I Love You Tuan (ILYT)

I Love You Tuan (ILYT)
63


__ADS_3

.


.


.


"Jadi gosip itu benar???" Yuni melayangkan tatapan menantang pada Jea.


Jea tersenyum miring menanggapinya. "Gosip apa ya???" pura-pura tak tahu itulah Jea. Ia langsung berjalan melewati Yuni begitu saja. Siapa Yuni yang harus Jea hormati?


Yuni mengumpat tak suka dengan sikap Jea barusan yang sok berkuasa. "Cih, kamu lupa dengan kelakuanmu sendiri Jea. Setelah merayu tuan Kelvin, sekarang kau mengemis harta pada tuan Andrew!!!"


Jea kesal bukan main. Selalu begitu sikap Yuni. Kemarin saat pernikahan Kelvin, hingga menarik para perhatian orang. Dan sekarang, di restonya. Huaaah.


Bimo yang berada di belakang Yuni langsung menengahi. "Bicara dengan sopan nona..."


"Siapa kamu!!! Aku tak punya urusan denganmu!!" Yuni menunjuk wajah Bimo dengan emosi. Ia merasa terpojokkan oleh keadaannya ini.


"Dasar murahan, dasar matre!!!" Yuni mencaci maki Jea dengan emosi. "Kau tak pantas mendapatkan ini!!!"


"Bawa dia keluar Bim, pelangganku jadi gak nafsu makan gara-gara dia!!!" ucap Jea sambil menatap para pelanggannya yang kini fokus pada kericuhan yang dibuat oleh Yuni.


Bimo segera menyeret Yuni keluar, tak perduli Yuni yang terus berontak minta dilepaskan.


"Lepas!!!" Yuni terus memberontak, mencoba menepis lengan Bimo yang mencekal pergelangannya.


"Minta maaf pada nyonya kami," suruh Bimo.


"Gak sudi,,, lepasin aku!!!" Yuni memukul-mukul lengan Bimo dengan sekuat tenaganya. Kembali tangan Yuni yang satunya Bimo cekal, Yuni segera mendongak. Matanya langsung terfokus pada mata sehitam jelaga itu. Tiba-tiba jantung Yuni berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Buru-buru ia memutuskan kontak mata itu.


"Minta maaf!!!" desis Bimo yang menangkap gelagat aneh pada Yuni.


Yuni yang detak jantungnya semakin menggila, akhirnya pasrah dengan titah pria dewasa 31 tahun itu. Ia pun mengangguk.


"Maaf atas ketidak nyamanannya, silahkan lanjutkan makan kalian. Sekali lagi saya minta maaf..." Jea memohon maaf setelah melihat Yuni yang sudah keluar dari restonya tadi


Setelah itu, Jea akan melangkahkan kakinya ke dapur. Tapi di cegah oleh Bimo. "Nyonya, dia mau minta maaf." tunjuk Bimo pada Yuni yang kini tengah berdiri di balik tubuhnya.


"Hah!!!!" Jea mengerjapkan matanya berkali-kali. Yang benar saja, Yuni minta maaf padanya.


"Iya, dia mau minta maaf nyonya," Bimo menoleh ke arah Yuni. "Cepat minta maaf!!!"suruhnya dengan tegas.


"Maafkan aku Jea, aku sudah gak sopan sama kamu..." Yuni menunduk takut-takut.


Jea menghela nafasnya. Rasa dendamnya menguap seketika setelah Yuni minta maaf. "Huh, baiklah mbak Yuni. Aku maafin kamu..."

__ADS_1


"Jea, maukah kau menerimaku??" Yuni menatap Jea takut-takut. Sepertinya Yuni memanfaatkan waktu ini. Meminta hati, meskipun sudah dikasih jantung.


"Akan ku pikirkan lagi ya mbak??? Tapi bisakah kau memberikan berkas lamaranmu itu padaku???" pinta Jea dengan halus. Jea lagi hamil, badannya masih belum fit secara menyeluruh. Jadi, Jea merasa tak perlu marah-marah juga pada Yuni. Nanti anaknya bisa mirip Yuni lagi. Amit-amit.


"Eh, ini... terimakasih Jea, ternyata kau sangat baik..." ucap Yuni setelah Jea menerima map coklat yang berisi tentang pengajuan lamaran kerjanya.


Jea tersenyum simpul, lalu segera berbalik arah. Melanjutkan niatnya yang sempat tertunda.


"Dia memang baik, apa kau baru tahu???" Bimo menimpali perkataan Yuni barusan.


Berhadapan dengan Bimo, membuat jantung Yuni tak bekerja dengan baik. "Permisi..." Yuni tak mau membalas ucapan Bimo. Karena dia memang baru tahu kalau Jea sangatlah baik. Mungkin dulu hatinya berselimut dengan kedengkian, sampai-sampai Yuni tak bisa melihat kebaikan yang ada pada diri Jea. "Huft, nyesel gue..." gumam Yuni setelah menjauh dari tempat itu.


***


Malam-malam yang selalu menyedihkan bagi Clara. Wanita mana yang tak akan sakit hati, jika selama menikah tak disentuh oleh suaminya? Sudah segala macam ia usahakan, tapi banyak gagalnya dari pada berhasilnya.


