
"Saya tak mudah percaya dengan Anda."
"Kak Max," potong Queeny tiba-tiba. Ia merasa heran dengan sifat Maxy yang terlewat keras kepala.
"Ku mohon, diam-lah Queen. Kau tak mengerti apa-apa. Sudah berulangkali aku bilang begitu, harusnya kau paham!"
Sepertinya Maxy dalam keadaan marah. Maxy benar, Queeny harus diam dulu. Masalah masih simpang siur. Andrew yang bersikeras akan kebenaran, begitu pula dengan Maxy yang percaya dengan pendapatnya sendiri. Maxy masih yakin, Andrew pelakunya. Jika tersangkanya adalah Axel, lalu apa yang akan diperbuat oleh Maxy selanjutnya?
Rasa cemas jelas ada. Berharap kalau dia yang benar. Lalu dendamnya tetap berjalan sesuai rencana.
Queeny jengkel. Ia langsung memanyunkan bibirnya. Bagaimanapun juga, mereka terlanjur terikat dengan sebuah kata pacaran. Putus? Bukankah terlalu cepat? Mereka baru menjalin hubungan itu 2 Minggu yang lalu.
"Terserah apa katamu Max! Tapi kau harus tahu, bukan aku pelakunya."
"Lalu, kalau bukan Anda? Siapa lagi?" tanya Maxy dengan lantang.
"Kau bisa mencurigai Axel. Di antara kami, hanya dia yang berani menghalalkan segala cara," balas Andrew dengan yakin. Kecurigaannya mengenai Axel semakin nyata. Ya, Axel pembunuhnya. Tidak mungkin yang lain.
__ADS_1
"Saya akan mencari tahunya. Jika dia tidak terbukti bersalah. Jangan harap, saya akan melepaskan Anda begitu saja," balas Maxy pada Andrew.
Kini, mata se-hitam arang itu menatap mata abu-abu kekasihnya. "Ikut aku!" titahnya.
Queeny menggeleng. "Aku ingin di sini," balasnya.
"Kita perlu bicara sebentar," pintanya lagi.
Queeny menatap Andrew minta persetujuan. Andrew tak bisa apa-apa sekarang ini. Dia terlalu lemah untuk melakukan aktivitas yang lain. Jadilah Andrew mengijinkan Queeny saja. Andrew mengangguk mengiyakan. Andrew yakin, Maxy tak akan sejahat itu pada Queeny.
***
"Kkk, kak Maxy mau membunuh Queen?" tanya Queen dengan sekuat tenaga.
Tidak, Maxy tidak ingin membunuh Queeny. Dia hanya ingin memperingati Queeny saja, agar Queeny tidak terlalu ikut campur akan urusannya dengan Andrew.
"Ck, kenapa aku mau membunuhmu Queen? Aku hanya ingin kau jangan terlalu ikut campur dengan urusanku."
__ADS_1
"Jika itu tentang Dad, Queeny tak bisa tinggal diam. Kak Maxy jahat!" Queeny ingin mendorong badan Maxy, tapi dicegah-nya.
"Aku memang jahat, apa kau baru tahu?" Maxy makin memojokkan Queeny. Mata abu-abu itu berkedip beberapa kali. Membuat Maxy menginginkan sesuatu dan mengingatkan pada netra seorang Andrew Parker.
Maxy mendekatkan wajahnya. Hingga hidung mereka saling bersentuhan. Queeny mencoba menolak, mendorong badan kekar Maxy. Tapi apalah daya, tenaga wanita selalu lemah dibandingkan dengan tenaga seorang pria.
Dan akhirnya, Queeny hanya bisa pasrah. Ia mengikuti permainan Maxy yang entah dibawa kemana.
Sepersekian detik kemudian, bibir mereka saling menyatu. Rasa yang selalu manis yang Maxy rasakan. Hingga tanpa ia sadari, bibir Queeny menjadi candunya saat ini. Semarah apapun ia pada Queeny, nyatanya dia tetap ketagihan pada bibir itu.
Tangga rumah sakit ini memang selalu sepi di hampir setiap waktu. Mungkin hanya beberapa orang saja yang menggunakan tangga darurat ini.
Jadi sekarang ini, Maxy sangat bebas melakukan apa saja kepada sang kekasih. Memang mereka hanya berciuman. Tapi dengan jangka waktu yang panjang. Hingga keduanya benar-benar kehabisan nafas.
Queeny hanya diam, ia cukup menghirup udara sebanyak-banyaknya. Sedang Maxy, ia mendaratkan keningnya di kening Queeny. Nafasnya saling memburu.
Ingatkan lagi pada Queeny. Agar ia tak ikut campur. Atau----
__ADS_1
"Jangan ikut campur lagi, atau--- nyawamu sebagai taruhannya."
To be continued.