
Benar saja, sesampainya di rumah. Maxy sudah dihadang oleh beberapa pengawal pribadi dari Axel. Menghalangi langkah Maxy yang ingin masuk ke dalam rumah papa angkat nan kejamnya.
"Cih!" Maxy berdecih, Axel benar-benar licik menurutnya. Dia pengecut, tak berani menemui Maxy secara jantan.
Sedang di dalam rumahnya. Axel mondar-mandir kebingungan. Ada Thomas juga di sana. Thomas sampai pusing melihat kelakuan sang tuannya.
"Apa rencana kita selanjutnya Tuan? Apa saya saja yang akan menghabisinya?" tanya Thomas menawarkan diri.
Axel menggelengkan kepalanya tak setuju. "No! Maxy berbahaya Thomas. Dia sudah ku latih selama ini. Gak nyangka, dia akan tahu tentang rahasiaku."
"Saya rasa, ini ada kaitannya dengan anaknya tuan Andrew Parker."
"Siapa? Queeny maksudmu?"
Thomas mengiyakannya. "Iya, dia Tuan. Mungkin gara-gara anak itu, Maxy jadi tahu semuanya."
"Biarkan saja, anak itu lebih baik bersama Maxy dari pada Fero."
"Kenapa Tuan? Tuan Fero sangat mencintainya kan?" Thomas penasaran, dia jadi kepo.
'Karena aku mengincar ibunya. Setelah Andrew mati, Jealita akan jatuh kepelukan ku,' batin Axel. Sepertinya dia sedang bermimpi di siang bolong. Terlalu berharap, bagaimana kalau tak kesampaian?
Di lain sisi. Queeny minta diantarkan ke kantor Daddy-nya, Parker company. Queeny lari tergesa-gesa, tak dihiraukannya sapaan dari orang-orang yang ada di dalam kantor itu. Tujuannya hanya ingin segera bertemu dengan daddy-nya itu saja.
Setelah keluar dari lift, Queeny kembali berlari. Tanpa mengetuk pintu, ia menyerobot masuk ke dalam ruangan papanya. 'Ups! Ada tamu ternyata.' Dengan malu Queeny pura-pura mengetuk pintu, yang padahal sudah terbuka karenanya.
"Hei, Putriku. Tumben kemari ada apa?" tanya Andrew heran.
__ADS_1
"Emmm, itu Dad?" Queeny tidak enak mau berbicara. Matanya melirik ke arah teman Andrew yang tengah duduk manis. Queeny mengenal orang itu.
Andrew mengerti apa maksudnya. "Oh, jangan khawatir Queen. Ini kan om Kelvin, gak apa cerita di sini saja," suruh Andrew.
Ya, belakangan ini hubungan Andrew dan Kelvin mulai membaik. Sejak ada Jelly resto, usahanya jadi menurun. Yang dulunya Kelvin mempunyai 4 cabang, kini tinggal 2 cabang saja. Itu juga karena Clara orangnya boros. Hubungan Kelvin dengan istrinya sudah membaik sejak Clara dinyatakan positif hamil 15 tahun yang lalu. Kini anak Kelvin sudah dua. Berbeda dengan Andrew yang hanya seorang putri. Andai Jea tak jatuh dari tangga, dipastikan juga anaknya bakalan dua sama seperti dirinya.
"Hai Om," sapa Queeny sambil sedikit tersenyum canggung.
"Hai juga Queeny, baru pulang?" tanya Kelvin basa-basi.
Setelah sedikit saling sapa dan menanyakan ini itu. Akhirnya Queeny mengambil langkah cepat. Segera ia ceritakan kepada Andrew dan Kelvin mengenai Maxy. Kelvin tak asing dengan mereka. Kelvin juga tahu seluk beluk Axel yang tergila-gila dengan Jealita. Dari dulu Axel tak bisa move on dengan Kayla kembaran Jealita yang telah meninggal akibat dibunuh Ferdinand. Sepertinya dendam itu belum juga berakhir.
Mendengar cerita dari Queeny, Andrew dan Kelvin berencana menolong Maxy. Ya, meskipun Maxy pernah mencoba membunuhnya, tapi Andrew sudah ikhlas. Ia akan menolong Maxy untuk kembali menjadi pebisnis di jalan yang umum. Bukan melenceng dan menghalalkan segala cara, seperti ajaran dari Axel.
