I Love You Tuan (ILYT)

I Love You Tuan (ILYT)
15


__ADS_3

.


Seketika, jiwa keprimitifan menghinggapi otak Andrew. Diurungkannya, sebab dia masih lelah. Biarkan besok saja, lebih baik malam ini dia mandi air dingin.


Setelah mandi, Andrew merebahkan tubuhnya di samping Jea. Memeluk tubuh Jea dengan erat.


***


"Apa kau sudah menemukan keberadaannya?" tanya Axel pada salah satu bodyguardnya.


"Menurut info yang saya terima. Dia berada di mansion pribadi milik Parker."


"Bagus, terus awasi! Tunggu sampai lengah lalu bawa wanita itu kemari!" perintah Axel dengan serius.


"Baik tuan."


"Bagaimana tentang saham?"


Axel kini sudah berada di Jakarta. Banyak rencana yang ia susun agar pamornya tetap mendunia. Dia tidak mau tersaingi. Tapi kali ini, Axel lebih tertarik dengan istri rivalnya itu. "Apa mungkin dia Kayla? Kalau dia benar Kayla, aku tidak akan segan-segan menghabisimu -Andrew- dengan tanganku sendiri," geram Axel sambil mengepalkan tinju ke udara.


***


"Hoaaammmm..." Jea terbangun. "Anda sudah pulang tuan?" tanya Jea saat mendapati Andrew yang masih tertidur di sampingnya.


"Hemmmm," jawab Andrew masih memejamkan matanya.


"Apa anda lelah??" tanya Jea pelan.


"Hemmmm..." balas Andrew lagi. Jea mengerti dan berinisiatif memijitinya.


Andrew menikmati pijatan lembut dari tangan Jea. Andrew mengagumi perlakuan manis sang istri. Meskipun Andrew menerima kedatangan Jea di hidupnya, namun faktanya, hatinya masih sulit untuk menerima sang istri.


"Apa anda memerlukan sesuatu tuan?" tanya Jea setelah melihat Andrew terbangun begitu saja. Sebenarnya Jea kangen sekali dengan suaminya ini. Namun sebagai wanita, adakalanya dia meragu untuk mengatakannya. Bagaimana kalau Andrew tidak menyukainya? Tahu sendirikan? Sifat Andrew yang bisa berubah sewaktu-waktu itulah yang membuat Jea dilanda keraguan.


"Aku ingin kamu."


"Aku?" tanya Jea seraya menunjuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Hemmm." Andrew yang sudah tak sabar langsung menarik Jea hingga duduk di pahanya. Menyingkap gaun malam Jea yang sangat halus karena berbahan satin import. Di sana Andrew bermain-main dengan dada Jea. Membuat nafas Jea terasa sesak seketika. Kepalanya mendongak ke atas menahan sensasi aneh yang Andrew berikan. Dirasa sudah waktunya. Andrew segera mencium bibir Jea dengan ganasnya.


"Ehmmm..." Jea menggumam pelan. Begitu indahnya pagi ini yang ia rasakan.


***


Marlina menyambut Andrew dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Sejujurnya dia lebih mengkhawatirkan kedua putranya yaitu Marco dan Kelvin. Tapi keadaan saat ini tidak memungkinkan untuk itu. Karena Andrew adalah anak tirinya. Jadi Marlina akan memperlakukannya layaknya anak sendiri. Kejahatan kalau dibalas dengan kejahatan jadinya akan lebih buruk bukan? Jadinya, Marlina lebih baik mengalah. Marlina yakin, semua pasti indah pada waktunya.


"Bagaimana kabarmu nak?"


"Seperti yang Anda lihat," jawab Andrew datar.


Jea yang melihat itu merasa malu pada Marlina. Dia sendiri tak berkuasa atas apapun. Hanya pasrah, itulah yang bisa Jea lakukan.


Marlina paham. Sangat paham. Mungkin suasana hati anak tirinya sedang tidak baik. Hingga, Marlina memakluminya. Dia hanya bisa menunggu waktu, di mana ia akan terbebas dari sangkar emas. Sebentar lagi. Ya tinggal menghitung jari saja.


"Pagi ibu," sapa Jea akhirnya untuk memecahkan suasana mencekam ini.


"Pagi sayang, yuk sarapan!" ajak Marlina kemudian.


"Tuan, apa anda tidak sarapan?" tanya Jea saat melihat Andrew berjalan menuju ke ruangan kerjanya.


Jea jadi merasa asing kembali. Apa Andrew begitu mudah melupakan sesuatu? Padahal moment manis itu baru saja terjadi beberapa menit yang lalu. Tapi kenapa Andrew bersikap seolah-olah tak melakukan apapun? Dan jangan lupakan pil itu. Setiap setelah melakukannya, Andrew selalu memberikan pil itu untuk Jea. Pil apa itu sebenarnya? Jea yang polos itu, jelas belum tahu jawabannya.


Jea menatap pintu ruangan kerja itu dengan nanar. Dengan hati yang tersayat, akhirnya Jea mendekati meja makan.


Murti dan Rita sudah menyiapkan masakan di sana. Jea tetap tidak fokus hingga ia menyenggol gelas susu hangat yang Rita letakkan di samping tangannya.


Tyarrrrrrrr prang....


Pecahlah gelas itu. Kepanikan langsung tercetak di wajahnya. Jea membungkuk, memungut beberapa pecahan gelas itu, hingga tanpa disadarinyq, tangannya berdarah, tergores oleh pecahan gelas yang ia ambil tadi. Marlina ikut panik. Disaat yang begitu tepat. Bimo menyodorkan kotak P3K. Kemudian menyuruh Murti dan Rita untuk membersihkan pecahan kaca itu dari lantai.


