
.
.
.
Queeny memberanikan dirinya. Mengatur detak jantungnya yang tiba-tiba berdebar sangat kencang. 'Cium pipi sepertinya tak masalah.'
Queeny mencodongkan badannya.
Cup!!!
Kedua orang itu saling membulatkan matanya. Semua tak seperti yang Queeny inginkan. 'Omo....'
Ciuman singkat namun mampu memporak-porandakan hati keduanya. Maxy sedikit terkejut, ternyata Queeny gadis yang mudah. Bagaimana kalau Maxy menghancurkan hidup gadis ini? Semuanya biar setimpal dengan apa yang Andrew lakukan padanya.
Saat Queeny ingin menjauhkan tubuhnya. Dengan gerakan cepat, Maxy menahan tubuh Queeny dengan satu tangannya.
Jantung Queeny bagai di pompa, kembang kempis tak menentu. Semuanya tak seperti apa yang ia inginkan.
Detik itu juga, Maxy melanjutkan aksi ciumannya. Menjelajahi setiap inchi lapisan luar kulit tipis nan lembut.
Sesuai feeling-nya, Queeny hanya memejamkan matanya. Tangan itu meremasi pakaian yang ia kenakan.
__ADS_1
Ciuman pertamanya jatuh pada orang yang bernama Maxy. Apa yang akan terjadi selanjutnya di antara mereka berdua? Orang asing telah menginginkan first kiss-nya. Sangat gawat dan berbahaya untuknya.
Maxy menyudahinya, melayangkan tatapan penuh arti untuk Queeny. Di balik tatapan itu, tersimpan sejuta dendam yang membara.
Kini, saatnya Maxy menjerat Queeny. Membawanya ke dalam lautan cinta nan indah sebelum dihempaskannya.
Queeny semakin gemetaran, ada rasa aneh saat bibir mereka saling menempel. Meski Queeny pasif, namun dengan pasti, Maxy sudah memancing sesuatu yang sangat sulit ditafsirkan olehnya. Rasa gemetar dan sesuatu yang aneh di bagian intinya.
Queeny menunduk malu. Kalau bukan karena Maxy yang menolongnya. Mungkin, Queeny memilih tenggelam saja ke dasar lautan.
Maxy tiada henti menatap wajah itu. Sedari kecil, ia ingin mencium pipi Queeny. Bahkan sampai sekarang pun belum tersampaikan. Yang ada ciuman bibir. Ingin ia mengulangnya lagi. Tapi------- harus dia tahan. Dia harus mendapatkan hati Queeny jika ingin membunuh Andrew.
"Terimakasih Queen," ujarnya sambil menunjukkan senyuman yang begitu menawan.
Setelah cukup dengan yang tadi. Saatnya Maxy membawa Queeny ke suatu tempat. Lihatlah, Queeny bahkan tidak menolak. Ya, itu karena Maxy melakukannya secara perlahan-lahan, namun mematikan mangsanya.
"Kita mau kemana kak?"
Rupanya, gadis pintar ini juga ingin tahu. Pasalnya mereka baru bertemu. Lalu Maxy mengajaknya pergi begitu saja. Patut jika Queeny mempertanyakannya.
Dia anak milyarder di negeri ini. Kalau dia sampai kenapa-kenapa, Daddy dan mommy nya dipastikan akan khawatir.
Maxy yang asyik melajukan mobilnya hanya tersenyum. "Menyelamatkanmu kan? Jadi, kita kemana enaknya?" sahut Maxy sambil tersenyum kecil.
__ADS_1
Queeny sedikit takut. Dia baru menyadari sesuatu. Senyuman Maxy berubah-ubah. Kadang begitu mempesona di matanya, kadang pula menakutkan. Hatinya sampai mengkerut melihatnya. Padahal senyuman Maxy tak bermakna apapun. Hanya sebuah senyuman biasa.
Queeny sedikit memikirkan sesuatu. Kalau dia minta diantarkan pulang. Itu sangat membahayakan Maxy. Andrew pasti tak segan-segan mempertanyakan status Maxy untuk Queeny. Mereka baru mengenal. Tak pantas jika pembicaraannya terlalu privasi.
"Aku laper kak," keluh Queeny dengan malu-malu.
'Berhasil.' Maxy bersorak. Usahanya tak sia-sia juga.
Semakin dekat ia mengenal Queeny, semakin dekat pula balas dendamnya terwujud.
"Kau mau makan di mana Queen? Di KL resto atau----?" Maxy tampak berpikir, bukankah mommy nya Queeny mempunyai restoran juga. Restoran yang kini namanya melambung dengan kata-kata Jelly-nya.
"Aku mau di tempat lain, makanan Jepang sepertinya enak kak."
Uh, berani sekali anak kecil ini meminta Maxy. Tapi tak apalah, itu tandanya lebih bagus. Semakin Queeny menjauh dari keluarganya. Maka, semuanya akan cepat terbalaskan.
Sialan memang si Andrew, kenapa dia membunuh Ferdinand? Hidup Maxy jadi berantakan bukan? Awas saja. Tiba-tiba, tanpa Maxy sadari. Maxy hampir saja menabrak mobil yang ada di depannya.
Queeny menjerit tertahan. Sial. Kenapa bisa kelepasan seperti ini?
Maxy segera menepikan mobilnya. Ia menenangkan dirinya sekaligus menenangkan Queeny.
"Jangan khawatir Queen, tadi hanya masalah kecil," elaknya dengan santai. Tak ada kata maaf untuk siapapun. Maxy adalah pria yang jarang minta maaf. Jadi jangan tanyakan maaf darinya.
__ADS_1
To be continued.