"Kita harus cepat Kel! Nyawa anak itu dalam bahaya," ujar Andrew khawatir.
Kelvin pun berpikiran yang sama juga. "Kau benar Ndre," balasnya.
Di sana. Di dalam rumah Axel, Maxy sudah di cekal oleh tangan orang-orang suruhan sang papa angkat.
Maxy pria cerdik untuk urusan yang satu ini. Dia memang sengaja mengalah lebih dulu. Musuh harus dijinakkan sebelum dimangsa. Dan setelah dirasa ada keteledoran, Maxy langsung berulah. Mereka terlena juga rupanya. Jadi, Maxy tak buang-buang waktu lagi.
Ia tendang satu persatu anak buah Axel. Dengan tenaga yang ia punya, Maxy mampu melumpuhkan 4 orang sekaligus dalam waktu yang singkat.
Dendam itu semakin membara saat Axel menampakkan wajahnya. Mata Maxy menangkap sebuah benda yang ada di tangan Axel. Bendanya ia todongkan tepat di depan wajah Maxy. Maxy tak bodoh, itu revolver. Jadi Axel main aman ceritanya. Ini tak bisa dibiarkan, Maxy juga punya revolver di balik saku dalam bajunya.
"Woah, papa Axel. Kau benar-benar hebat dan berbakat," ujar Maxy penuh sindiran.
__ADS_1
"Apa kau baru tahu? Dari mana saja kau Nak?" balas Axel tak mau kalah.
"Kau sangat hebat papa Axel, menyembunyikan bangkai sampai sejauh ini."
"Tentu, kalau aku tak hebat. Apa jadinya kamu tanpa aku hmm? Menyerah lah Maxy, papa akan mengampuni mu."
"Aku tak butuh ampunan mu, yang aku butuhkan adalah-----" Mata Maxy melihat kesana-kemari. Netra matanya menemukan wajah seseorang yang begitu dimanja oleh Axel. Siapa lagi kalau bukan Fero.
Dengan pura-pura berjalan mundur, Axel terus menodongkan senjata api itu ke wajah Maxy. Secara tidak langsung, Axel lah yang justru mengikuti permainan Maxy.
Axel tak tahu saja, bahwa sebenarnya Maxy dua langkah lebih pintar dibanding Axel. Yang mengajari jahat, biasanya akan tersaingi oleh anak buahnya sendiri. Dan kali ini berlaku untuk Axel.
Setelah Axel lengah, Maxy menarik lengan Fero mendekat. Axel panik ketakutan. Ini di luar rencana yang sudah ia susun bersama Thomas tadi.
Ya ampun, Axel melupakan keberadaan Fero. Anak itu memang bodoh. Lamban sekali untuk berpikir. Dan Maxy memanfaatkan itu semua dengan tepat.
Kali ini Maxy lah yang menodongkan revolver itu tepat di pelipis Fero. Fero si anak manja langsung menangis. Dia merengek minta tolong kepada papanya.
Maxy akhirnya buka suara. "Buang itu dari tanganmu Papa!" suruhnya. Dan mau tidak mau, Axel menjatuhkan revolver itu di atas lantai. Dan benda itu terpelanting menjauh dari tempat Axel.
'Sialan,' desis Axel tak terima. Mana Thomas belum datang lagi. Semua masalah akan kacau, bisa-bisa nyawanya beneran melayang di tangan Maxy, anak angkat yang sudah ia besarkan dengan banyak dusta di dalamnya.
"Tolong lepaskan Fero, Maxy! Dia adikmu!" mohon Axel.
"Dia bukan adikku sekarang. Sudah cukup aku jadi babunya selama ini, sekarang tidak lagi Tu-an Ek-sel!" balas Maxy sambil mengganti kata panggilan yang sebelumnya papa menjadi tuan. Cara pengucapannya pun penuh penekanan.
Thomas yang sudah bersiap ingin menembak Maxy dari belakang, dikejutkan dengan suara keributan dari luar. Jadi ia putuskan untuk melihat ke arah halaman. Betapa terkejutnya Thomas saat melihat kedatangan Andrew dan Kelvin. "Gawat," gumamnya lirih.
__ADS_1
Ia segera menyusul ke arah Maxy. Kalau begini caranya, semua rencana bakalan gagal sebelum waktunya.
Bersambung.