I Love You Tuan (ILYT)

I Love You Tuan (ILYT)
45


__ADS_3

.


.


.


"Hahhhhhh!!! Kau!!! Dasar wanita perusak!!!!" Tiba-tiba Yuni datang dan langsung menjambak rambut Jea.


"Awwww," rintih Jea saat merakan sakit pada kepalanya.


Sila gelagapan. "Wah gawat, bagaimana ini???" gumam Sila panik melihat Jea diperlakukan dengan kasar seperti itu.


Suasana dapur kini jadi riuh. Para koki jadi sibuk menonton.


"Dasar wanita gak tau malu!!! Mau merebut tunangan orang hah!!!" maki Yuni tanpa ampun.


"Ampun mbak Yuni, sakit!!!" Jea memegangi tangan Yuni yang masih setia menjambak rambut panjang Jea.


Para koki dapur mulai berbisik-bisik menanyakan ada apa ini? Tapi semuanya masih mengambang tak jelas. Sebagian ada yang mengira Jea merebut pacar Yuni.


"Ya, ini setimpal buat wanita macam kamu hah!!! Dasar janda gatel!"


Yuni terus-terusan memaki Jea. Hingga Sila datang dengan Kelvin yang sudah berjalan di depannya.


"Ada apa ini?" Suara bariton itu berhasil menghentikan suasana yang hampir setengah kacau. Semua pekerja ketakutan dan segera kembali bekerja pada tugasnya masing-masing kecuali Jea dan Yuni. Sedang Sila sudah langsung berlari ke depan.


Yuni langsung menunduk ketakutan. Sedang Jea masih meringis karena rasa kepalanya sangat panas dan berdenyut. Sejahat-jahatnya mami tiri Jea, jambakannya tak pernah sefrontal ini. Yuni benar-benar lebih kejam dibanding mami Sherly menurutnya.


Karena tak ada satupun yang menjawab. Kelvin kembali mengeluarkan suaranya. "Jea, ada apa? Bisa kau jelaskan ini?" tanya Kelvin dengan nada datar tapi raut wajahnya terlihat khawatir saat melihat rambut Jea yang begitu acak-acakan.


Jea yang merasa ditanya hanya bisa bungkam. Yang benar saja, masa Jea harus mengatakan ini terjadi karena Jea mencintai sang Boss itu. Mana berani dia?


Huh!!!


Kelvin menghela nafas dengan kasar.


"Baiklah,, Yuni apa kau bisa menjelaskan apa yang terjadi barusan?" tanya Kelvin dengan menatap tajam si Yuni.

__ADS_1


"Semua gara-gara Jea tuan, dia ingin menggoda Anda," jawab Yuni dengan mengada-ada. Setelah berucap seperti itu, Yuni langsung melemparkan senyum sinisnya pada Jea yang terlihat melongo, kaget.


Kelvin-pun demikian, sama terkejutnya seperti Jea. Tapi Kelvin berusaha tenang. Ingatannya kembali pada Jea yang pernah nekad menciumnya waktu itu. Aah! Kelvin segera menepis. Dia ingin kejujuran saat ini.


"Kalian berdua, ikut ke ruangan saya!" perintah Kelvin yang berusaha formal.


Kedua perempuan itu akhirnya mengikuti langkah sang majikannya.


Kini posisi keduanya saling duduk menghadap ke arah Kelvin. Jarak mereka hanya dibatasi oleh meja persegi yang ada sebuah laptop dan buku-buku besar tentang perekonomian restoran ini.


"Coba jelaskan sekali lagi. Jangan ada kebohongan, mengerti!" desis Kelvin dengan serius. Keduanya pun mengangguk pasrah.


"Bagaimana kronologi yang sebenarnya? Tolong Yuni jelaskan!" pinta Kelvin dengan menunjuk Yuni. Dia tak mungkin menanyai Jea duluan, jikalau Jea ada berniat ingin menggodanya.


"Emmm, itu tadi saya tak sengaja mendengar bahwa Jea mencintai anda Tuan," terang Yuni sedikit gugup. Jea yang mendengar kejujuran Yuni itu, nyalinya menciut seketika. Mana kepalanya masih berdenyut dan panas. Jea berasa seperti setengah sadar. Tapi dia hanya menunduk saja. Jelas saja dia malu luar biasa.


Kelvin sedikit heran. 'Di saat semua ini? Benarkah Jea mencintaiku?' batin Kelvin tak percaya.


"Lalu? Apa yang terjadi setelah itu? Apa kalian main serang? hah?" Kelvin meninggikan intonasinya, amarahnya terdengar jelas di suaranya itu.


Yuni melirik Jea ketakutan. Bibirnya bergetar sebelum ada suara yang keluar.


