
.
.
.
Jea menatap jam antik bermodelkan seperti lemari kecil. "Jam sepuluh..."gumamnya sambil berjalan mondar-mandir di ruangan santai.
Apa boleh ia berharap Andrew akan mengabarinya. Setidaknya kalau tidak bisa pulang, atau ia pulang larut malam, ia mau mengabari Jea. Tapi sepertinya Jea terlalu berharap. Andrew tetaplah Andrew, dia tidak berubah.
Jea mulai kelelahan, ia merebahkan tubuhnya di sofa super empuk, dan mungkin juga harganya sangat mahal.
Ia tak bisa menafsirkan harga sofa ini, karena dia juga tak perduli. Lebih baik dia mengistirahatkan tubuhnya.
Tak tahukah Jea??? Sikapnya ini akan dianggap ceroboh oleh Andrew. Jelas, karena ruangan ini dilewati para pelayan jika mau ke ruang tamu atau ke pintu utama.
Tak sengaja Murti melihatnya. Melihat nafas Jea yang teratur, membuatnya tak tega hanya sekedar untuk membangunkan. Tak sedikit mata para pelayan lelaki menatap Jea dengan tatapan tergoda. Jea masih muda, badan tinggi, kulit mulus wajah juga cantik. Siapa yang tak tertarik? Apalagi dia dianggap penghuni baru, para lelaki yang sudah lama bekerja di sini seperti mendapat pemandangan yang menakjubkan baginya. Tapi mengingat sumpahnya pada tuan Andrew, mengurungkan gairah primitifnya untuk keluar. Mungkin saja mereka berimajinasi tentang Jea saat di kamar mandi.
Tak segan-segan, jika ada pelayan pria yang berani menatap Jea terang-terangan saat ini. Murti akan melotot dengan mata yang hampir loncat dari tempatnya. Murti memilih aman dari pada kena semprot dan berakhir dipotong gaji. Yaitu menjaga tidur Jea sampai tuan Andrew nya datang.
Lama Murti menunggu hingga hampir tengah malam, barulah deru suara mobil terdengar jelas terparkir di halaman mansion itu.
Hendak berdiri pun Murti enggan. Ia tetap menikmati posisi duduknya yang beralaskan sebuah karpet dan menegakkan kepalanya yang tadi sempat ia istirahatkan di sofa yang sama di dekat kepala Jea.
Mendengar derap langkah kaki yang semakin mendekat, Murti segera berdiri. Mengucapkan salam hormat kemudian menundukkan bahunya.
Andrew tak menghiraukan Murti. Tapi ia menatap Jea yang dengan seenaknya tidur di sofa.
Andrew segera melepas jas nya, melempar ke belakang. Bimo dengan sigap menerimanya. Andrew membuka kancing di tangannya dan menggulungnya sampai ke siku. "Kau boleh pergi..." titah Andrew pada Murti.
__ADS_1
"Dan kau Bimo, bukakan pintu kamar kami..."
"Baik tuan..." Bimo segera berjalan ke lantai atas.
Andrew berjalan menghampiri Jea. Membingkai wajah Jea dengan jari telunjuknya. "Bersiaplah,, esok akan ada kejutan untukmu..." bisik Andrew yang jelas-jelas tak akan didengar oleh Jea.
Melihat Bimo yang sudah turun ke bawah, Andrew segera menggendong Jea. Tubuh Jea masih sama beratnya dari dulu sampai sekarang. Dengan perlahan ia menutup pintu dengan kakinya. Kemudian merebahkan Jea di kasur kebesarannya. Menyelimutinya dan memberikan kecupan singkat sebelum pergi ke kamar mandi.
***
"Bagaimana tidurmu???" tanya Andrew yang sudah bangun dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Tangannya sibuk memainkan ponselnya yang entah apa.
Jea menggeliat. Perasaan dia menunggu Andrew di sofa. Lalu kenapa sudah ada di kamar??? Siapa yang telah memindahkannya??? Apa iya pelayan??? Bagaimana kalau Andrew tahu??? Apakah Andrew yang memindahkannya? Berfikir, berfikir. Jea tak mungkin bertanya sama Andrew. Karena kalau yang memindahkan bukan Andrew. Urusannya akan runyam.
"Nyenyak suamiku...." ucap Jea tersenyum menutupi kekhawatirannya.
"Bersiaplah..."ujar Andrew yang terlihat masih tenang. Apa dia tak tahu apapun??? Fikiran Jea melalang buana. Ia berharap Andrew tak tahu jika ada yang memindahkan Jea ke kamar ini. Atau mudahan Andrew lah yang memindahkannya. Jea berharap 2 hal itu saja untuk hari ini.
