I Love You Tuan (ILYT)

I Love You Tuan (ILYT)
40


__ADS_3

.


.


.


***


Gosip tentang Jea seorang mantan istri Andrew Parker akhirnya terendus juga di telinga Clara. Clara menatap layar handphone nya dengan mata yang menyala-nyala.


"Aku harus beri dia pelajaran," gumam Clara dan segera mengambil kunci mobil yang ada di atas nakas kamar pribadinya.


Perjalanan ke resto di mana Jea bekerja lumayan memakan banyak waktu. Belum lagi jalanan yang makin padat merayap membuat perjalanan Clara semakin terasa jauh.


"Huuuuffft, sampai juga."


Clara segera mengedarkan pandangannya setelah dia masuk dengan selamat. Pengunjung di sore ini tidak terlalu ramai. Karena yang ramai itu hanya jam sarapan, lunch, dan dinner saja.


Yuni yang melihat kehadiran Clara langsung berjalan menghampirinya. "Nona Clara," panggil Yuni sedikit membungkukkan badannya.


Clara menatap Yuni dengan tatapan berbinar. "Kebetulan sekali, aku butuh bantuanmu Yuni."


Yuni tersenyum kemenangan. Inilah saatnya dia menceritakan kedok Jea pada Clara.


"Baik nona Clara, dengan senang hati saya akan membantu Anda."


***


Setelah ijin dengan Kelvin. Akhirnya Clara membawa Yuni ke sebuah kedai kopi. Bukan kopi abal-abal. Karena pergelasnya seharga hampir seratus ribu. Yuni yang bukan orang kaya sedikit tertegun. Sangat disayangkan baginya. Harusnya uang sebanyak itu bisa ia belikan bedak atau lipstik yang lagi booming dengan matte-matte nya.


"Aku perlu bantuanmu Yuni, ini tentang Jea." jelas Clara setelah menyeruput kopinya.

__ADS_1


"Tepat sekali Nona, aku akan melakukannya untukmu." jawaban itu terlihat antusias. Yuni sedikit menyeringai karena dia punya teman komplotan.


"Kau antusias sekali Yuni? Sepertinya kau tak menyukainya. Aaah, sepertinya tak perlu basa-basi. Aku harus segera mengucapkan ini padamu." Clara membisikkan sesuatu ke telinga Yuni. Yuni melihatkan senyum liciknya dan langsung mengangguk setuju.


***


Ke-esokan harinya. Seperti biasanya Jea kembali bekerja. Tapi situasinya terlihat aneh. Orang-orang banyak yang berkasak-kusuk.


Sudah hampir tengah hari, orang-orang yang ada dipelataran resto tak kunjung jua pergi. Hingga ada yang menonjol di sana. Seorang pria membidikkan kameranya tepat memposisikan pada Jea.


Jea jengah. Dia berlari mencari perlindungan. Entah kenapa tempat yang dituju justru ruangan Kelvin.


Di sana -ruangan itu- Jea melihat Kelvin tengah memejamkan matanya. Jea berjalan berjinjit. Untung flatshoesnya terbuat dari karet. Jadi tak terlalu terdengar saat berjalan. Jea mengamati dengan detail setiap inchi demi inchi wajah Kelvin.


"Sangat tampan, sayang sudah ada yang punya," gumam Jea dengan pelan. Dia yakin Kelvin tengah tertidur sekarang.


"Tak hanya tampan, tapi baby face," lanjut Jea lagi hingga dia melupakan tujuan utamanya datang kemari untuk minta bantuan dari para pemburu berita yang kurang tepat menurut Jea.


Jea kembali menatap sang majikan. Terlihat raut kelelahan di sana. 'Salahkah jika aku menciumnya?' pikiran-pikiran kotor mulai menari-nari di otaknya.


Sepertinya Jea memang tak tahan. Sudah hampir 2 bulan lamanya dia tak disentuh lelaki. Jiwa wanitanya menggelora ingin mencumbu. Meskipun kemarin sempat dicium Axel, tapi rasanya berbeda. Jea tak punya getaran-getaran aneh kecuali rasa takut saja jika berdekatan dengan Axel.


Sudah lama Jea ingin mencium Kelvin sejak mimpinya waktu itu. Dan mungkin inilah kesempatan emas. Jea mulai mendekatkan bibirnya ke bibir Kelvin. Tangan kanan Jea mendekap jantungnya. Jea benar-benar gugup, tapi keinginan untuk mencium lebih besar dari pada memikirkan akibatnya apa nanti setelah kejadian ini.


