I Love You Tuan (ILYT)

I Love You Tuan (ILYT)
37


__ADS_3

.


.


.


Sudah 3 hari sejak mimpinya itu, Jea tak bisa lepas dengan bayang-bayang Kelvin di otaknya. Dan 3 hari ini juga, Kelvin tak memperlihatkan batang hidungnya.


Rasanya Jea uring-uringan sendiri jika sosok yang ada di otaknya tak pernah hadir menunjukkan wujud aslinya. Apalagi pekerjaannya sekarang tak terlalu berat, karena Yuni tak lagi menyuruhnya ini itu. Yuni hanya menyuruhnya sebagaimana semestinya. Hingga suara seorang pria membuyarkan semua lamunannya.


"Permisi nona, kapan kau akan menepati janjimu?" itu suara Thomas yang sepertinya menagih janji padanya.


"Kau rupanya," Jea menghela nafas berat. Hampir saja dia melupakan janjinya yang akan menemui Axel. "Tunggu dua hari lagi, aku akan menemuinya."


"Dua hari lagi? Itu terlalu lama nona," elak Thomas tak terima.


"Bagaimana lagi, jadwal ku libur hari itu. Kau ingin aku menemuinya bukan? Kalau iya, tolong bersabar, atau,, tidak bertemu sama sekali."


Thomas merasa frustasi saat berhadapan dengan Jea. 'Kau benar-benar berbeda nona Jea, aku hampir gila karna tak bisa membujukmu.'


"Baiklah, tapi tolong benar-benar ditepati. Kalau anda tak mau, terpaksa saya akan memaksa," ancam Thomas pada akhirnya sebelum meninggalkan KL resto tempat dimana Jea bekerja.


"Siapa mereka?" tanya Sila yang penasaran dengan keberadaan Thomas tadi.


Jea mengedikkan bahunya. "Bukan orang penting."


"Tapi aku penasaran Jea, apa kau adalah istri dari tuan Andrew?"


"Benar, tapi sekarang sudah mantan." Jea tertawa renyah saat mengatakan mantan. Benarkah mantan? Sila terheran-heran dibuatnya. Merasa aneh dengan kelakuan temannya yang satu ini. Bukannya sedih, tapi terlihat sebaliknya. Bahagia.


"Hah! Serius sudah jadi mantan?" tanya Sila lagi dengan volume yang lumayan tinggi. Beruntung suasana Restonya tak terlalu ramai.


"Serius, kita baru bercerai kemarin," balas Jea santai sambil membersihkan debu-debu di meja dengan kanebo.


"Kok bisa sih Jea? Padahal dia orang kaya raya lho? Aku aja mau banget jadi istrinya, pasti jadi ratu hidupku nanti." Sila menangkupkan kedua tangannya di dada. Seraya membayangkan kehidupannya saat menjadi istri dari Andrew Parker. Sudah ganteng, kaya raya pula.


"Hemmmm." Jea hanya geleng-geleng kepala. Ia malas jika harus menjelaskan semuanya. "Justru karena dia kaya raya, jadi aku tak pantas bersanding dengannya."


'Dan semoga dia mendapatkan jodoh yang lebih baik dari aku.'


****


Ini adalah waktu dua hari yang dijanjikan oleh Jea pada Axel. Sebelumnya dia sudah berpamitan pada Patty agar tidak terlalu mencemaskannya. Sudah saatnya Jea jujur pada Axel, kalau dirinya bukanlah Kayla yang dimaksud.

__ADS_1


"Tapi Lita, andai kau punya Handphone, aku pasti bisa menghubungimu. Bahkan aku sendiri juga tak punya benda itu." Patty tersenyum miris, seakan dia meratapi nasibnya yang begitu menyedihkan. Sudah hamil, tanpa suami lagi. Pasti ini adalah karma buat dirinya.


Jea tersenyum lebar menanggapi itu semua. "Mungkin kita bisa menggunakan ini." Jea menunjukkan sebuah kartu ATM pada Patty. Patty yang sedari awal adalah orang kaya, matanya langsung membulat sempurna menatap benda pipih yang ada di depannya. Tapi dia bukanlah orang yang tama'. Sudah cukup Jea menolongnya, dia tak mau memanfaatkan kesempatan itu.


"Ahhh, tidak perlu Lita. Ini punyamu, aku tak membutuhkannya," elak Patty secara halus.


" Tak apa Patt, nanti bila urusanku sudah usai. Aku akan pulang membawa HP untuk kita." Jea benar-benar pergi meninggalkan Patty. Langkahnya terhenti saat sudah di seberang KL resto. Pandangannya mengedar keseluruh penjuru. Berharap menemukan sosok yang terus-terusan menghantui otaknya.


Di saat ia sedang sibuk mencari sang majikan. Sebuah mobil hitam tepat berhenti di sampingnya. Jea tak tahu pasti jenis mobil apa itu, yang ia tahu hanya warna mobilnya saja.


"Ayo silahkan masuk nona." Thomas yang baru saja turun dari mobil langsung membukakan pintu penumpang untuk Jea.


"Jea!!!" suara yang terdengar teriak itu menghentikan langkah Jea. Jea celingukan mencari sumber suara yang memanggilnya.


"Tuan Kelvin." Jea bergumam lirih saat mendapati kepala Kelvin yang menyembul dari balik kaca mobil.


"Kau mau kemana?" Kelvin turun dari mobilnya dan segera melangkah mendekati Jea.


