I Love You Tuan (ILYT)

I Love You Tuan (ILYT)
35


__ADS_3

.


.


.


"A-anda???" Jea gugup bukan main saat mendapati siapa orang yang tengah memeluknya.


"Ya, ini aku Jelly... Aku merindukanmu, kenapa kau menghindariku???" Suara Andrew terdengar menyedihkan bagi Jea.


Jea menatap sekelilingnya. Orang-orang banyak yang berkasak-kusuk sepertinya tengah membicarakannya. Apa lagi banyak para ibu muda yang sepertinya mengidolakan Andrew atau bahkan tengah membully nya sekarang. Tapi Jea tak memperdulikan itu. Yang ada difikirannya hanya takut saat ini.


"Tuan Andrew...."pekik Yuni tak percaya. "Jadi Jea istrinya tuan Andrew...."lanjut Yuni yang masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.


"Mohon lepaskan saya...." suara Jea bergetar. Dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak berbuat onar di restonya Kelvin.


Andrew yang mengerti itu langsung membawa Jea keluar dari tempat itu. Sebelumnya Andrew menatap seorang wanita yang berseragam sama dengan Jea.


"Aku perlu istriku, ijinkan pada Bos-mu..."ucap Andrew yang langsung diangguki oleh wanita itu yang tak lain adalah Yuni.


Sedang Jea hanya menatap Yuni mengiba, tapi langsung dibalas dengan tatapan yang penuh kedengkian.


Jea mendengus kesal dengan sikap Andrew yang selalu bersikap dengan seenaknya. "Lepaskan aku Andrew!!!!"


"Tidak Jelly,,, kita perlu bicara... kita masih suami-istri asal kau tahu..."


"Ya,ya... aku tahu. Setidaknya lepaskan tanganku..."pinta Jea sambil menatap risih jemari tangan Andrew yang kini tengah menggenggam tangannya.


Hati Andrew langsung berdenyut. Sebegini tak sukanya kah Jea pada dirinya??


"Its okay..." Andrew melepaskan tangan Jea seraya angkat tangan.


"JEA!!!!!" teriakan seseorang menghentikan langkah kaki Jea dan Andrew. Keduanya langsung menoleh ke sumber suara tersebut.


"Tuan Kelvin..." Jea tersenyum sumringah. Entah dorongan dari mana, Jea langsung berlari dan memeluk tubuh tegap Kelvin.


Andrew terkesiap melihat itu semua. Hatinya memanas, sakit. Sakit melihat Jea yang seperti itu. Dimana Jelly nya yang dulu??? Apakah Andrew tak bisa mengembalikan Jelly nya yang penurut itu???


Tubuh Andrew lunglai. "Tuan...."bisik Bimo sambil menahan tangan Andrew.


"Aku tak apa Bimo..."


"Apa perlu kita hajar tuan Kelvin Tuan???"tanya Bimo seraya berbisik.


"Tidak perlu... aku hanya ingin €£££¥ ¥¥₩₩" balas Andrew tak kalah lirih. Hingga Bimo mengerutkan keningnya bingung. Tapi melihat ekspresi yang ditunjukkan Andrew, Bimo akhirnya mengerti.


"Baik, saya akan segera kembali..." sahut Bimo sambil melangkahkan kaki panjangnya menjauhi halaman KL Resto.


Andrew masih diam mematung melihat pemandangan yang begitu menyakitkan di depannya. Tapi dia bukan laki-laki pengecut yang akan kabur dari masalahnya.


"Ehhhemmmmm" dehem Andrew dengan wajah dinginnya, dia sekuat tenaga menutupi kehancuran hatinya.


Dengan cepat Jea melepaskan pelukannya sambil berucap maaf dan dibalas anggukan pelan dari Kelvin. Kedua mata Kelvin menatap tajam ke iris abu mata Andrew.


"Apa yang kau inginkan Dre??" tanya Kelvin dengan kedua tangan nya yang berada di kantong celananya. Kelvin hanya memakai topi, baju kaos dan celana jeans. Dia bukan pekerja kantoran, jadi dia tidak perlu memakai jaz untuk ke restorannya.