Andrew masih tenang bersandar di kepala ranjang. Menunggu Jea keluar dari kamar mandi. Hari ini ia akan mengajak istrinya berkencan. Hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya selama menjalin hubungan yang bahkan sudah resmi -suami istri-.
Andrew menatap pintu kamar mandi yang terbuka kemudian tertutup kembali. Ia melihat Jea di walk in closet. Ia menghampirinya. Jea yang tak menyadari kedatangan Andrew tetap bersikap tenang. Memilih-milih dress yang semakin hari terlihat berubah-rubah model dan warnanya. "Terlalu pemborosan..."gumamnya pelan. Alis Andrew mengkerut, dia orang kaya. Hanya beli baju selemari tidak akan menghabiskan uangnya. Bagaimana bisa dibilang pemborosan??
Jea membuka lemari kaca, menatap satu persatu baju yang menurutnya cocok untuk hari ini. Tiba-tiba ada tangan-tangan kekar melingkar di perutnya. Jea menatap dari pantulan kaca yang ada. Andrew.
Andrew menyingkap rambut Jea ke samping, menciumi lehernya dengan intens. Leher adalah area sensitif kedua bagi Jea. Jea mendesah tertahan. 'Apa dia minta jatah???'
"Hari ini kita akan berkencan Jelly..."ucapnya parau. Sedari tadi ia tak sabar hendak mengukung Jea berada di bawahnya. Melihat Jea yang memakai handuk membuat libidonya langsung naik.
"Bu-buat apa???" tanya Jea sambil menahan sesuatu yang mengapa membuatnya ingin diperlakukan lebih.
__ADS_1
Berusaha menggoda Kelvin tak berhasil, yang ada justru Axel yang menawarkan diri. Meskipun Jea gadis miskin, tapi ia tak sembarangan menyerahkan dirinya. Kesepian jelas, selama ini Jea hanya memendam hasratnya. Saat Andrew datang dan membawa berita penting. Membuatnya ingin minta lagi. Mungkin tidak tahu malu, tapi bukankah Andrew bilang mereka masih suami istri??
"Aku ingin memasukimu Jelly..."bisik Andrew sambil menciumi telinga Jea dengan lembut. Tangannya yang nakal langsung melepas handuk itu sekali tarik. Kini Jea benar-benar polos tanpa apapun.
Andrew menggendongnya sambil memagut bibir mungil yang selalu menjadi candunya. Ia tak membawa Jea ke ranjang. Melainkan di sofa.
"Rasanya selalu luar biasa saat bersamamu..."
Jea sudah kehilangan kesadarannya. Di goda Andrew sedemikian rupa, membuatnya hanya berdehem-dehem tak menentu.
"Apa kau siap???"tanyanya sambil menatap mata sayu Jea yang setengah terbuka.
Jea hanya mengangguk pasrah. Ia hanya bersikap pasif untuk pagi ini. Biarlah Andrew yang melakukan sepenuhnya.
Saat gesekan pergesekan sudah ia lakukan. Suara ketukan pintu terdengar begitu nyaring. Andrew dan Jea berusaha tak menghiraukannya, semakin dibiarkan volumenya terdengar seperti gedoran. Andrew menggeram emosi. Sedikit saja ia hampir memasukinya. Sial!!!
"Segera pakai pakaianmu Jelly, biar aku yang mengurusnya..."
Jea mengangguk dan segera masuk kembali ke kamar mandi. Jea benar-benar ingin tadi, tapi ternyata bisa kacau juga.
Andrew segera merapikan piyamanya. Dengan wajah emosi ia membukakan pintu.
BUGgghhh
Satu bogeman langsung ia daratkan pada Bimo yang kini tengah berdiri dengan wajah panik menjadi meringis kesakitan.
"Kenapa kau mengganggu waktuku???"tuduh Andrew dengan nyalang.
"Maaf tuan,,, saya tidak tahu jika anda----" ucapan Bimo menggantung. Ini sudah hampir jam 8. Apa Andrew masih melakukan kegiatan panas itu??? Bimo segera mengenyahkannya. Ada hal darurat yang akan ia sampaikan.
__ADS_1
"Tuan Axel ingin bertemu dengan nyonya..."sambung Bimo langsung pada intinya.
Andrew merapatkan rahangnya. Tangannya mengepal kuat. 'Buat apa dia mencari milikku???'