
.
.
.
Saat semua orang sedang menertawakan kekonyolan anak kecil itu. Tiba-tiba, suara tembakan membuat tawa mereka terhenti seketika.
DOORRR!!!
Kejadian yang begitu cepat, hingga tak tahu siapa pelakunya. Bocah kecil yang tak lain adalah Maxy Alero, segera membalikkan badannya. Maxy sempat ingin mencium pipi gembil Queeny. Tapi sayang, semua itu diurungkannya.
Matanya melotot tak percaya. Saat mendapati kepala Ferdinand bersimbah darah tepat dihadapannya. Dan di sampingnya, seorang pria dewasa berdiri dengan tatapan sedingin es di kutub utara. Siapa lagi kalau bukan Andrew Parker. Pun anak sekecil Maxy juga akan curiga, kalau pelaku tembakan itu adalah orang suruhan Andrew. Secara, mereka berdua adalah rival.
***
Suara tembakan itu masih terngiang dengan jelas ditelinga pria yang kini sudah berusia 24 tahun itu. Kejadian 17 tahun silam, membuatnya menyimpan sebuah dendam. Ya, Maxy akan membalaskan dendam nyawa papanya. Ia akan mencekik leher Andrew dengan perlahan. Pelan-pelan, namun pasti melenyapkannya.
Maxy memegang kaleng minuman bersoda. Ia bukan penikmat alkohol, meskipun Papa angkatnya tak pernah melarangnya, justru terkadang sering menyuruhnya meminum wine. Tapi dengan terang-terangan Maxy menolak. Ia ingin otaknya tetap sadar dalam melakukan hal apapun.
Kalian tahu, siapa Papa angkatnya?? Ya, dialah Axelio Anderson. Jadi secara tidak langsung, Maxy mempunyai adik angkat. Namanya Fero Anderson, putra dari pasangan Axel-Haruka. Berusia 17 tahun, yang kini sudah duduk di bangku kelas 3 SMA.
Setiap mengingat kejadian malam itu, ingin sekali Maxy mendatangi kediaman Andrew dan mencekiknya secara diam-diam. Namun sayang, tempat itu terlalu ramai oleh penjaga.
"Sepertinya, aku harus cari rencana baru. Bagaimana kalau aku menyiksa putri kesayangannya itu? Ah iya, Queeny Parker. Apa kau siap bermain denganku, Queeny??"
Prekkkkk
Kaleng minuman soda itu remuk seketika di tangan Maxy Alero. Tangannya sudah sangat gatal ingin menghabisi Andrew. Jangan salahkan Maxy jika Maxy menuduh Andrew membunuhnya. Karna dugaan itu diperkuat dengan jelas oleh penjelasan dari Axel yang dimana, waktu itu Axel adalah saksi.
Axel memperlakukan Maxy dengan keras. Maxy hanya pasrah, kalau dia bisa memilih, ia tak akan hidup di bawah kendali Axel.
Maxy, anak kecil berumur 7 tahun. Daya ingatnya masih sangat kuat. Di mana setelah papanya meninggal. Mama Maxy, pernah membawa Maxy ke rumah Andrew untuk menitipkan anak itu. Tapi apa jawaban dari Andrew.
"Maafkan saya nyonya, saya tak bisa menerima anak anda. Karena, sampai kapanpun, anak saya hanya Queeny,"
Perkataan Andrew yang seperti itu juga masih terdengar dengan jelas di telinga Maxy sampai sekarang. Sampai ketika saat perjalanan pulang dari rumah Andrew, mamanya tertabrak oleh sebuah mobil.
Semua harta sepeninggalan Ferdinand habis ludes untuk membiayai pengobatan mamanya.
Di saat Maxy berusia 8 tahun, mamanya menghembuskan nafas terakhirnya. Hingga membuatnya mau tidak mau diasuh oleh Axel. Tentu, semua kejadian yang menimpanya ini, membuat Maxy semakin ingin melenyapkan Andrew dengan tangannya sendiri.
"Aku sudah gatal ingin melenyapkannya," gumam Maxy yang ternyata didengar oleh Axel.
"Apa yang akan kau lakukan?? Kau terlalu lama Maxy, segera datangi Andrew dan tembak kepalanya!!!" seru Axel menggebu. Selama ini Axel merasa menang atas permainannya. Maxy tak akan pernah tahu, dan tak boleh tahu.
"Sabar papa Axel, aku akan melakukannya dengan caraku sendiri,"
"Bagus!!! Jangan sampai orang lain mencurigaiku, atau, kau akan aku bunuh!!!"
Selalu begitu ancaman yang Axel berikan. 16 tahun hidup dalam ancaman-ancaman yang begitu menyiksa, membuat hati Maxy mengeras sekeras baja.
