
.
.
.
"Apa yang ingin kau dengar??"tanya Andrew. Kini keduanya duduk selonjoran di rumput. Tak perduli jika pakaian yang mereka kenakan akan kotor.
"Semuanya... Tentang masa kecilmu, tentang kau menduda,, kau membeliku lalu menjadikanku istrimu..."jawab Jea antusias. Dia mengembangkan senyum penuh kelegaan.
"Sebanyak itu???"tanyanya.
"Ya, masih banyak lagi sebenarnya..."jawab Jea dengan santai.
"Astaga..." Andrew kalang kabut saat mendengar permintaan istrinya itu. Apakah dia harus mengatakan semuanya? Butuh seharian penuh jika harus mendongeng sekarang. Permintaan Jea seperti orang yang ngidam. Tunggu!!! Apa Jea hamil??? Secepat itukah??? Aah, tidak mungkin.
***
Malam terasa mencengkam bagi laki-laki yang kini sudah berstatus sebagai suami itu. Sudah hampir 2 minggu lamanya ia menyandang status itu. Tapi tak pernah sekalipun ada niatan melakukan hubungan layaknya suami istri. Mungkin jika hanya sekedar mencium dia mau-mau saja.
Sifat istrinya yang selalu kekanakan, manja, suka mengancam membuat hidupnya penuh penekanan. Laki-laki itu tak lain adalah Kelvin. Sepulang bekerja tadi, ia segera kembali menuju ke apartemen tempat mereka -Kelvin & Clara- tinggal.
Lagi-lagi??? Kelvin mendapati Clara yang tengah mabuk dan meracau tidak jelas.
"Brengsek!!! Kau pulang juga..."desis Clara tak jelas. Posisi duduknya sangat tak tenang. Kepalanya sudah menunduk tak seimbang. Teler.
Kelvin tak menghiraukannya. Ia segera menuju kamar mandi. Mengganti pakaiannya dengan piyama.
"Sentuh aku Kel... aku istrimu..." Clara berusaha berdiri. Berjalan mendekati Kelvin, tapi karena pengaruh minuman laknat itu. Tubuh Clara jadi terhuyung, ia tak mampu menopang tubuhnya sendiri.
__ADS_1
Kelvin yang tak tega hanya memapahnya sampai ke ranjang mereka.
Clara menarik tengkuk Kelvin dengan cepat. Menciumnya dengan kasar. "Tolong Kelvin... please..."pinta Clara memohon.
"Maaf, aku belum bisa..." jawab Kelvin datar. Ya, sejak hari pernikahan itu. Kelvin bersikap dingin dengan Clara. Dia mau bertunangan bahkan menikah, tapi tidak dengan hatinya. Hati Kelvin masih samar, belum bisa menjelaskan akan perasaannya pada Clara. Cukup ia menuruti ini semua karena ancaman bunuh diri dan juga atas sakit Marlina.
***
"Apa kau sudah siap???" Andrew segera meletakkan tangan Jea di lengannya. Setelah acara saling terbuka kemarin. Andrew benar-benar memanjakan Jea. Ia sudah bersikap layaknya suami normal pada umumnya.
Kini demi kebebasan Jea, Andrew rela bekerjasama dengan salah seorang pengusaha restaurant. Ia juga memberikan sebuah restoran untuk Jea. Agar dikelola dengan maunya dan tentunya Jea tak akan terkurung lagi seperti dulu. Dia sudah menjelma sebagai nyonya Parker sekarang.
Keduanya disambut tepuk tangan riuh dari para karyawan yang akan membantu Jea mengembangkan bisnisnya ini.
Suatu hal langka bisa melihat Andrew yang terus menyunggingkan senyuman. Itu karena Andrew tertular akan virus senyum yang Jea tujukan pada dirinya. Senyum yang begitu menawan, hingga membuat Andrew lupa caranya bernafas. Hanya sesaat, tapi mampu mengalihkan dunianya.
"Restaurant ini saya persembahkan untuk istri saya tercinta. Nyonya Jealita Parker..."tepuk tangan riuh membahana di ruangan itu. "Dan untuk itu, mohon kerjasamanya. Ikuti peratutran yang nyonya Jea berikan... selamat bersenang-senang...."
Minuman dan makanan utama tersaji secara gratis untuk malam ini. Malam pembukaan Jelly resto. Jea sungguh terharu atas perlakuan Andrew akhir-akhir ini. Hingga senyum kebahagiaan terus mengembang di bibirnya.
