
.
.
.
'Shit, ciuman ini begitu menggairahkan.' batin Axel sambil memeluk erat tubuh Jea.
Jea baru tersadar dengan siapa saat ini dia kissing. Dengan kasar Jea mendorong tubuh Axel.
"Anda jangan kurang ajar Tuan." Jea menatap Axel dengan penuh amarah.
"Asal anda tahu, saya bukanlah Kayla yang anda maksud. Saya ini Jealita, bukan Kayla." Jea terlena tadi, gara-gara kebanyakan mikirin Kelvin. Matanya sampai rabun, di depannya adalah Axel tapi otaknya mengatakan Kelvin.
Axel tersenyum menggoda. "Bukankah kita sudah pernah berciuman sebelumnya? Apa kau melupakan itu?"
Mendadak Jea jadi gemetaran. Tapi bukan berarti dia tidak marah. "Itu lain cerita, dulu karna Andrew. Sekarang saya bukan siapa-siapa nya Andrew. Jadi tolong lepaskan saya." Jea menatap Axel dengan ketakutan. Semoga Axel mengerti, kalau dirinya bukanlah Kayla.
"Bukannya itu bagus, kamu pisah dengan Andrew. Dan kamu akan kembali kepelukanku. Bukannya begitu baby?" Axel masih menatap Jea dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Mungkin Axel ingin macam-macam dengan Jea. Jea yakin orang-orang seperti mereka membutuhkan seorang wanita hanya karena biologis.
"Cukup tuan Axel! Saya ini Jealita, bukan Kayla."
"Kau sendiri yang bilang bahwa kau itu Kayla. Dan sekarang kau mau membohongiku hah?" Axel melayangkan tatapan ketidakpercayaannya. Ini seperti dia sedang dipermainkan oleh wanita yang ada di depannya.
"Maafkan saya tuan Axel,, saya memang bukanlah Kayla mantan tunanganmu." Jea menjawab lambat. Takut kalau Axel akan semakin emosi.
Axel memicingkan matanya. "Aku perlu sesi tanya jawab denganmu, ikuti aku!!!"
Perintah Axel tak terbantahkan oleh Jea. Mau tak mau, ia mengikuti langkah Axel yang Jea sendiri tak tahu. Semoga saja Axel tak berbuat cabul padanya.
***
KL resto.
Kelvin mengetuk-ketuk mejanya dengan sebuah bolpoin yang ia pegang. Sedari tadi fikirannya melayang memikirkan perkataan Jea.
Berpisah
Satu kata ajaib yang belum bisa Kelvin pecahkan. Dan keberadaan Jea bersama laki-laki bertubuh gempal yang juga membuat kepala Kelvin ingin meledak. Tapi kenapa dia terlalu memikirkan Jea??? Entahlah, sejak pertemuan pertamanya, Kelvin memang merasa tertarik. Mungkin hanya itu alasannya.
"Sayang," itu suara tunangannya. Sontak semua fikiran-fikiran tentang Jea lebur seketika.
__ADS_1
"Clara."
"Lagi sibuk ya, aku kangen kamu." Clara berjalan tergesa mendekati kursi dimana Kelvin duduk. Mencondongkan badannya, niatnya ingin mencium pipi Kelvin. Tapi ternyata Kelvin menolehkan wajahnya, hingga bibir Clara mendarat tepat di telinga Kelvin.
Sontak mata Kelvin membulat sempurna. Dia laki-laki yang normal, jika diperlakukan seperti itu pasti ada desiran aneh di darahnya. Tapi entahlah, Kelvin tidak terlalu bernafsu dengan Clara. Kelvin bukan lelaki yang sok suci. Dia akui dia memang pernah melakukan one night stand. Hanya sekali sih, tapi setelah itu ia tidak lagi melakukannya. Waktu itu hanya coba-coba, meskipun ia akui rasanya memang surga dunia.
"Kenapa?" tanya Clara tak terima. Setiap kali Clara ingin mencium Kelvin, tiap itu juga Kelvin selalu berusaha menghindarinya.
"Aku sibuk." balas Kelvin datar. Dia juga tak mau memarahi Clara di sini. Jika itu terjadi, tunangannya ini pasti akan bikin ulah.
"Huft." Clara mendengus kesal. Dia melempar majalah tepat di depan Kelvin.
Kelvin mengerutkan keningnya hingga menimbulkan beberapa garis di sana.
"Apa ini?" tanya Kelvin yang masih fokus menatap sampul majalahnya.
Clara berjalan ke depan meja, tepat berhadapan dengan Kelvin. Dia melemparkan bokongnya dengan kasar.
"Idolaku, dia menetap di sana. Ini semua gara-gara wanita itu." Wajah marah, sedih bercampur jadi satu. Clara memang sedih sekaligus marah menerima kenyataan ini, bahwa Andrew -sang idola- akan menetap di Italia.
Kelvin masih bingung dengan ucapan Clara yang justru menjerumus teka-teki menurutnya.
"Siapa???"