"Kau jangan khawatir papa Axel,,,"
"Aku memercayaimu, dan jangan lupa, tugasmu melindungi adikmu, Fero!" Axel selalu memanjakan Fero. Jelas, Fero anak kandungnya. 100% Axel akan selalu membedakan mereka berdua. Tapi sayang, karena terlalu dimanja, anak itu yang tak lain Fero, jadi sedikit lamban dalam berfikir.
"Maxy selalu melindungi Fero, Papa Axel,," jawab Maxy datar. Selama ini dia mengorbankan jiwanya hanya untuk adik angkatnya itu.
__ADS_1
Mendengar jawaban Maxy, Axel langsung pergi begitu saja. Meninggalkan Maxy yang masih berdiam diri menyusun rencananya.
Lama Maxy berfikir. Saatnya kini ia akan bereaksi. Mengejar sasarannya dengan cara yang begitu tenang, hingga tak kasat mata, sampai korbannya pun tak menyadarinya.
***
Dia gadis cantik, berkulit putih pucat, mata abu-abu, rambut hitam ke putih-putihan. Bukan uban, tapi memang begitu rambutnya. Begitu unik dan membuat para gadis lain iri dengannya.
Dia adalah Queeny Parker, gadis berusia 17 tahun. Anak dari pasangan Andrew-Jealita. Selalu di kawal bodyguard dan tak punya banyak teman.
Queeny mewarisi segala watak Daddy dan Mommy nya. Dari cuek, dingin, angkuh, penurut, penakut, perayu, semua ada pada dirinya.
Hingga di sinilah Queeny. Berada di sebuah mall besar dan tentunya didampingi oleh dua bodyguardnya.
"Kalian tunggu di sini!!! Aku mau ke toilet," ucapnya pada ke-dua bodyguard itu.
"Tapi nona,,,"
"Tak ada tapi-tapian, atau akan ku laporkan pada Dad!!" ancam Queeny yang membuat dua bodyguard itu takut dan menunduk.
Tanpa Queeny sadari, sedari pulang sekolah tadi. Ia telah dibuntuti oleh sepasang mata yang memiliki iris mata segelap malam itu.
Ya, dialah Maxy. Ia sudah lama membuntuti Queeny. Dan baru kali ini ia akan menunjukkan batang hidungnya. "Ternyata dia semakin cantik dan ah, sangat seksi," gumamnya sekaligus merutuki mulutnya yang sembarangan bicara.
Tanpa merasa curiga apapun, Queeny berjalan santai menuju ke arah toilet wanita. Tiba-tiba Queeny dikejutkan dengan kedatangan seorang wanita. Wanita itu menusuk tubuhnya dengan pisau lipat tepat di depan mata Queeny.
Queeny yang melihat adegan itu, menjerit sesaat. Tapi yang membuat Queeny semakin takut. Wanita itu justru menyerahkan pisau bekas tusukannya pada tangan Queeny. Queeny yang berada dalam tingkat kepanikan dan ketakutan. Hanya berdiam diri. Ia ikut menangis tentang apa yang ia lihat barusan.
Seketika, suasana toilet itu semakin ramai. Bukan ramai untuk belanja. Melainkan ramai mengerumuni keberadaan Queeny.
Kini, Queeny tengah dituduh sebagian orang yang ada di sana.
"Tangkap gadis itu,"
"Penjarakan saja,"
"Dia pantut dihukum,"
Masih banyak lagi kata-kata yang membuat Queeny semakin berada dalam ketakutan.
Seseorang yang melihat kejadian itu, langsung menarik sudut bibirnya ke atas. Kemudian menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Ia hanya menonton, tapi hatinya merasa bahagia.
Queeny tersadar akan dunianya. Segera ia membanting pisau lipat yang tentunya sudah berlumuran darah.
"Aku bukan pembunuh!! Kalian salah paham. Aku tak tahu apapun. Aku bukan pembunuh!!! Aku bukan pembunuh!!!"
Queeny menutup kedua kupingnya dengan kuat. Dia benar-benar ketakutan. "Daddy, Mommy, Queeny takut," gumamnya lirih, tak ada seorangpun yang akan mendengar gumamannya.
Queeny sangat menyesal karena tak mau ditemani oleh bodyguardnya tadi. Bagaimana kalau Queeny akan berakhir dalam penjara. Queeny saat ini benar-benar dalam mode ketakutan akut. Sebelumnya, ia tak pernah merasa takut akan apapun. Dan itu baru kali ini dirasakannya. Gadis yang menusuk dirinya sendiri, telah memfitnah Queeny sekarang.
Queeny menangis histeris. Berharap seseorang menolong dan membawanya pergi dari sini.
