I Love You Tuan (ILYT)

I Love You Tuan (ILYT)
23


__ADS_3

.


.


.


"Terima kasih Tuan." Jea menatap Kelvin. Tatapannya itu dibalas Kelvin dengan senyuman.


"Kau tak bawa ponsel Kakak ipar?" tanya Kelvin. Sedari tadi ia melihat Jea tidak membawa apapun.


Akhirnya Jea menggeleng.


"Tapi kau punya ponsel kan?"


Lagi Jea menjawabnya dengan gelengan.


"Andrew tak memberimu alat komunikasi?" tanya Kelvin dengan menaikkan salah satu alisnya.


Kali ini Jea mengangguk.


"Shittt... kenapa aku menghentikan para penguntitku itu?? Ku fikir Andrew bersikap baik pada mu Jea," ucap Kelvin dalam hati.


"Gak apa, aku akan ------ "


Ciiiiiiiiiiiiiiiiittt


Sialan. "Ada apa pak?" tanya Kelvin terkejut karna diberhentikan mendadak.


"Tuan, ada sebuah mobil yang menghalangi jalan kita di depan," ucap pak sopir sedikit ketakutan.


Jea dan Kelvin memicingkan matanya, berharap mengenali siapa gerangan dibalik ini.


"Tuan, itu Bimo," tunjuk Jea pada sesosok Bimo yang kini sudah berjalan mendekat ke arah mobil mereka.


"Kau di sini saja, jangan keluar! Aku akan menghadapi mereka," balas Kelvin sambil membelai pipi Jea sebentar. Jea terdiam akan sikap manis yang baru saja Kelvin berikan. Jea menggeleng, tak seharusnya dia merespon perlakuan itu. Tidak boleh, Jea sudah menikah bukan? Kenapa seolah-olah Kelvin mengharapkan Jea? Ah, buang rasa percaya dirimu itu Jea.


Kelvin keluar dari mobilnya berikut juga sang sopirnya turut andil keluar.


"Maumu apa Bim?"


"Tuan Kelvin, serahkan nona Jea pada kami!"


"Tidak, aku tidak akan menyerahkannya."


BUGGGH


Buggg!!!


Bimo memukul Kelvin dengan kerasnya. Kelvin yang belum siap akan serangan itu akhirnya terhuyung dan tersungkur di aspalan, yang kebetulan tidak terlalu ramai.


"Maaf tuan Kelvin, ini jalan satu-satunya jalan agar anda tidak menghalangi kami," ucap Bimo pada Kelvin.


"Tuan Kelvin."


Jea panik bukan main melihat Kelvin yang tak berdaya.


"Tuan Kelvin! Bangun Tuan." Sang sopir juga panik dengan keadaan tuanya.


"Kalian! Bawa denga paksa nona Jea dari dalam mobil," titah Bimo kepada ke-3 bawahannya.


"Keluar lah nona."

__ADS_1


"Lepaskan! Lepaskan!"


Jea meronta-ronta. Pergelangan tangannya memerah akibat cekalan kuat dari para pria bertubuh gempal itu.


"Diam Nona! jangan berontak!" ucap Bimo tepat dihadapan Jea.


"Bimo! Lepaskan aku, kau gila. Aku benci sama kamu!"


Bimo tak menghiraukan ucapan Jea dan terus berjalan menghampiri mobil yang terparkir tak beraturan.


Jea menatap Kelvin yang sudah mulai membuka matanya.


"Tuan Kelviiin. Tuan Kelviiin."


Jea terus meneriaki nama Kelvin hingga tubuhnya menjauh dan terdorong masuk ke mobil.


"Bimo! Kau jahat, teman macam apa kamu!" maki Jea emosi.


"Bukankah Nona sendiri yang mengakhiri pertemanan kita? Sekarang kita tak lagi berteman No-na. Ikutilah perintah tuan Andrew jika anda tidak mau ada masalah."


"Cihhh! Kalian benar-benar tak punya hati sedikitpun," gumam Jea yang kini posisinya diapit kanan kiri oleh 2 anak buah Andrew.


Bimo tak menghiraukan perkataan Jea lagi. Dia fokus duduk di samping kursi kemudi. Tatapannya terus menatap spion, mungkin takut kalau Kelvin akan mengejar mereka.


***


Plakkkkk


Satu tamparan Andrew mendarat tepat di pipi mulus Jea.


"Bagus Jelly. Kau benar-benar wanita tak tahu diri. Kau lupa dengan siapa kau berurusan ha! Cukup ikuti perintahku, jangan macam-macam! Mengerti?"


Emosi Andrew meluap, dia harus menunda pertemuannya dengan Axel. Axel sudah memberikan tawaran yang begitu menggiurkan untuknya. Jadi Andrew tak mau melewatkan kesempatan itu. Terkadang Jea menyebalkan. Harusnya dia tak kabur seperti tadi.


"Cepat bersiaplah! Waktumu tak lama."


Jea mengangguk dan segera menuju kamar mandi. Jea benar-benar tak punya tenaga lagi. Fikirannya kacau balau. Begitu menyedihkan hidupnya. Jea menyeringai. Menertawakan nasib kehidupannya.


Kenapa kebahagian hanya singgah sebentar lalu menorehkan luka yang begitu dalam? Inikah cinta? Tidak, tapi mencintai. Jea mencintai Andrew, cinta yang salah sasaran. Mungkinkah begitu? Cintanya yang terlihat manis di depan, tapi nyatanya cinta yang tumbuh dari hatinya begitu melukainya begitu dalam.


