
.
.
.
Jea tak percaya jika saldo di ATM nya semakin bertambah. Kenapa bisa??? Setahunya uang gajinya emang ia sisihkan. Tapi tidak di ATM sini, karena buku tabungannya bukan Jea yang megang.
Jea jadi menduga-duga sendiri. Bukankah hanya Andrew yang tahu nomor rekeningnya?? Jadi siapa lagi yang mengirimi uang selain Andrew???
"Ya pasti Andrew yang nransferin uangnya??? Tapi untuk apa??? Bukankah kita sudah bercerai???" gumam Jea lirih kemudian segera mengambil uang seperlunya.
Dengan fikiran yang masih merajalela. Jea menghampiri Ayahnya yang sibuk berbelanja buah-buahan.
"Ayah beli buah???"tanya Jea dengan sebuah senyuman. Jea yang ceria sepertinya kembali lagi.
Andriansya tersenyum. Meskipun ia tahu kalau anaknya itu sedang tak baik-baik saja. Sebagai orang tua ia ingin anaknya bebas melakukannya. Sudah cukup ia membuatnya menderita dulu. Jadi Andriansya tak ingin ikut campur urusan asmara Jealita.
"Iya, sudah lama sekali ayah tak makan buah..."
Jea menatap ayahnya miris. Memang mereka bukan keluarga yang kaya. Hanya saja mereka masih mampu untuk memenuhi kebutuhan hidup. Beruntunglah Jea, sempat dipinang oleh Andrew. Setidaknya dia pernah menjadi ratu. Dan itu bukanlah mimpi belaka. Sekarang hatinya sedang hampa. Ia tak tahu lagi harus kemana?? Janda??? Sepertinya status itu sedikit menyulitkannya. Kalau tahu menjanda itu tak enak, harusnya Jea tak ingin menyetujui perceraian itu.
'Pasti saat itu,,, Andrew benar-benar sedih karena aku....'
"Jea, apa kau melamun???"tanya Andriansya segera menyadarkan Jea.
"Ah tidak Yah... Jea ingin bikinin ayah salad buah..." setelah berkata seperti itu, tangan Jea dengan lihai memilih buah-buah yang akan ia jadikan salad.
Andriansya sempat tertegun. Jea membeli tanpa beban. Mungkin anak itu punya cukup uang. Fikir Andriansya meyakini.
Setelah seharian berkeliling ke pasar, akhirnya Jea dan ayahnya memutuskan pulang. Baru kali ini Jea merasa royal. Ternyata sedikit menghamburkan uang dan memenuhi keinginan orang tua itu terasa menyenangkan di hati Jea. Sudah lama sekali ia tak pernah membelanjakan ayahnya. Sungguh malang nasibnya, baru kali ini selama 21 tahun Jea bisa membuat ayahnya terharu karena bahagia.
__ADS_1
***
"Ayah, makanan sudah siap!!!" teriak Jea saat semua makanan sudah terhidang di dapur termasuk salad buah yang Jea janjikan tadi. Rumah Jea tidak terlalu besar. Jadi tak ada ruang makan di sana. Hanya ada dapur dan ruang tengah yang biasanya mereka pakai untuk tempat makan.
Dengan senang hati Andriansya menuju ke dapur. Menatap makanan yang sangat dirindukan, bahkan makanan ini terlihat begitu mewah karena dibuat oleh sang anak tercinta.
"Anak ayah sudah dewasa sekarang. Maafkan ayah yang dulu tak pernah mempedulikanmu..." ucap Andriansya lirih. Matanya sudah merah, air mata pun tak terhindarkan lagi.
Jea ikut bersedih di dalamnya. Segera ia menghampiri sang ayah. Memeluknya dengan erat.
"Maafkan Jea juga Yah, yang baru bisa membahagiakan ayah..."
***
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Tak menyangka hari ini adalah hari di mana Kelvin akan menikah. Sudah cukup bagi Jea. Tak ada harapan lagi untuknya. Toh, perasaan Jea cukup baik-baik saja sekarang.
Tak tahu kenapa, setelah melihat saldo yang bertambah. Membuat fikiran Jea melayang. Memikirkan saat-saat bersama Andrew. Memori itu terputar dengan sendirinya bagai kaset jadul. Entah kenapa, Jea merindukan Andrew secara tiba-tiba. Mungkin Andrew adalah cinta pertamanya. Jadi perasaan itu memanglah tetap ada meskipun Jea tak menginginkannya.
