I Love You Tuan (ILYT)

I Love You Tuan (ILYT)
42


__ADS_3

.


.


.


"Kelvin....siapa???" tanya Marlina heran saat dia sedang membukakan pintu rumahnya yang digedor dengan kasar.


Ya, beberapa bulan belakangan ini Kelvin lebih memilih pindah di sebuah rumah dari pada harus tetap tinggal di apartemen. Kelvin tak tega melihat Marlina terus-terusan terkurung di apartemen tanpa melakukan hal apapun. Jadi inilah dia sekarang. Tinggal di sebuah rumah satu lantai. Meskipun interior bangunan terkesan sedikit mahal, tapi rumahnya cukup tak terlalu luas. Kelvin menyukainya.


"Biar Kelvin bawa ke dalam dulu Bu..." Kelvin langsung berjalan melewati Marlina, dan merebahkan Jea di sofa ruang tamu.


Sejenak Marlina mengawasi wanita yang sedang berada di sofa itu. Clara bukan??? Tapi kok berseragam restonya Kelvin??? Marlina yang dirundung penasaran akhirnya mencoba mendekat. Dia menyampirkan setengah rambut yang menutupi wajah wanita tersebut.


Sontak Marlina menganga. "Jea...!!! Anakku.... Kelvin apa yang terjadi dengannya???" Marlina panik sambil menutup mulutnya tak percaya. Sudah setahun lebih dia tak berjumpa dengan Jea, akhirnya kini ia dipertemukan. Ada rasa bahagia juga kekhawatiran karena terlihat wajah Jea yang jelas kentara pucat. Maklum, Jea pingsan.


"Kelvin menemukannya saat dia pingsan di pinggir jalan tadi..." balas Kelvin sambil menaikkan lengan kaos panjangnya sampai siku. Wajah putihnya terlihat begitu panik, dia langsung pergi mengambil kotak obat di sana. Setelah dia menemukan beberapa barang yang sekiranya penting, Kelvin langsung berjalan menuju ke ruang tamu. Mengolesi perut Jea dengan minyak angin. Perbuatan ini tadi hanya reflek karena rasa khawatir Kelvin yang begitu dalam. Hingga sebuah tepukan keras dari Marlina menyadarkannya.


"Biar ibu saja,,, siapkan teh hangat untuknya..." perintah Marlina dengan isyarat mata yang melarang Kelvin untuk melakukan itu. Sejauh ini sebagai ibu Marlina cukup tahu. Kelvin memang bercerita padanya dulu, kalau dia sempat tertarik pada Jea. Marlina juga setuju, tapi setelah Jea menikah dengan Andrew. Marlina melarang keras, agar Kelvin tak terlalu mengharapkan Jea dan melanjutkan masa depannya. Hingga akhirnya Kelvin akan bertunangan dengan Clara. Marlina lah orang pertama yang menyetujui itu. Akhirnya terjadilah pertunangan itu meskipun Marlina tahu, kalau Kelvin tak pernah mencintai Clara.


***


Setelah di olesi minyak angin. Akhirnya Jea tersadar dari pingsannya. Dia mengerjap-kerjapkan kelopak matanya yang indah. Sejenak dia tersadar, ini bukan jalan raya yang ia lewati tadi. 'Tuhan, ini dimana???' batin Jea sambil memegangi kepalanya yang sedikit pusing.


"Kamu sudah bangun sayang????" Marlina langsung menghampiri Jea dan menggenggam erat jari jemari wanita yang sudah dianggap sebagai anaknya tersebut.

__ADS_1


Setelah Kelvin selesai membuatkan teh hangat tadi, Marlina menyuruh Kelvin untuk menggendong Jea direbahkan di kamar milik Marlina. Itu karena Marlina ingin berdekatan dengan putri angkatnya ini, dan juga untuk menjauhkan Jea dari Kelvin. Marlina takut Kelvin akan berbuat sesuatu di luar kendali. Meskipun Marlina tahu, Kelvin bukanlah orang yang seperti itu. Marlina sangat yakin, Kelvin bisa menutupi perasaannya itu dari Jea. Dan mungkin nanti Marlina yang akan langsung berbicara dengan Kelvin. Sementara, biarlah dia sibuk dengan kedatangan anak perempuannya ini.


"Ibu Marlina.... Jea kangen sama ibu...." dengan cepat Jea merengkuh tubuh Marlina. Pusing kepalanya tiba-tiba hilang begitu saja. Saking bahagianya, tak terasa air mata Jea menetes begitu saja.


"Ibu juga merindukanmu sayang...."balas Marlina sambil menghapus air mata yang jatuh di pipi Jea.


