
.
.
.
Jea mengingat kejadian itu. Sekali lagi Jea mengerjapkan matanya, meyakinkan hatinya untuk mempercayai fakta yang ada. Ia kembali menatap kedua manik mata Kelvin dengan lekat. "Jadi Anda kakak yang waktu itu???"
"Ya, aku lah kakak itu...." Kelvin tersenyum lebar tanpa beban.
"Sudah lama aku mencari keberadaanmu, tak menyangka akhirnya kita berjumpa kembali adik manis...."perkataan terakhir Kelvin membuat Jea melambung tinggi. Rasanya jantung Jea mau copot dari tempatnya.
"Ba-bagaimana anda bisa tahu???" Meskipun gugup, Jea berusaha menanyakan hal yang dirasa sudah membuatnya penasaran.
"Setelah kejadian waktu kau, ah yang siang itu. Jadi aku menyewa detektif handal, biar tahu siapa kamu sebenarnya. Dan aku tak menyangka jika kau adalah Lita kecilku. Jika aku mengetahuinya, pasti akulah yang sudah menikahimu..."terang Kelvin dengan segenap kejujuran hatinya.
Jiwa Jea semakin tertantang sekarang. Ya, waktu itu Jea masih kecil. Jadi ia tak menganggap kejadian itu terlalu serius. Tapi perkataan jujur Kelvin membuatnya semakin percaya diri. Rasanya Jea sudah tak canggung lagi. Bukankah Kelvin sendiri yang mencari tahu tentang dirinya? Itu tandanya Jea istimewa bukan??
"Lalu,,,, kenapa anda tak menikahiku saja Tuan???"
Kelvin menggeleng. "Semua terlambat Jea... aku sudah bertunangan. Sebulan lagi aku akan menikah..."jelas Kelvin lirih. Jawabannya tersirat penyesalan.
"Batalkan pertunangan itu tuan, aku bersedia menggantikannya..."permintaan yang dirasa sungguh gila, karena Jea merasa cintanya terbalaskan.
Kelvin menghembuskan nafas dengan berat. "Tidak bisa Jea, ini menyangkut banyak nyawa dan kehormatan orang..."
Kelvin menunduk merasa bersalah. Jujur dia juga mencintai Jea. Tapi takdir tak berjalan sesuai hati mereka berdua.
"Clara, dia akan bunuh diri. Sedang ibu punya riwayat penyakit jantung Jea. Jika ibu baik-baik saja, mungkin aku akan menikahimu detik ini juga. Asal kau tahu Jea, ibu tak akan terima dengan pernikahan kita..."
"Itu tidak mungkin tuan,,, ibu Marlina menyayangiku..."
"Ya, menyayangimu hanya sebatas anak. Tak lebih dari itu!!!"
"Kenapa tak bisa lebih??? Menantu juga sama seperti anak juga kan???"tanya Jea dengan tampang polosnya.
Kelvin mendongakkan kepalanya. "Statusmu Jea,,, kau janda. Ibu tak pernah merestuinya...."
Ungkapan yang baru saja Kelvin lontarkan bagaikan sebuah hantaman besar bagi Jea.
Jea memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Dia sudah tak kuasa lagi berada di sini. Bodohnya dia terlalu berharap sama Kelvin tadi. Bodohnya lagi ia tak mengingat akan status jandanya. 'Oh Tuhan...'
Jea keluar dari ruangan Kelvin. Ia tak menghiraukan lagi suara-suara manusia yang memanggilnya. Hatinya sungguh-sungguh sakit. Baru saja tadi Kelvin membuatnya melambung ke angkasa. Tapi di detik selanjutnya jiwa Jea terasa dihempaskan begitu saja.
"Heh!!! Pelakor,,,, kenapa??? Nangis??? Ck ck ck,,, kasihan sekali nasibmu..." sindir Yuni yang memang sengaja menunggu kedatangan Jea.
Penampilan Jea yang terlihat tak baik-baik saja membuat Yuni merasa menang. Yuni menebaknya, Jea pasti sudah dimarahi habis-habisan oleh Kelvin. 'Biar tahu rasa!!!' senyum sinis dari Yuni membuat Jea lebih sakit hati.