"Terima kasih suamiku... kau terbaik." Jea segera mempererat pegangannya pada lengan Andrew. Andrew balas tersenyum dan mengecup puncak kepala istrinya.
Sebuah kamera wartawan mengabadikan moment tersebut. Benar-benar penuh drama. Sensasi perceraian, dan sekarang gosip itu tentang Jea yang ingin menguasai semua harta Andrew.
Andrew meremas kertas yang bertuliskan seperti itu. Ini penghinaan baginya. Ternyata masih ada orang yang ingin menjatuhkannya dengan gosip murahan seperti ini.
Bahkan Jea tak pernah sekalipun meminta hartanya. Ini inisiatif Andrew sendiri. "Shit, berita gila ini...." pagi-pagi rahang Andrew mengetat. Ini pertanda tak bagus.
"Bimo!!! Cari tahu, siapa yang berani menyebarkan berita seperti ini. Dan bersihkan semuanya. Kalau perlu, bayar mereka agar tutup mulut!!!!" Andrew menghembuskan nafasnya. Selalu seperti ini. Pemberitaan gila dari lawannya. Apa Axel??? atau Ferdinand??? Hanya 2 orang itu yang sering memusuhi Andrew.
__ADS_1
Setelah kepergian Bimo dari ruang kerjanya. Andrew memejamkan matanya sejenak. Tiba-tiba terdengar pintu terbuka. "Pagi suamiku..."sapa Jea dengan lembut. Pakaiannya sudah rapi. Dengan sebuah tas selempang tentunya mahal limited edition. Karena Andrew sendiri yang membelinya. Andrew ingin istrinya tampil sempurna.
"Pagi juga Jelly... kau tampil cantik hari ini ..." puji Andrew sambil menyunggingkan senyum tipisnya.
"Ini semua karenamu... aku bukan apa-apa tanpamu..." sadar diri Jea sekarang. Bukan dia matrealis atau semacamnya. Tapi perempuan mana yang tak suka dimanjakan akan kekayaan yang seperti ini?.
"Ah, aku suamimu... sudah sewajarnya aku melakukannya. Kemarilah!!!"suruh Andrew dan dengan senang hati Jea mendekati ke tempat Andrew duduk. Semua terasa flashback. Saat dulu ia masih jadi pelayan. Dan Andrew memaksa menciumnya.
Jea sudah berdiri tepat di samping Andrew. Dan Andrew segera memutar kursinya menghadap ke arah Jea.
"Tadinya aku ingin dilayani olehmu Jelly..." Andrew menelisik wajah Jea dengan jarinya. Meskipun sering berhadapan dengan Andrew. Kali ini jantung Jea seperti menggila. Sentuhan-sentuhan Andrew membuat darahnya berdesir, bulu kuduk meremang.
"Emm... eh, itu..." Jea gugup mau bilang apa. Padahal tadi malam Andrew sudah memintanya. Apa semua pria juga seperti ini??? Atau hanya Andrew saja yang daya secsualnya tinggi.
"Ah, baiklah... kau akan menolak..." Andrew terlihat murung. Kemudian memutar kursinya kembali semula.
Jea ingat betul. Saat Andrew meminta ia tak boleh menolaknya. Jadi dengan senang hati Jea akan melayaninya. Ia segera meletakkan tasnya di atas meja.
"Aku tak menolaknya..." jawab Jea yang segera duduk dipangkuan Andrew. Sedikit agresif tak masalah. Andrew juga tak mempermasalahkan itu.
Jea ingin permainan cepat. Karena juga mengejar waktu. Dia segera mencium bibir merah sang suami.
Andrew tak membalasnya. Dia sengaja biar Jea yang mengendalikannya. Benar-benar Jea akan menjadi pemu*snya untuk saat ini.
"Kau tak membalasnya..."tanya Jea di tengah-tengah ciumannya. Jika Andrew tak membalas gerakannya nanti. Permainan akan lama. Dan Jea akan terlambat datang ke restonya.
"Aku ingin lihat kemampuanmu!!!"tantang Andrew menyeringai.
Jea memejamkan matanya. "Baiklah... kau benar-benar menjadikanku jal*ngmu..." Jea segera melepas kemeja yang melekat di tubuh Andrew. Mencium dada bidang serta berotot. Oh, punya Jea langsung berkedut setiap ingat percintaannya dengan Andrew.
__ADS_1