"Apa kamu kabur dari nak Andrew Jea??? Sudah lama ibu tak mendengar kabar beritanya. Aah Ini semua karena Kelvin melarang ibu membeli majalah atau memegang HP. Anak itu kolot sekali...." curhat Marlina sambil tersenyum getir.


Jea balas tersenyum. "Kami sudah berpisah ibu... maksudnya kami sudah bercerai. Andrew tinggal ke negara asalnya...."


"Apa??? Benarkah??? Anak itu bahkan melupakanku...." Marlina merunduk. Ternyata Andrew sama sekali tak pernah menganggapnya sebagai ibu. Walaupun hanya ibu tiri.


"Tapi ibu bersyukur, akhirnya kau bisa terbebas dari jerat keluarga Parker. Eummm bukan keluarga, tepatnya Andrew sendiri...." Marlina ikut duduk di samping Jea. Membelai sayang rambut Jea yang semakin memanjang. Sekilas matanya melirik jemari manis di tangan kanan Jea. Cincin pemberiannya masih tersemat di sana.


"Ini cincin pemberian ibu, Jea selalu memakainya...." lanjut Jea sambil melihatkan cincin yang dipakainya karena Jea tahu Marlina sempat meliriknya.


'Cincin berisinial nama mu.... ibu senang akhirnya kamu sendiri lagi. Tapi ibu tak mau kedatanganmu akan membuat orang salah paham dan justru itu akan menyakitimu....'


"Ibu, kenapa???" heran Jea saat melihat Marlina melamun.


"Tak apa, ibu akan mengambilkan makan untukmu...."


Jea hanya mengangguk pasrah. Tubuhnya butuh nutrisi. Sepulang bekerja tadi ia belum sempat makan apapun.


Jea mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Kalau dia berada di sini, bukankah itu berarti Kelvin yang menolongnya kembali, dan sekali lagi, semuanya karena bantuan Kelvin. Jea menghembuskam nafas pasrah.

__ADS_1


Dia harus bersikap apa, keganjenannya merusak semua keadaan. Kata-kata dari Kelvin masih terdengar dengan jelas.


Aku ini boss-mu Jea.... Harusnya kau hormat padaku


Jea memijit-mijit pangkal hidungnya. Dia pusing sekarang. Apa sebaiknya dia resign saja ya??? Jea sudah tak punya muka lagi jika harus berhadapan dengan Kelvin. Mungkin Kelvin biasa saja. Tapi Jea???? Entahlah, besok pagi Jea harus memikirkan jalan keluarnya.


Di luar kamar. Sebelum mengambilkan makanan untuk Jea, Marlina sempat melihat Kelvin yang masih terduduk di sofa dengan tatapan yang kosong.


"Kelvin,,, ibu ingin bicara sesuatu padamu...."


"Bicara saja Bu...." balas Kelvin datar.


"Bukannya apa-apa Kel... tapi ibu rasa, jangan terlalu dekat dulu dengan Jea. Ini semua demi kebaikannya. Ibu tak mau orang-orang menganggap Jea sebagai PHO(Perusak Hubungan Orang)...." Marlina berucap dengan mimik yang serius.


"Kelvin tahu Bu,,, selama ini Kelvin tak pernah memberikan harapan apapun pada Jea. Kelvin hanya ingin melindunginya, itu saja...." balas Kelvin berusaha bersikap netral. Dia tak ingin membuat Marlina semakin sedih, bahkan bisa saja ibunya ini akan mendadak sakit karena faktor umur juga.


"Ibu percaya padamu Kelvin... Dan ibu sekedar mengingatkan, 2 bulan lagi kamu akan menikah dengan Clara. Ibu ingin kamu fokus dengan acaramu itu..."


Kelvin hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun. Selama ini sikap dingin Kelvin yang ditujukan kepada Jea, hanya kepura-puraan belaka. Sungguh Kelvin sayang sama perempuan itu. Gadis kecilnya ketika itu.


Lita....


Kelvin baru menyadari itu malam ini. Sebelum dia menemukan Jea yang tergeletak pingsan di pinggir jalan.


Rasanya Kelvin tak ingin tinggal seatap dulu dengan Jea. Lebih baik dia pergi ke apartemen nya saja. Dari pada setiap hari harus dinasehati oleh Marlina, agar Kelvin menjauh dari Jea. Kelvin benar-benar belum siap jika harus disuruh menjauh -melupakan- Jea. Lebih baik menjauh sementara. Apalagi ciuman yang diberikan Jea siang tadi masih terasa membekas di bibirnya. Jujur, Kelvin ingin mengulangnya lagi jika ada kesempatan. Tapi itu tak mungkin terjadi. "Dalam mimpimu saja Kelvin..."gumamnya lirih.

__ADS_1


__ADS_2