"Pastikan sampai bersih! Jangan ada yang tertinggal sedikitpun!" perintah Bimo yang diangguki oleh Murti dan Rita.


Kotak P3K itu disambut oleh Marlina. Ya, Marlina yang mengobati Jea pada akhirnya. Bimo terus mengawasinya. Tak bermaksud yang lain. Hanya saja, kali ini Jea yang merasa tak nyaman.


Sejak kejadian tadi malam, Jea mulai menghindari tatapan Bimo. Jea takut Bimo akan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Bimo lelaki normal bukan? Maka dari itulah, salahkah jika dia tertarik dengan Jea? Ya meskipun Jea adalah istri tuannya sendiri. Tidak menutup kemungkinan juga untuk Bimo melakukan hal yang di luar batas. Mulai sekarang, Jea harus tegas. Dia hanya untuk suaminya. Titik.

__ADS_1


"Kamu kenapa sayang? Apa ada masalah?" tanya Marlina setelah membalut jari Jea yang luka dengan hansaplast.


Padahal Andrew sudah pulang, harusnya Jea bahagia. Tidak melamun sedih seperti saat ini.


"Tidak bu, aku baik-baik saja."


"Ibu cemas, dari tadi ibu lihat, kamu murung saat mau sarapan. Kenapa? Apa karena Andrew tidak sarapan?" tanya Marlina akhirnya yang diangguki oleh Jea.


Alasan tidak biasa melakukannya membuat Jea merasa aneh. Itu bukan alasan yang tepat menurut Jea. Tapi biarlah. Jea tidak mau ambil pusing lagi. Setelah dirasa aman. Bimo akhirnya pergi. Sungguh, Bimo ingin minta maaf atas kejadian tadi malam. Dia benar-benar khilaf. Semoga Jea tidak mengadukannya ke tuannya. Doa Bimo dalam hati.


***


Axel terus berusaha mencari celah untuk menembus bursa saham milik Andrew. Tapi lagi-lagi gagal. Marco dan Kelvin benar-benar menjalankannya dengan baik dan ketat. Apa mereka tidak tidur??? Fikir Axel. Dilihat dari waktu online nya, hampir 24 jam nonstop Marco dan Kelvin terus terjaga. Benar-benar tak memberi celah untuk dirinya. Axel geram sendiri.


***


Waktu yang ditunggu-tunggu Andrew akhirnya datang juga. Hari ini tepat sebulan setelah masa pernikahannya dengan Jea. Itu tandanya dia akan menerima warisan dari sepeninggalan ayahnya. Hari ini pelepasan hartanya diadakan di kantor Andrew. Andrew ingin acaranya tertutup tidak sesuai dengan keinginannya dulu. Yang ingin mengundang para wartawan dan disiarkan di TV secara live. Tapi tidak sekarang. Andrew berubah fikiran. Dia sedang was-was akan keberadaan Axel. Jadi lebih baik acaranya tertutup dan dihampiri satu dua orang wartawan dari produksi majalah yang dipercayainya.


Suasana sedikit tegang hingga pernyataan bahwa kekayaan Andrew sekarang lebih besar dari pada kekayaan Axel. Itu tandanya, nama Andrew akan berada di papan atas untuk saat ini.


Marco dan Kelvin akhirnya mengucapkan kata selamat sekaligus kata perpisahan. Setelah itu, Marco dan Kelvin meluncur menjemput ibunya yang ada di mansion di kediaman Andrew.


"Ibu... apa ibu sudah siap??" tanya Kelvin menghampiri ibunya yang masih terlihat santai.


"Tunggu sebentar... Ibu sedang menunggu nak Jea.."


"Dia kenapa ibu???"


"Dia sedang di kamarnya belum turun sampai sekarang..." Ucapan Marlina sukses membuat Kelvin gelisah. Tapi tak berapa lama kemudian rasa gelisah itu hilang saat melihat Jea yang begitu cantiknya. Kelvin dibuatnya terkagum-kagum. Makin kesini, Jea semakin pandai merawat badannnya. Dengan cepat kilat Kelvin membuang jauh rasa kagumnya. Tidak boleh kagum, titik.


"Ibu mau kemana???" tanya Jea saat mendapati Marlina sudah berpakaian rapi dan ada 2 koper yang berada tidak jauh dari Marlina berdiri.


"Maafkan ibu Jea, ibu tidak bisa lagi merawat mu..." tangis Marlina akhirnya pecah juga. Jea yang masih belum mengerti akhirnya buka suara.


"Maksud ibu?"


"Masa ibu sudah berakhir Jea. Ibu harus kembali pada kehidupan ibu yang semula. Ibu akan tinggal bersama anak ibu."

__ADS_1


"Jadi ibu ninggalin Jea? Ibu tidak sayang Jea? Kenapa ibu ninggalin Jea? Apa Jea punya salah sama ibu? Jea mohon maaf jika Jea melakukan kesalahan. Tapi ku mohon ibu, jangan ninggalin Jea. Jea sayang sama ibu?" Jea tak kuasa menahan rasa sedihnya. Air mata nya begitu deras mengalir di pipinya. Jea tidak menyangka ini. Di saat dia baru menikmati rasa indah mempunyai seorang ibu. Kini ibu itu ingin pergi meninggalkannya. Meninggalkan dia sendirian di penjara serba emas ini. Kenapa hidupnya semenyedihkan ini?


"Hu uuu uuuu... ibu..." panggil Jea yang masih menangis dalam pelukan Marlina. Jea enggan melepas pelukan itu. Bahkan Jea tidak tahu lagi, apakah dia masih bisa merasakan hangatnya pelukan Marlina ini? Atau bahkan ini pelukan yang terakhir kalinya. Tidak, Jea berharap suatu saat dia akan memeluk tubuh Marlina kembali.


__ADS_2