"Maafkan saya Tuan, saya hanya terpancing suasana. Anda sudah bertunangan. Jadi saya ingin membela Anda," jawab Yuni sedikit beralasan.


Kelvin menatap keduanya penuh emosi. Jea mencintainya? Apa itu fakta yang ada? Tapi tak bisakah Jea menyembunyikan perasaannya itu dari pada harus memancing emosi semua orang yang ada??? 'Dasar Lita,' umpat Kelvin dalam hati. Ia tak sungguh-sungguh mengumpatnya. Hanya sedikit heran saja.


"Karena perbuatan kalian ini----" Kelvin menggantungkan kalimatnya. Dia menarik nafasnya dalam-dalam. Tak ada toleransi baginya untuk mempertahankan Jea maupun Yuni.


"Kalian saya pecat! Buat mu Yuni, saya sudah pernah memperingatkanmu agar tidak berbuat macam-macam lagi. Dan kali ini sifatmu sungguh diluar batas. Menjambak rambut juniormu saat masih di lingkungan kerja. Dan kau Jea, mohon maaf kau juga dipecat. Saya sudah bertunangan, dari pada ada gosip yang tak sedap didengar. Lebih baik kau juga ku berhentikan dari sini," terang Kelvin panjang lebar.


Bagai terhantam benda tajam. Hati Jea serasa tersayat, sudah jatuh ketimpa tangga pula. Double sakit. Sedang si Yuni, dia tersenyum puas. Setidaknya mereka berdua sama-sama dipecat. Jadi tak ada alasan lagi bagi Jea untuk merebut Kelvin dari Clara. Sedang masalah pekerjaan, mungkin ia akan minta tolong ke Clara nanti.


"Yuni, silahkan pergi. Ambil gajimu bulan ini, ambil sebulan penuh di kasir!" titah Kelvin yang diangguki langsung oleh Yuni.


Setelah kepergian Yuni. Kini tinggalah Jea yang masih terisak.


"Apa kau benar-benar mencintaiku Jea?" tanya Kelvin penasaran.

__ADS_1


Jea menatap Kelvin nanar. Dia hanya pasrah dan mengangguk. Matanya terlihat buram karena tertutupi oleh air mata yang terus menggenang di pelupuk matanya.


Kelvin mengusap keningnya dengan kasar. "Kau terlambat Lita."


Deg!


Sekalipun Kelvin tak pernah memanggilnya Lita. Kenapa dia memanggilnya seperti itu? Batin Jea keheranan, dengan segera ia menyeka air matanya. Kali ini menatap Kelvin dengan tajam, meminta penjelasan dengan maksud orang yang ada di depannya ini.


"Kau pasti kaget bukan? Aku tahu nama panggilanmu Lita. Kita dulu pernah berkenalan Jea. Saat itu kau masih kelas 1 SD. Dan aku,,, aku sudah kelas 6 waktu itu," jelas Kelvin yang membuat Jea kembali mengingat perkenalan itu terjadi.


Flashback


Seorang anak kecil cemberut di depan gerbang. Sudah hampir 2 jam ia menunggu ayahnya menjemput. Tapi sampai sekarang batang hidung orang yang ditunggunya tak kunjung datang. Jealita nama anak kecil itu. Akhirnya bocah itu memutuskan berjongkok, menekuk kedua lututnya untuk dipeluknya. Kemudian ia menenggelamkan wajahnya di sana.


Setelah ini sekolah akan sepi, karena sebentar lagi siswa-siswi kelas VI akan dipulangkan. Jea masih menangis sesenggukan. Hingga seorang anak remaja berusia 12 tahun menepuk pundaknya.


"Hai adik kecil, kenapa belum pulang?" tanya anak remaja itu yang berseragam sama dengan Jea. Gadis itu langsung tahu, kalau dia adalah kakak kelasnya.


"Aku menunggu Ayah," terang Jea sambil mendongak kan kepalanya.


"Sudah jam segini, bagaimana jika aku yang antar?" tawar bocah remaja itu. Tapi Jea langsung menggelengkan kepalanya.


"Tak mau."


"Kenapa?" tanya bocah laki-laki itu lagi.


"Sebenarnya rumahku tak jauh, tapi aku ingin dijemput," gadis kecil itu memanyunkan bibirnya.


"Hei, ayo bangun!" tarik bocah laki-laki itu dan Jea-pun akhirnya berdiri.


"Siapa namamu?"


"Lita," balas Jea dengan cuek. Namanya anak-anak dia sama sekali belum mengenal mana tampan mana tidak.


"Ooohhh gadis manis, mari kakak antar!"


Hingga di siang itu Jea di antar oleh bocah remaja yang belum diketahui namanya.

__ADS_1


Flashback off


__ADS_2