
.
.
.
Clara mondar-mondir di dalam apartemennya. Ia menunggu kepulangan Kelvin. Tapi, lagi-lagi Kelvin mengecewakannya.
"Apa Kelvin gak pulang??? Sial, kemana dia??" Clara semakin dibuat pusing tujuh keliling. Pasalnya, dia sudah menyiapkan minuman yang tentunya sudah ia tetesi obat untuk memancing gairahnya Kelvin. Tapi apa?? Korbannya tak datang. Terpaksa Clara gigit jari untuk malam ini.
***
Setelah aksi lemasnya. Kini tenaga Jea sudah pulih kembali. Hampir seminggu sudah ia membaringkan dirinya di ranjang. Saatnya ia menggerakkan tubuhnya. Dan lihat sikap Andrew, terlihat begitu berlebihan pada Jea. Jika Jea dulu membencinya diperlakukan seperti ini, tapi tidak sekarang. Sekarang Jea sangat menyukainya. Perhatian Andrew membuat hormonnya selalu dalam mood yang baik.
"Jaga nyonya dengan baik. Aku tak mau kejadian waktu lalu terulang kembali..." Maksudnya Andrew adalah, kejadian dimana Ferdinand hampir mencelakai Jea waktu di pantai dahulu.
Dua bodyguard itu mengangguk dengan patuh. Tak hanya dua, tapi bertiga dengan Bimo.
"Jika ada yang mencurigakan, segera kabari aku Bim..." ucap Andrew menatap Bimo dengan tajam.
"Baik Tuan, kami akan menjaga nyonya dengan baik..."
Andrew mengangguk. Kemudian dia menghampiri Jea yang tengah sarapan.
"Dad, mari sarapan???" Jea berbinar melihat kedatangan Andrew yang ada di ruang makan. Biasanya Andrew tak pernah sudi sarapan. Apa perutnya sudah berjalan normal sekarang?? Fikir Jea yang mulai ngelantur.
Tapi apa reaksi yang Andrew tunjukkan? Sebuah gelengan kepala yang tandanya menolak.
"Aku hanya ingin menatap istriku yang sedang sarapan..." ucapnya kemudian.
Jea memanyunkan bibirnya. Penasaran yang belum terjawabkan. Makan malam yang selalu wajib, tapi, sarapan tak pernah dilakukan. Itulah Andrew nya.
"Kau seperti manusia yang seminggu tak diberi makan, Jelly..." sindir Andew heran melihat nafsu makan Jea yang sangat besar. Bahkan 2 porsi lebih banyak dari biasanya.
"Apa??? Aku memang tak makan nasi selama seminggu..." protes Jea tak terima. Selama seminggu ini, ia hanya makan salad dan buah-buahan saja. Tak makan nasi, jadi, namanya tetap belum makan, kalau belum ada nasi yang masuk ke dalam mulutnya. Menyebalkan si Andrew, tapi Jea suka.
Andrew hanya tersenyum kecil menanggapinya. "Kalau gitu, cepat selesaikan sarapannya. Aku akan mengantarmu hari ini..."
__ADS_1
Jea mengangguk pelan. Dia segera melahap sarapan paginya. Menghabiskannya dengan segera.
Di dalam mobil yang disopiri oleh Bimo. Jea bergelayut manja di tangan Andrew. Jea selalu pengen dimanja Andrew tiap hari. Ingin juga disentuh, tapi Andrew belum berani. Takut kalau kandungan Jea kenapa-kenapa.
Sebagai pria yang normal, apalagi punya gairah yang besar. Jelas Andrew selalu menegang. Seperti sekarang, saat Jea bergelayut manja dan sesekali menempelkan dadanya pada lengannya, membuat Andrew menelan salivanya susah payah. Dia berdoa dalam hati, agar bisa mengontrol hawa nafsunya dan tak menerkam Jea sekarang juga.
"Aku ingin selalu di dekatmu Ndrew..."ucap Jea lirih.
"Apa kau mau ikut aku ke kantor Jelly?? Jadi kau akan selalu dekat denganku, bagaimana??" tawaran yang sungguh menggiurkan. Tapi Jea tak mau, dia lebih memilih ke restonya. Ketimbang ikut Andrew di kantor, yang ujung-ujungnya pasti dicuekin juga.
"Gak ah, aku tetap ke Jelly resto saja..." jawabnya yakin. Andrew mengangguk mengerti.
Sebelum benar-benar ke Jelly resto, Andrew membawa Jea ke sebuah butik. Jea disuruh mengambil barang apa-apa yang diinginkannya.
Jea tak terlalu suka belanja, jadi dengan terpaksa, ia mengambil beberapa lembar baju. Biar segera selesai, terus, ia bisa segera ke restonya. Jea sudah merindukan tempat itu, apalagi kata Bimo kemarin. Banyak karyawan yang sudah melamar bekerja. Tapi keputusan ada di tangan Jea tentunya. Ia tak mau sembarang karyawan masuk ke restonya.
"Sudah??"tanya Andrew saat melihat Jea membawa bajunya ke kasir.
"Tak usah dibayar, tempat ini punyaku..." ucap Andrew dingin yang membuat Jea mengerjapkan matanya berkali-kali. 'Sekaya itukah suamiku?? Ah ya, bukankah dia orang paling kaya di negeri ini??' layaknya orang stupid, Jea baru menyadari akan kekayaan suaminya ini.
