
.
.
.
Selesai mengajak Queeny makan siang. Maxy seperti mengulur waktu. Membawa Queeny jauh ke tempatnya. Maxy memang anak angkat, tapi Axel me-modalinya dengan sebuah perumahan kecil untuknya.
Ingin ia sandera Queeny. Menjadikannya tawanan khusus. Menghancurkan masa mudanya, dan mempermalukan keluarga Parker yang selalu disanjung sanjung oleh semua orang. Menjijikkan sekali, pihak yang berwenang pun tak bisa menemukan barang bukti itu. Sungguh licik si Andrew di mata Maxy.
"Kak, aku mau telpon Dad," ijin Queeny sambil mengambil ponselnya. Queeny takut kalau Andrew akan kebingungan mencarinya.
Sebenarnya, Maxy tidak suka dengan ini. Dengan sangat terpaksa, ia menganggukkan kepalanya. "Oke," balasnya.
Belum juga Queeny menelpon. Ternyata Andrew lebih dulu menghubunginya. Queeny yakin, 2 orang kekunyuk itulah yang melaporkan ke Andrew. Benar-benar Queeny tak bisa bebas.
"Ya, hallo Dad," sapa Queeny.
Maxy diam, tapi telinganya mendengar tajam ke arah pembicaraan kedua anak dan ayah tersebut, yang padahal melalui sambungan telepon. Tapi namanya penguntit, hal sekecil apapun tak boleh ia lewatkan.
"Kau di mana Sayang? Apa kau kabur dari mereka?"
"Tidak Dad, Queen tidak kabur. Queen hanya ingin main-main sebentar."
"Cepet pulang Sayang, Dad takut mom akan mencemaskan mu," balas Andrew dari seberang sana.
"No problem Dad, take it easy. Queeny must have come home on time," (Tidak masalah Ayah, tenang saja. Queeny akan pulang tepat waktu,) balas Queeny dengan logat bahasa Inggris nya. Jelas Queeny harus dibekali bahasa Inggris. Mengingat Jea yang punya darah Amerika, begitu pula Andrew yang asli orang Italia.
"Alright, have fun Dear. I'll keep this a secret from your mommy." (Baiklah, bersenang-senanglah Sayang. Aku akan merahasiakan ini dari mommy mu.)
__ADS_1
Pembicaraan mereka berdua pun berakhir. Queeny kembali menatap ke arah Maxy yang terlihat dingin.
"Apa dia ayahmu?" tanya Maxy pura-pura tidak tahu. Sebentar lagi, dia harus sabar dalam menjerat Queeny.
"yes, he is my daddy," (Ya, dia ayahku,) balas Queeny sambil menyunggingkan senyumnya.
Queeny lupa, kalau dia masih bersama orang asing. Meskipun kebersamaan mereka hanya sebentar. Tapi semua itu mengisahkan kenangan yang tersendiri.
Apalagi, Maxy lah orang yang pertama mengambil ciumannya. Tentunya semua itu akan terus membekas dalam ingatan Queeny Parker. Putri tunggal orang nomor 1 se-negeri ini.
Maxy belum puas dengan rencananya. Semuanya seperti mendadak. Jadi ia putuskan untuk mengantarkan Queeny pulang saja.
***
Pagi yang begitu menyejukkan untuk seorang gadis remaja 17 tahun. Wajah ayunya yang seputih porselen itu tampak ceria. Kadang kala sebuah senyuman terpatri indah di bibirnya.
Asyik menikmati lamunannya. Sang mommy datang menghampirinya. Membelai rambut sang anak penuh sayang.
Jea tak bisa memiliki anak lagi waktu itu. Karena keseringan minum pil pencegah kehamilan, di tambah lagi ada luka dibagian rahimnya. Jea pernah jatuh bukan?
Beruntung sekali dia masih bisa dikaruniai seorang anak cantik nan jelita seperti Queeny.
"Kamu sekolah kan Sayang?"
"Yes Mom," sahut Queeny antusias.
Jea benar-benar protektif pada Queeny. Bukan maksudnya seperti itu. Jea hanya tidak mau Queeny salah pergaulan. Queeny harus setia pada orang yang ia cintai. Jangan seperti dirinya yang pernah plin-plan mengenai perasaannya.
"Queeny tidak pacaran kan?" tanya Jea memastikan. Semua ibu pasti akan merasakan perubahan yang ada pada anaknya.
__ADS_1
Pertanyaan Jea bukan tanpa sebab. Karena sedari tadi ia sudah melihat Queeny yang tersenyum dalam kesendirian. Sangat wajar, di usianya yang sudah remaja, pastilah Queeny merasakan jatuh cinta pada lawan jenis.
"Mommy, apa Queeny diijinkan berpacaran? Apa Dad tak akan marah?"
Queeny hanya memastikan saja. Selama ini ia menutup diri karena larangan keras dari sang ayah. Sebagai penerus kekayaan keluarga, Queeny diharuskan fokus belajar terlebih dahulu. Setidaknya saat dia lulus sekolah kelak.
"Kalau menyukai, sepertinya Daddy tak mempermasalahkannya. Asal jangan terlalu jauh, mom takut kamu akan terluka dan patah."
Queeny mengangguk, "Terimakasih mom," balas Queeny senang.
Hanya ibu, dan hanya pada Jealita Queeny bisa mencurahkan isi hatinya. Meskipun Jea protektif kepadanya, tak menutup kemungkinan juga kalau Jea sangat begitu mencintai dan membebaskan Queeny.
***
Queeny berjalan dengan santai di koridor sekolah. Dua bodyguard itu tak berani masuk di lingkungan sekolah. Queeny melarang keras. Walau sejujurnya, sekolah elit itu membebaskan siapa saja penjaga untuk mengawal Queeny. Namun nyatanya, Queeny kadang kala merasa risih.
Saat sedang berjalan sendirian, seorang remaja laki-laki menghampirinya. Mereka berbeda kelas namun sering bertemu. Siapa lagi biang onarnya. Dialah Fero Anderson. Anak remaja laki-laki ini, sudah lama tertarik dengan Queeny. Hanya saja, permusuhan di antara kedua orang tua mereka lah yang menjadi penyebab Fero tak berani menyatakan cintanya.
Sepertinya tidak dengan hari ini. Fero berheda dari biasanya. Apakah benar Fero akan menyatakan cinta? Sepertinya benar.
Buktinya adalah, Fero menampilkan senyuman terbaiknya. Memberanikan diri menggenggam erat jemari tangan Queeny.
Sesegera mungkin Queeny menepis tangan Fero dari jemarinya. "Apaan sih!" desis Queeny tak terima.
Fero bukan pria yang suka basa-basi. Ya meskipun hatinya serapuh hati wanita. Lalu, ia putuskan untuk berkata seperti ini, "Queeny, mari berkencan?"
To be continued.
Tinggalkan jejak kalian. Thanks.
__ADS_1