
.
.
.
***
Tak lama kemudian ke dua mobil itu sudah memasuki area rumah sakit yang paling terkenal di sana. Sambil menggendong Jea, Kelvin melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa. Di belakangnya diikuti oleh Andrew, Roy dan Bimo.
Setelah Andrew membisiki sesuatu pada Bimo. Langkahnya lebih cepat dari pada Kelvin, mendahului, Bimo langsung menghampiri seorang perawat. Tak lama kemudian, ada beberapa perawat dengan membawa sebuah brankar. Jea dibaringkan di atas brankar itu dan didorong menuju ke ruang IGD.
"Maaf Tuan-Tuan, kalian tidak diperkenankan untuk masuk. Silahkan tunggu di luar, jika ada sesuatu, kami akan segera memberitahukannya. Permisi," ucap salah seorang perawat itu.
Dengan raut kecewa, cemas dan sedih Kelvin menyandarkan tubuhnya di tembok. Dia menatap Andrew yang sedang menunduk, entah kenapa Andrew merasa sangat menyesal. Dia menyesal karena tadi malam telah berlaku kasar pada Jea.
"Apa yang sudah kau lakukan pada Jea?" tanya Kelvin dengan wajah emosi.
"Kau tak perlu tahu Kelvin, itu urusan kami. Apa hakmu buat ikut campur hemm?" Andrew Tersenyum licik. Wajahnya memang terlihat baik-baik saja. Tetapi tidak dengan hatinya. Sepertinya Andrew pandai sekali bersandiwara.
"Aku memang tak punya hak atas kalian. Tapi setidaknya aku tak rela jika kau menyakiti Jea."
Kelvin memang benar-benar ingin melindungi Jea, setelah kepergian Marlina dari mansion pribadi Parker. Marlina sering menceritakan keadaan Jea pada Kelvin. Femi meyakinkan itu semua, Kelvin rela menyewa mata-mata, untuk mengawasi keadaan mansion dan keadaan Jea, tentunya.
Beberapa hari ini, Kelvin sangat menyesal. Sebabnya, ia telah memperhentikan mata-mata itu. Dugaannya tentang Andrew yang sudah memberi kebebasan dan kebahagiaan untuk Jea ternyata salah besar. Sekarang terlihat jelas di matanya, kalau Andrew membuat Jea sengsara hidup bersamanya.
__ADS_1
"Tak rela?" Andrew bertanya penuh selidik. Mencari maksud dari kata tak rela dari mulut Kelvin. Bukankah Kelvin bukan siapa-siapanya Jea? Kenapa dengan beraninya dia berkata seperti itu kepada istri orang?
"Kelvin sadarlah, Jealita itu IS-TRI-KU," lanjut Andrew dengan penuh penekanan dikata istriku.
"Aku tak perduli Dre, dia istrimu atau bukan, aku tak perduli. Yang jelas aku pernah menyukainya sejak pertama aku melihatnya." Mungkinkah Kelvin jujur?
"Tutup mulutmu Kelvin! Kau tidak tahu apa-apa tentang dia. Jadi jangan banyak bermimpi," balas Andrew dan berjalan sedikit menjauh dari posisi Kelvin. Andrew benar-benar muak melihat Kelvin saat ini. Andrew bersumpah, akan membunuh Kelvin jika dia berani merusak rumah tangganya dengan Jea kelak. Eh, tidak. Andrew tak sekejam itu. Ia justru akan memberikan kesempatan.
Hampir setengah jam lamanya, seorang dokter wanita keluar dari ruangan IGD. Dokter itu mengedarkan pandangannya. Menatap satu-persatu wajah pria tampan yang ada di depannya. Dokter wanita itu heran, di dalam hanya ada seorang gadis yang diperkirakan berumur 21 tahunan, tapi kenapa yang menjaga ada empat orang pria? Siapa suaminya?? Pikiran dokter itu mulai kepo tak jelas tentang kehidupan Jea yang sebenarnya.
"Maaf, siapa suami dari pasien Jealita Andriansya?" tanya dokter wanita itu yang terlihat tegas.
Dengan gerakan cepat, Andrew menunjuk dirinya sendiri. "Saya..."
"Silahkan ke ruangan saya tuan, ada hal yang harus saya bicarakan pada anda," ucap dokter wanita itu yang diangguki oleh Andrew.
***
"Apa istriku baik-baik saja?" tanya Andrew yang kini sudah duduk berhadapan dengan dokter wanita yang terlihat masih cantik meskipun sudah sangat terlihat kalau wajahnya tak muda lagi. Ada beberapa kulitnya yang sudah keriput. Tapi tak menutupi wajah cantiknya.
