
.
.
.
"Dari mana saja kamu???" suara sarkastik dari Yuni mengingatkan Jea pada dunianya. Jea segera menghapus air mata yang masih tertinggal di pipinya.
Jea diam saja. Buat apa menjawab Yuni, ujung-ujungnya pasti dimarahi.
"Jawab heh!!!! Tuh, kamu dicariin orang-orang. Cepat kesana...." Yuni mendorong tubuh Jea dengan kasar.
'Rasain tu... setelah ini bakal aku aduin ke tuan Kelvin. Biar kau segera diusir...' Yuni tersenyum devil. Ini rencananya Clara, memanggil para wartawan agar bikin rusuh restonya Kelvin. Yuni berharap sih, agar semua berjalan dengan lancar.
Melihat Jea yang hanya diam kikuk, membuat Yuni semakin jengah. Dengan segera ia menghampiri ruangan Kelvin.
Tok...tok...tok...
Setelah mendengar perintah masuk, Yuni langsung membuka handle pintu. "Permisi tuan Kelvin..." ucap Yuni dengan sangat sopan.
"Ya, ada masalah apa??" jawab Kelvin yang masih fokus dengan layar laptopnya.
"Di luar ada kerusuhan tuan,,, para wartawan dan paparazzi menghalangi para tamu kita..." ucap Yuni sedikit melirik sikap apa yang ditujukan Kelvin saat ini. Yuni berharap Kelvin akan marah. Tapi harapan itu sirna seketika, ternyata Kelvin bersikap biasa saja.
Bagi Kelvin restonya yang di sini tak masalah. Mungkin cuma sehari sepi juga tak akan membuatnya jadi miskin. "Biar aku yang mengatasinya..." jawab Kelvin dingin. Dia sudah memikirkan sejak tadi bagaimana caranya para wartawan itu pergi tanpa harus memaki-makinya.
Kelvin berjalan melewati Yuni begitu saja. Kemudian dia menoleh menatap Yuni yang masih diam mematung. "Cepat keluar dari ruanganku..."usir Kelvin masih dengan suara dingin tapi menakutkan bagi Yuni.
'Kok reaksi tuan Kelvin seperti ini....??'Yuni masih dalam mode keheranannya. Sepertinya rencanya tak berjalan mulus. 'Aduh, bisa gawat ini???'
__ADS_1
Kelvin terus berjalan santai mendekati keberadaan Jea. Kelvin menganggap ciuman beberapa menit yang lalu tak pernah terjadi. Karena hanya dia dan Jea saja yang tahu. Kelvin tak pernah menduga, kalau Jea punya sikap yang nekad seperti itu. Coba saja kalau lelaki itu bukan Kelvin, mungkin semuanya akan berakhir di atas ranjang. 'Aku juga gak bohong, kalau aku juga menginginkannya di bawah ku. Tapi aku sadar, dia milik Andrew. Aku yakin, Andrew tak benar-benar melepasnya..' batin Kelvin. Kemudian, Kelvin menatap Jea yang terlihat gelisah, sambil bercakap-cakap dengan salah satu karyawannya, Sila.
"Sila.... aku harus bagaimana???" Jea memelintir ujung kaos seragam yang bertuliskan KL resto itu.
"Aku juga gak tahu Jea... aku tak pernah berhadapan dengan mereka..." Sila hanya mengelus-elus pundak Jea. Dia sendiri juga bingung dengan situasi ini.
Jea menyesal, harusnya dia tadi membangunkan Kelvin dan minta pendapat tentang ini semua. Bukannya malah menciumnya. 'Aaaahhh, semua kacau gara-gara aku....' teriak Jea frustasi dalam hati. Terus sekarang dia bagaimana??? Dia sudah tak punya muka lagi harus berhadapan dengan kelvin. Apalagi Kelvin boss nya sekarang. Jea terus merutuki dirinya sendiri. Menyesal, kecewa, malu campur aduk jadi satu.
"Jea...." suara tak asing itu semakin membuat Jea merinding. Jea sedikit takut. Ia benar-benar merasa bersalah akan kelakuan kurang ajarnya barusan. 'Huuuuhhhh, mungkin aku akan di usir' fikirnya dalam hati.
Jea segera membalikkan tubuhnya. Menunduk mungkin lebih baik. Dia takut nafsunya akan muncul lagi saat berhadapan langsung dengan Kelvin.
"Ya Tuan..." jawab Jea gemetaran.