Hingga suara ketukan pintu membuyarkan fikiran Jea yang sempat berkelana entah kemana.
Jea mendesah sebal saat Axel dengan santainya berdiri di depan rumahnya. Bukan apa-apa, hanya saja Jea tak enak hati jika harus disamakan dengan orang lain. Sungguh Axel tak punya kekurangan apapun. Tapi hati Jea sulit untuk menerimanya.
"Apa kau mau jalan-jalan???"tawar Axel dengan senyum khasnya.
"Aku sedang malas keluar tuan Axel..."tolak Jea secara halus.
"Oh ayolah Jea... apa kau tak ingin mencari udara segar di luar. Kenapa kau mengurung dirimu di rumah???"
"Maaf tuan Axel,,, mungkin lain kali saja..."
Axel mengeluarkan nafas beratnya. Membujuk Jea tak semudah membujuk Kayla. Meskipun kembar, sifat mereka tak pernah sama. Axel mengalah dan segera pergi dari rumah itu.
__ADS_1
Jea bernafas lega, Axel tak memaksanya lagi. Setelah kepergian Axel, Jea menuju ke dapur. Tenggorokannya terasa kering tak ketulungan. Setelah menuangkan air putih ke sebuah gelas hadiah dari kopi. Jea meneguknya dengan tandas. Tiba-tiba sebuah ketukan pintu dan berakhir seperti gedoran membuatnya merasa risih.
Ayahnya sedang tak di rumah. Ayahnya itu beberapa hari ini menyibukkan diri mencari penghasilan. Padahal Jea sudah melarangnya, tapi Andriansya memaksanya. Entah pekerjaan apa. Jea sendiri tak tahu.
Jea mendengus sebal. Apa mungkin itu Axel yang berubah pikiran??? Kemudian datang kembali dan ingin memaksa Jea lagi???
Jea segera berjalan mendekati pintu rumah. Saat baru membuka pintu rumahnya, tak menyangka yang datang orang yang Jea benci seumur-umur. Wanita yang telah menjualnya di tempat pelac****.
"Oh, kau di rumah ternyata!!!" mata tua itu memindai Jea dari atas sampai bawah.
Ingin sekali Jea mencongkel mata yang setajam silet cutter itu. "Apa maumu??? Anda bukan mamiku lagi sekarang!!! Silahkan pergi dari sini!!!"usir Jea dengan berani. Sungguh Jea tak seberani ini sebelumnya. Mungkin sedikit cobaan hidup membuatnya sedikit berubah.
"Berani kau sama aku??? Dasar j*lang murahan!!!" Maki Sherly dengan sedikit mendongak karena Jea lebih tinggi dari padanya.
Jea tersenyum sinis. "Aku??? J*lang??? Bukankah anda yang telah menjualku hemmm??? Apa kau melupakannya??? Apa uang dari hasil menjualku masih kurang??? Atau anda ke sini mau menjualku kembali??? Ckckck, lebih baik anda sadar mami Sherly,,, kau terlihat lebih tua sekarang. Kasihan sama umurmu!!!"
Plakkkkk!!!
Sebuah tamparan mendarat tepat di pipi Jea. Jea tak bereaksi apapun. Sudah sering ia dilakukan seperti ini.
"Kurang ajar!!! Mentang-mentang sudah kawin dengan orang kaya, mulutmu semakin berani dengan mami hah!!!! Kau pantas mendapat ini..." Saat Sherly ingin menampar pipi Jea kembali. Seseorang menahan tangan yang terlihat sudah berkerut itu.
Segera Jea mengangkat kepalanya yang tadi sempat menunduk demi menghindari tamparan dari Sherly.
"Bimo..." gumam Jea pelan.
Sherly mengatur nafasnya yang terbakar amarah. Dia kesini ingin minta uang pada Andriansya. Dan ia tak menyangka jika ada Jea di sini.
Sherly segera menjatuhkan tangannya dari pegangan Bimo. Matanya menatap nyalang pada Jea. "Urusan kita belum selesai!!!" Sherly segera membalikkan badannya. Berjalan menjauh dari tempat itu.
Jea menatap Bimo dengan heran. Sudah lama tak jumpa dengan Bimo, Jea merasa merindukan keberadaannya. Tapi sekarang Jea tak pantas mendapatkan itu. Jea menyesal telah menyia-nyiakan sesuatu yang sangat berharga dulu. 'Andai waktu dapat di ulang....'
__ADS_1