Tiba-tiba jantung Jea berdegup hebat. Ia teringat akan mimpi ciuman nya itu. Jea menelan salivanya dengan susah saat mendapati bibir seksi tuannya yang ada di depan. Apalagi dia sedang menggunakan sweater. Lebih terlihat menggoda di mata Jea.



Glekkkk


Dengan segera Jea membuang fikiran kotornya itu jauh-jauh. Sepertinya, sikap mesum Andrew, menular padanya.


"Saya sedang ada urusan tuan Kelvin," balas Jea tersenyum simpul. Sedang Thomas sudah antisipasi menjaga Jea di belakangnya. Dia takut Jea akan kabur.


Kelvin memicingkan matanya menatap Thomas curiga. Dikiranya tadi orang-orang nya Andrew, ternyata bukan. Tapi sepertinya wajah Thomas tak asing lagi bagi Kelvin.


"Kau siapa?" tanya Kelvin dengan tatapan penuh curiga.


"Anda tidak perlu tahu siapa saya. Karena urusan saya saat ini dengan nona Jea. Ayo nona, kita harus segera pergi," titah Thomas dengan cepat. Dia takut kedatangan Kelvin akan merubah pendirian Jea saat ini.


"Aku pergi dulu tuan, permisi." Jea merubah posisinya untuk masuk ke dalam mobil. Tapi dengan gerakan cepat Kelvin menahannya.


"Tapi Jea, apa kau yakin tak apa-apa?Bagaimana kalau Andrew mencarimu?"


Tak tahukah Kelvin, jika Jea terus-terusan berhadapan dengan dirinya. Itu akan membuat pertahanan Jea semakin melemah. Jea berusaha menutupi kegundahan hatinya.


"Andrew tak akan mencariku tuan, kami sudah berpisah. Permisi." kali ini Jea benar-benar pergi bersama Thomas. Meninggalkan Kelvin yang masih diam mematung.


Berpisah.

__ADS_1


Satu kata itu sukses memporak-porandakan fikiran Kelvin. Apa sebenarnya arti kata berpisah versi Jea untuknya?


***


Perjalanan yang hampir saja memakan waktu selama satu jam itupun akhirnya telah sampai ke tempat yang dituju. Dengan sopan Thomas membukakan pintu mobil untuk Jea.


"Thomas, kau harus janji padaku." Jea meminta satu permintaan sebelum benar-benar bertemu dengan Axel.


"Apa itu nona?" tanya Thomas dengan menautkan kedua alisnya penasaran.


"Kau harus menjanjikan keamananku."


"Hahaha." Thomas tertawa dengan nyaring.


"Anda akan aman nona, percayalah. Tuan Axel mencintai Kayla, jadi dia tak akan menyakitimu yang sebagai Kayla untuknya." terang Thomas yang masih menyunggingkan senyumnya.


Jea mendelik. "Jangan tertarik padaku nona, saya sudah beristri."


"Cih, dasar kau! Percaya diri sekali berkata seperti itu?" Tapi tunggu. Apa katanya tadi?Beristri? Tapi setahu Jea, anak buah Andrew sama sekali tak ada yang diperbolehkan menikah.


"Kenapa? Anda heran? Tuan kami bukanlah tuan Andrew yang melarang anak buahnya menikah. Tuan kami adalah tuan Axel, tanpa ada larangan untuk punya wanita." jelas Thomas sedikit menggoda Jea. Jea memutar matanya jengah dan langsung keluar dari mobil, menubruk bahu kiri Thomas dengan keras.


"Bersikaplah biasa saja nona, kau tak perlu menyakiti dirimu dengan tubuhku." bisik Thomas sambil menyeringai. Karena Thomas yakin, tubuh Jea lah yang sakit. Karena badan Thomas sangat padat berisi, berotot pula.


Jea tak menggubrisnya. Tujuan pertamanya adalah Axel.


***


Jea sudah berdiri tepat di hadapan Axel. Ternyata Thomas membawa Jea ke sebuah mansion pribadi Axel. Lumayan mewah, meskipun tak semewah milik Andrew. Karena yang Jea dengar, mansion Axel ada di mana-mana.


Rona bahagia tercetak jelas di wajah Axel. Matanya begitu berbinar. Dia mengamati pakaian Jea dari atas sampai bawah. Hanya sebuah kaos biasa, yang mungkin seharga 50ribuan. Dan celana pensil yang begitu pas dikaki jenjangnya yang bak model itu.


Sepertinya setelah pisah dengan Andrew, hidup Jea begitu berbeda. Itu menurut penilaian dari Axel.


"Bagaimana kabarmu sayang?" Axel melebarkan kedua tangannya. Bermaksud untuk memeluk Jea.


Jea berusaha menghindar, tapi dia kalah cepat. Axel sudah mendekapnya lebih dulu. Menghirup aroma rambut Jea begitu dalam.


"Apa kau tahu? Aku sangat sangat merindukanmu baby," Axel merenggangkan pelukannya. Menatap dengan lembut mata Jea. Jea yang masih terpaku, hanya diam saja tanpa melawan.


Hembusan nafas Axel sudah menyapu di ujung bibir Jea. Dengan gerakan yang begitu slow. Axel mencium bibir Jea. Menjilatnya dengan pelan.


Ah, tidak!!! Di mata Jea, Axel adalah Kelvin. Bagaimana bisa?

__ADS_1


'Shit, ciuman ini begitu menggairahkan.'


__ADS_2