Jea mengambil dress asal, memoles wajahnya asal. Lipstik asal. Semuanya serba asal-asalan. Dia sedang tidak punya nafsu berdebat dengan orang gila, suami sekaligus majikan.


"Jelly, apa-apaan ini? Kau membuat dirimu seperti badut. Hapus ini, kembali rias dirimu!"


Andrew emosi dan menuntun Jea kembali ke meja rias. Jea tersadar, segera ia menghapus make up itu. Kembali memoleskan dengan sempurna seperti biasanya. Ah, bedak mahal. Membuat wajah Jea jadi terlihat lebih mempesonakan jadinya?


Senyum licik. Jea akan membuat Andrew cemburu saat bertemu dengan Axel nanti. Rasakan. Bagaimana rasanya dicemburui?


***


"Selamat malam Bung, akhirnya kau datang juga." Axel melukiskan senyuman palsunya untuk rivalnya itu.


"Maaf kami terlambat datang."


Andrew membungkuk sebentar dan lalu memberikan senyuman yang juga sama palsunya.


"Waahh Kayla, aku sangat merindukanmu. Hampir dua bulan kita tidak jumpa."


Axel menghampiri Jea dan memberikan pelukan singkat. Jea sedikit gugup atas perlakuan Axel yang tiba-tiba memeluknya ini.


Jea melirik matanya ke arah Andrew sebentar. Dengan seringaian kecil, lalu, Jea membalas pelukan Axel.

__ADS_1


"Saya juga merindukan Anda tuan Axel."


Sengaja. Dengan sengaja Jea menjawab itu. Jujur. Dia sebenarnya tidak berani. Ini hanya sebuah pancingan. Jea ingin melihat suaminya itu cemburu. Sepertinya tak ada yang salah bukan?


Andrew menelan salivanya kepayahan. Panas sekali saat melihat Jea berpelukan dengan pria lain seperti itu.


"Ehm..."


Interupsi Andrew membuat Axel menjaga jarak pada Jea. Sialan Andrew. Mengganggu saja.


"Maaf tuan Andrew, ku harap anda maklum. Karena, dulu kita adalah sepasang kekasih." Axel tersenyum penuh ejekan.


"Cih! Kau memang terlalu percaya diri. Dia bahkan bukan Kayla tunanganmu," batin Andrew penuh kemenangan.


"Silahkan duduk, silahkan menikmati," ucap salah seorang pelayan sambil meletakkan beberapa menu makanan di atas meja yang berbentuk bulat.


"Ini kesukaanmu Sayang." Axel mengambilkan hotdog untuk Jea.


Kurang ajar memang si Axel. Atau--- memang seperti inikah rasanya kepanasan. Apa itu pertanda Andrew cemburu?


"Terima kasih," balas Jea dengan senyuman termanisnya dan tak lupa ekor matanya mencuri-curi pandang ke arah Andrew.


Andrew jadi kesal melihat Jea diperlakukan begitu manis oleh orang lain. Biasanya Jea peduli padanya, melayani makan malamnya dengan baik. Tapi kenapa sekarang dia merasa diacuhkan oleh Jea?Andrew mengusap keningnya sedikit kasar. Aaaahhh.... batinnya menjerit tak rela.


Jea yang menatap itu tersenyum puas. Biarkan Andrew merasakannya. Kehadiran Axel saat ini lumayan membantunya. Maafkan telah memanfaatkanmu Axel.


"Ini enak sekali Tuan," puji Jea kepada Axel motifnya jelas untuk membuat Andrew panas.


"Benarkah? Kalau begitu, makan yang banyak. Apa suamimu tak pernah memberimu hotdog?" tanya Axel sambil melirik ke arah Andrew.


"Tanyakan saja pada orangnya," balas Jea sambil melirik Andrew. Kedua orang itu akhirnya tertawa bersamaan. Andrew yang jadi bahan lirikan hanya tersenyum kecut.


"Awas kau Jelly, akan ku habisi kau di ranjang nanti."


Andrew meneguk segelas wine.


"Habiskan makananmu, kita akan pulang," bisik Andrew pada Jea. Jea hanya mengangguk kecil. Sepertinya usahanya berhasil.


Setelah melihat Jea selesai memakan makanannya. Andrew segera menarik lengan Jea.


"Maaf tuan Axel, kami mohon undur diri. Masalah kerjasama itu. Saya akan memikirkannya nanti," ucap Andrew berusaha seformal mungkin.


"Aaah, kenapa kau terburu-buru tuan Parker. Saya masih ingin berlama-lama dengan mrs. Parker." Axel menjawabnya tanpa melihat Andrew. Axel sedikit tertawa saat Jea tersenyum padanya.


"Lain kali, kau mainlah kesini nona Kayla."


Jea hanya membalasnya dengan anggukan kecil. Malas, siapa yang ingin bermain kembali? Dalam mimpimu saja Axel.


***


Andrew menarik kasar lengan Jea keluar dari mobil.


"Tuan lepaskan!"


"Diammmm!"


Andrew terus menarik Jea dan mendorong tubuh Jea hingga terjerembab ke tengah kasur king size nya.


"Kau kecentilan, aku jijik melihatnya."


"Ck, anda jijik apa anda cemburu Tuan?" goda Jea dengan berani. Hei, jangan anggap wanita selalu lemah. Benar Jea dibeli. Tapi dia masih berhak atas dirinya bukan? Dia bukan sampah atau mainan. Ini gara-gara ibu tiri kejam bagai di cerita bawang merah dan putih.

__ADS_1


"Kau----"


To be Continued.


__ADS_2