I Love You Tuan (ILYT)

I Love You Tuan (ILYT)
56


__ADS_3

.


.


.


"Kenapa berantem sih???"tanya Jea memberanikan diri. Saat ini Jea mengobati luka lebam milik Andrew. Untuk urusan adu jotos dengan Axel, Andrew sangatlah payah. Dia suka kekerasan, tapi selalu kalah jika bertanding dengan Axel.


"Kenapa???" suara dingin itu lagi. Memang Jea sudah kembali seperti biasanya. Menyukai sikap dingin Andrew. Tapi tidakkah sedikitnya Andrew bisa bersikap santai pada Jea. Ini Jea istrinya loh.


Jea mengedikkan bahunya. Tanda jawaban tak ingin tahu maksudnya. Kan Jea bertanya, kenapa juga Andrew harus balik bertanya.


Andrew mengalah, dia akan mengeluarkan uneg-unegnya sekarang.


"Aku cemburu, apa kau tahu itu Jelly???"jawaban Andrew membuat Jea sedikit tersenyum. Ia senang Andrew cemburu. Dari dulu Jea ingin membalas Andrew agar mencemburuinya. Dan lihatlah, kesampaian.


"Cemburu??? Yang benar saja???" Jea mencoba memancing lebih dalam.


Andrew diam sambil menatap Jea dengan tajam. "Kau punya rasa untuk Axel???"tanyanya dengan tatapan yang berkilat tajam.


Tiba-tiba kamar itu serasa mencekam bagi Jea. Bulu kuduknya meremang. Apa-apan??? Rasa untuk Axel??? Tidak, jika ia memang ada rasa. Sudah dari dulu Jea mengencaninya.


"Apa yang kamu fikirkan??? Aku bahkan tak mempunyai rasa apa-apa padanya..." dengan keberaniannya Jea menjawab lantang. Ia memang benar tak memiliki rasa.


"Oh benarkah???" pertanyaan konyol Andrew langsung membuat Jea marah. Ia segera menyudahi mengobati Andrew. Membawa kotak obat itu pada tempatnya.


"Apa kau mau tahu??? Aku tak punya rasa apapun pada Axel. Dia hanya menganggapku sebagai Keyla, dan Keyla kembaranku. Apa kau paham??" penuh penekanan biar Andrew tak terlalu banyak bertanya dan terkesan menuduh.


"Ya,, kalau sama Kelvin??"


"Sejak kapan anda rempong???"sindir Jea melirik Andrew dengan sebelah matanya.

__ADS_1


"Oh Tuhan,,, kau tinggal jawab saja. Tak perlu menyindir suamimu juga Jelly..."geram sudah Andrew. Apakah wanita tak mengerti jika dicemburui??? Apa istrinya sebodoh itu??? Rasanya juga tidak. Lalu apa sesulit itu menjawabnya?


Andrew berdiri, menelusupkan tangannya di rambut yang Jea gerai. Menarik perlahan kepalanya agar maju ke depan. Mata itu menatap dengan tajam, tapi tak menyakiti.


Kedua hidung itu saling bertabrakan, bahkan nafas keduanya saling menderu menerpa permukaan kulit wajah mereka berdua.


"Jawab aku nyonya Parker, apa kau mencintai Kelvin???"


Jea menggigit bibirnya. Apa yang harus ia katakan?? Jujurkah?? Ya, kepalang tanggung juga. Yang terpenting, perceraian tak akan kembali terjadi.


"Ya, a-aku per-nah mencintainya..."tergagap, itulah Jea. Diperlakukan seintim ini atau terintimidasi lebih tepatnya membuat detak jantungnya berjalan tak normal.


"Sedalam apa???" bibir itu sudah menyapui bibir luar Jea dengan gerakan slow motion. Pelan tapi menggoda.


Jea benar-benar tak tahan. Dia menggigit bibir Andrew, seketika Andrew menjauhkan wajahnya. Bibirnya nyeri dan ha berdarah. Jea telah melukai bibirnya.


"Kau menggigitku???"tanyanya sambil mengusap bibirnya yang terasa perih.


"Maaf suamiku, aku tak sengaja. Dengarkan aku..." Jea mundur perlahan. Suasana ini tak bagus untuknya.


"Aku mungkin merasa mencintainya, tapi sepertinya tidak. Aku hanya sebatas terobsesi, nyatanya mengagumi lebih indah dari pada ingin memiliki..." Jea mengatur nafasnya.


"Percayalah suamiku,, aku sadar kalau aku hanya mencintaimu... Aku mencintaimu..." Jea menangis tak kuasa menahan keadaan ini. Dia masih mencintai Andrew itu benar, sudah lama ia berharap rasa itu terkubur dalam. Tapi waktu kemarin melihat orang yang dibencinya hadir di hadapannya, seperti dejavu rasa itu kembali muncul seperti dulu.


