan utara dan selatan ditentukan oleh Lembah Puster dan Lembah Sugana.


Andrew memilih tempat ini karena ingin melupakan tentang perasaannya yang tertinggal di Indonesia. Tentu Andrew tak lepas tangan begitu saja tentang Jea. Dia hanya ingin memberikan waktu untuk Jea berfikir. Ah bukan, lebih tepatnya agar Jea terbebas dan menentukan cintanya sendiri.


"Ehmmm tuan..." Itu adalah Bimo. Pengawal setia Andrew yang kemana-mana harus ada Bimo di sampingnya. Sedang Roy, ia masih tinggal di Indonesia. Mengurusi bisnis Parker Company.


"Ya, ada berita apa???" Wajah sedingin es itu hanya menikmati pemandangan yang ada di depannya. Menikmati setiap hembusan angin yang menerpa permukaan kulitnya.


"Tuan Kelvin akan menikah bulan depan..."terang Bimo dengan sedikit mencondongkan badannya hormat.


Andrew mendesah pelan. "Sudah ku duga, Jelly pasti mengejarnya. Harapanku sudah berakhir Bimo..." Jawab Andrew dengan tampang yang masih sama. Dingin tak ada senyum. Sejak perceraian palsu yang ia buat itu. Hatinya justru hancur sendiri. Seberapa keras ia ingin tetap bersama wanitanya. Tapi sekeras itu pula Jea tak menginginkannya. Ternyata cinta begitu menyakitkan. Andrew baru menyadari ini. Meskipun sudah puluhan kali bermain wanita. Tapi tak satupun wanita penghibur itu membuatnya jatuh hati. Kecuali Jealita, yang jelas istrinya sendiri.


Andrew tak menyangka. Kenapa cintanya datang belakangan. Menjauh pun, cintanya tetap setinggi langit. Seluas samudera. Ingin dia kembali. Tapi....


"Ulangi!!!" Perintah Andrew dengan nada yang terdengar mengintimidasi sang lawan bicara. Untung Bimo sudah terbiasa. Jadi dia selalu sigap dengan semua kata yang terlontar dari mulut sang tuannya.


"Tuan Kelvin menikah dengan Clara..."jawab Bimo dengan ketegasan kali ini.


Mendadak raut muka Andrew berubah khawatir. "Bagaimana bisa???"


Lagi, untung Bimo masih tahu jawabannya. Mungkin lebih baik ia menjelaskan semuanya.


"Sesuai informasi yang saya terima. Tuan Kelvin menolak nona Jea. Karena status jandanya, mantan nyonya besar tak akan menyetujuinya...."terang Bimo tanpa ada yang ditutup-tutupi. Benar Andrew meninggalkan Jea. Tapi kaki tangannya masih banyak untuk mengawasi istrinya itu. Apa bisa disebut mantan jika surat perceraian yang ia buat itu palsu??? Entahlah. Andrew memang sedikit tak waras waktu itu.


Flashback


"**JEA!!!!!" teriakan seseorang menghentikan langkah kaki Jea dan Andrew. Keduanya langsung menoleh ke sumber suara tersebut.

__ADS_1


"Tuan Kelvin..." Jea tersenyum sumringah. Entah dorongan dari mana, Jea langsung berlari dan memeluk tubuh tegap Kelvin.


Andrew terkesiap melihat itu semua. Hatinya memanas, sakit. Sakit melihat Jea yang seperti itu. Dimana Jelly nya yang dulu??? Apakah Andrew tak bisa mengembalikan Jelly nya yang penurut itu???


Tubuh Andrew lunglai. "Tuan...."bisik Bimo sambil menahan tangan Andrew.


"Aku tak apa Bimo..."


"Apa perlu kita hajar tuan Kelvin Tuan???"tanya Bimo seraya berbisik.


"Tidak perlu... aku hanya ingin kau membuat surat cerai Bimo. Buat seperti aslinya..." balas Andrew tak kalah lirih. Hingga Bimo mengerutkan keningnya bingung. Tapi melihat ekspresi yang ditunjukkan Andrew, Bimo akhirnya mengerti. Mungkin telah terjadi pada tuannya ini jadi menginginkan sesuatu diluar keinginannya.


Di situlah Andrew menyadari betapa cinta memerlukan pengorbanan.


***


Jea merenungi nasibnya. Sudah hampir seminggu tak bekerja menjadikannya bunga tidur. Tapi Jea tetap heran. Meskipun jadi bunga tidur, badannya tetap segitu-gitu saja. Tak ada perubahan gemuk pun.


"Jea,,, ayah ingin bicara!!!"teriakan Andriansya memaksa Jea harus beranjak dari tempat tidurnya.


"Ayah ingin bicara apa??? Jea masih malas..." jawab Jea dengan mata yang terlihat bengkak. Mungkin Jea belum bisa melupakan perasaannya.


"Sini duduk di sebelah ayah..." Andriansya sedikit menarik lengan Jea membawanya ke sebuah kursi usang yang ada di ruang tengah.


Setelah saling duduk. Andriansya yang sudah terlihat berumur umur itu, bahkan sebagian rambutnya sudah memutih dimakan usia.


"Jea,,, ayah ingin membawamu ke pasar. Selama kamu di sini. Kau tak pernah memasakkan sesuatu untuk ayah... Bukankah memasak adalah hobimu???"


Jea menimang-nimang ucapan ayahnya. Benar juga apa yang dikatakan ayahnya. Mungkin memasak akan membuatnya lebih tenang. "Baiklah Yah,,, Jea akan siap-siap!!!"


***


Jea dan Andriansya sudah berada di sebuah pasar raya. Suasananya begitu ramai. Sebenarnya Jea tak suka keramaian. Tapi sekali-kali berada di tengahnya juga tak apa-apa.


"Ayah,,, Jea mau mengambil uang sebentar..."

__ADS_1


Jea yakin uang di ATM pemberian Andrew masih ada. Jea berharapnya begitu, karena seingatnya sudah beberapa kali Jea membelanjakannya.


Saat Jea mengecek saldonya. Matanya terbelalak.


__ADS_2