
Thomas memberikan kode pada Axel. Ternyata itu adalah pengalihan untuk Maxy. Hampir saja Maxy terkecoh, tapi dia tahu, itu hanya jebakan. Thomas pria berdarah dingin, lebih licin dalam menangani masalah. Maxy harus hati-hati dengannya.
"Ada apa Thomas? Keluarlah! Tak usah meng-kode Tuan Axel lagi," kata Maxy.
Mendengar itu, Thomas segera bersembunyi. Tugasnya melindungi Axel dan Fero saat ini.
"Papa, Fero takut," cicitnya khas anak manja.
Axel menyesal punya anak seperti Fero. Masalah segenting ini bukannya melawan malah nambahin pusing saja menurutnya.
"Cukup diam Fero, atau nyawamu beneran melayang di tanganku!" ancam Maxy.
Kali ini Maxy memutar balikkan semuanya. "Bagaimana kalau peluru ini menembus kepala mu Fero? Apakah papamu akan merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan selama ini?" Maxy mulai tersenyum licik.
Axel menggeleng, lebih baik dia saja yang mati dari pada harus melihat anaknya meregang nyawa di depannya. "Bunuh saja aku!" katanya.
"Uwah! Tuan Axel menyerahkan diri? Benarkah? Ck, aku tak sebodoh itu Tuan Axel?"
"Tolong Maxy, Fero masih terlalu polos. Jangan sakiti dia," pinta Axel lagi.
"Lalu, dimana perasaanmu saat ingin mengakhiri nyawa papaku?"
"Kau tidak tahu segalanya Maxy? Papamu telah membunuh tunanganku." Akhirnya, sebuah cerita singkat meluncur juga.
Belum selesai bercerita, Andrew dan Kelvin sudah menerobos masuk. Ia malah melihat tingkah Maxy yang dirasa begitu berbahaya bagi Andrew.
"Maxy, apa yang kau lakukan?" tanya Andrew heran. Dan saat itulah, Axel memanfaatkan balik situasinya. Ia mengambil pistol sisa satu-satunya di dalam jas kerjanya. Rupanya Axel juga sama liciknya dengan Maxy. Maka pistol itu ia arahkan tepat di depan mata Andrew.
Maxy berang, sudah cukup Andrew jadi korban balas dendamnya. Sekarang tidak ada lagi salah paham. Saatnya Maxy membela Andrew, sebagai penebusan kesalahannya.
"Jangan sentuh Tuan Andrew, atau Fero aku lenyapkan sekarang!" ancamnya.
Kelvin mendesah, kalau dengan kekerasan semuanya akan kacau. Andrew sepemikiran juga dengan Kelvin. Dia tidak takut Axel. Lebih baik ia mencoba meluruskan semuanya. Kalau ada jalan mulus, kenapa harus pilih yang terjal?
"Apa kau tidak bisa membicarakan ini baik-baik Axel? Kau ini sudah tua, kenapa tak mau mengalah?" desis Andrew mencoba mengingatkan.
Axel hanya mengetatkan rahangnya. Andrew orang yang pertama kali ia benci selama ini.
"Aku bisa menyelesaikannya," sahutnya.
"Dengan cara apa? Membunuh?" sindir Andrew tajam.
Axel geram, dia hampir saja menarik pelatuknya kalau saja Maxy tak mengambil langkah lebih dulu.
__ADS_1
DUAR!
Bunyi tembakan yang begitu nyaring. Tepat sasaran mengenai atap rumah itu. Maxy melakukan itu hanya ingin agar Axel tak melakukan hal yang lebih.
Mendengar bunyi tembakan, semua orang terlonjak kaget termasuk Axel. Kesempatan itu segera diambil alih oleh Kelvin. Dengan sedikit pukulan kepada Axel, Kelvin mengambil senjata yang ada di tangan Axel, kemudian Kelvin mengambil revolver yang ada di lantai. Lalu setelahnya, ia meminta Maxy agar menyerahkan senjata yang dibawa Maxy kepadanya. Bahkan Thomas sekalipun juga disuruh tak bersenjata oleh Kelvin.