__ADS_1
Jiwa pendendamnya kembali muncul. 'Suatu saat aku ingin membalasmu...' batin Jea sambil berlalu meninggalkan Yuni. Mau mengeluarkan suara begitu sulit bagi Jea. Suaranya bagai tertahan di tenggorokan. Dia tak menyangka punya nasib percintaan yang sangat buruk.
Bukannya langsung pulang, Jea berjalan berlawanan arah menjauhi restoran itu. Air matanya terus bercucuran. Setelah hampir 5 meter berjalan, Jea berpegangan pada sebuah tembok pagar di depan sebuah rumah warga sekitar. Jea memejamkan matanya sambil mengatur emosinya agar kembali normal.
Ia fikir, Marlina tulus menyayanginya tanpa memandang status. Tapi nyatanya, ini Indonesia status janda pasti dianggap rendah.
Saat Jea memejamkan matanya. Jea merasa sebuah tangan kekar mengusap lembut rambutnya. Jea menyunggingkan senyuman. 'Pasti Kelvin...'batin Jea sumringah.
Sungguh kecewanya Jea, saat hitungan detik ketiga tadi. Jea membuka matanya dan siapa dia??? Dia adalah Axel.
Jea membuang mukanya. Hatinya benar-benar rapuh sekarang. Isakan tangisnya semakin menjadi-jadi.
"Ssssstttt,,, ada aku di sini!!! kau akan baik-baik saja..." Axel merangkul pundak Jea. Mengusapnya dengan pelan. Jea butuh sandaran, ia-pun menerima pelukan yang Axel berikan. Pelukan itu hanya beberapa detik saja, tapi beban Jea sedikit berkurang. Memang benar kata orang, jika ada seseorang sedang menangis, segera berikan pelukan. Itu akan mengurangi sedikit bebannya. Nyatanya itu memang membuat beban Jea berkurang.
"Makasih,,," ucap Jea sambil menjauhkan badannya selangkah dari Axel.
"Mari ikut denganku...."
Jea hanya pasrah dengan perintah yang Axel ucapkan. Jika Jea menolak, itu percuma saja. Karena Axel sudah mencengkerap pergelangan tangannya. Begitu posesif.
***
15 menit perjalanan, Jea di turunkan tepat di sebuah gedung tua yang bertingkat. Tak seram, hanya saja bangunannya terlihat sangat sepi.
"Kenapa saya di bawa ke sini???" tanya Jea menatap Axel dari samping. Jea juga tak perduli dari mana datangnya Axel hingga tahu bahwa Jea sedang bersedih tadi.
Setelah melewati beberapa anakan tangga. Kini Jea dan Axel sudah sampai di tingkat paling atas.
Jea seperti berada dekat dengan awan. Semilir angin menyapu bagian kulit wajah dan tangannya.
"Teriaklah Jea..." suara Axel terdengar seperti perintah.
Jea menoleh menatap Axel yang kini tengah menatapnya. Tatapan Axel benar-benar seperti seorang kekasih yang mengkhawatirkan pujaan hatinya. Hati Jea sedikit menghangat kemudian mengangguk.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!!!!!"
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahh!!!!"
Jea tersenyum menutup mata sambil membentangkan kedua tangannya. Mungkin jika itu Kayla, Axel pasti akan memeluknya dari belakang. Mencium pundaknya dan lehernya. Memberikan tanda-tanda di sana dan aah mencium bibirnya. Fikiran Axel melayang liar, tapi sayang. Wanita yang ada di depannya bukanlah Kayla melainkan Jealita.
Justru karena wanita ini Jealita, Axel akan selalu berusaha melindunginya. Membuatnya bahagia yang terpenting.
Axel memutuskan hanya berjalan tepat di sampingnya. Kedua tangannya sudah masuk di saku celananya. "Bagaimana???"
Jea membuka matanya. Menatap Axel dengan tatapan biasa saja. Jujur, hatinya terasa lega. Tapi cintanya pada Kelvin saat ini terasa aneh bagi Jea. Perasan cintanya pada Kelvin hampir sama pada cintanya pada Andrew. Mungkin cinta karena merasa banyak berhutang budi. Seperti itulah cinta Jea pada Andrew pada Kelvin.
