
.
.
.
Axel menarik nafas dalam-dalam. Ia harus segera memulai sesi tanya jawabnya ini.
"Apa kau sekolah di Mercy high school?" tanya Axel keluar juga, kentara sekali, jika wajah itu penuh selidik.
Jea menggeleng. "Tidak, bahkan aku baru mendengar nama sekolah itu," balas Jea dengan lantang. Jea berkata jujur, sekolahnya di Indonesia. Bukan di apa tadi?? Rasanya sulit sekali untuk menyebutkannya. Karena, Jea memang baru mendengar namanya.
"Kau bohong?" Axel tak terima akan jawaban Jea barusan. Yang benar saja??
"Tidak, aku sungguh-sungguh Sir!! Aku cuma lulusan Perwari..." jawab Jea akhirnya.
"Siapa nama ayahmu?" tanya Axel lagi. Jawaban yang terlontar dari Jea menampar keras hatinya. Fakta yang ia harapkan tak sesuai dengan kenyataannya.
"Andriansya," jawab Jea lagi.
"Boleh aku menemuinya? Sepertinya kalian kembar," tebak Axel dengan yakin. Karena yang ia tahu, Kayla tak punya kembaran. Ini rumit, Axel juga menyukai kembaran dari tunangannya. Oh, fakta emang membuatnya bingung.
Jea mematung seketika. Benarkah ia kembar? Kalau iya, kenapa ayahnya menutupi fakta itu selama ini? Selama 21 tahunkah dia dibohongi ayahnya???
"Aku akan mengantarkanmu Tuan." balas Jea kemudian. Ia juga ingin tahu kebenarannya.
"Baik." Sudah tak ada waktu lagi bagi Axel. Sebaiknya dia mengoyak fakta yang ada dulu. Jika memang kenyataannya Jea bukan Kayla, lebih baik ia melepaskan Jea, meskipun berat. Kecuali, kalau Jea mau menerima pinangannya. Hah?? Bahkan Axel belum tahu akan fakta dari Kayla.
***
Jea tercengang. Kejujuran Andriansya kemarin benar-benar memukul batinnya.
__ADS_1
'Maafkan ayah Jea, sebenarnya kau punya kembaran. Karena Ayah dan ibumu mempermasalahkan anak. Jadi dengan terpaksa ayah memilihmu untuk kembali ke Indonesia. Dan ibumu, dia memilih Kayla untuk tetap di Amerika. Kami menikah karena terhalang restu nenekmu Jea. Beliau tidak menyetujui pernikahan kami. Akhirnya kami bercerai,' terang Andriansya yang terlihat sangat menyesal.
'Bukankah ibu tetap tinggal bersama kita dulu? Ibu meninggal di sini kan yah??' tanya Jea lagi. Mukanya merah padam menahan amarah dan kesedihan mengenai fakta yang tak terduga ini.
'Iya, dia punya penyakit mental Jea. Jadi Kayla dirawat oleh nenekmu.' terang Andriansya lagi.
'Tapi ibu baik-baik aja Yah.'
'Kau belum terlalu ingat Jea, usiamu masih kecil. Mungkin yang kau ingat hanya sedikit.'
Hingga percakapan itu tak berujung, karena Kayla benar-benar belum diketahui keberadaannya. Mungkin suatu saat Jea akan mencarinya. Jea berharap kembarannya itu masih hidup.
Axel
Laki-laki itu sudah tak mengurung Jea. Kemarin dia sempat mengutarakan niatnya untuk melamar Jea. Tapi Jea belum bisa menjawabnya. Selama ini yang dicintai Axel adalah Kayla, bukan dirinya. Sementara ini juga, perasaan Jea fokus tentang Kelvin dan kadang juga pada Andrew. Jea tak memingkiri, jika nama Andrew kadang masih mengiang di telinganya.
***
Huaaaa,,, ternyata sehari saja tak jumpa dengan boss nya membuat Jea merindukannya. Entah rasa apa yang ia miliki ini, tapi Jea masih belum tahu pasti. Yang ia tahu, dia tertarik dengan Kelvin. Apa hanya itu? Entahlah.
"Pagi Jea," sapa Sila dengan senyum yang memamerkan gigi gingsulnya.
"Pagi juga Sila."
"Kemarin ku dengar kamu sakit. Apa sudah baikan?"
Pertanyaan yang keluar dari mulut Sila justru membuat Jea penasaran. "Ah ya... kamu tahu dari mana?" tanya Jea berusaha mengikuti alur yang ada.
"Tuan Kelvin yang bilang." jawab Sila santai sambil menyapu lantai.