Setelah semua orang tak bersenjata. Kini saatnya menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.
Maxy, Andew, Axel, Kelvin, Fero dan Thomas tengah duduk memenuhi sofa ruang tamu. Saat itu juga, Queeny hadir dan menerobos masuk tanpa permisi.
Andrew terkejut. Tak hanya Andrew saja, semua orang yang ada di sana terkejut akan kehadiran Queeny yang secara tiba-tiba. Bukannya menyapa Daddy-nya, Queeny malah menubruk tubuh Maxy.
Fero kebakaran jenggot, Axel juga sama. Tapi apalah dikata. Apa yang diucapkan Andrew ada benarnya. Dia sudah tua sekarang, harus ingat umur. Jadinya ia mencoba mengalah. Meskipun jujur dalam hati, ia tetap tak suka dengan Andrew sampai kapanpun.
Sepertinya kedua anak ini adalah pasangan kids jaman now. Queeny persis dengan Andrew yang dulu tak tahu malu. Ckckck, Andrew tersenyum dalam hati. Karma memang selalu ada, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Andrew baru tahu ini. Dari pada Queeny keblabasan di depan orang banyak. Andrew berdehem, agar Queeny tersadar. "Ehm," dehemnya dengan suara berat.
Queeny yang sudah dalam tahap panik, hanya menjauhkan sedikit badannya dari pangkuan Maxy.Ia sedikit menoleh ke arah Andrew. Lalu ia menatap Maxy kembali seraya bertanya, "Apa kak Max baik-baik saja?"
Maxy tersenyum lega, setidaknya dalam keadaan yang seperti ini. Masih ada yang perduli dan perhatian padanya. Hati Maxy langsung meleleh, kalau diperlakukan lembut seperti ini terus, bagaimana mungkin Maxy menolak mencintai Queeny? Ya, Maxy mulai jatuh cinta yang sebenarnya. Andai ini tidak di depan orang banyak, mungkin bibir Queeny sudah ia sambar sedari tadi.
"Aku baik-baik saja Queen. Kau ini, kenapa menyusul ku?" tanya Maxy dengan lembut.
"Aku mengkhawatirkan mu kak," balasnya.
Fero semakin tak suka, segera ia potong pembicaraan mereka. "Tolong! Ini di depan umum, kalian memang tak tahu malu," desis Fero tajam. Anak manja itu, kalau marah menyeramkan juga ternyata.
Queeny langsung berdiri. "Baik Dad," balasnya lesu.
Wajah Fero merah padam. Dia tak rela Queeny dimiliki oleh Maxy. Tapi kenapa Axel diam saja? Harusnya Axel marah tadi. Bukan hanya diam saja seperti ini. Dimana Axel yang selalu membelanya?
Dirasa semua sudah tenang, saatnya mereka memulai membicarakan duduk permasalahannya. Andrew yang pertama membuka percakapannya.
"Kau Axel, tolong jelaskan kenapa kau membunuh Ferdinand?"
Seperti yang dikatakan sebelum-sebelumnya. Jawaban Axel tetaplah sama. "Aku membalaskan dendam ku. Ferdinand, dia telah membunuh Kayla, tunangan ku," jawabnya.
Maxy mulai mencerna jawaban Axel. Ternyata papa kandungnya sama jahatnya seperti Axel. Pantas saja, saat diajari tentang hal buruk, Maxy selalu bisa. Ternyata beginilah faktanya.
"Terus Maxy? Apa kau juga akan balas dendam? Apa kau juga mau membunuh Axel seperti dia membunuh ayahmu?"
Jujur saja, andai papanya tak mempunyai riwayat kejahatan terhadap tunangan Axel. Pastilah, saat ini Axel tinggal nama. Tapi kalau seperti ini alur ceritanya. Mana mungkin Maxy membunuhnya? Setelah ia telusuri lebih lanjut, mereka berdua sama-sama saling bersalah. Jadi, benarkah Maxy membatalkan niat jahatnya itu?