'Aku sudah gila. Andrew, kau harus tanggung jawab!!'


Sedetik kemudian bibir Jea mendarat sempurna pada bibir tipis Kelvin. Jea memejamkan matanya. Menikmati sensasi itu.


'Sial, Jea menciumku.' Hati kelvin mengeram frustasi. Jea benar-benar menggodanya. Tanpa menunggu lama, Kelvin langsung membuka mulutnya. Mengeksplorasi mulut Jea dengan intens.


Mata Jea terbelalak merasakan sensasi yang lebih. Jea terdiam beberapa detik. Mata mereka saling beradu. Jea tak tahu lagi, harus membalas atau gimana. Hingga otak warasnya menyadarkannya. Jea menjauhkan wajahnya. Pipinya merona, menahan malu sekaligus takut karena terpergok diam-diam mencuri ciuman sang majikan.

__ADS_1


"Kenapa? Bukannya kau menggodaku Jea?"


Jea masih berdiam pada tempatnya. Detak jantungnya semakin berpacu lebih cepat seperti sehabis lari maraton.


"Sejak kapan kau jadi wanita seperti ini Jea? Cukup aku saja yang kamu goda. Jangan sampai kau lakukan ini pada lelaki lain." lanjut Kelvin sambil menyeka bibirnya yang basah akibat peraduan antara bibirnya dan bibir mungil Jea.


"Bu-bukannya anda ti------"


"Aku tidak sedang tidur Jea, pikiranku sedang lelah. Dan terima kasih sudah memuji ku tampan dan baby face."


Ya, sedari tadi Kelvin memang tidak tidur. Dia sedang memikirkan cara mengusir para wartawan pencari berita itu. Kelvin sendiri juga heran, kenapa para wartawan itu bisa tahu akan keberadaan Jea di tempatnya.


Jea semakin gugup saat Kelvin juga mendengar pujian yang terlontar dari mulutnya secara spontanitas itu.


"Maafkan saya tuan." Jea menunduk takut, dia sudah tak punya nyali lagi untuk menatap mata Kelvin.


"Jangan lakukan itu lagi Jea, harusnya kau sadar. Aku siapa, kamu siapa. Jangan pernah memanfaatkan kelengahan orang hanya untuk kesenanganmu sendiri. Aku di sini sebagai boss-mu, harusnya kau hormat padaku.." Sungguh, Kelvin tak ingin mengucapkan kata itu. Ia hanya tak suka, jika Jea agresif. Dalam hati kecilnya, Kelvin sedikit bahagia. Akhirnya ia bisa merasakan bibir dari kakak ipar, mantan tepatnya.


Tak terasa air mata itu mengalir dengan derasnya. Perkataan Kelvin benar-benar menghantam hatinya. Jantungnya seakan diremas-remas tanpa ampun. Ini memang salahnya Jea sendiri, yang tak bisa mengontrol hawa nafsunya.


"Maaf." Hanya satu kata itu yang mampu Jea lontarkan. Jea membalikkan tubuhnya. Berjalan menjauhi Kelvin. Jea tak punya muka sekarang. Malu dan malu. Dia hanya malu pada dirinya sendiri. Kelvin memang tak salah sama semua ini.


"Andrew,, aku butuh kamu?" Jea menuju ke toilet. Air matanya tumpah, ia butuh sosok Andrew saat ini. Entahlah, ditinggal Andrew, hidupnya bagai terombang-ambing tak jelas arah jalannya.


Menyukai Kelvin. Sukakah? Tapi sudah jelas, Kelvin sudah bertunangan. Pantaskah ia melakukan itu.


Jea terus meratapi kelakuannya sendiri. Mungkin besok ia akan dipecat. Jika itu benar terjadi, kemanakah ia akan cari pekerjaan lagi??


Semua ini terjadi karena kegilaannya. Belum lagi, masalah dengan para wartawan, yang kini tengah menunggunya untuk segera mengkonfirmasi akan perceraiannya dengan Andrew.


Rasanya Jea tak ingin bercerai, jika semuanya akan berjalan serumit ini.

__ADS_1


"Andrew, bisakah kau kembali? Bukankah katamu, kau mencintaiku? Andrew, jika kau ada di sini, mungkin, aku akan memikirkan ulang untuk perceraian kita," gumam Jea lirih sambil menghapus air matanya.


__ADS_2