I Love You Tuan (ILYT)

I Love You Tuan (ILYT)
11


__ADS_3

.


.


.


Andrew melangkahkan kakinya menuju kamar kebesarannya. Andrew menghela nafas yang panjang kemudian membuangnya perlahan. Dia mendapati Jea yang tidak ada di kamarnya.


Andrew mengambil ponselnya. Menemukan nama Bimo dan langsung menyentuh tombol call.


"Bimo... suruh Jelly ke kamar sekarang juga"


Setelah berucap seperti itu. Andrew langsung memutuskan sambungan teleponnya tanpa harus menunggu jawaban dari orang yang ditelpon.


Andrew duduk di sofa dengan tenang. Hampir 10 menit orang yang ditunggunya tidak kunjung datang membuat Andrew geram.


Andrew menahan emosi. Jika Jea belum datang juga. Terpaksa dia sendiri yang harus turun tangan untuk menyeret Jea masuk ke kamarnya.


Andrew sudah tidak sabar. Saat ia hendak beranjak dari tempat duduknya. Tiba-tiba Jea sudah diambang pintu bersama Bimo yang berada di belakangnya.


Andrew menatap tajam Jea. Kemudian menatap Bimo, memberi isyarat agar Bimo pergi. Bimo yang mengerti isyarat itu akhirnya mengangguk dan pergi.


"Jelly masuk...!!"perintah Andrew tapi tidak ditanggapi Jea. Jea masih setia berdiri di tengah-tengah pintu masuk.


"Masuk!!!" Jea menatap Andrew dengan air mata yang berlinang. Apakah salahnya??? Kenapa dia harus menerima semua cobaan ini??


Jea tidak ingin mendengar teriakan Andrew lagi. Mau tidak mau dia harus mengikuti perintah Andrew.


Jea masuk ke kamar kemudai menutup pintu itu. Sekarang Jea menunggu. Apa yang ingin Andrew ucapkan.


"Sekarang kau sudah pintar membangkang ya??"ucap Andrew dingin tapi penuh penekanan di dalamnya.


Jea hanya diam menunggu lanjutan ucapan Andrew.


"Kenapa kau menangis??? Hapus air mata itu. Mataku pedih melihatnya..."


Hati Jea masih tersayat. Apalagi ucapan Andrew yang begitu pedas. Air mata ini susah sekali dihentikan. Jea mencoba memejamkan matanya. Menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya. Emosinya mulai mereda. Jea langsung menghapus air matanya. Air matanya memang sudah berhenti. Tapi mata sembabnya tak bisa membohongi. Kalau Jea saat ini benar-benar. Apakah ia harus menyerah dengan cintanya. Tidak, Jea harus bertahan. Dia harus bertahan sampai kapanpun. Sampai Andrew membuangnya mungkin.

__ADS_1


"Kau tahu Jelly... hukuman apa yang pantas buatmu hemmmm??"


Jelly menggeleng. Mana mungkin dia tahu. Hidupnya kan dikendalikan olehnya. Bahkan Jelly tak berkuasa atas dirinya sendiri. Menyedihkan. Begitulah hidupnya.


"Kau pantas mendapatkan ini..."


Andrew mendekat. Menarik tengkuk leher Jea. Mencium Jea dengan kasar. Menggigit bibir Jea. Jea merintih kesakitan. Rasa asin dan aneh menjalar ke lidahnya. Tapi Andrew belum juga melepaskan ciuman kasar itu. Hingga Jea membuka mulutnya. Disitulah Andrew beraksi dan membuat tubuh Jea berjalan memutar menuju ke arah ranjang.


Andrew yang sudah melihat Jea berada di bibir ranjang. Diapun melepaskan ciuman panasnya itu.


Andrew menyentuh kedua pipi Jea yang sedikit membengkak. Lagi-lagi air matanya mengalir. Dengan penuh pengertian Andrew mengusap air mata itu.


"Hentikan air mata ini??? Kau tidak boleh menangis"


Andrew menyuruhnya berhenti menagis. Tapi Andrew juga yang membuatnya menangis. Tepatnya belum juga Jea benar-benar berhenti dari tangisnya. Tapi detik itu juga Andrew membuatnya menangis.


Jea mengangguk pelan dalam dekapan tangan Andrew yang ada di kedua pipinya.


"Aku ingin dirimu Jelly... aku tak bisa menahan ini. Aku hampir gila saat menahannya..." hempusan nafas Andrew menyapu hidung Jea. Jea hanya bisa pasrah. Jujur saja Jea sangat menginginkan ini. Menginginkan Andrew yang begitu dekat dengan dirinya.