"Kau tak perlu ikut campur Kel,,, biarkan aku menyelesaikan masalahku dulu dengan istriku..." jawab Andrew dingin.

__ADS_1


Kelvin tersenyum dan langsung menatap Jea. "Kamu tak apa-apa Jea??? Suamimu ingin bicara denganmu... pergilah,, dan kembalilah bekerja saat masalahmu sudah selesai..."ujar Kelvin yang masih menyunggingkan senyum termanisnya.


"Ba-baik Tuan... terima kasih..." Jea langsung berbalik menuju ke arah Andrew.


Dengan senang hati Andrew meraih tangan Jea dan membawanya ke mobil. Andrew membukakan pintu mobilnya. Jea mengikuti, sebelum masuk Jea menoleh ke arah Kelvin yang masih menatapnya. Jea mengangguk dan dibalas anggukan yakin oleh Kelvin.


***


"Kenapa kau kabur Jelly???"tanya Andrew, yang kini posisi keduanya sudah berdiri di samping pembatas danau. Mata Jea lurus ke depan sambil menatap air danau yang begitu tenang.


"Aku tak bahagia denganmu Andrew,,, pahamilah itu..."balas Jea dingin.


"Bukankah kau mencintaiku Jelly???"tanya Andrew tanpa mengalihkan pandangannya ke wajah Jea meskipun hanya terlihat dari samping.


"Itu dulu... saat kau masih menjadikanku pelayan. Dan saat aku belum tahu tentang niat sialanmu itu!!! Kau menikahiku karena harta, dan kau juga akan menjualku kepada rivalmu bukan???" Jea menoleh ke arah Andrew, menatap sang suami dengan mata yang berkabut amarah.


Jantung Andrew semakin berdenyut tak normal, bukan kebahagian. Tapi kesakitan yang mendalam. Selama seminggu ini, dirinya sudah mencoba mengoreksi diri. Dan dia juga tak terlalu mengurusi bisnisnya yang kini membuat nama Andrew jeblok tak seperti masih ada Jea di sisinya.


"Maafkan aku Jelly,,, tapi memang seperti itulah duniaku. Ku mohon mengerti lah,," Andrew mencoba mengelus pipi istrinya itu. Dengan gerakan tak suka Jea langsung menepis tangan Andrew. Dia tidak takut lagi saat ini, jika nyawa taruhannya Jea juga sudah siap asal dia bebas dari Andrew.


"Aku tidak pernah mengerti, dan gak pernah mengerti. Kamu terlalu egois!!! Kau tak pernah bisa mengerti perasaan orang lain Tuan Andrew Parker..." Emosi Jea meluap-luap layaknya ombak lautan yang siap menerjang semua benda yang ada di hadapannya.


"Jelly...." Andrew mendesah pelan. Dia begitu terkejut akan kemarahan istrinya. Sebelumnya Andrew tidak pernah melihat istrinya begini, atau karena memang dia terlalu egois hingga tak pernah memikirkan perasaan Jea yang sebenarnya.


"Berilah aku kesempatan, aku akan membahagiakanmu dengan cintaku..."balas Andrew dengan suara yang begitu pilu.


Sungguh Jea tak tega melihatnya. Andrew bukan orang yang lemah seperti ini. Tapi Jea juga tak bisa kembali padanya. Sudah cukup penderitaan yang ia terima selama hidup bersama dengan Andrew.


"Tidak Andrew!!! Kau bahkan menyakitiku dengan cintamu!!! Aku tak bisa menyentuh cintamu... ku mohon, lepaskan aku!!!" Air mata Jea terjun dengan bebasnya. Dia benar-benar ingin terbebas dari Andrew sekarang.


"Kenapa aku harus membebaskanmu??? Kau belum meng----"


Hati Andrew bagai tertusuk sebilah sembilu. Dia baru tersadar akan perlakuannya selama ini kepada Jea. Andrew menahan air matanya yang hampir menetes. Biarkanlah dia terlihat tegar saat ini. Jea lebih menderita dari pada dirinya. Saking niatnya bebas, Jea rela bekerja hanya sebagai pelayan di resto Kelvin. Bahkan menurut Andrew, gaji Jea selama 10 tahun pun tak akan mengembalikan uangnya.