Maxy butuh waktu untuk berpikir. Sekian lama ia menderita, jadi semua ini harus berakhir seperti ini? 'Ah, sepertinya minta maaf tak masalah juga,' batinnya.
__ADS_1
"Sebenarnya saya kecewa denganmu papa Axel. Kau telah mencuci otakku untuk balas dendam dengan Tuan Andrew."
"Untuk yang satu itu, maafkan aku Maxy," sahut Axel. Ternyata, Axel lah yang terlebih dahulu melontarkan kata maafnya.
'Bagus,' batin Maxy senang. "Bukan padaku Papa minta maaf. Tapi kepada tuan Andrew," balas Maxy dingin.
'Huft!'
Malas sekali rasanya Axel minta maaf. Kalau ini bukan demi nyawanya dan nyawa anaknya, Axel tak sudi minta maaf kepada Andrew.
"Baiklah, maafkan aku tuan Andrew," ucapnya pada akhirnya.
"Ya, aku memaafkan mu tuan Axel. Tolong, mainlah dengan jujur. Jangan securang ini hanya untuk ketenaranmu."
Axel hanya mengangguk saja. Malas jika harus berlama-lama.
"Ya sudah, kalian saling minta maaf saja." Kali ini Kelvin yang menimpali.
Dan semua orang yang ada di ruang tamu itu saling minta maaf. Hanya Fero saja yang masih tak terima dengan kemenangan Maxy.
Saat Maxy ingin minta maaf, Fero segera menepis tangannya Maxy. "Aku gak akan maafin kak Maxy. Bagaimanapun juga, kakak telah merebut Queeny dariku."
Kali ini, Axel ikut campur. Dia tak mau anaknya merasakan hal yang sama seperti dirinya. Mencintai tapi tak pernah dicintai. Seperti obsesinya kepada Jea yang tak pernah terwujud, begitu menyakiti ulu hatinya. Mungkin itulah yang dinamakan sakit tapi tak berdarah.
"Sudahlah Fero, terima saja. Cinta itu tak bisa dipaksakan. Queeny mencintai Maxy, lebih baik kamu cari yang lain."
Mendengar penuturan dari sang papa. Fero putuskan untuk memaafkan sang kakak. "Baiklah kak Max, Fero maafkan. Selamat telah berhasil meluluhkan hati Queeny," ucapnya sedikit terkekeh.
Akhirnya suasana di ruang tamu itu menghangat seketika. Semuanya saling memaafkan. Tidak ada lagi dendam. Tidak ada lagi kesalahan.
Andrew bahagia dengan keluarganya.
Axel bahagia dengan pernikahannya. Yang awalnya tanpa cinta, sekarang ia berusaha mencintai Haruka. Melupakan obsesinya kepada Jealita dan memulai hidup baru l.
Begitu pula Kelvin. Kini dia sudah bahagia. Meskipun tak sekaya dulu, setidaknya hidupnya sudah berkecukupan. Dengan Clara yang mencintainya dan dua anaknya, seorang perempuan dan seorang laki-laki.
Hubungan Maxy dan Queeny semakin hari semakin mesra saja. Dulu Queeny yang tergila-gila dengan Maxy. Namun sekarang berbalik, Maxy yang mulai tergila-gila. Bahkan begitu posesif. Tak membiarkan Queeny berteman dengan siapapun. Queeny bahagia. Meskipun pada akhirnya, ia tak punya teman. Sungguh akhir yang bahagia namun mengenaskan. Dari awal sudah tak punya teman, sekarang makin menjadi saja.
"Queeny, cepatlah lulus. Aku tak sabar ingin mempersuntingmu."
Queeny tersipu malu. "Sabarlah kak Max. 4 tahun lalu lagi," sahutnya.
"Oh my God." Maxy menepuk jidatnya. Lalu kedua orang itu tertawa bersama. Mengakhiri harinya dengan sebuah ciuman terhangat mereka.
__ADS_1
END.
Hai readers, jangan lupa baca novelku yang lainnya ya. Terimakasih sudah selalu setia membaca novel ini. 😍😍😍😍