"Selesaikan masalahmu Jea.... temui mereka!!! Mereka akan pergi setelah mendapatkan apa yang mereka mau..." Kelvin cukup tahu, para wartawan itu pasti hanya menanyakan tentang faktor perceraian mereka. Kelvin sendiripun juga penasaran, tapi setidaknya memberikan saran seperti itu kepada Jea tidaklah buruk.
Jea sedikit ragu. Dia mendongakkan kepalanya menatap Kelvin. Kelvin terlihat tersenyum tulus. Senyuman itu menyentuh hati Jea. Jea bagai terhipnotis hingga dia mengangguk patuh dan berjalan menuju ke arah para wartawan.
"Ya benar..." jawab Jea datar.
"Apa alasan dibalik perceraian itu??? Apa tuan Andrew selingkuh?? Atau anda yang justru selingkuh???"
Jea mengumpat dalam hati. Pertanyaan macam apa itu?? Selingkuh? Siapa yang selingkuh.
"Tidak, karena tak ada kecocokan lagi di antara kita. Jadi perceraian, dirasa lebih tepat buat kami..."
Dan ternyata, pertanyaannya masih banyak. Jea terus menjawab, jika dirasa perlu dijawab.
***
__ADS_1
Fiuuuuuuuhhhhhh...
Jea bernafas lega. Akhirnya tanya jawab dengan para pemburu berita selesai juga. Dan mereka berjanji tidak akan mengganggu Jea lagi. Saran dari Kelvin memang sangat membantu. Jea harus banyak-banyak berterima kasih pada Kelvin. Tapi dia tak tahu harus seperti apa caranya minta maaf. Apa dia harus bersikap penurut lagi?? Aaah,, rasanya Jea sudah bosan dengan sikap penurutnya itu. Jea merasa bukan dirinya sendiri, justru merasa tertekan.
'Caraku berterima kasih hanya satu... bersikap manis padanya, mungkin.' batin Jea disela-sela kesibukannya yang kembali menjadi pelayan. Para pengunjung resto mulai berdatangan seperti biasanya. Bersyukurlah Jea, Kelvin tak memecatnya hari ini.
Dan ternyata sang boss nya, juga sudah tak ada di tempat. Dengar-dengar, dia harus mengunjungi resto yang lainnya. Jea bernafas lega. Setidaknya dia tak bertemu Kelvin untuk sementara ini. Jantungnya bagai di pompa jika menatap matanya. Katakan, jika Jea gila.
****
Jea kembali ke rumah kontrakannya. Dia tak mendapati Patty dimanapun berada. Jea semakin gelisah. "Patt!!!! Patty??? Kau dimana???"
Jea terus-terusan memanggil Patty, tapi nyatanya yang dicari tak terlihat juga di tempat yang hanya persegi itu. Jea mengedarkan seluruh pandangannya. Dia menemukan telepon genggam yang ia berikan kepada Patty kemarin dan ada sebuah notes di bawah HP berwarna biru mengkilap.
*Maafkan aku Lita... aku sudah terlalu merepotkanmu... aku sangat sangat berterima kasih padamu. Semoga Tuhan selalu melindungimu. Semoga kau selalu bahagia. Jangan pernah mencariku, mungkin setelah ini aku sudah tiada. Hidupku sudah tak berguna.
Salam dariku
Patty*
Tubuh Jea merosot seketika. Air matanya langsung mengalir dengan bebasnya. Kenapa Patty tetap nekad mengakhiri hidupnya??? Bukankah Jea pernah berjanji akan merawat bayinya dengan suka cita nantinya.
Jea tak menyerah, dia harus mencari Patty.
Jea menyusuri jalan raya yang mulai sepi. Maklum sudah hampir tengah malam. Jea sangat kelelahan sudah hampir 3 jam ia berjalan, tapi yang dicari tak kunjung terlihat jua.
Jea benar-benar kelelahan, matanya berkunang-kunang. Dan dia sendiri tak tahu lagi, jalan apakah ini?? Dia hanya mengikuti kata hatinya tanpa tahu arah tujuannya. Jea sudah tak kuat lagi. Matanya terpejam, dia menjatuhkan tubuhnya di pinggir trotoar.
Terdengar deru mobil yang berhenti tepat di sampingnya, Jea merasakan seseorang tengah menggendongnya dan memasukkan ke dalam mobil. Tak lama kemudian
__ADS_1
kesadaran Jea hilang. Jea tak ingat apa-apa lagi.
Makasih buat yang sudah sukarela ngasih vote ke author....