Andrew terdiam, tak mampu membalas perkataan Jea tadi. Dengan membelakangi danau dan bersandar pada besi pembatas, kedua iris abu itu mencari-cari keberadaan anak buahnya. Setelah mendapati yang dicari. Andrew melambaikan tangannya pada orang itu agar mendekat. Dan ya, Bimo mengerti kode itu dan dengan langkah tegap dia menyodorkan sesuatu yang diminta oleh sang Tuan.


"Aku akan membebaskanmu Jelly... Ehm, maksudku Jealita..." ucap Andrew begitu ragu saat memanggil Jelly atau Jealita.


Jea langsung menyeka air matanya. Pengubahan nama itu membuat Jea terasa lebih lega. Jea langsung menatap Andrew penuh selidik.


"Tanda tanganilah... kita cerai hari ini..."Andrew menyodorkan sebuah kertas yang masih berada di dalam amplop coklat itu. Dengan ragu Jea meraihnya, kemudian menatap Bimo sejenak dan membuka amplop itu dengan pelan.


Jea membacanya, dan ya Andrew menceraikannya. Bukankah ini kabar bahagia untuknya. Tanpa sadar, kedua sudut bibirnya tertarik ke atas.


Andrew berharap ada kesedihan di raut wajah istrinya yang mungkin akan menjadi mantan. Tapi harapan Andrew musnah tatkala melihat rona kebahagiaan di wajah itu.


Dengan mata yang masih berkaca-kaca. Jea tersenyum lebar, meraih polpen yang disodorkan oleh Bimo. Jea tak mau menyia-nyiakan ini. Dengan gerakan cepat dia menanda tangani surat cerainya. "Terima kasih Tuan Andrew,,, semoga kau selalu bahagia...."ucap Jea yang kembali memanggil Andrew dengan sebutan Tuan. Dan kembali menyodorkan amplop itu kembali ke tangan Andrew. Tapi segera diraih oleh Bimo yang senantiasa berdiri di samping Andrew.


"Meskipun kita sudah berpisah,, setidaknya kau tetap panggil aku dengan namaku saja Andrew..." ucap Andrew dengan suara beratnya. Andrew benar-benar menutupi rasa sedihnya sekarang ini.


"Ah ya,,, kalau itu maumu. Baiklah, aku akan memanggilmu begitu... sekali lagi terima kasih..."balas Jea sambil menyeka air matanya. Jea benar-benar merasa lepas. Dia bahagia, tapi dengan uang itu.... aah entahlah, itu urusan nanti.


Andrew hanya menanggapinya dengan senyum kecut. "Ini ambillah,,, dan kau tak perlu mengembalikan uang yang pernah ku minta sebelumnya..." Andrew menyodorkan benda pipih persegi panjag.


Jea bukan gadis bodoh, iya tahu itu ATM.


"Untuk apa ini???"tanya Jea yang sudah dilanda kebingungan.


"Anggap aja, itu nafkah dariku. Ku mohon terimalah Jea..."

__ADS_1


"Tapi----" Jea ragu dengan ini. Bukankah mereka akan berpisah??? Kenapa Andrew memberikannya nafkah?.


"Tak ada tapi-tapian, sudah terima saja..." Akhirnya Jea mengalah dan menerima benda itu.


"Pin-nya tanggal lahirmu... dan ada yang perlu kau ketahui Jea..."


"Apa itu???"tanya Jea penasaran. Sepertinya dari tadi Andrew memberikan kejutan-kejutan yang membuat Jea selalu penasaran.


Andrew akhirnya menceritakan kejadian dimana Jea mau bunuh diri dan Kelvin lah yang menolongnya hingga anaknya tak jadi keguguran. Dan untuk kedua kalinya Kelvin juga menolongnya dan bayi itu juga kembali tak keguguran.