"Istri anda sudah membaik, beruntung anda segera membawanya ke sini----" Dokter itu menjeda kalimatnya.
"Istri anda sedang hamil, perkiraan tiga minggu usianya. Dia mengalami depresi. Saya mohon pada anda Tuan, kalau bisa jangan melakukan sesuatu yang membuatnya tertekan. Itu akan membahayakan janinnya. Kandungannya saat ini begitu lemah akibat terlalu lama berada di bawah guyuran air." Dokter itu menjeda kalimatnya lagi, menarik nafas panjang, lalu dengan segera menghembuskannya.
"Istri anda bisa saja keguguran sewaktu-waktu. Jadi tolong, jaga dia. Usahakan dia selalu bahagia," jelas dokter itu panjang lebar yang membuat Andrew tak berkutik. Kata Hamil telah menampar hatinya. Kenapa bisa hamil? Bukankah Andrew sudah menyuruhnya meminum pil penghancur benih itu? Bahkan mata kepala Andrew sendirilah yang sudah memastikan dengan benar kalau Jea telah menelan obat tersebut.
__ADS_1
"Dok, kenapa istri saya bisa hamil?" Pertanyaan konyol yang keluar dari mulut Andrew membuat dokter wanita itu tertawa geli. Sebenarnya pria ini stupid apa gimana? Jika pria lain yang mendengar istrinya hamil, pasti wajah bahagia atau sedih yang selalu muncul. Tapi ini? Ekspresi terkejut dan justru pertanyaan paling konyol yang didengar olehnya. Seumur-umur menjabat sebagai dokter, baru kali ini ada suami dari pasien hamil bertanya seperti itu.
"Istri anda bisa hamil karena anda tidak memakai pengaman Tuan, atau istri anda tidak menggunakan alat kontrasepsi atau meminum obat pecegah kehamilan, mungkin. Jadi beginilah jadinya, hamil. Apa ada masalah Tuan?" selidik dokter itu tak yakin.
Karena lelaki di depannya ini, ia akui begitu tampan, mapan dan usianya juga terlihat sudah matang untuk memiliki momongan. Jadi apa yang salah?
Andrew masih menampakkan wajah dinginnya. Pikirannya berkecamuk, apakah Jea tidak meminum pil itu? Ataukah Jea telah meminum obat penawarnya sehingga dia bisa hamil? Andrew merasa pusing sendiri. Tapi yang penting sekarang adalah kesehatan Jea. Untuk masalah hamil, biarlah nanti ia tanyakan langsung pada Jea.
"Tidak ada masalah, terima kasih dok."
"Sama-sama Tuan. Setelah istri anda siuman, istri Anda akan dipindahkan ke ruang rawat inap. Silahkan melakukan biaya administrasinya Tuan, biar semuanya berjalan tanpa hambatan."
"Baik." Andrew mengangguk dan pergi dari ruangan itu.
Kelvin yang sudah penasaran dengan keadaan Jea akhirnya memburu Andrew dengan berbagai pertanyaan. Meskipun ia tahu, mungkin Andrew tak mau memberitahunya, yang penting dirinya sudah berusaha bertanya, bukan?
"Bagaimana keadaan Jea? Apa dia baik-baik saja? Apa yang dokter itu katakan padamu? Ayo katakan Dre? Katakan kalau Jea baik-baik saja."
"Ck, Segitu penasarannya dirimu Kelvin? Kau tak perlu mengkhawatirkannya. Dia sekarang lagi hamil anakku, so kau tak berhak ikut campur lagi. Lebih baik kau pergi dari sini."
Bagai tersambar petir di siang bolong. Jawaban Andrew sukses mematahkan rasa percaya diri di diri Kelvin saat ini. Itu tandanya mau tidak mau dia harus melepaskan Jea untuk tetap bersama Andrew.
"Baiklah, aku pergi. Ku titipkan Jea padamu. Jika kau menyakitinya lagi, aku tak akan segan-segan merebutnya darimu. Meskipun nyawa taruhanku."
"Bermimpilah Kelvin, kau tak perlu menaruhkan nyawamu untuk orang lain, lebih baik urus hidupmu," balas Andrew dengan senyum mengejeknya. Kelvin sudah tak menanggapinya lagi. Lebih baik dia pergi. 'Semoga kau selalu bahagia Jea.'
__ADS_1
To be continued.