"Apa kau mau nambah sesuatu???"tanya Andrew yang melihat Jea tak beranjak dari tempatnya.
"Eh,, ah, tidak, ini sudah banyak..." Jea gugup bukan main. Ketahuan kalau dia sedang melamun tadi.
"Bungkus baju nyonya, antarkan langsung ke mansion!!!" perintah Andrew pada salah seorang karyawan di sana.
Jea hanya diam tak menimpali apapun. Apa yang akan Jea lakukan? Ia tak kuasa apa-apa, selain hanya status istrinya yang menguatkan namanya.
***
"Jaga kandunganmu Jelly, jangan sampai kelelahan..." khawatir Andrew, ia benar-benar tak ingin masa buruknya terulang.
"Aku akan hati-hati, percayalah..."balas Jea meyakinkan.
Andrew menipiskan jarak di antara mereka. Tak perduli jika Bimo masih ada di balik kemudi akan melihatnya. Karena satu, Andrew ingin merasai bibir mungil nan manis milik sang istri. Jea yang melihat gelagat Andrew, hanya bisa pasrah dan memejamkan matanya. Kemudian, Andrew menjilat bibir itu dengan intens.
"Ehhmmm..." suara deheman nan berat itu, membuat Jea mendorong tubuh Andrew.
__ADS_1
"Kenapa Jelly??" protes Andrew tak terima. Tapi, mata Jea mengisyaratkan kalau ada Bimo di situ.
Andrew mengedikkan bahunya acuh tak acuh. Perduli setan dengan Bimo. Yang penting sekarang adalah mencium orang yang ada di depannya ini.
"Anggap dia tak ada..." bisiknya ambigu.
Kembali Andrew meraih tengkuk Jea. Melakukan ulang hal tadi. Tapi yang sekarang lebih lama dan makin dalam.
Bimo menelan ludahnya berkali-kali. Ia tak tahan akan godaan setan itu. Bimo memutuskan untuk keluar dari dalam mobil. Geram. Wajahnya memerah cukup lama. Bahkan belum pernah -mungkin- ia berciuman seperti itu. Kecuali hanya sekedar menempelkan saja. Itupun pada orang asing yang Bimo tak kenal akan namanya dahulu.
'Sial banget hari ini, pagi-pagi mataku sudah tercemar...' dengus Bimo dalam hati.
Bimo segera menyusul kedua temannya yang sudah berjaga jauh di depan mobil tuan nya. Mata itu memincing saat menatap siluet wajah wanita yang tak asing baginya. Tapi Bimo berusaha tak perduli. Mungkin itu wajah pelanggan dari Jelly resto.
Jea terengah-engah. Ia mengusap bibirnya dengan tissu. "Aku gak sabar nunggu dua minggu lagi..." bisikan Andrew sebenarnya biasa saja. Tapi sialan memang telinga Jea. 'Shit, suaranya sangat seksi dan menggodaku...'
Jiwa penggodanya muncul kembali. Mungkin, sudah takdirnya untuk menggoda laki-laki yang ada di depannya ini.
"Kenapa harus dua minggu?? Bagaimana kalau nanti malam???" kerlingan nakal mata itu, membuat pertahanan Andrew melunak, tapi belum jebol.
"Bagaimana kalau sekarang??" Tantang Andrew yang kini mulai menggoda balik sang istri.
Jea terkekeh. " Kau sudah kesiangan Dad, lebih baik kau berangkat..." Jea mendorong dada suaminya dengan pelan. Bukan Andrew namanya jika pasrah. Andrew kembali mengukung tubuh Jea. Mengulangi lagi ciuman panasnya di pagi ini.
Mata Bimo berkali-kali menatap kaca mobil penumpang itu. Sayang sekali, fikirannya jadi kotor akan hal-hal yang diperbuat oleh Andrew dan Jea di dalam mobil sana. Dugaan besarnya adalah, mereka lagi membuat cinta di sana. Bimo mengerang frustasi, beruntung kaca mobil itu tak terlihat dari luar. Jadi orang lain tak akan melihatnya.
Tak lama setelah acara maki-memaki dalam hatinya. Bimo melihat Jea yang sudah keluar dari mobil. Bimo dan dua lainnya, membungkuk menyambut kehadiran Jea saat melewatinya.
Jea sedikit malu, saat melewati Bimo. Tapi dia memang sudah tak punya malu. Jadi Jea bersikap layaknya tak terjadi apa-apa.
Saat Jea sudah berada di dalam restonya, matanya bersirobok pada sosok Yuni.
"Hai mbak Yuni???" sapa Jea dengan ramah. Selaku pemilik restoran, tentunya Jea harus bersikap sopan pada tamu. Meski dalam hatinya ia ingin menjambak rambut Yuni. Membalaskan sekelumit dendamnya waktu di KL resto.
Tapi Jea cukup berotak untuk tak melakukan hal itu. Ini restorannya, ia tak ingin nama restonya di cap jelek gara-gara ulahnya.
"Nah, ini nyonya Jealita. Pemilik Jelly resto, jika mbak ingin melamar kerja, mbak bisa mengobrol dengan nyonya kami..." ucap salah satu waitress -anak buah Jea-.
__ADS_1
Jea tersenyum kemenangan mendengar penuturan karyawannya barusan. 'Hah,Yuni ngelamar kerja?'batin Jea girang bukan main.
To be continued