Jea terpaku dengan cerita itu, andai Kelvin ada di sampingnya. Mungkin Jea sudah memeluk dan menciumnya. 'Kau sangat baik tuan Kelvin....' Eh, salahkah jika ia langsung berpaling?


"Jea... bolehkah aku memelukmu. Eeemmm, sebagai perpisahan kita..." ucap Andrew salah tingkah, dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali.


Jea hanya membalas dengan senyuman tipis. "Tentu saja...." hingga kata itu yang terlontar dari bibir mungilnya.


Dada Andrew terasa sesak, dengan cepat dia merengkuh tubuh Jea. "Makasih Jea.... i love you... semoga kau bahagia dengan pilihanmu..." ucap Andrew setengah ragu. Ragu apa ia akan melepaskan Jea selamanya. Bisakah dia??


"Terimakasih,,, semoga kau juga mendapatkan cinta yang sesungguhnya. Dan jangan pernah kau menyakitinya..."balas Jea sambil melepaskan pelukannya.


'Itu tak akan terjadi...' batin Andrew sebelum berkata,


"Tentu,,, selamat tinggal. Semoga kita bisa berjumpa lain waktu..." balas Andrew seraya melangkahkan kakinya menjauhi Jea.


"Berjumpa??"tanya Jea heran.


"Ya, aku akan kembali ke negaraku. Italia...''balas Andrew yang kini sudah berjalan beriringan dengan Bimo.


"Ya, hati-hati...." Jea melambaikan tangannya. Andrew mengangguk sambil mengacungkan jempolnya.


Cinta memang tak harus memiliki. Mungkin pernah memiliki, tapi tak merasakan indahnya cinta itu sendiri. Pilihan Andrew adalah melepaskan cintanya. Mungkin dengan begitu, orang yang dicintainya akan bahagia. Sudah cukup selama ini dia membuat Jelly-nya menderita. Kisah cinta memang tak selalu berakhir bahagia. Tapi kesedihan untuk selamanya juga tak dibenarkan. 'Selamat tinggal wanita kenyalku... semoga kau bisa mendapatkan cinta sejatimu. Maafkan aku yang pernah menyia-nyiakanmu...'


"Apa kau yakin tuan???"tanya Bimo setelah Andrew sudah masuk ke dalam mobil.


Hanya anggukan kecil dari Andrew. Sebelum mereka benar-benar pergi meninggalkan tempat itu. See, Andrew sangat pintar.


****


Tak lama setelah kepergian Andrew, ternyata Jea masih betah berada di situ. Mungkin untuk meluapkan beban fikirannya selama ini, dengan berada di sini sebentar setidaknya semua kehidupannya akan kembali normal dan bahagia. Jea terus menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian mengeluarkan dengan perlahan. Di fikirannya saat ini adalah sikap apa yang Jea tujukan kepada Kelvin. Terima kasih atau apa??? Memikirkan itu membuat Jea semakin gugup.


Jujur separuh hati Jea terasa hampa sepeninggal Andrew. Apakah ia yakin akan perpisahannya ini. Tapi Jea harap, keputusannya ini adalah yang terbaik.


Saat Jea masih sibuk dengan fikirannya itu. Di belakang Jea sudah berdiri dua orang pria bertubuh gempal.


"Nona,,, Tuan kami ingin bertemu dengan anda..."ucap salah seorang pria itu.


Jea mengerutkan keningnya dan langsung membalikkan badannya menatap kedua orang yang kini tengah berdiri di hadapannya tanpa ekspresi apapun.


'Ampun,,, baru saja masalah satu selesai. Kini ada masalah lagi....'


"Apa yang kalian inginkan???"tanya Jea sambil menatap kedua orang itu dengan sinis.


"Tuan kami ingin bertemu dengan anda..."ulang pria itu.


Jea mendesah lelah. "Kau Thomas bukan??? Kenapa aku harus menemui tuan-mu???"


"Daya ingatmu lumayan juga nona,,, baru sekali kita bertemu. Ternyata kau masih ingat namaku...."balas Thomas yang mulai basa-basi.


Jea malas dengan ini. Buat apa Axel ingin bertemu dengannya???

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2