Jawaban itu membuat hati Kelvin terasa panas. Apa maksudnya dari ini semua??. Andrew menetap di sana. 'Menetap di mana???'
Kelvin meraih majalah itu, membuka dan membaca lembar perlembar. Matanya membulat sempurna. Dia sudah tahu jawabannya. Jawaban dari kata 'Berpisah' yang dikatakan oleh Jea adalah perceraian.
Kelvin tak membohongi hatinya, ada desiran senang di sana. Tapi satu yang membuatnya penasaran. Kenapa bisa berpisah???
Jea pasti sedih dengan kepergian Andrew bukan? Karena sejauh ini yang Kelvin tahu Jea mencintai suaminya itu yang kini menjadi mantan.
"Aku tak suka dengan wanita itu sayang, lebih baik berhentikan dia dari resto ini..." Clara tak pernah suka dengan istri atau bahkan sekarang mantan istri dari sang idola. Sampai kapanpun dia tak menyukainya. Sudah baik Andrew mempersuntingnya, tapi wanita itu yang tak lain adalah Jealita justru ngelunjak.
Andai Clara dipertemukan sejak awal dengan Andrew, mungkin dia lebih beruntung dan akan menjadi istrinya. Tapi sekarang, cintanya hanya pada Kelvin. Hatinya cukup Kelvin, dan mungkin untuk sang idola hanya setengahnya.
"Jangan sembarangan Clara,,, aku tak bisa memecat seseorang tanpa kesalahan yang fatal..."
Sepertinya Kelvin tak paham dengan ucapannya. Kata fatal justru dimanfaatkan oleh wanita yang kini duduk di depannya.
'Baiklah, aku akan menyingkirkan wanita rendahan itu. Menyingkirkan darimu juga tentunya.' Clara tersenyum licik saat memikirkan sebuah ide dimana wanita yang bernama Jea akan tersingkir dari hidupnya.
__ADS_1
****
Axel menatap mata Jea dengan dalam. Ia hanya ingin memfokuskan otaknya. Melihat perbedaan antara Kayla dan wanita yang ada tepat berdiri di depannya.
"Jawab Ya jika yang ku katakan memang benar..." kata Axel sebelum memulai sesi tanya jawabnya.
Layaknya seorang murid Jea mengangguk patuh.
"Hanya satu honesty."
"Ya," Jea mengangguk lagi. Memang kejujuran yang diperlukan sekarang. Agar Jea tak terperangkap lagi untuk kedua kalinya.
Kalau dilihat-lihat Axel orang yang lumayan tampan. Rahangnya yang kokoh, hidung mancung, mata kecoklatan, dada begitu bidang. Semua terpahat sempurna tanpa kekurangan apapun. Hanya saja Jea tak menyukainya.
"Apa namamu Kayla Hilton???" satu pertanyaan sudah dilayangkan kepada Jea.
"Bukan." Jea menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Sudah jelas namanya bukan Kayla, dan siapa tadi? Kayla Hilton?
Axel hanya menatap datar. Karena ini hanya pertanyaan basa-basi nya saja. Jelas dari awal Jea tak mengakui dirinya Kayla. Jadi waktu ditanya seperti ini, Axel juga sudah tahu jawabannya.
"Kau lahir di Amerika?" tanya Axel dengan sorot mata yang begitu tajam. Setiap mengeluarkan pertanyaan dari mulutnya. Detak jantungnya serasa berhenti. Jujur, dia takut akan keadaan yang sebenarnya. Takut akan fakta dimana Jealita bukanlah Kayla.
Jealita mengangguk. "Ya."
Karena memang faktanya dia lahir di Amerika.
"Ibumu Amne Hilton?" tanya Kelvin lagi berharap Jea akan mengatakan 'Ya' lagi.
Dan lihatlah, Jea mengangguk kembali. Hati Axel mulai berbunga. Dia yakin Jealita adalah Kayla. Karena setahunya, Kayla tak mempunyai kembaran.
"Apa kau-----"
"Maaf tuan, sudah waktunya meeting." suara Thomas memotong sesi tanya jawab itu. Axel mendesis emosi. Saat penting seperti ini, kenapa ada aja orang yang mengganggunya. Salahnya dia juga sih, kenapa tak memberitahukan ke Thomas dulu.
"Apa tidak bisa ditunda?" tanya Axel datar.
Thomas mendekat dan membisikkan sesuatu. Tak lama kemudian Axel mengangguk dan hendak bersiap-siap.
"Kau jangan kemana-mana sayang,aku akan segera kembali"
"Thomas, jaga dia untukku."
__ADS_1
Setelah kepergian Axel, fikiran Jea mulai berkecamuk. Dari mana Axel tahu dua informasi itu? Nama ibunya jarang ia sebut, karena waktu itu Jea tak terlalu mengingat tentang masa kecilnya. Yang ia ingat ibunya meninggal waktu ia umur 6 tahun. Bahkan Jea tak merasa ia memiliki saudara kembar. Sejauh ini dia hanya anak tunggal dari Andriansya.
'Siapa aku sebenarnya?'