Soalnya setelah berteriak kencang tadi, rasa cinta itu terasa terkikis dengan sendirinya. Sungguh aneh.
__ADS_1
"Hmmm, lumayan..."balas Jea sambil sedikit berfikir.
"Apa kau ingin sesuatu???"tanya Axel dengan lembutnya. Jea tak menyangka, Axel selalu bersikap lembut padanya. Padahal sudah jelas, bahwa dirinya bukan Kayla. Tapi Axel masih memperlakukan Jea dengan manis.
"Saya tak tahu Tuan,, rasanya saya sudah tak menginginkan apapun..."
"Baiklah,,, aku akan membawamu menikmati hotdog di pinggir jalan... bagaimana???"
Sebuah tawaran yang menggiurkan bagi Jea. Tapi Jea bukanlah Kayla. "Jangan hotdog Tuan,,, bagaimana kalau kerak telur??" Jea menyukai makanan khas betawi itu.
Axel sedikit berfikir. Sebenarnya nama makanan yang Jea ucapkan barusan terdengar asing di telinganya. Karena demi membuat Jea bahagia. Axel akhirnya tersenyum lebar sebelum membuka suaranya. "Okay, itu juga boleh..."
Hingga keduanya kini sudah membawa kerak telur di tangan masing-masing. Jea memakannya dengan lahap. "Kenapa Tuan??? Ayo di makan??? Ini enak loh???"bujuk Jea sambil terus menyuapkan kerak telur ke mulutnya sendiri.
Awalnya Axel ragu, tapi setelah memakan sepotong. Lidahnya tergiur juga. Tawa Jea pecah. "Hahaha, enak kan Tuan???"
"Iya, enak Jea... rasanya gurih. So deliciuos...."
Tak lama makanan itu habis dalam sekejap. Punya Axel kandas juga ternyata. Tak terasa keduanya saling melempar senyuman. Tanpa Jea sadari, Axel merasa lega. Akhirnya Jea menerima kehadirannya.
Axel mengamati mulut Jea, ternyata ada sisa makanan yang tertinggal di sana. Reflek tangan Axel terulur dengan sendirinya. Ibu jarinya sudah menempel di bibir Jea. Jea yang tadinya tertawa langsung diam seketika. Sekujur tubuhnya terasa kaku. Ia berfikir Axel akan cabul padanya. Mungkin Jea akan mengijinkan jika Axel menciumnya. Tapi dugaan Jea salah lagi.
"Maaf Jea, tadi ada makanan yang tertinggal..."
Jea jadi salting sendiri. Axel berbeda sekarang. Mungkin dulu main nyosor karena menganggap Jea adalah Kayla. Ya mungkin seperti itu.
"Aaah iya..." Jea segera menunduk. Pipinya terasa panas gara-gara memikirkan hal yang itu lagi.
***
"Bagaimana kalau kita menikah Jea???"
Kedua orang itu saat ini berada di dalam mobil.
"Apa anda melamar saya tuan??? Maaf saya belum bisa tuan, saya baru saja patah hati. Dan saya janda, asal anda tahu!!!"
Axel terkekeh menanggapinya. "Kenapa kalau janda??? Bukankah janda lebih baik dari pada perawan rasa janda???"
"Tuan!!! Saya tidak sedang bercanda..."
"Baiklah,,, aku benar-benar ingin menikahimu Jea... apa kau sudah bersedia???"
Jea memejamkan matanya. Kelvin akan menikah bulan depan bukan??? Apakah Jea masih pantas jika berharap pernikahan Kelvin akan batal?? Seperti saat pertunangannya yang waktu itu batal karena telah menolongnya. Tak terasa air mata itu keluar lagi dari matanya. Axel jadi panik.
"Jea, aku tak ingin memaksamu. Aku akan bersedia menunggumu..."balas Axel yang segera merangkul Jea kembali. Jea masih menangis dengan menunduk. Ia enggan membalas pelukan Axel lagi.
"Berikan saya waktu untuk berfikir..."balas Jea di tengah isakannya.
__ADS_1
Axel paham dan akhirnya mengangguk.