
.
.
.
"Queeny, mari kita berkencan."
Queeny tak pernah menyangka, jika Fero Anderson menyukainya. Tapi benarkah dia mencintai Queeny? Maaf saja Fero, Queeny tak semudah itu percaya akan cinta. Dia lebih percaya isi hatinya.
"Jangan mimpi!" sahut Queeny dengan ketus. Sepertinya dia dalam mode sikap Andrew.
Fero sempat kecewa. Sekali lagi, dia anak manja dan mudah rapuh. Mendengar sahutan yang ketus itu, jelas Fero merasakan sakit hati. Meskipun mudah rapuh, percayalah, jiwa lelakinya selalu melekat.
Fero tak menyerah tentunya. Ini adalah kesempatan emas untuknya. Jarang-jarang Queeny jalan seorang diri. Biasanya kan selalu di kawal kemana-mana oleh kedua orang bodyguard setianya itu. Jadi jangan salahkan kalau Queeny tak punya teman. Mereka semua takut kena semprot dari bodyguard bertubuh gempal.
Tak mungkin mereka takut jika belum ada bukti. Semuanya itu sudah terbukti. Berita dan gosip sudah banyak yang menyebar di internet. Tentang biografi Queeny tentunya. Jadilah nasib Queeny seperti ini. Haruskah ia bersyukur atau menyesali? Namun nyatanya, Queeny sangatlah enjoy menikmati hidupnya. Ya, walaupun ia sering main kabur-kaburan seperti kemarin.
__ADS_1
Kabur yang kemarin membuat jiwanya sedikit kendor. Ia masih ingat betul. Seseorang telah memfitnahnya. Memfitnah akan membunuh. Queeny bergidik ngeri. Ia tak akan mengulanginya lagi. Cukup, sudah cukup itu kejadian kemarin yang mengerikan tapi------- menyenangkan tentunya. "Ah, ciumanku," ucapnya dalam hati. Hingga tanpa sadar, Queeny melupakan kehadiran Fero yang masih ingin mengejarnya.
***
Di tempat lain. Tempat yang berada jauh di atas gedung itu. Seorang pria dewasa berdiri dengan gagahnya. Tubuhnya begitu menjulang. Tangannya bersedekap dengan posisi mengarah ke depan. Menyaksikan cakrawala di pagi nan indah ini. Begitu cerah dengan dihiasi beberapa awan putih di sana.
Di sini, dia tengah menenangkan diri. Begitu tenang agar rencananya berjalan lancar. Sepertinya Maxy melupakan sesuatu. Tempat ini bukan hanya dia yang tahu. Tapi ada orang lain. Hingga suara orang lain itu membuatnya tersadar akan kelakuan yang kemarin.
"Maxy," sapa-nya.
Mau tak mau, Maxy memiringkan sedikit badannya. Menatap dingin ke arah wanita ini. Wanita ini adalah Sandria. Wanita yang tergila-gila padanya. Mau melakukan apa saja agar Maxy tak meninggalkannya.
Sandria sangat mudah diandalkan. Begitu mudah hingga mau melakukan apapun yang Maxy perintahkan. Kasihan sekali Sandria, dia terlanjur terbudakkan oleh cinta.
"Ya, Sandria."
"Bagaimana akting ku kemarin? Berjalan lancar kan?" Sandria menyunggingkan senyuman terlebarnya. Ia merasa puas akan aksinya kemarin.
__ADS_1
Tentunya darah itu adalah bohongan. Tusukan itu juga bohong. Semuanya sudah di setting sejak awal oleh Maxy. Maxy tak ingin balas dendamnya berakhir dengan kegagalan. Semuanya harus berjalan mulus sesuai rencananya.
Maxy tak menatap ke arah Sandria. Kini pandangannya menatap lurus ke depan. Menatap bangunan gedung bertingkat hingga lantai 40 di depannya.
Maxy menghembuskan nafasnya. "Kau memang andalan Sandria, aku berterimakasih padamu."
Kata-kata yang keluar dari mulut Maxy bagai pujian di telinga Sandria. Tanpa diperintah, Sandria terus menyunggingkan senyuman dari bibirnya. Ia terlalu suka dan bahagia saat mendengar kata terimakasih dari mulut Maxy. Kata-kata itu membuatnya meleleh dan bersedia melakukan apa saja termasuk hal gila seperti kemarin.
"Ah, kau tak perlu berterimakasih kasih Maxy sayang. Aku melakukannya untukmu. Aku mencintaimu."
Ya, Sandria sudah lama menyukai dan mencintai Maxy. Meskipun selalu bersama, namun Maxy tak pernah menunjukkan rasa cinta untuk Sandria. Intinya, Sandria belum berhasil meluluhkan hati seorang Maxy.
Padahal, kebersamaan mereka terjalin sudah lama. Mereka saling mengenal sejak duduk di bangku sekolah menengah atas. Saat itu, Maxy frustasi. Entah apa yang terjadi padanya, hingga Sandria yang sering membuang waktunya di sana bertemu dengan Maxy. Hingga akhirnya, persahabatan mereka menorehkan sebuah fakta baru. Bahwa Sandria mencintai Maxy.
Hubungan sahabat berbeda jenis, seringkali berakhir dalam zona yang salah. Menjatuhkan hati ke sahabat sendiri yang jelas-jelas tak pernah mencintainya.
Maxy sudah terbiasa mendengar pernyataan cinta atau sayang dari Sandria. Ini adalah kewajaran baginya. Maxy memang sempat merayu untuk mendapatkan hati Sandria. Dan lihat, usahanya berhasil. Maxy benar-benar menipu kelas kakap. Dan sampai kapan ia menyudahi kegelapan itu terus merajai hatinya?
__ADS_1
"Apa rencana mu yang selanjutnya Maxy?" tanya Sandria antusias. Ini karena Sandria tahu akan rencana Maxy. Rencana awal adalah kejadian di toilet itu. Lalu, apa rencana keduanya? Sandria berhak bertanya. Kalau-kalau, dia masih diperlukan di sini.
To be continued.