"Ooooh." Jea berusaha menutupi kegugupannya. Dengan segera ia mengambil peralatan untuk mengepel.
__ADS_1
Jea terus terngiang-ngiang dengan penuturan Sila barusan. Bagaimana bisa Kelvin beralasan kalau dia sakit? Padahal jelas-jelas Jea pergi dari Marlina buat ijin bekerja. Aah iya, Kelvin kan tidak tahu menahu tentang itu. Karena, diakan tidak sedang di tempat. Jadi wajar saja sih, setidaknya Jea bisa bernafas lega untuk hari ini. Tidak kena semprot dari si Yuni.
Tak terasa, pekerjaan hari ini terasa melelahkan bagi Jea. Kini giliran Jea istirahat bersama dengan Sila. Tapi Jea tak ingin membuang waktu lagi. Setelah makan siang selesai, ia ingin menemui Kelvin. Tentunya di ruangan pribadi Kelvin. Jea hanya ingin berterima kasih sekaligus minta maaf. Tak lebih dari itu.
Jea berjalan layaknya seorang maling, menoleh kesana-kemari. Berharap orang lain tidak memergokinya. Beruntunglah Jea, kini dia sudah berada dengan aman tepat di depan pintu sang boss.
Jea menolehkan wajahnya, meletakkan telinga kanannya tepat pada permukaan kayu yang begitu licin oleh plamir berwarna Burgundy. Jantungnya seketika berdegup kencang. Jea mendengar desahan di sana.
Jea yang dirundung rasa penasaran akhirnya nekad membuka pintu itu sedikit tanpa permisi. Nafasnya terasa sesak. Di sana -di dalam ruangan itu- Kelvin bersama tunangannya sedang berciuman dengan ganas. Erangan demi erangan keluar dari bibir Clara. Mata Kelvin terlihat menggelap diselimuti oleh hawa nafsu. Tubuh keduanya begitu rapat hanya dibatasi dengan baju mereka. Keduanya terlihat sangat erotis, hingga Jea tak kuat lagi melihatnya lagi.
Nafasnya memburu, dia tak percaya jika akan melihat Kelvin seperti ini. Hati Jea benar-benar panas melihat adegan tersebut. Harusnya Jea memakluminya karena mereka adalah sepasang kekasih yang sudah bertunangan. Siapa dirinya ini, yang selalu ingin diperhatikan lebih oleh Kelvin. Tapi Kelvin memang terlihat memberikan harapan padanya, jadi siapa wanita yang tak akan jatuh cinta jika selalu diberi perhatian.
Jea berlari menuju ke toilet. Hatinya hancur. Jea tak boleh begitu, dia harus kuat. Sebelum mereka resmi menikah, seperti nya dia akan punya waktu untuk merebut hati Tuannya itu. Di mulai detik ini. Hah?? Merebut?? Andrew, aku sudah gila tanpamu.
***
Waktu berlalu begitu cepat. Pernikahan Kelvin dengan Clara sudah terendus kemana-mana. Selama sebulan ini Jea berusaha mendekati Kelvin. Tapi selama sebulan itu juga Kelvin selalu menghindarinya. Jea sudah tak tahan dengan situasi ini.
Hingga di sinilah dia, di dapur ditemani oleh Sila. Mereka sedang istirahat siang bersama.
"Sila,,,"panggil Jea dengan pelan.
"Ya..." jawab Sila sambil memainkan Handphone-nya.
"Sepertinya aku menyukai tuan Kelvin..."terang Jea pada Sila. Jujur, Jea ingin meminta pendapat pada teman seprofesinya ini. Dia kan seumuran, apalagi Sila belum menikah. Pasti pengalaman tentang percintaannya lebih banyak dibanding dengan Jea, yang sudah menjanda dengan pengalaman cinta yang hanya sekali saja. Itupun juga pada Andrew.
"What????" Sila terkejut bukan main, sampai HP yang dipegangnya terjatuh. Untung jatuhnya masih di atas meja. Jadi masih aman terkendali.
"Maksudmu suka, suka yang seperti apa???" Sila berusaha mengorek informasi yang lebih dalam. Biar dia tidak salah menjawab nantinya.
"Bukan suka lagi. Tepatnya aku mencintai Tuan Kelvin....bisa dibilang seperti itu.."jelas Jea dengan suara volume yang terdengar bukan pelan lagi. Tepatnya suara yang bisa dijangkau lebih dari 4 telinga.
__ADS_1
"Hahhhhhh!!! Kau!!! Dasar wanita perusak!!!"