Tapi tidak untuk malam ini. Malam ini Kelvin pulang dalam keadaan mabuk berat. Dan tentunya akan dimanfaatkan oleh Clara untuk merayunya. "Kel,,, kau kenapa???" tanya Clara sambil menyentuh lembut dada Kelvin.


Kelvin yang awalnya menepis tangan itu. Lama-kelamaan merespon juga. Dengan gerakan yang sedikit sempoyongan menipiskan jarak diantara mereka. Bibirnya langsung mencium bibir istrinya dengan kasar.


Clara senang diperlakukan seperti itu. Tentu saja, selama ini ia hanya asyik memainkannya sendiri. Sekarang ada suaminya, kenapa tak dimanfaatkan? "Kel, aku menginginkanmu..." suara nan sensual itu langsung Clara bisikkan pada telinga sang suami.


Kelvin tetap tak menyahut. Hanya tangan dan bibirnya yang aktif. Tangan itu mendorong Clara sampai di atas ranjang. Ya, mereka melakukannya. Hingga sampai diujung pelepasannya. Kelvin menyebutkan nama yang menghantam jiwa Clara seketika.


Wajah yang tadinya bahagia, kini telah dibendung oleh air mata kesedihan. Hati Clara bagai terbentur oleh besi ber ton-ton. Remuk sudah dia, apakah ini karmanya?


Ancaman bunuh dirinya, sepertinya tak mempan lagi untuk Kelvin. Clara berusaha tegar. Ia akan mencari nama Lita suatu ketika.


***


"Bagaimana Thomas?? Apa kau sudah menemukan celah untuk membunuh Ferdinand?"tanya Axel memastikan. Sudah hampir sebulan lamanya, tangan kanannya belum mendapat jawaban atas balas dendamnya terhadap Kayla.


"Belum tuan, sangat sulit."


"Kita harus melakukannya secara perlahan Thomas. Jangan sampai kita ketahuan. Apa kau mengerti??"


"Baik tuan, saya akan mencari kambing hitamnya." balas Thomas. "Tapi butuh waktu yang cukup lama," sambungnya.


"Tidak masalah, kau bisa mengkambinghitamkan Andrew kalau perlu..." senyuman licik itu terpatri di wajah Axel. Jiwanya memang hitam. Tangannya sudah kotor sejak lama. Anggap saja dia licik, karena memang itulah Axel yang sebenarnya.


"Bagaimana tentang anda tuan??"tanya Thomas lagi.


"Aku??? Aku akan jadi penontonnya, apalagi."


Thomas mengangguk mengerti. Kemudian ia mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

__ADS_1


"Bagaimana dengan Haruka??"tanya Thomas ingin tahu.


"Aku sudah tak selera,, kecuali kalau dia hamil." ucapan Axel yang membuat Thomas sedikit lega. Setidaknya Axel tidak menikah dengan perempuan yang gila harta itu.


"Sekarang, kembalilah pada tujuan kita. Membunuh Ferdinand dan keluarganya,"


"Baik tuan..."


***


Andrew tengah memulihkan kembali kekayaannya yang sempat jatuh pada tangan-tangan orang yang salah. Ferdinand yang saat ini tengah gencar menyerang perusahaannya. Tentunya Ferdinand ingin menghancurkan Parker Company lalu mengambil alih.


Andrew bukan orang yang pasif. Jelas, ia akan balik menyerangnya. Jika Axel dan Ferdinand main tangan. Tidak dengan Andrew, Andrew selalu memanfaatkan otaknya. Kecuali pada hal-hal tertentu, baru ia main kekerasan. Kekerasan yang terjadi karena adanya perselingkuhan mantan istrinya dulu. Hingga membuatnya setengah membenci para wanita.


Andrew teringat pertanyaan Jea waktu di hutan.


"***Kenapa kau memukulku waktu dulu???"


"Maaf Jelly,, aku sungguh tak akan mengulanginya lagi..." wajah yang penuh penyesalan tampak jelas di wajah Andrew.


"Iya, kenapa??"


"Kau tahu, saat pengantin baru, aku diselingkuhi oleh istriku sendiri."


"Lalu??" tanya Jea yang masih penasaran.


"Aku membenci wanita, maka dari itulah. Aku sangat senang mempermainkan wanita. Apalagi kalau wanita itu menderita, hatiku tertawa..."


Jea terdiam. Jadi selama ini Andrew gila. Fikirnya.


"Tapi tenang saja Jelly, aku sekarang bukanlah Andrew yang dulu. Aku tak akan menyakitimu lagi. Aku tak akan bersenang-senang di atas penderitaanmu...lagi,"


Jea menatap kedua manik abu-abu itu. Jea mempercayai kesungguhannya***.


"Kau masih bekerja Dad???" tanya Jea yang kini masuk ke dalam ruangan kerja Andrew.


Ingatan Andrew tentang waktu itu buyar seketika. "Ah, kau belum tidur???"


"Aku ingin ditemani..." manja Jea yang kini tanpa sungkan langsung duduk dipangkuan Andrew. Hormon hamilnya benar-benar membuat Jea ingin selalu dekat dengan suaminya itu.


"Apa kau mau Jelly???" tanya Andrew yang kini mulai terpancing gairah.


Jea mengangguk malu-malu. "Okay, aku akan pelan..." Andrew langsung memagut bibir mungil istrinya. Sudah sebulan lebih ia puasa, saatnya berbuka kembali.


***

__ADS_1


__ADS_2