Saat Queeny sudah meringkuk. Seseorang memegang pundaknya. Mengajak Queeny kembali berdiri.
"Gadis ini tidak bersalah, kalian tak berhak menghakiminya."ucap pria itu yang tak lain adalah Maxy.
Orang-orang menyoraki 'HUH' pada Queeny. Dan sebagian orang menolong wanita yang sudah bersimbah darah.
__ADS_1
Queeny yang ketakutan hanya diam saja mengamati kerumunan orang yang kini tengah bubar ke tujuannya masing-masing.
'Ini hukuman yang pas buatmu," batin Maxy sambil menatap Queeny dari ujung matanya.
"Kalau kamu gak salah, kenapa gak melawan?" tanya Maxy dengan kepolosan palsunya.
Queeny hanya menggeleng. "Aku takut------ kak," balas Queeny saat bingung mau memanggil apa. Dan saat wajah mereka beradu, Queeny langsung menyimpulkan panggilan kak untuk orang yang telah menolongnya.
"Ssssssttt, gak perlu takut. Lebih baik, kita pergi dari sini. Situasi belum aman, karna ada orang yang sudah melaporkanmu ke scurity," ujar Maxy, tentu dengan menakut-nakuti sasarannya.
Sekali lagi Queeny hanya menurut. Tak mengingat lagi akan keberadaan para pengawalnya.
Maxy mengajak Queeny masuk ke dalam mobilnya. Melihat Queeny yang melontarkan kata terima kasih, membuat Maxy hilang kesadaran.
Kedua tangan Maxy langsung melingkari leher Queeny dengan pelan. Queeny gugup bukan main. Baru kali ini ia diperlakukan seintim ini. Darahnya berdesir aneh saat kulit tangan dalam Maxy menyentuh kulit lehernya.
"Kak,,," panggil Queeny takut-takut.
Maxy tak menghiraukannya. Kedua tangannya langsung bergerak ke samping kanan dan kiri pada leher Queeny. Di otaknya Maxy, ia sedang mencekik leher Andrew saat ini.
Queeny tidak lagi merasakan gelenyer aneh, melainkan sebuah penekanan pada lehernya. 'Mau dibunuh kah aku?' duga Queeny dalam hati. Queeny belum ingin mati konyol. Dia masih muda, masa remajanya masih panjang.
"Kak, kkkkk...." suara Queeny tercekat sudah. Ia terbatuk-batuk. Dan Maxy baru menyadarinya. 'Sial, aku kelepasan!' umpat Maxy membatin.
Setelah dilepaskan oleh Maxy. Queeny kembali ketakutan dan beringsut mundur hingga terpojok pada sudut mobil.
Maxy menormalkan kembali jalan kerja otaknya. "Ah, maafkan aku,,, kau jangan takut, tadi aku hanya ingin meciummu. Sebagai bayaranku karna menolongku..."
'Sial, sepertinya aku adalah penipu ulung. Kenapa harus mencium?'
Queeny diam tak menanggapi. Dia masih takut dan memegangi lehernya. Sakit, tapi ada rasa yang berbeda. Sentuhan tangan dari Maxy membuat sisi wanitanya melemah.
"Oh, siapa namamu??" tanya Maxy pura-pura belum kenal.
"Qu-Queeny,,," jawab Queeny takut-takut.
"Queeny ya, nama yang sangat cantik. Secantik orangnya. Perkenalkan, aku Maxy..." Maxy mengulurkan tangannya.
Dengan perasaan campur aduk, Queeny menerima uluran tangan itu. Tanpa sadar, Queeny melemparkan senyum tercantiknya yang pasti akan membuat siapa saja yang melihatnya akan terpikat.
Tapi sayang, yang melihat saat ini adalah Maxy Alero. Dan Maxy akan memperkokoh tembok pertahanannya agar tidak runtuh gara-gara senyuman Queeny barusan.
"Dan bagaimana dengan imbalanku? Apa kau bersedia memberikan ku sebuah ciuman?" kerlingan mata nakal itu membuat bulu kuduk Queeny meremang.
Queeny belum pernah ciuman, haruskah ia memberikan ciuman pertamanya pada orang asing?
"Sepertinya, aku salah menolongmu..." ujar Maxy terlihat penuh penyesalan.
Queeny menggeleng. "Ti-tidak kak,,,"
Tapi Maxy sudah mengalihkan pandangannya ke depan. Ia menyalakan mesin mobilnya.
Queeny memberanikan dirinya. Mengatur detak jantungnya yang tiba-tiba berdebar sangat kencang. 'Cium pipi sepertinya tak masalah,'
Queeny mencodongkan badannya.
Cup!!!
__ADS_1
Kedua orang itu saling membulatkan matanya. Semua tak seperti yang Queeny inginkan. 'Omo....'