"Katakan sesuatu Jelly... Apa kau juga menginginkanku hemmm" ucapan Andrew sukses membuat sesuatunya basah.


Andrew yang sudah tidak tahan langsung membaringkan tubuh Jea di atas kasur. Memberi kecupan ringan di pipi, bibir, dagu dan ke seluruh wajah Jea tak luput dengan kecupannya.


Tak terasa acara cium menyium itu membuat tubuh keduanya polos tanpa ada sehelai benangpun yang melekat.


"Apa kau suka ini Jelly...?" suara Andrew sangat parau. Saat ini Andrew memainkan kedua p**udara Jea dengan gemasnya. Jea hanya mengangguk pasrah. Sentuhan Andrew benar-benar membuatnya hilang kesadaran.


"Mendesahlah..."bisik Andrew lagi. Jea yang sedari tadi menahan suara yang keluar dari mulutnya. Kini tanpa ditahan lagi, suara itu keluar dengan sendirinya. Andrew sangat menyukai itu.


Dengan tak sabar Andrew memasukkan miliknya ke milik Jea. "Aaaaahhh....." Jea memekik pelan. Pasalnya dia belum siap seutuhnya.


Jea menikmati semua gerakan Andrew yang berada di atas tubuhnya. Andrew benar-benar membuatnya gila. Ini adalah perlakuan manis pertama yang Jea rasakan.


Malam itu berakhir dengan nikmat di antara keduanya. Tanpa harus ada yang tersakiti.


#

__ADS_1


#


#


Fajar telah tiba. Jea mengerjapkan matanya. Orang pertama yang ia lihat adalah suaminya.


Jea tersenyum. Dan membelai lembut pipi Andrew. Andrew terusik dan membuka matanya.


"Jelly... kau menggodaku...."ucap Andrew yang kini sudah menindih Jea. kejadian malam tadipun terulang kembali di pagi ini.


Andrew keluar dari kamarnya dengan wajah yang begitu cerah. Tak sengaja saat turun dari tangga. Andrew melihat Marlina yang menangis dan ada 2 koper di sampingnya.


Andrew mendekati Marlina. "Ibu... sebaiknya genapkan satu bulan. Setelah itu terserah ibu jika mau keluar dari sini. Oya satu lagi, Andrew kemarin lupa belum mentransfer jatah bulanan ibu..."


Marlina yang mendengar itu sangat terkejut. Apa suasana hati anak tirinya ini sangat baik? Sehingga Marlina diperlakukan sedemikian rupa.


"Tidak nak... ibu tidak bisa menerimanya..."tolak Marlina halus. Sebenarnya Marlina tidak terlalu mengharapkan uang. Marlina hanya ingin Andrew bersikap baik padanya. Dan lihatlah, mungkin ini berkat Jea sehingga Andrew memperlakukannya layaknya seorang ibu.


"Tidak ada bantahan ibu... terima saja..."


"Mari kita sarapan... Barang-barang ibu biar dibereskan pelayan"suruh Andrew yang diangguki Marlina dengan antusias.


Kini kedua orang itu sudah duduk di ruang makan. Suasana hening. Marlina merasa ada yang kurang. Jea tidak ada di sini. Marlina berharap Jea baik-baik saja. 'Semoga Andrew memperlakukanmu dengan baik..."doa Marlina dalam hati mengingat kejadian di mana ada bekas tamparan di pipi Jea waktu itu.


"Murti!!!!"


"Iya tuan... "Murti yang dari arah dapur langsung menghampiri tuannya yang memanggilnya.


"Bawakan sarapan untuk Nona... jangan lupa bawakan dia susu hangat..."perintah Andrew yang langsung di iyakan oleh Murti.


Marlina yang mendengar itu tersenyum dengan sendirinya. Semoga Andrew selalu 9


bahagia. Itulah doa Marlina sebelum memulai sarapan pagi di hari ini.


###


Jea sudah bersiap. Lagi-lagi sebelum Andrew pergi. Andrew menyuruh meminum pil lagi?? Sebenarnya pil apa itu?? Jea sangat penasaran. Mungkin suatu saat Jea akan bertanya. Untuk saat ini, biarlah Jea meminumnya.

__ADS_1


Jea duduk bersandar di atas ranjang. Badannya benar-benar lemes. Andrew begitu bergairah. Jea benar-benar tak menyangka akan diperlakukan semanis itu oleh Andrew. Meskipun begitu, Jea masih sakit hati dengan sikap Andrew kemarin. Dimana dia membawa Petty ke dalam rumah. Dan dengan tak tahu malunya menyentuh Petty di depannya. Tak terasa air mata itu menetes kembali bersamaan dengan pintu kamar yang diketuk.


__ADS_2