Jea merosot menangis sesenggukan, bersimpuh di lantai. Wajah ia tundukkan. Rambut yang ia gerai menutupi seluruh wajahnya. Jea takut, takut kalau Andrew akan bermain tangan seperti dulu. Jea masih ingat bagaimana Andrew memukulnya, menyakiti fisik, hatinya dan membuat Jea kritis.


Ungkapan rasa yang Andrew harapkan, kelegaan jelas terlihat di wajahnya. Dia berjalan perlahan, berjongkok, merapikan rambut orang terkasihnya.


"Terima kasih masih mencintaiku..."direngkuhnya tubuh wanitanya dalam pelukan. Betapa bahagia kini menyelimuti hatinya. Ingatkan pada semuanya, Andrew sudah berubah.


***

__ADS_1


Thomas mencengkeram setir mobil dengan kuat. Sesekali matanya melirik kedua insan yang sedang dimabuk api gairah itu lewat spion depan. Thomas marah hanya karena sifat Haruka yang kelewat batas. Bagaimana mungkin dia bisa meminta mobil ini untuknya. Dan yang bikin geram lagi adalah, Axel mengiyakan saja. Apa rencana Axel sebenarnya. 'Shit' Thomas merasa bersalah telah mengenalkan Axel dengan Haruka tadi. Jika tahu Haruka matre -lebih matre- mungkin dia akan mengenalkan Axel dengan wanita lain.


Thomas menurunkan Axel dan Haruka di mansion pribadi milik Axel. "Atur semuanya,,, jangan ada yang boleh menggangguku hari ini!!!"titahnya yang langsung diangguki oleh Thomas.


Axel benar-benar haus akan kenikmatan ini. Dia terus menghujamkan miliknya pada lubang kenikmatan milik Haruka. Haruka tak menyangka jika Axel pria perkasa. Beruntung sekali dia bisa melayani orang kaya itu.


Haruka sudah menggeleng kesana kesini, hingga suara desahan nan berat itu menyadarkannya. "Jangan keluarkan di dalam..."teriaknya seketika tapi terlambat. Cairan kental itu sudah menyembur ke dalam rahimnya.


"Kenapa baby???" Axel masih memejamkan matanya. Menikmati pelepasan yang lama ia nantikan. Berharap pada Jea tapi tak pernah tercapai. Dan kini dia harus merelakan mobil mahalnya untuk menikmati tubuh indah yang kini ada di bawah kunkungannya.


"Kau bahkan tak memakai pengaman, hari ini masa suburku Tuan Axel. Bagaimana jika aku hamil???" Haruka panik bukan main, ia mencengkeram seprei abu tua yang ada di ranjang Axel. Masih berada di atas tubuh Haruka, Axel tersenyum miring.


"Maka menikahlah denganku..." Sepertinya Axel tak perlu jawaban. Karena dia masih on, dan segera merubah posis Haruka menjadi miring. Haruka yang tak pernah merasakan kenikmatan ini terus mendesah-desah dan memejamkan matanya. Bahkan Haruka hanya bersikap pasif saja. Belum ingin mengimbangi gerakan Axel yang begitu sangat liar baginya.


***


Jea kembali mengganti pakaiannya. Ia fikir Andrew akan berbuat kasar padanya. Tapi ternyata Andrew tak seperti itu. Andrew memperlakukannya dengan lembut meskipun sangat kaku menurut Jea.


Sambil menunggu Andrew selesai mandi, Jea memoleskan beberapa kosmetik di wajahnya. Sudah lama sekali ia tak memakai make up mahal ini. Bahkan semuanya masih baru. Mungkin Andrew telah membuang make up lamanya dengan mengganti yang baru. Ahhh, rasanya Jea sangat menyesal telah menjauhi Andrew waktu itu.


"Apa kau melamun??" sebuah suara milik suaminya menyadarkan lamunannya seketika.


"Ti-tidak..." Jea segera menyelesaikan riasannya. Memakai maskara dan kemudian lipstik.


Andrew terlihat sangat tampan saat hanya memakai kaos dan celana pendek selutut. Jea sempat terpaku dibuatnya. "Apa aku boleh menciummu??" Gila. Itulah Jea. Dia tak menyangka kenapa dia bisa semurahan ini.


Andrew tersenyum devil. "Kau boleh melakukan apa saja padaku Jelly..."


Bukan Jea yang mencium, tapi justru Andrew yang memulainya. Mereka terenga-engah lalu keduanya tertawa bersamaan. Momen ini harus diabadikan, karena ini adalah tawa bersama mereka yang pertama kali.


"Jangan melakukan itu pada pria lain... mencium duluan..."larang Andrew dan tapi apa balasannya.

__ADS_1


"Aku sudah pernah melakukannya..."jawab Jea tanpa sadar.


"APA!!!!!"


__ADS_2